Skip to content

Beberapa Fatwa Tentang Rambut; Rambut Gondrong Bagi Pria dan Rambut Pendek Bagi Wanita

Juni 25, 2010

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah.

… وسُئل الشيخ : عن قوم يطيلون شعورهم ؟

Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai para laki-laki yang memanjangkan rambut mereka (baca: gondrong).

… فأجاب قائلاً : التقليد في الأمور النافعة التي لم يرد الشرع بالنهي عنها أمر جائز ، وأما التقليد في الأمور الضارة أو التي منع الشرع منها من العادات فهذا أمر لا يجوز ،

Jawaban beliau, “Meniru berbagai kebiasaan yang bermanfaat dan tidak dilarang oleh syariat adalah suatu hal yang boleh-boleh saja. Sedangkan meniru kebiasan-kebiasaan yang membahayakan atau dilarang oleh syariat adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan.

فهؤلاء الذين يطولون شعورهم نقول لهم هذا خلاف العادة المتبعة في زمننا هذا ،

Tentang para laki-laki yang berambut gondrong kami berkomentar bahwa ini adalah perbuatan yang menyelisihi kebiasaan yang berlaku di zaman kita saat ini.

واتخاذ شعر الرأس مختلف فيه هل هو من السنن المطلوب فعلها ؟ أو هو من العادات التي يتمشى فيها الإنسان على ما اعتاده الناس في وقته ؟

Memelihara rambut kepala adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama apakah termasuk sunnah yang diperintahkan untuk dikerjakan ataukah bagian dari perkara adat kebiasaan masyarakat sehingga sepatutnya seorang muslim mengikuti kebiasaan masyarakat di zamannya.

والراجح عندي : أن هذا من العادات التي يتمشى فيها الإنسان على ما جرى عليه الناس في وقته ،

Pendapat yang paling kuat menurutku, hal ini adalah bagian dari adat kebiasaan yang seyogyanya seorang muslim itu mengikuti kebiasaan umumnya orang di zamannya.

فإذا كان من عادة الناس اتخاذ الشعر وتطويله – فإنه يفعل ، وإذا كان من عادة الناس حلق الشعر أو تقصيره فإنه يفعل .

Jika kebiasaan masyarakat di suatu masa adalah memelihara dan memanjangkan rambut maka seorang muslim hendaknya melakukan hal tersebut. Sebaliknya jika kebiasaan masyarakat adalah menggundul rambut kepala atau cukur pendek maka hendaknya seorang muslim menyesuaikan diri.

… ولكن البلية كل البلية أن هؤلاء الذين يعفون شعور رؤوسهم لا يعفون شعور لحاهم ثم هم يزعمون أنهم يقتدون بالرسول صلى الله عليه وسلم ، وهم في ذلك غير صادقين

Namun permasalahan yang paling mendasar adalah pada umumnya orang-orang yang berambut gondrong itu tidak memelihara jenggot mereka. Anehnya setelah itu mereka beranggapan bahwa mereka itu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Klaim meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka katakan adalah suatu hal yang tidak benar.

فهم يتبعون أهواءهم ويدل على عدم صدقهم في اتباع الرسول صلى الله عليه وسلم ، إنك تجدهم قد أضاعوا شيئاً من دينهم هو من الواجبات كإعفاء اللحية مثلاً ، فهم لا يعفون لحاهم وقد أمروا بإعفائها

Yang benar mereka itu mengikuti hawa nafsu mereka. Bukti bahwa pengakuan mereka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu hal yang tidak benar adalah kita jumpai mereka menelantarkan salah satu kewajiban agama mereka semisal memelihara jenggot. Banyak dari mereka itu tidak memelihara jenggot padahal mereka diperintahkan untuk memelihara jenggot.

وكتهاونهم في الصلاة وغيرها من الواجبات الأخرى ممايدلك على أن صنيعهم في إعفاء شعورهم ليس المقصود به التقرب إلى الله ولا اتباع رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإنما هي عادة استحسنوها فأرادوها ففعلوها .

Contoh yang lain adalah mereka menyepelekan shalat dan kewajiban-kewajiban agama yang lain. Ini semua adalah bukti bahwa tindakan mereka berambut gondrong tidaklah dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang benar, rambut gondrong yang mereka miliki adalah suatu kebiasaan yang mereka anggap baik lalu mereka kerjakan”.

[Majmu Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 11 hal 119, fatwa no 41 dalam kitab ath Thaharah, Terbitan Dar ats Tsuraya Cetakan kedua tahun 1426 H].

Artikel www.ustadzaris.com

–00O00–

Beberapa Fatwa Berkaitan dengan Rambut Wanita

rambut pendek?

1. Pertanyaan: Apa hukum seorang wanita yang sudah menikah ataupun belum, memotong rambutnya hingga pundak dengan tujuan berhias? Dan apa hukumnya menggunakan sendal dengan hak tinggi baik hak tersebut rata ataupun tidak? Dan apa hukum menggunakan kosmetik untuk berhias di depan suami?

Jawaban: Wanita yang memotong rambut (hingga pundak) jika menyerupai rambut laki-laki maka hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki. Jika wanita memotong rambutnya (hingga pundak) tidak menyerupai laki-laki, maka dalam hal ini para ulama’ berselisih pendapat menjadi tiga pandapat; diantara ulama’ ada yang berpendapat boleh, ada yang berpendapat haram, dan ada yang berpendapat makruh.

Yang masyhur dari pendapat-pendapat ini adalah dari madzhab imam Ahmad, yaitu hukumnya makruh. Tidak selayaknya kita mengambil kebiasaan yang bukan merupakan kebiasaan kita. Kami memperhatikan beberapa masa yang lalu, bahwa para wanita bangga dengan lebat dan panjangnya rambut mereka. Lalu apa yang membuat wanita-wanita masa kini senang untuk melakukan apa yang tidak berasal dari negeri kita (arab)? Saya tidak mengingkari segala hal yang baru, tapi saya mengingkari segala sesuatu yang menghantarkan masyarakat ini berpindah kepada kebiasaan yang bukan berasal dari orang muslim.
Adapun hukum mengenakan sendal ber-hak tinggi, tidak boleh jika keluar dari adat (kebiasaan), dan menyebabkan tabarruj (berhias), menjadi pusat perhatian, karena Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” [QS. Al-Ahzab: 33]

Segala sesuatu yang menjadikan wanita tabarruj (berhias), menampakkan keindahannya, menjadikan ia paling istimewa diantara kaum wanita, maka hukumnya haram, tidak boleh ia lakukan.

Menggunakan kosmetik seperti lipstik, perona pipi maka hukumnya boleh, walaupun untuk tujuan berhias. Adapun berhias dengan cara yang dilakukan sebagian wanita seperti Namsh, yaitu mencabut alis mata, maka hukumnya haram, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat wanita yang mencabut alisnya dan yang meminta dicabutkan alisnya. Demikian juga mengkikir gigi untuk mempercantik diri, hukumnya haram dan dilaknat pelakunya.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin (rahimahullah) diterjemahkan oleh Ummu Abdillah Zubaidah Al-Atsariyah, editor oleh Abu Ziyad Eko Haryanto

2. Pertanyaan: Saya berharap bisa mendapatkan faidah tentang memendekkan rambut depan ( poni ), yang kadang memanjang sampai alis wanita muslimah boleh atau tidak?

Jawaban: Memendekkan rambut wanita kami tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu, yang dilarang itu menggundulnya. Kamu bukan menggundul kepala tetapi memendekkan dari panjangnya atau banyaknya, kami tidak tahu apa itu boleh. Akan tetapi hendaknya jika kamu ingin memendekkannya maka lakukanlah dengan baik yang kamu dan suami ridha, atau dengan kesepakatan darinya dengan syarat tidak menyerupai gaya wanita kafir. Karena cuma memendekkan dan sisanya juga masih panjang, bisa diikat, dikeramas dan disisir, maka itu tidak mengapa. Atau mungkin dengan memendekkan itu menambahkan kecantikan yang di ridhai oleh suaminya, kami tidak mengetahui tentang hal itu, adapun jika menggundulnya maka itu tidak boleh kecuali karena sakit.

Fatwa Syaikh Ibnu Baaz (rahimahullah) dalam kitab Daar Ibnu Huzaimah penterjemah Tim IslamHouse.Com Indonesia – editor Abu Ziyad Eko Haryanto

Hukum mengenakan rambut palsu (wig)

3. Pertanyaan: Apa hukum bagi wanita yang mengenakan rambut palsu untuk berhias di hadapan suaminya?

Jawaban: Hendaknya pasangan suami istri itu saling berhias diri untuk pasangannya, untuk menambahkan rasa cinta dan menguatkan keharmonisan rumah tangga mereka.

Akan tetapi semua itu harus tetap dalam batasan yang di bolehkan oleh syari’at islam.

Sedangkan wig (rambut palsu) itu pada awalnya yang mengenakan wanita non muslim, mereka berhias dengan rambut palsu tersebut sehingga menjadi terkenal, dan masuklah pada kaum muslimah. Maka seorang wanita muslimah yang mengenakan dan berhias dengannya walaupun untuk suaminya, dia telah menyerupai wanita kafir.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan ini dalam sabda nya:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai orang kafir maka ia termasuk dari mereka.”

Hukumnya seperti hukum menyambung rambut. Dan nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah melarangnya dan melaknat pelakunya.

Fatwa Lajnah Daaimah dalam kitab Daar Ibnu Huzaimah penterjemah Tim IslamHouse.Com Indonesia – editor Abu Ziyad Eko Haryanto

shalihah.com :: Sumber islamhouse.com ::

About these ads

From → Belajar Islam

4 Komentar
  1. deden permalink

    siapa bilang kalau laki-laki berambut panjang itu menyerupai perempuan, apalagi yang mengikuti sunnah hanya sebatas pundak. dan tidaklah tepat kalau rambut perempuan yang dipotong pendek adalah menyerupai laki-laki karena model rambut perempuan adalah ditutup oleh kerudung. kecuai kalau si perempuan membuka kerudungnya. atau si laki – laki memakai kerudung memotong kumis agar menyerupai perempuan. ketentuan mengikuti sikon ini hanya fiqhul waki semisal fiqhul wakinnya kelompok lain dalam mengamalkan isbal. wallahu ‘alam.

    • Assalamu’alaikum, akhi barokallohu fiik… silakan baca tulisan ini dengan seksama sekali lagi…

  2. apa hukumnya bagi laki-laki yang mempunyai rambut panjang

    • silakan baca postingan ini dengan seksama.. barakallahu fiik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: