Khutbah Jum’at 22 Mei 2009 : Kekokohan Hujjah Al Qur’an

Khtubah Pertama,

Al Qur'an
Al Qur’an

Ikhwatal Islam, Senantiasa kita memanjatkan puji dan syukur kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala- yang telah menurukan kepada manusa bimbingan-bimbingan dan petunjukNya. Wahyu yang Alloh -subhanahu wa ta’ala- turunkan kepada rosulNya memberikan hidayah kepada orang-orang yang ada di dalam hatinya Islam dan Iman. Al Qur’an yang telah Alloh -subhanahu wa ta’ala- mudahkan ayat-ayatnya untuk dipelajari dam diingat.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ 

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qomar : 17)

dan Alloh -subhanahu wa ta’ala- menggugah hati kita untuk mentadabburi Al Qur’an,

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An Nisaa’ : 82)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quraan ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad : 24)

Ummatal Islam, maka Alloh -subhanahu wa ta’ala- telah menjelaskan dalam Al Qur’an, [bahwa] disana ada ayat-ayat muhkamat dan disana ada ayat-ayat yang mutasyabihat. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat. (Ali Imron : 7)

lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebutkan tentang sikap orang-orang yang kuat [ilmunya], yang dalam keimanannya dan menyebutkan pula sikap orang-orang yag ada di dalam hatinya penyakit.

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya (Ali Imron : 7)

Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebutkan bahwa orang-orang yang ada didalam hatinya kecondongan kepada kesesatan maka mereka senantiasa mencari-cari takwil yang bathil dari ayat tersebut. Padahal Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebuntukan..

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ

padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.

Lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebuntukan tentang sikap orang-orang yang kokoh dan dalam ilmunya

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”

Akhol Islam, diantara manusia ada yang mencari ayat-ayat mutasyabihat, karena mereka memahami Al Qur’an sesuai dengan keyakinan yang [telah] ia yakini, bukan untuk mencari keyakinan yang sesuai dengan Al Qur’an. Maka [sikap yang benar bagi] kita di dalam berkeyakinan, tidak boleh untuk berkeyakinan terlebih dahulu baru kemudian mencari ayat dan dalil yang sesuai dengan keyakinan kita. Justru kewajiban kita adalah untuk mencari dalil terlebih dahulu, baru kemudian kita yakini. Karena keyakinan itu memang harus sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah

Maka Alloh -subhanahu wa ta’ala- telah mengokohkan penjelasannya di dalam Al Qur’an. Alloh -subhanahu wa ta’ala- menjelaskan kepada manusia dengan bahasa yang mudah pelajari, dengan perkara/bahasa yang indah dan sangat mudah dicerna oleh fikiran manusia. Sering kali Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengajak akal manusia untuk berfikir dan berfikir.

Sebuah contoh misalnya, ketika Alloh -subhanahu wa ta’ala- menetapkan akan adanya hari kebangkitan, Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebuntukan tatacara-tatacara yang sangat kokoh dan kuat, [yang] dapat dicerna oleh seluruh orang-orang yang mempunyai fikiran. Cobalah [perhatikan], ketika Alloh -subhanahu wa ta’ala- mislanya, mempermisalkan air hujan yang jatuh, yang turun ke tanah yang tandus, yang tadinya kering kerontang tanpa ada tanaman. Kemudian,setelah Alloh -subhanahu wa ta’ala- turunkan air hujan itu tiba-tiba, ternyata tanah yang kering itu menjadi hijau dan indah dipandang mata.

Alloh -subhanahu wa ta’ala- juga mengingatkan kisah ini dalam beberapa ayat.. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. (Fush-shilat : 39) kemudian Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan

إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Fush-shilat : 39)

Di sini Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengajak akal manusia [untuk berfikir], kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu untuk menumbuhkan, untuk menjadikan tanah yang mati menjadi hidup [kembali] maka bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- pun mampu untuk menghidupkan orang yang telah mati dikuburannya, lalu ia pun bangkit dan berdiri di padang mahsyar.

Terkadang, Alloh -subhanahu wa ta’ala- ketika menetapkan kebangkitan -ayyuhal ikhwah-, mengingatkan tentang penciptaan langit. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia (Al Mu’min : 57)

Di sini Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan, kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu menciptakan langit yang besar dan bumi yang begitu besar demikian pula apa yang ada padanya, maka bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- untuk menghidupkan orang yang telah mati [tentu] lebih mudah lagi.

Terkadang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menetapkan akan adanya kebangkitan, Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan tentang asal-muasal kejadian manusia. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman dalam surah al qiyamah

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى  ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى  أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَى

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Al Qiyamah : 37-40)

Bukankah manusia [kata Alloh -subhanahu wa ta’ala-] tadinya berasal dari air mani yang terpancar, lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- jadikan [manusia itu] berpasang-pasangan dan Alloh -subhanahu wa ta’ala- sempurnakan penciptaannya, kemudian Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan, bukankah itu menunjukkan kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu menghidupkan yang telah mati.

Apabila Alloh -subhanahu wa ta’ala- menciptakan manusia yang tadinya tidak ada menjadi ada. Yang berasal dari saripati mani yang kemudian Alloh -subhanahu wa ta’ala- ciptakan dalam rahim ibu kita, menjadi manusia yang sempurna, kemudian berpasang-pasangan laki-laki dan wanita. Bukankah bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- lebih mudah untuk menghidupkan yang telah mati? [Ini semua] mengajak akal kita berfikir..

Bila anda disuruh untuk menggambar, yang satu sebatas menjiplak gambar lain yang sudah ada, yang satu ia ini diperintahkan untuk berimajinasi sendiri. Tentu lebih sulit, yang tidak menjiplak dan [harus] berimajinasi sendiri.

Itu bagi manusia, [sedang] bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala-, semua mudah. Kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu menciptakan manusia yang tadinya tidak ada kemudian menjadi ada -yaa akhi- maka bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- lebih mudah untuk menjadikan dia mati kamudian dia kembali ada.

Terkadang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menetapkan kebangkitan dengan menyebutkan tentang kisah orang-orang yang diwafatkan ratusan tahun. Barang kali kita pernah dan sering membaca kisah tentang Ash-habul Kahfi [pemuda yang ditidurkan di dalam sebuah gua].

Alloh -subhanahu wa ta’ala- kisahkan bahwa mereka ditidurkan selama 309 tahun lamanya. Kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu -yaa akhol islam- untuk menidurkan manusia 309 tahun, bukankah Alloh -subhanahu wa ta’ala- mampu untuk membangkitkan yang telah mati? semuanya bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- mudah

Ketika Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebuntukan tentang ksiah ‘Uzair. dimana ‘Uzair pada waktu itu melewati sebuah kampung yang telah mati, maka ‘Uzair bertanya kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, ’siapakah yang bisa menghidupkan desa yang telah mati ini?’ maka kemudian Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman

فَأَمَاتَهُ اللّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. (Al Baqoroh : 259)

Kemudian Alloh -subhanahu wa ta’ala- tidurkan ‘Uzair selama 100 tahun, lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- bangkitkan ia, lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- bertanya kepada ‘Uzair, “Berapa hari kamu tidur?” berkata ‘Uzair ’saya tidur sehari atau setengah hari saja’. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ

Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya (Al Baqoroh : 259)

lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- memberikan bukti,

فَانظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْماً فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Baqoroh : 259)

Lalu Alloh -subhanahu wa ta’ala- memperlihatkan keajaiban, di mana keledai yang sudah menjadi tulang belulang itu, Alloh -subhanahu wa ta’ala- dirikan [kembali] tulang-tulang itu, lalu kemudian dibungkus dengan daging, lalu kemudian dibungkus kembali dengan kulit sehingga rapih kembali menjadi keledai yang hidup. Semenjak itu, ‘Uzair semaikin kuat keimanannya kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Alloh -subhanahu wa ta’ala- ingatkan di dalam [surat] Al Baqoroh untuk menetapkan akan adanya kebangkitan

Demikian ya akhi, betapa kokohnya Al Qur’an menetapkan segala sesuatu, apabila kita mentadabburinya, [apabila] kita memperhatikannya akan bertambah keimanan kita. Makanya orang-orang yang beriman, Alloh -subhanahu wa ta’ala- sifati mereka

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), (Al Anfaal : 2

Ummatal Islam, makanya pantas kalau Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyuruh kita [mentadabburi Al Qur’an] dan mengungkit akan kenikmatan ini kepada manusia bahwa Al Qur’an -ya akhi- bukan senda gurau, bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang di dalamnya penuh bimbingan kepada manusia. Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus : 57)

Akhol Islam, maka sungguh sangat naif dan aneh, mereka yang berpaling dari Al Qur’an. Sungguh sangat aneh orang yang tidak mau mentadabburi Al Qur’an padahal di situlah kemaslahatan hidupnya, di situlah keberuntungan hdupnya.

Akhol Islam, Alloh -subhanahu wa ta’ala- memperkenalkan diri di dalam Al Qur’an dalam ayat-ayat yang banyak dan dengan cara-cara yang kokoh sekali. Akhol Islam, maka marilah kita mentadabburi Al Qur’an. Kita jadikan Al Qur’an sebagai air yang menyejukkan hati kita, sebagai cahaya di dada kita dan kita jadikan Al Qur’an sebagai penghibur kesedihan kita.

Khutbah kedua.

Ayyuhal ikhwah, telah kita sebutkan tadi bahwa orang-orang yang ada di dalam hatinya penyakit mencari ayat-ayat mutasyabihat. Namun, segala puji bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- yag telah mengokohkan ayat-ayat Al Qur’an. Tidak ada orang yang berusaha untuk mentakwil-takwil Al Qur’an dengan makna yang salah, kecuali ada ayat lain yang menyalahkan pemahamannya tersebut. Bagi mereka yang mentadabburi, tentunya [akan mengetahui].

Perhatikanlah yaa akhi ketika Alloh -subhanahu wa ta’ala- menetapkan tentang sifatNya yang Maha Tinggi, di mana Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi (Al A’la : 1)

Maka Alloh -subhanahu wa ta’ala- kokohkan [hal ini] dalam ayat-ayat yang banyak yang menunjukkan akan ketinggian Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Tinggi Dzatnya, tinggi kekuasaannya dan tinggi kedudukannya.

Terkadang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebutkan bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- bersemayam di atas ‘Arsy, terkadang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebutkan bahwa amalan sholih naik kepada Alloh

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. (Faathir : 10)

itu menunjukkan [bahwa] Alloh -subhanahu wa ta’ala- berada di atas.

Terkadang Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengingatkan, bahwasanya Alloh -subhanahu wa ta’ala- menurunkan Al Qur’an. Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. (Al Qodr :1)

[Ini semua] untuk mengingatkan bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- berada di atas, di atas manusia. Sebab turun itu artinya dari atas ke bawah.

Alloh -subhanahu wa ta’ala- juga menyebutkan bahwa Rosululloh di mi’rojkan ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Alloh -subhanahu wa ta’ala-, [untuk] mengingatkan bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- berada di atas.

Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyebutkan juga bahwasanya para malaikat naik kepadaNya

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan (Al Ma’arij : 4)

Maka Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengokohkan ayatNya. Tidak ada orang yang berusaha untuk mentakwilnya kecuali Alloh -subhanahu wa ta’ala- telah bantah di ayat yang lainnya.

Ketika ada seseorang yang mentakwilkan

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy . (Thohaa : 5) istiwa [menurut orang itu] artinya menguasai, [bukan istiwa (bersemayam)].

[Akan tetapi] dia tidak bisa membantah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- yang lainnya

وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ

“dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (Huud : 44) tidak mungkin istawa di situ mempunyai makna berkuasa.

Ikhwatal Islam, sungguh mengagumkan Al Qur’an, bagi mereka yang mau mentadabburinya. Namun sayang, adakah diantara kita yang mau mempelajari dan mentadabburinya? Tentu, jawaban itu dikembalikan kepada kita semuanya

Sumber : Khutbah Jum’at Ust. Badrusalam –hafizhohulloh- pada Jum’at 22 Mei 2009 yang disiarkan langsung melalui Radio RODJA 756 AM, dengan perubahan bahasa seperlunya.

Download File Audio Khutbah Ini

Tinggalkan Balasan