Skip to content

Bid’ah Bid’ah Di Bulan Ramadhan

Juli 26, 2010

Satu hal yang menodai bulan Ramadhan adalah bermunculannya amalan-amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Karena sudah turun temurun dilakukan merekapun menganggap baik bid’ah tersebut. Itulah sebabnya setan lebih menyukai bid’ah daripada maksiat. Khususnya di bulan Ramadhan ini, salah satu cara setan untuk menghalangi kebaikan di bulan ini adalah menebar amalan-amalan bid’ah. Para pelaku bid’ah itu merasa mereka lebih dekat kepada Allah, padahal mereka semakin jauh dari-Nya. Yang sangat menyedihkan adalah amalan-amalan bid’ah ini justru menjamur di bulan Ramadhan!

Dalam kajian kali ini kami coba membahas beberapa amalan bid’ah yang sering dilakukan oleh kaum muslimin. Semoga mereka dapat meninggalkan dan bertaubat darinya. Kami mencupliknya dari kitab Mu’jamul Bida’ oleh Raa-id bin Shabri bin Abi ‘Alfah dan kitab Al-Bida’ Al-Hauliyah oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad At-Tuwairijiy serta beberapa referensi lainnya.

1. Bid’ah Punggahan.
Yakni makan-makan atau kenduri di masjid atau surau satu hari menjelang Ramadhan. Di beberapa tempat masyarakat berbondong-bondong membawa makanan beraneka ragam untuk kenduri di masjid menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kenduri seperti ini disebut punggahan. Hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah, para Sahabat maupun Salafus Shalih.

2. Bid’ah pesta ru’yah.
Yaitu berkeliling kota atau desa menyambut malam pertama bulan Ramadhan sebagaimana biasa dilakukan oleh pengikut-pengikut tarikat dan orang awam. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa’ fi Madhaar Al-Ibtidaa’ karangan Syeikh Ali Mahfuzh.

3. Bid’ah hisab.
Yakni menentukan awal Ramadhan dengan perhitungan hisab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa telah menegaskan bahwa cara seperti itu adalah bid’ah dalam agama. Silakan lihat Majmu’ Fatawa (XXV/179-183).

4. Mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.
Perbuatan seperti itu merupakan kedurhakaan terhadap Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam. Rasulullah melarang mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi yang bertepatan dengan hari puasanya. Silakan lihat kitab Al-Ibdaa’ fi Madhaar Al-Ibtidaa’ karangan Syeikh Ali Mahfuzh.

5. Menyewa Qori untuk menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan.
Perbuatan ini termasuk bid’ah makruh, silakan lihat kitab As-Sunan wal Mubtada’aat (161) dan kitab Bida’ Al-Qurra’ karangan Muhammad Musa (42).

6. Bid’ah adanya waktu Imsak sebelum Azan Shubuh di bulan Ramadhan.
Bagaimana mungkin manusia mengharamkan apa2 yang dihalalkan Allh SWT, dimana Allah SWT melalui Rasulnya menghalalkan manusia untuk makan dan minum sampai terdengar azan shubuh, namun ada sebagian orang yang mengharamkannya 10-15 menit sebelum azan shubuh.

Silakan lihat kitab Tamaamul Minnah karangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (415).

7. Bid’ah Tashir.
Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak: Sahur….sahur. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in.

Di negeri Mesir, para muadzdzin menyerukan lewat menara masjid: Sahur… sahur… makan…. minum…., kemudian membaca firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

Di negeri Syam lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.

Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak: Sahur….sahur. Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon atau meriam bambu, dan lain sebagainya.

Semua itu adalah perbuatan bid’ah.

8. Bid’ah shalat Tarawih setelah shalat Maghrib.
Bid’ah ini umumnya dilakukan oleh kaum Rafidhah (Syi’ah). Sebab mereka mengingkari shalat tarawih bahkan membencinya. Menurut mereka shalat tarawih itu bid’ah yang diada-adakan oleh Umar Radhiyallahu ánhu.

9. Bid’ah shalat Al-Qadar.
Yakni mengerjakan shalat dua rakaat berjama’ah setelah shalat tarawih, kemudian di penghujung malam mereka mengerjakan shalat seratus rakaat di malam yang mereka yakini sebagai malam Lailatul Qadar, karena itulah mereka menamakannya shalat Al-Qadar.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakannya sebagai amalan bid’ah berdasarkan kesepatakan para ulama. Silakan lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa (XXIII/122).

10. Bid’ah mengumpulkan ayat-ayat berisi doa dan membacanya di rakaat terakhir shalat tarawih setelah membaca surat An-Naas. Silakan lihat kitab Al-Baa’its karangan Abu Syaamah (halaman 84).

11. Bid’ah perayaan malam khatam Al-Qurán.
Yakni berdoa dengan suara keras secara berjama’ah atau sendiri-sendiri setelah mengkhatamkan Al-Qurán.

12. Bid’ah perayaan Nuzul Al-Qurán.
Perayaan ini dilakukan setiap tanggal tujuh belas Ramadhan. Perayaan ini dan perayaan-perayaan lain sejenisnya seperti maulid nabi, isra’ mi’raj dan tahun baru Islam merupakan perbuatan bid’ah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat sepeninggal beliau.

13. Bid’ah perayaan mengenang perang Badar.
Salah satu perayaan bid’ah yang diada-adakan oleh manusia adalah peringatan perang Badar pada malam ke tujuh belas Ramadhan. Orang-orang awam dan yang mengaku pintar berkumpul di masjid pada malam itu. Perayaan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qurán kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kisah perang Badar.

14. Menunda azan Maghrib di bulan Ramadhan dengan alasan untuk kehati-hatian.
Hal ini bertentangan dengan petunjuk nabi yang memerintahkan umatnya agar segera berbuka begitu bulatan matahari telah tenggelam di ufuk barat.

15. Berziarah kubur menjelang Ramadhan dan sesudahnya.
Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang membumbuinya dengan perbuatan-perbuatan bid’ah atau bahkan syirik. Berziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat Akhirat, namun mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu merupakan bid’ah dalam agama. Rasulullah tidak menganjurkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur.

16. Menyalakan lilin di depan rumah dan kembang api pada malam dua puluh tujuh Ramadhan.
Sebagian orang melakukannya dengan keyakinan bahwa para malaikat akan menyinggahi rumah yang dipasangi lilin. Perbuatan seperti itu jelas bid’ah dan mirip seperti perbuatan orang-orang Nasrani merayakan natal atau tahun baru, wal iyadzu billah minad dhalal.

17. Bid’ah Megengan.
Yakni kenduri di rumah-rumah yang dilakukan pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Bid’ah ini banyak dilakukan di kampung-kampung di pulau Jawa.

18. Bid’ah Wadaa’ Ramadhan.
Salah satu bid’ah yang diada-adakan di bulan Ramadhan adalah bid’ah wadaa’ (perpisahan) Ramadhan. Yakni lima malam atau tiga malam terakhir di bulan Ramadhan para muadzdzin dan wakil-wakilnya berkumpul, setelah imam mengucapkan salam pada shalat witir, mereka melantunkan syair-syair berisi kesedihan mereka dengan kepergian bulan Ramadhan. Syair ini dilantunkan secara bergantian tanpa putus dengan suara keras. Tujuannya untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa malam ini adalah malam perpisahan bulan Ramadhan.

19. Bid’ah takbiran bersama2 dengan lafazh2 bid’ah dan memukul Beduq di malam ‘Iedul Fithri.
Menurut sunnah nabi, takbiran dilakukan sendiri2 dengan boleh mengeraskan suara.

20. Bid’ah dzikir berjama’ah dengan suara keras disela-sela shalat tarawih.
Silakan lihat kitab Al-Madkhal karangan Ibnul Haaj (II/293-294).

21. Ucapan muadzdzin sebelum memulai shalat tarawih atau disela-sela shalat tarawih: “Shalaatut taraawih rahimakumullah”. Lalu para berjamaah menyahut dengan teriakan2 nggak jelas.

22. Melafalkan niat: “Nawaitu shauma ghadin….” untuk berpuasa yang biasa dibaca setelah sahur.
Tidak ada satupun riwayat dari sahabat maupun tabi’in yang menyebutkan bahwa mereka melafalkan niat puasa seperti ini.

23. Bid’ah Tahwiithah.
Yaitu doa di akhir jum’at di bulan Ramadhan yang diucapkan oleh khatib di atas mimbar.

24. Bid’ah memilih-milih masjid untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan, hingga terkadang harus bersafar karenanya. Rasulullah Shallallahu álaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk shalat di masjid yang terdekat dengan kita dan melarang memilih-milih masjid.

25. Bid’ah Hafizhah.
Yakni surat sakti yang ditulis oleh khatib di akhir jum’at pada bulan Ramadhan, sebagian orang jahil meyakini surat sakti ini dapat menjaga mereka dari bahaya kebakaran, banjir, pencurian dan musibah lainnya.

26. Membaca surat Al-An’am (pada rakaat terakhir shalat tarawih di malam kedua puluh tujuh Ramadhan).

27. Bid’ah shalat khatam Al-Qurán pada bulan Ramadhan dengan melakukan seluruh sujud tilawah dalam satu rakaat.

28. Mengada-adakan gerakan ataupun ucapan dalam shalat tarawih yang tidak ada tuntunannya dalam sunnah.

Sebagai contoh ucapan sebagian orang di beberapa negeri Islam: “Shallu yaa Hadhdhaar ‘Alan Nabi” atau ucapan: “Ash-Shalaatul Qiyam Atsabakumullah”. Demikian pula takbir dan tahlil setiap selesai dua rakaat, membaca shalawat nabi, menyuarakan tabligh (penyampaian suara) diantara mereka dengan suara keras. Dan perbuatan-perbuatan bid’ah, sesat dan mungkar lainnya yang mesti ditinggalkan karena sangat mengganggu orang yang sedang beribadah di rumah Allah.

29. Meniru-niru bacaan para qari’.
Hampir mirip dengan kesalahan di atas adalah meniru-niru bacaan sejumlah qari’ sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang sekarang. Kadang memaksakan diri meniru bacaannya. Sehingga yang menjadi tujuannya hanyalah mengelokkan suara, menarik perhatian orang kepadanya, mengatur alat pengeras suara dan sound system untuk menarik jama’ah shalat.

30. Membaca doa khatam al-qurán dalam shalat tarawih.
Sebagian imam ada yang berlebihan dalam masalah ini. Mereka sengaja menyusun doa-doa dengan irama tertentu, mengikuti sajak, berusaha menangis atau memaksakan diri menangis dan khusyuk serta merubah-rubah suara dengan cara yang tidak pantas menjadi contoh dalam membaca Al-Qurán.

Demikianlah beberapa bid’ah yang dapat kami rangkum dalam kesempatan kali ini. Sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk bid’ah lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di sini. Hendaknya kaum muslimin dapat menghindari amalan-amalan bid’ah tersebut agar bulan Ramadhan yang suci ini tidak ternodai dengannya.
_____________________
[Disampaikan oleh Abu Ihsan Al-Atsary pada acara Kajian Islam dengan Tema Bedah Bid’ah Seputar Ramadhan pada hari Rabu 13 Oktober 2004 di Mushalla FISIP USU.]

BID’AH BID’AH DI BULAN RAMADHAN
Oleh : Abu Ihsan Al-Atsari

Sumber :

http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=107714340683&id=1275657261

http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/34497

About these ads

From → Belajar Islam

12 Komentar
  1. kolomkiri permalink

    jd anda perlu belajar lebih banyak…

    • Terima kasih atas masukannya mas, insya Alloh saya akan terus belajar dan belajar , adapun jawaban pernyataan Anda dapat dilihat pada bagian ke-4 dan ke-5 dari artikel “Mengenal Bid’ah”, dan Anda dapat membaca bagian sebelumnya dari artikel tersebut jika Anda memiliki keluangan waktu. Kemduian jika Anda tidak berkeberatan silakan baca ebook “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” yang dapat Anda download dari halaman download ebook…

  2. muhammad hassan permalink

    1. Sebelum masuk ke dalam Sabda Rasulullah dan pendapat para Ulama tentang bid’ah, alangkah baiknya jika penulis lebih menekankan terlebih dahulu apa itu arti bid’ah secara bahasa (umum) dan apa itu arti bid’ah secara istilah (khusus) seperti halnya pelajaran SD dahulu karena kita semua tau bahwa kata bid’ah itu bukanlah bahasa Indonesia sehingga diperlukan pemahaman baik secara bahasa maupun secara istilah agar tidak terjadi kerancuan…harus ada dasarnya terlebih dahulu dalam memahami arti bid’ah….

    2. Mengapa diperlukan pemahaman secara bahasa dan istilah? karena pengertian secara bahasa (umum) tentu berbeda dengan pengertian secara istilah (khusus), pengertian secara bahasa belum tentu masuk ke dalam pengertian secara istilah…

    3. Seperti halnya shalat, shalat secara bahasa (umum) artinya adalah doa, sedangkan shalat secara istilah (khusus) artinya adalah serangkaian kegiatan ibadah khusus yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Jadi, maksud perintah shalat yg terdapat di beberapa Firman Allah adalah perintah mengerjakan shalat secara istilah/syara’, bukan secara bahasa….

    4. Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:
    “Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”

    5. Begitu juga dengan Sabda Rasulullah dan perkataan Umar serta Imam Syafi’i, apakah sama maksud bi’dah yg ada di dalam Sabda Rasulullah dengan bid’ah yg baik yg ada di dalam perkataan Umar dan Imam Syafi’i? tentu jawabannya adalah berbeda (tidak sama), karena tidak mungkin (mustahil) orang sekaliber Umar bin Khattab dan Imam Syafi’i menghasanahkan/menganggap baik apa yg Rasulullah sesatkan…..

    6. Adapun bid’ah sesat yg terdapat dalam Sabda Rasulullah adalah bid’ah secara istilah (syara’) yakni mencakup setiap/semua bid’ah (perkara baru) tanpa terkecuali yg terbatas hanya dalam urusan keagamaan saja (Habluminallah), selain kepada urusan keagamaan, maka boleh kita membuat perkara baru selama tidak mengandung unsur yg dilarang, karena segala urusan keagamaan/perbuatan yg dapat mendekatkan diri kepada Allah, pasti tentunya telah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat sehingga kita tidak boleh membuat ritual-ritual peribadatan baru…
    Jadi, bid’ah yg sesat itu ruang lingkupnya terbatas yakni sebatas dalam hal ritual peribadatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (Habluminallah)…..

    Rasulullah bersabda,
    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

    Beliau juga bersabda,
    “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,
    “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

    Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

    Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

    Jadi, tidaklah cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaidah yang benar adalah “Niat baik semata belumlah cukup.”

    7. Adapun perkara baru dalam hal keduniaan (Habluminannas), maka itu boleh-boleh saja dilakukan selama tidak mengandung unsur yg dilarang, berbeda halnya dengan perkara peribadatan yg tidak boleh dilakukan sebelum ada perintahnya,
    Rasulullah bersabda,
    “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

    8. Memang terdapat beberapa riwayat dari sebagian Ulama terdahulu yg mengaggap baik sebagian perbuatan bid’ah, padahal yg dimaksud tidak lain adalah BID’AH SECARA BAHASA (UMUM), BUKAN MENURUT SYARI’AT, karena yg terlarang dalam sabda Rasulullah itu hanyalah terbatas ke dalam bid’ah menurut syari’at….
    Seperti Ibnu Rajab yg mengomentari perkataan Imam Syafi’i tentang bid’ah dibagi 2, Ibnu Rajab berkata :”…..Adapun bid’ah mahmudah (yang baik) yakni sesuai dengan sunnah, yaitu apa-apa yang ada asalnya berupa sunnah sebagai tempat merujuk kepadanya, dan yang dimaksudkan oleh beliau tersebut hanyalah merupakan pengertian bid’ah secara bahasa, bukan menurut syara’….”
    (Shifatus Shafwah,2/256)
    Jika maksud bid’ah mahmudah itu adalah bid’ah secara bahasa saja, maka makna bid’ah mahmudah yg terkandung di dalam pendapat Imam Syafi’i tsb adalah bid’ah yg maknanya umum (luas) termasuk di dalamnya perkara baru dalam urusan keduniaan juga…

    9. Mengenai perkataan Umar, itu hanyalah bid’ah secara bahasa saja yg memiliki makna yg umum, bid’ah itu bahasa Arab yg biasa diucapkan….karena shalat tarawih berjamaah tidak dilakukan pada zaman khalifah sebelumnya, adapun yg dilakukan Umar adalah menghidupkan kembali Sunnah Rasulullah, bukan mengadakan suatu ritual peribadatan yg baru….
    Jadi, dalam kasus tsb, Umar tidaklah membuat bid’ah/mengada-ada suatu ritual peribadatan, karena apa? karena ;
    - Rasulullah melakukan shalat tarawih
    - Rasulullah melakukan shalat tarawih pada bulan Ramadhan
    - Rasulullah melakukan shalat tarawih berjamaah
    - Rasulullah melakukan shalat tarawih di masjid
    - Rasulullah melakukan shalat tarawih pada malam hari bulan Ramadhan
    Rasulullah meninggalkannya karena khawatir diwajibkan, lain halnya jika Umar mewajibkan shalat tarawih, maka itu artinya Umar telah melakukan bid’ah yg terlarang sebagaimana yg Rasulullah jelaskan tentang bid’ah tsb….akan tetapi kan Umar tidak mewajibkan shalat tarawih…..Jadi, perbuatan Umar itu memiliki dasar yg sangat kuat sekali….

    10. Sebagai penutup, katakanlah seandainya memang benar bahwa Islam membolehkan bagi kita (umat muslim) untuk sekreatif mungkin dalam menciptakan ritual peribadatan baru, maka saya ingin tau, siapa yg memiliki wewenang dalam hal menciptakan tata cara atau ritual-ritual peribadatan baru tsb? habib-kah? kiayi-kah? ustadz-kah? atau seluruh umat muslim didunia ini?

    Waallahu ‘alam…….

    • Syukron, jazakallohu khairan atas tambahan yang bermanfaat ini..

  3. Assalamu’alaikum, saya berkunjung lagi ni. beberapa hari ini saya lagi mikir mau ganti photo profil facebook, tapi yg berhubungan dengan ramadhan yang Insya Allah kita semua bisa sampai ke bulan tersebut. n ana seneng banget liat gambar tntang bid’ah bulan ramadhan di halaman ini, kalo boleh ana izin pasang gambar tersebut… syukron katsir. mdh2an antum diberi keluasan waktu n ilmu untuk terus mengambil peran menyebarkan kabar yg benar tentang Islam. Amin

    • Wa’alaikumussalam wa rohmatullohi wa barokatuh, barokallohu fiikum. Silakan akhi, ana dapat gambar itu dari Fb Akh Abu Ayaz…

  4. sentot permalink

    Terima kasih infonya. Kalau boleh berpendapat,
    1. Saya pribadi lebih memilih jalan yang aman. Maksudnya, apa-apa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW -shallallohu ‘alaihi wa sallam-, tidak saya lakukan. Manfaatnya, kalau ditanya Allah di akhirat nanti saya akan dijauhkan dari kesulitan.
    2. Kalau sesuatu itu bukan ibadah ritual dan hanya sebatas kebiasaan masyarakat setempat dan bukan hasil dari penggabungan kebiasaan agama atau kepercayaan tertentu dengan kebiasaan agama Islam, saya pribadi menilai lebih baik ditolerir saja.
    3. Boleh saja memperingati Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, tapi tidak usah dijadikan hari libur nasional. Lebih baik hari libur dipindah ke hari raya Idul Adha supaya jadi genap tiga hari sebagaimana mestinya.

    Syukron, maaf jika ada yang tidak berkenan, mohon tanggapan, saran dan kritik.
    Wasslamu ‘alaikum

    • Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.
      Terima kasih atas tanggapannya, ada beberapa hal yang -jika Anda berkenan- ingin saya sampaikan:
      1. Hendaknya kita tidak melakukan penyingkatan dalam menulis sholawat kepada Nabi -shallallohu ‘alaihi wa sallam-, ini sebagai bentuk pengagungan kita kepada beliau.

      2. Pernyataan yang Anda keluarkan pada point pertama adalah baik. Karena memang demikian kita diperintahkan, mengambil apa yang datang dari Rosulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam- dan meninggalkan apa yang beliau larang.

      3. Pada point kedua, hendaknya kita perhatikan juga dalam kebiasaan masyarakat tersebut apakah kebiasaan tersebut termasuk hal-hal yang bertentangan dengan syari’at atau tidak. Jika kebiasaan tersebut bertentangan dengan syari’at maka wajib kita untuk menghindarinya, semisal perayaan hari kemerdekaan yang biasanya diiringi dengan musik dan terkadang ada biduanita yang berpakaian tapi telanjang. Jika tidak pada hal-hal yang bertentangan dengan syari’at semisal kerja bakti untuk perbaikan jalan, maka dalam hal ini kita ikut ambil bagian.

      4. Peringatan-peringatan yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai hari besar Islam pada hakikatnya adalah termasuk kedalam perkara-perkara yang dilarang dalam agama ini, sebagaimana telah dijelaskan oleh para Ulama. Karena Islam hanya memiliki 2 hari raya, idul fithri dan idul adha. Adapun selain keduanya maka dikatakan sebagai bid’ah oleh para ulama.

      Wallohu a’lam

  5. andri permalink

    terima kasih atas informasinya. Mohon izin utk di-share di wall FB saya. thx in advance. Assalammualaikum.

  6. saliq permalink

    tambahan:
    31.menuduh suatu golongan sebelum tabayun di bulan ramadhan…adalah bid’ah…

    • Allohu yahdiik… silakan baca tentang bid’ah pada halaman ini

  7. Termasuk Bidah Juga yaitu : Nonton Tv, dengeri radio, HP, Main Laptop/ PC, naik motor, naik angkot, naik ojek, pake sepatu boots, pakai kacamata item, pake pengeras suara, Naik Busway, Naik Kopaja, Menulis dikomputer/ Word, Internet, Browsing, Chating, Googling, Bloging, Pake kacamata, pake softlens, pake jam tangan, minum sirop juga bidah, es kelapa, buka puasa pake sirop marj*n juga, download diinternet juga bidah, pake celana jeans juga bidah, KTP juga bidah, sekolah bidah, kuliah bidah, latihan bola bidah, latihan silat bidah, main skateboard bidah, beli pake rupiah bidah, pake sendal neckermen bidah, pake batu cincin di 10 jari bidah, jalan kaki ke warnet bidah, isi bensin bidah, buat blog di wordpress juga bidah, sikat gigi pake odol bidah, makan nasi pake sayur asem bidah, amal lewat rekening bidah, minjem pulpen bidah, ikut pemilu bidah, jadi capres bidah, smsan bidah, bbman bidah, email2an bidah, main path, instagram, facebook bidah, yang ada didunia ini isinya bidah semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: