Skip to content

Perayaan Isro’ Mi’raj 27 Rajab Dalam Tinjauan

Juli 1, 2010

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya.

Namun apakah benar dalam ajaran Islam, perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan? Semoga pembahasan kali ini bisa menjawabnya. Allahumma a’in wa yassir.

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,

”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Semoga bisa memberikan pencerahan bagi pembaca sekalian. Hanya Allah yang memberi taufik.

Artikel www.rumaysho.com

Muhammad Abduh Tuasikal

About these ads

From → Belajar Islam

14 Komentar
  1. iwan permalink

    saya bertanya lagi,”apakah ada dalilnya untuk nonton TV,tidur di kasur dll.apakah anda tidak cinta kepada Rasulullah SAW?.Kalau iya mana buktinya?coba tanyakan kepada Ulama yang bener kalo mengenai agama itu.terima kasih mudah2an kita menadapatkan rahmat dari Allah.

    Akhil kariim, barokallohu fiik.. Setiap orang yang ada dalam hatinya keimanan pastilah ia akan mencintai Rasulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam-. Dan bukti cinta itu bukanlah sekedar digembar-gemborkan dengan perkataan, akan tetapi lebih dari itu, kita harus membuktikannya dengan amalan, baik amalan hati maupun amalan badan.

    Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana kesesuaian amal perbuatan kita dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya? Berapa banyak perintah yang telah shahih datangnya dari Nabi -shallallohu ‘alaihi wa sallam- yang telah mampu kita kerjakan? Berapa banyak larangannya yang telah mampu untuk kita ta’ati? Baik dari perintah-perintah yang wajib maupun yang mustahab (sunnah), atau dari larangan-larangan yang haram dan yang makruh.

    Jika perintah-perintah beliau -shallallohu ‘alaihi wa sallam- dan larangan-larangan beliau -shallallohu ‘alaihi wa sallam- yang telah jelas masih banyak yang kita tinggalkan (belum mampu kita kerjakan) atau masih banyak yang kita langgar. Jika semua yang telah jelas dalilnya tersebut masih banyak yang kita belum mampu untuk mengamalkannya, maka alangkah beraninya kita!

    Alangkah beraninya kita meninggalkan sesuatu yang telah jelas dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih rendah. Ya, lebih rendah! Karena petunjuk beliau -shallallohu ‘alaihi wa sallam- adalah lebih mulia dan lebih tinggi dibandingkan petunjuk siapapun betapa pun tinggi kedudukan orang itu…

    أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

    “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? …” (2 : 61)

    Maka dari itu wahai Saudaraku -semoga Alloh memuliakanmu-, hendaklah kita mencukupkan diri dengan apa yang telah jelas datangnya dari Rasulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam- dan para Shahabatnya. Sesungguhnya tidak ada satupun kebaikan melainkan mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya. Dan tidka ada satupun keburukan melainkan mereka telah menjauhinya dan memperingatkan kita daripadanya.

    Jika Anda menanyakan tentang bukti cinta, maka Allah lebih mengetahui tentang siapa yang lebih mencintaiNya. Karena itu Allah menguji manusia dengan firmanNya

    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (3:31)

    Maka orang-orang yang terdepan dalam mengikuti Rasulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam- merekalah orang yang terdepan dalam menunjukkan bukti cinta kepada Allah dan RasulNya.

    Adapun perkara-perkara yang Anda sebutkan seperti nonton TV dan tidur di kasur adalah termasuk perkara-perkara duniawi. Yang dihukumi sebatas, sejauh mana perkara-perkara tersebut berpengaruh terhadap agama seseorang. Jika perkara duniawi tersebut mengandung hal-hal yang diharamkan, atau membawa kepada hal yang diharamkan dalam agama maka ia bisa menjadi haram, dan sebaliknya. Wallohu a’lam.

    Dan -insya Alloh- kami senantiasa bertanya kepada Ulama yang lurus aqidah dan manhajnya dalam agama ini. Silakan lihat pembahasan-pembahasan yang disajikan dalam blog sederhana ini, semoga Alloh merahmati Anda dan saya.

    Wa barokallohu fiikum…

    • dhana permalink

      ijin share.tp apakah boleh ?

      boleh, silakan saja untuk share artikel di blog ini. Tp, klo untuk Acara Peringatan Isra’ Mi’raj maka kita tidak boleh merayakannya. Karena kita telah dicukupkan dengan 2 Hari Raya, Idul Fitri dan Idul Adha

  2. Sambihun permalink

    Klau bgitu mmperingati ulang tahun,hari pendidikan hari kemerdekaan dan hari besar nasional jg termasuk yg tidak d perbolehkan mmperingati ny krn tdk ada perintah allah dan tidak d lakukan oleh rasulullah dan sahabat.

  3. singit edan permalink

    sungguh kita hidup di zaman yang berbeda…maka selama itu tidak keluar dari aturan aqidah tiada mengapa menurut saya…kita hanyalah ma’mum yang memiliki imam masing-masing.berdirilah sesuai keyakinan ilmu yang Alloh telah memberikan-Nya kpd kita. sungguh hanyalah Alloh saja lah Yang berhak untuk menyatakan akan Kebenaran…

    • Benar, kita hidup dizaman yang berbeda, akan tetapi syari’at ini akan kekal dan senantiasa tetap berlaku hukum-hukumnya hingga waktu yang telah ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

      Dalam perkara-perkara muamalah duniawi seperti adat maka benar demikian adanya seperti yang Anda katakan, “…selama itu tidak keluar dari aturan aqidah tiada mengapa..”
      Akan tetapi jika dikait-kaitkan dengan perkara ibadah maka pembicaraanya akan berbeda. Aqidah kita meyakini bahwa agama Islam ini telah sempurna tidak ada satu perkara pun yang luput dari penjelasan, semuanya telah disampaikan oleh Rasulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam-.

      Maka dalam perkara-perkara ijtihadiyah yang terdapat kelapangan di dalamnya maka tidak mengapa kita memilih pendapat dari salah satu imam yang kita lebih meyakini keilmuannya dengan tetap berusaha mencari pendapat yang paling benar dari ikhtilaf yang ada dan tetap saling menghargai padanya.

      Allah saja yang berhak untuk menyatakan kebenaran, karena itu Allah menurukan KitabNya dan mengutus RasulNya -shallallohu ‘alaihi wa sallam-.. Agar kebenaran itu dijelaskan kepada manusia dan jin, supaya mereka mau menempuh jalan hidayah… Adapun apa yang menyelisihi kesempurnaan Islam dari perkara-perkara bid’ah maka itu jelas sebuah kesalahan. karena kebenaran hanyalah apa yang datang dari Allah dan RasulNya -shalllallohu ‘alaihi wa sallam-.

    • heru syahrizal permalink

      Assalamu’alaikum warohmatullohu wa barokatu…Ana hanya mengingatkan!! nama adalah do’a, sayangilah diri antum yang telah diciptakan dengan sempurna oleh Yang Maha Pengasih dan Penyayang…maka janganlah merendahkan diri antum sendiri dengan memakai nama atau julukan yang buruk, niscaya keburukan itu akan melekat pada diri antum, sebagaimana yang telah di sabdakan Rosulullohu Salollohu ‘alaihi Wassalam.

  4. Agus permalink

    Saya ingin tahu adakah dalil qath’iy yang melarang untuk merayakan sebuah peristiwa penting pada zaman Rasulullah saw. yang Rasulullah saw. saja ikut merayakan peristiwa penting Nabi Musa as. Jika tidak ada, anda telah mendahului Allah dan Rasulnya juga dalam membuat hukum. Hati-hatilah saudaraku! Saya bukan pendukung perayaan tersebut, namun inginlah kiranya saya menempatkan sesuatu pada tempatnya…

    • Terima kasih atas kunjungannya,

      Mungkin yang Anda maksud dengan Rasulullah ikut merayakan peristiwa penting Nabi Musa adalah Puasa ‘Asyura. Ini tidak dapat dijadikan dalil bolehnya bagi kita untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di zaman Rasulullah dengan sebab :

      1. Puasa Asyura adalah syari’at yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, sedangkan jika sekarang kita membuat acara peringatan atas peristiwa tertentu dizaman Rasulullah siapakah yang mensyari’atkannya?

      2. Kalaulah apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu menjadi dalil bolehnya peringatan-peringatan seperti yang kita lihat sekarang, tentu generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in lebih berhak untuk mengetahuinya dan mengamalkannya. Tapi kenyataannya?

      3. Kalau ada yang bersikeras untuk melakukan peringatan-peringatan tersebut maka pertanyaannya : mengapa mereka dalam acara peringatan itu identik dengan menghambur hamburkan harta, pesta dsb. sangat jauh dari Rasulullah yang “memperingati perisitwa penting nabi musa” dengan nuansa ibadah ?

      Kemudian pertanyaan Anda tentang dalil Qath’iy,

      Jika yang Anda maksud adalah hadits yang berbicara khusus tentang larangan memperingati peristiwa-peristiwa penting di zaman Rasulullah seperti larangan dari memperingati Isra’ Mi’raj misalnya, maka ini tidak ada. Tidak ada hadits yang mengatakan atau berbunyi “Janganlah kalian merayakan peristiwa Isra’ Mi’raj”, “Janganlah kalian merayakan maulid Nabi” dst. Disaat yang sama pun tidak ada dalil yang memerintahkan untuk memperingati peristiwa-peristiwa tersebut. Lalu bagaimana ?

      Jawabnya : Kita kembali kepada hukum asal ibadah. Hukum asal ibadah adalah terlarang, hingga ada dalil yang memerintahkan untuk mengerjakannya. Sebaliknya, hukum asal dari mu’amalah adalah boleh, hingga datang dalil yang melarangnya. Fahami ini dengan baik.

      Akan tetapi yang ada adalah dalil yang berisi pelarangan secara umum terhadap bid’ah dalam agama.

      Rasulullah dianugerahi Jawami’ul Kalim sehingga beliau mampu berbicara dengan kalimat yang singkat tapi mencakup berbagai penjelasan di dalamnya. Diantaranya adalah hadits tentang larangan berbuat bid’ah dalam agama. Rasulullah bersabda :

      فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

      Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka. [HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan lainnya]

      Inilah dalil Qath’iy yang menjelaskan akan terlarangnya setiap bid’ah dalam agama.

      Penjelasan tentang faidah-faidah penting seputar khutbah hajat bisa Anda baca di sini

      Jika ada yang mengatakan “Cuma satu hadits ini saja?!” atau “Ini khan cuma satu hadits” atau “Cuma modal satu hadits aja sudah berani bilang ini itu bid’ah” dan semisalnya.

      Maka kita katakan : “Iya, cukup dengan satu hadits ini.”

      Mengapa, Bagaimana ? …

      Bagaimana menurut Anda dengan sebuah larangan yang senantiasa disampaikan terus menerus secara rutin padahal apa yang dilarang itu belum pernah terjadi di masa itu dan bahkan tidak akan mungkin terjadi di zaman itu, apa yang terbayang dibenak Anda tentang hal yang dilarang itu apakah dia adalah sebuah perkara yang remeh ataukah perkara yang sangat besar? Silakan dijawab!

      Tahukah Anda kapan dan dimana larangan itu disampaikan oleh Rasulullah dan kepada siapa larangan itu beliau sampaikan pertama kali?

      Rasulullah menyampaikan larangan berbuat bid’ah itu di setiap kali beliau berkhutbah didepan para Shahabatnya, dalam khutbah jum’at dan lainnya.

      Tahukah Anda bagaimana keadaan Rasulullah ketika menyampaikan larangan tentang hal tersebut?

      Keadaan beliau ketika itu adalah seperti disebutkan dalam hadits tentang Khutbah beliau,

      عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

      “Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata,”Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan:’ Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi’, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore’.” [HR Muslim, no. 867].

      Dengan gambaran di atas, adakah yang masih menganggap bahwa perkara bid’ah ini adalah perkara yang remeh?

    • baik, puasa memang disyari’atkan. Tapi bagaimana jika perayaan tersebut di isi dengan ta’lim agama? bukankah ini juga disyari’atkan hanya saja menurut saya orang yang menganggap bahwa perayaan seperti itu adalah wajib dan menyalahkan orang lain karena tidak melakukannya, ini juga salah. Sebab cara memperingatinya adalah mempunyai banyak cara. Jadi menurut saya, memperingati maulid atau isra ini adalah sesuatu yang mustahabm begitu juga dengan praktik apa yang dipakai untuk memperingatinya, itu juga mustahab, karena prakteknya adalah ta’lim….Dan ternyata anda pun tidak bisa menyebutkan dalil qath’iy yang saya tanyakan. Jadi pengharaman anda adalah tidak beralasan dan terlalu berani. Anda tahu bukan tentang kisah sahabat yang dalam shalatnya selalu membaca surat al ikhlash? Bagaimana reaksi Nabi saw.? ternyata beliau bertanya dahulu, “kenapa engkau berbuat demikian?”. …

    • Sepertinya Anda belum membaca Artikel di atas dan langsung berkomentar, “menurut saya…” .. “menurut saya…”.. dan “menurut saya…”.

      Anda pun belum membaca jawaban yang saya berikan atas komentar Anda terdahulu… dan berkomentar “menurut saya…”… “menurut saya…” dan “menurut saya…”

      Di atas telah disebutkan penjelasan para Ulama tentang larangan merayakan malam Isra’ Mi’raj, dijawaban saya terdahulu saya telah sebutkan dalil Qath’iy yang melarang setiap bid’ah dalam agama.

      Adapun pendalilan Andda dengan kisah tersebut sangat tidak tepat dan menunjukkan Anda belum faham apa itu ibadah…

      dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan “QUL HUWALLAHU AHAD.” Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda:

      سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ

      “Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” Lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab,

      لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا

      “Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.” Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

      “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

      Banyak orang berdalil dengan hadits ini untuk mencari pembenaran atas bid’ah yang mereka perbuat, padahal pendalilan mereka sama sekali tidak tepat. Perhatikanlah :

      • Kisah itu terjadi ketika Rasulullah masih hidup dan wahyu masih terus turun kepada beliau. Ini artinya masih zaman pensyari’atan, dan kita tahu termasuk hal yang disyari’atkan adalah apa yang beliau perintah dan apa yang beliau larang dan apa yang beliau diamkan adalah mubah.
      • Shahabat tersebut mengamalkan amalan yang ada tuntunannya dari Rasulullah, karena beliau memerintahkan untuk membaca apa yang mudah bagi kita untuk kita baca setelah Al-Fatihah di dalam shalat. Ini menunjukkan bahwa amalan Shahabat tersebut bukan bid’ah, dan tidak ada seorang shahabatpun yagn berbuat bid’ah.
      • Shahabat yang lain melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah untuk meminta keputusan apakah perbuatan tersebut dibenarkan, kemudian Rasulullah memerintahkan agar menanyakan kepada orang teresebut apa yang mendorongnya melakukan hal itu.
      • Berdasarkan jawaban dari orang yagn melakukan amalan tersebut Rasulullah membenarkan orang tersebut dan menjanjikan kebaikan bagi yang mengamalkan semisal orang tersebut.

      Adapun bid’ah-bid’ah yang ada :
      - Adakah dasarnya dalam syari’at ?
      - Adakah Rasulullah menyetujuinya?

      Sekali lagi, dalam hal ibadah yang menjadi pertanyaan bukanlah “apakah ada dalil yang melarangnya?” tapi “adakah dalil yang memerintahkannya?”

      Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk berpegang dengan Sunnah.

      Saran saya, agar tidak berulang pertanyaan yang semacam ini ada baiknya Anda membuka situs http://almanhaj.or.id ada banyak pembahasan bermanfaat di sana yang insya Allah akan menjadi sebab bagi Anda untuk memahami dan mengikuti Sunnah. Barakallahu fiikum

    • Tentang larangan ulama, tahukah anda bahwa banyak ulama yang menyetujuinya juga? ulama yang mana maksud anda? yang hanya anda utarakan adalah pendapat ulama yang melarangnya dan tanpa dalil qath’iy akan pengharamannya. Kalo masalah hadits bid’ah dalam khutbah Nabi saw. sepertinya anda harus belajar lagi seluk beluk tentang lafazh “kullun”.

      Maksud saya memberikan contoh kisah di atas adalah bukan dari sisi membaca al ikhlasnya yang bid’ah, tapi dia melakukannya dalam setiap shalatnya yang seeolah-olah dia memandangnya harus untuknya. Apa bedanya perbuatan baru yang dilakukan oleh sahabat dan kita? jika sahabat dan kita sama-sama mempunyai keinginan yang sama bahwa perbuatan barunya benar-benar sejalan dengan al Qur an dan sunnah?

      Kita di sini berdialog antara kita, bukan pendapat ulama. Karena jadinya antum akan mengemukakan pendapat ulama antum, saya pun akan melakukan sebaliknya. Kemukakan hadits sandaran anda dan bagaimana istinbathnya menurut ilmu anda.

      Jawab pertanyaan saya, adakah “dalil qath’iy” yang mengharamkan untuk memperingati isra Nabi saw. dengan mengadakan ta’lim agama….itu saja saudaraku. saya tidak meminta yang lain.

      Seandainya Beliau saw. masih hidup dan kita tanyakan pada beliau bahwa ada suatu kaum yang memperingati hari penting Beliau dengan amalan ta’lim agama, maka apa kepastian jawaban Beliau menurut antum? apakah beliau akan mengharamkan atau membolehkan? Saya dalam menganggapnya mustahab pun tidak 100 % benar karena bukan berdasar dalil qath’iy, namun anda telah mengharamkannya seolah telah pasti jawabannya, bahkan anda mendahului Nabi saw.

      Silahkan jawab dulu pertanyaan saya dengan dalil qath’iy, anda tahu dalil qath’iy?

    • Afwan akhi, sepertinya Anda hanya ingin berkomentar tanpa membaca apa yang saya jawab dari komentar Anda.

      Lafazh “kullu” itu artinya seluruh. Dan ini sangat mudah difahami oleh manusia yang paling awam sekalipun, insya Allah.

      Contohnya dalam ayat surah Ar-Rahman : 26

      كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ [Semua yang ada di bumi itu akan binasa.]

      Adakah orang yang berakal mengatakan bahwa lafazh kullu diartikan sebagai “sebagian” ?

      Atau dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya :

      كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ [Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam).]

      Adakah yang mengatakan bahwa, ada sebagian anak yang dilahirkan tidak di atas fitrah ?

      Jika ada suatu hal yang keluar dari keumuman yang disebutkan dalam dalil maka ini dinamakan sebagai pengkhususan/takhshish dari keumuman yang dicakup oleh lafazh “kullu” itu sendiri, bukan menunjukkan bahwa lafazh “kullu” itu bisa menunjukkan makna sebagian.

      Contoh : firman Allah tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad (Al-Ahqaf : 25)

      تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ [yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka]

      Allah menyebutkan tentang Angin yang dikirim kepada kaum ‘Ad bahwa angin itu menghancurkan segala sesuatu, seluruhnya. Selesai sampai di sini? Tidak!. Disini lafazh “kullu” di takhshish dengan “Perintah Allah”. Artinya, angin itu menghancurkan semua yang memang diperinahkan oleh Allah untuk dihancurkan.

      Contoh lainnya, disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

      كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى [Setiap ummatku akan masuk Surga, kecuali yang enggan.’]

      Rasulullah menyebutkan bahwa semua ummatnya akan masuk surga, ini secara umum. Tapi dikhususkan dari keumuman itu adalah siapa saja yang enggan, yaitu orang yang enggan untuk mentaati Rasulullah. Semoga kita tergolong orang yang mau tunduk dan pasrah kepada syari’at yang beliau bawa yang masuk dalam keumuman sabda beliau tersebut. Aamiin.

      Semoga dengan sedikit contoh di atas menjadi jelas bagi kita akan makna dari lafazh “kullu” bahwa ia adalah menunjukkan kepada makna keseluruhan, bukan makna sebagian. Kecuali jika ada yang mengkhususkannya sebagaimana contoh di atas dan banyak contoh semisalnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

      Jika kita memaksakan bahwa lafazh kullu itu bermakna sebagian, secara mutlak meskipun tanpa ada indikasi yang mengkhususkannya maka ini akan berdampak buruk bahkan bisa jatuh kepada kekufuran.

      1. Dalam hadits tentang setiap bid’ah adalah sesat. Jika lafazh “kullu” diartikan dengan makna sebagian maka konsekuensinya ada sebagian bid’ah yang tidak sesat, ada sebagian kesesatan yang tempatnya di surga.

      وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

      Setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

      Perhatikanlah, ketiga lafazh “kullu” dalam hadits di atas tidak ada satupun indikasi yang akan memalingkan sebagian dari keseluruhan yang dimaksud dalam hadits tersebut. Jika Anda memaksakannya maka ada sebagian kesesatan yang tempatnya adalah di Surga. Sebab diakhirat tidak ada tempat lain selain Surga dan Neraka.

      Maka bagaimana mungkin seorang muslim akan mengatakan bahwa ada kesesatan di dalam Surga ?!

      2. Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyebutkan tentang luasnya kekuasaan Allah, bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, Allah mengetahui segala sesuatu, Allah menciptakan segala sesuatu

      وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

      وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

      ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

      Dalam petikan ayat di atas semuanya menggunakan lafazh “kullu” tanpa ada takhsish sedikit pun sama seperti pada hadits tentang bid’ah. Jika Anda mengatakan bahwa lafazh “kullu” dalam hadits tersebut bermakna sebagian, maka konsekuensinya Anda harus mengatakan hal yang sama tentang ayat-ayat ini!

      Akankah ada seorang muslim mengatakan bahwa ada sebagian hal yang Allah tidak berkuasa atasnya?

      Akankah ada seorang muslim mengatakan bahwa ada sebagian hal yang tidak diketahui oleh Allah?

      Akankah ada seorang muslim mengatakan bahwa ada sebagian dari makhluk ini yang tidak diciptakan oleh Allah?

      Subhanallah, Allahu Akbar!

      Kemudian tentang hadits yang Anda bawakan tersebut, sebaiknya Anda membaca lagi jawaban saya terdahulu.

      Kemudian pertanyaan Anda “Apa bedanya perbuatan baru yang dilakukan oleh sahabat dan kita? jika sahabat dan kita sama-sama mempunyai keinginan yang sama bahwa perbuatan barunya benar-benar sejalan dengan al Qur an dan sunnah?”

      Saya katakan : Jelas berbeda, sebagaimana berbedanya kedudukan kita dengan mereka dan tidak akan pernah sama.

      Ketika shahabat mengerjakan suatu perbuatan, atau berkeinginan melakukan suatu perbuatan terkadang mereka menanyakannya terlebih dahulu kepada Rasulullah dan terkadang mereka langsung mengerjakannya dengan ijtihad mereka.

      Jika mereka melakukannya karena ijtihad maka mereka akan menanyakan perihal perbuatan tersebut kepada Rasulullah atau akan ada shahabat lain yang menanyakannya kepada, jika beliau menyetujui jadilah ini bagian dari Syari’at yang disebut sebagai sunnah Taqririyah, seperti dalam kisah shahabat yang antum bawakan. Jika beliau melarang maka bisa jadi perbuatan yang akan dilakukan itu adalah sebuah hal yang diharamkan, seperti seorang pemuda yang meminta izin untuk berzina.

      Intinya, bagaimanapun amalan yang dilakukan oleh Shahabat jika amalan tersebut benar maka langsung akan mendapatkan persetujuan dari Rasulullah atau berupa Wahyu dari Allah. Jika salah maka Rasulullah akan langsung melarangnya atau mengkoreksinya. Dan semua itu masuk dalam bagian Syari’at.

      Bagaimana dengan kita?!

      Kita tidak mungkin mengetahui sebuah amalan itu benar ataupun salah kecuali dengan melihat dalil kemudian penjelasan para ulama tentang dalil tersebut. Tidak bisa dan tidak boelh bagi kita untuk semata-mata mengandalkan ijtihad kita untuk menetapkan amalan ini baik atau amalan ini buruk!

      وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

      [Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.]

      Akhi, Anda mengajak dialog antara kita tanpa menyertakan pandangan ulama’. Subhanallah! Alangkah tingginya ilmu Anda…

      Pendapat ulama itu kita gunakan untuk mendukung dalil bukan untuk melawan dalil. Para ulama telah bersepakat bahwa yang wajib diikuti adalah dalil bukan perkataan manusia siapapun orangnya. Dengan mengikuti dalil berarti kita telah menjalankan wasiat mereka dan dengan demikian kita telah menghormati mereka dengan penghormatan yang semestinya.

      Dalil Qath’iy yang melarang semua bentuk bid’ah dalam agama Islam ini diantaranya adalah hadits yang telah saya sebutkan terdahulu…

      فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

      Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

      RENUNGAN TERAKHIR

      Allah berfirman

      كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ

      Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya [Abasa : 23]

      Imam Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Mujahid tentang Ayat ini

      لا يقضي أحدا أبدا كل ما افترض عليه

      “Tidak akan ada seorang pun yang mampu menunaikan seluruh apa yang diwajibkan oleh Allah atas dirinya selama-lamanya”

      Renungkanlah ayat ini baik-baik, kemudian lihatlah kepada amalan-amalan yang Allah wajibkan atas kita dan bagaimana sikap kita dalam menunaikan perintah Allah tersebut, sudahkah kita mengerjakannya dengan sempurna sesuai yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya??

      Jangan… Jangan terburu-buru menjawabnya! Lihatlah terus dengan seksama…!

      Bagaimana kelak kita akan menghadap kepada Allah dan kita akan ditanya tentang perintah-perintah Allah yang Allah wajibkan atas kita…

      Bagaimana mungkin kita disibukkan dengan sesuatu yang Allah dan RasulNya tidak pernah menganjurkannya apalagi mewajibkannya sedangkan kita melalaikan apa yang Allah wajibkan atas kita…

      Bagaimana mungkin kita sibuk dengan sesuatu yang diperdebatkan apakah dia termasuk bagian syari’at ataukah dia termasuk bid’ah yang sesat sedangkan kita lalai dari menyempurnakan kewajiban…

      Semoga dengan merenungi ayat diatas akan mengingatkan kita akan pentingnya kita bersungguh-sungguh dalam mengamalkan islam dan berpaling dari setiap bid’ah…

      Adapun orang yang tidak merasa cukup dengan nasihat dari Al-Qur’an maka demi Allah tidak akan ada satu pun yang akan mencukupinya…

      Semoga Allah memaafkan segala kekurangan kita dan memberikan kita hidayah untuk istiqamah di atas sunnah dan merasa cukup dengannya.

      Barakallahu fiikum

      Saudaramu,
      Abu Umamah

    • wah rupanya betul anda belum mengetahuinya ya. Ada kullun yang menerima pengecualian dinamakan “kullun” dan ada yang tidak yang dinamakan “kullun” kulliyyat, dan ini sudah begitu umum bagi kami penuntut ilmu di madrasah ketika mempelajari ilmu alat. Saya beri contoh “Kullu syai in ghairullah makhluqun” dan “wa kulla syai in ja’alnaahu minal maa”, coba anda perhatikan!

      ulama kami menentukan hukum sunnah dari sebuah hadits shahih walaupun hasil dari pengkiasannya dan menurut kami ini adalah qiyas yang kuat. Sedangkan antum mengharamkannya dengan sebuah hadits yang sangat begitu umum maknanya dan tak tahu ke mana hadits tersebut harusnya dipakai, itu saja sebetulnya masalahnya saudaraku.

      Lalu saya meminta hadits yang qath’iy karena antum begitu berani mengharamkannya, bahkan memakruhkannya saja harus dengan dalil atau qiyas seperti yang ulama kami lakukan, dan antum tidak sanggup.

      Jika antum hanya mengandalkan hadits yang begitu umum seperti itu, bagaimana titik temu dengan sahabat ‘Umar yang tidak memberikan zakat pada muallaf, bagaimana dengan ‘Utsman ra. yang menambah adzan jum’at menjadi dua kali, bagaimana dengan ‘Umar ra. yang melakukan tarawih 20 raka’at, bagaimana dengan ucapan Beliu “ini adalah hasanah”? atau antum berani menuduh mereka dengan ahli bid’ah? Sesungguhnya hanya ilmu antum dalam masalah ini yang belum mencapainya.

      Perhatikan ulama kami dalam mentafsirkan hadits berikut :

      “Man ‘amila ‘amalan laisa fii amrinaa haadzaa fahuwa raddun”

      Imam Syafi’i berkata tentang maksud hadits ini, “Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang baru yang bertentangan dengan al Qur an, as Sunnah, ijma’ ‘Ulama dan minimal qiyas, maka amalannya tertolak”

      Wallahu a’lam

      O iya jika memang hadits qath’iy ini ada tolong dicantumkan, namun saya berpendapat bahwa hal itu tidak akan anda dapatkan. Tariklah kesimpulan menghukumi haramnya, minimal antum berfatwa begini,”Memperingatinya adalah sunnah, perayaanya adalah boleh sedangkan ta’lim agamanya bernilai ibadah”

      Begitu lah saudaraku nasihat dariku, semoga antum tidak berpendapat bahwa kebenaran dan takwil agama ini berada hanya dibelakang punggungmu….sehingga menuduh orang yang tidak sepaham denganmu adalah ahli kesesatan dan inilah menurutku yang termasuk bid’ah mungkarat.

      Ma’af saya membaca balasan antum secara cepat, karena antum tidak menjawab ke pusat permasalahan, yaitu apa dalil qath’iy nya.

    • Alhamdulillah,
      Akhi -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-, pertanyaan antum tentang dalil Qath’iy tentang terlarangnya bid’ah apakah itu Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi dsb. telah saya sebutkan dalam tanggapan saya terdahulu, silakan Anda cermati lagi.

      Mungkin di sini akan saya perjelas. Diantara dalil tentang larangan bid’ah ada yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Perkataan para ulama Salaf (untuk lengkapnya bisa antum baca di sini). Diantara dalil dari hadits -sudah saya sebutkan sebelumnya-:

      فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

      Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

      Na’am Akhi, ini diantara dalil Qath’iy tentang terlarangnya semua bid’ah. Maka dalil yang model bagaimana lagi yang Anda inginkan?

      Jika yang antum maksud adalah hadits yang secara langsung berisi larangan melakukan peringatan isra’ mi’raj atau maulid nabi atau bid’ah-bid’ah lainnya secara terperinci maka ini tidak ada, yang ada adalah hadits yang bersifat umum yang melarang setiap bentuk bid’ah. Mengapa?

      1. Karena -wallahu a’lam- inilah diantara mu’jizat Rasulullah, beliau dianugerahi Jawami’ul Kalim sehingga mampu untuk berbicara dengan ungkapan yang ringkas namun kandungan maknanya begitu luas dan dalam. Kandungan dari hadits ini telah banyak dijelaskan oleh para Ulama.

      2. Karena bid’ah yang akan muncul setelah beliau wafat akan begitu banyak, sedangkan pokok segala urusan adalah Islam maka cukuplah dengan menjelaskan dua perkara. pertama : menjelaskan apa itu Islam kedua : menjelaskan bahaya bid’ah.

      Adapun tentang lafazh “kullu” silakan juga antum baca lagi tanggapan saya sebelumnya… kemudian ada baiknya antum baca tafsir surah Al-Anbiyaa’ ayat 30. Insya Allah tidak akan lepas dari apa yang telah saya sebutkan kepada Anda bahwa lafazh “kullu” itu asalnya bermakna umum dan mencakup, kecuali jika ada indikasi yang memalingkan maknanya.

      Pernyataan/Pertanyaan Anda lainnya insya Allah sudah terjawab semua, Alhamdulillah. Silakan baca di sini. Termasuk tentang ucapan Umar bin Khatthab dan Imam Asy-Syafi’i.

      Barakallahu fiik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: