Lanjut ke konten

Mengenal Bid’ah [9] Membaca Surah Yasin Mengapa Dilarang?

Agustus 2, 2010

Ini juga di antara argumen dari pelaku bid’ah ketika diberitahu mengenai bid’ah yang dilakukan, “Saudaraku, perbuatan seperti ini kan bid’ah.” Lalu dia bergumam, “Masa baca surat Yasin saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata, “Masa baca dzikir saja dilarang?!

Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.

Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)

Di antara contoh bid’ah hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.

Bid’ah idhofiyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil, maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah hakikiyah. (Al I’tishom, 1/219)

Jadi bid’ah idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.

Contohnya bid’ah idhofiyah adalah dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. Dzikir adalah suatu yang masyru’ (disyari’atkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah.

Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Begitu pula shalat rogho’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhofiyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman, tempat dan tatacara. Tidak ada dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.

Begitu juga hal ini dalam acara yasinan dan tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir. Dalam acara yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin, bukan surat Al Kahfi, As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.

Jadi, yang kami permasalahkan adalah bukan puasa, shalat, bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya. Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?

Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik-Nya ke jalan yang lurus.

Selesai beberapa sanggahan bagi para pembela ritual-ritual bid’ah. Semoga Allah beri taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com

Selesai disusun di Desa Pangukan, Sleman

Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)

About these ads

From → Belajar Islam

6 Komentar
  1. kenapa harus ada Bid’ah hakikiyah & Bid’ah idhofiyah…???

    • Pembagian bid’ah hakiki dan idhofi tidaklah mengubah status suatu bid’ah itu sebagai sebuah kesesatan. Pembagian ini hanya untuk melihat apakah ada dasar atau sandaran dari dalil-dalil syar’i yang digunakan oleh pelaku bid’ah untuk mendukung bid’ahnya tersebut. Silakan baca penjelasan tentang definisi keduanya dalam artikel ini baik-baik. Bid’ah idhofi terjadi karena adanya kesalahan dalam memahami dalil.

  2. Bawor permalink

    Allah adalah sebaik-baik pemberi petunjuk. Sebenar apapun ilmu yang kita miliki, pasti masih ada keterbatasan, sebab segala kesempurnaan hanya milik Allah. Mari selalu kita memohon petunjuk, semoga kita beribadah secara benar dan baik.

  3. Miswar permalink

    Assalamu alaikum ustad…jadi ingin bertanya juga..kenapa ulama2 kita bahkan mui kita tdak ad yg menyampaikan kepda umat kalo memang hal itu salah…bahkan banyak pimpinan2 pesantren…mash melaksanakan itu….

  4. Ihsan permalink

    Ironis sekali, bagaimana bid’ah yang dilakukan Umar bin Khattab ? dengan melakukan pengkhususan tarawih berjama’ah ?
    kalau kamu juga menyalahkan sahabat Nabi / tidak mempercayai sahabat Nabi yag jelas-jelas juga sudah memikirkan untuk kedepannya
    kamu tak ubahnya seperti syi’ah yang mengkafirkan semua para sahabat kecuali beberapa orang.
    Hati-hati saudaaraku…

    • Barokallohu fiik, terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda di Blog ini..

      Selanjutnya, mengenai perkataan Umar bin Khaththab -radhiyallohu ‘anhu- tentang Shalat Tarawih Berjama’ah pada masa kepemimpinannya dapat Anda baca penjelasaanya -jika Anda berkenan- di sini.

      Kemudian saya katakan, “Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan RasulNya -shallallohu ‘alaihi wa sallam- dengan sebenar-benarnya keimanan yang berani mencela Shahabat -radhiyallohu ‘anhum-.” yang terjadi di sini adalah pemahaman yang kurang tepat terhadap apa yang dikatakan oleh Al-Faruq Umar bin Khaththab -radhiyallohu ‘anhu-. Untuk itu silakan Anda baca penjelasan ringkas tentang masalah ini pada link yang telah saya berikan di atas.

      Semoga Alloh memudahkan kita dalam menggapai keridhaanNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: