Skip to content

Wasiat-Wasiat Terakhir Dari Para Nabi dan Orang Sholih

Maret 30, 2011
tauhid

Ustadz Ramli bin Haya

Sudah menjadi kebiasaan dari setiap orang jika dia ingin berpisah meninggalkan dunia ini atau dia akan bepergian jauh, dia akan menitipkan wasiat kepada orang-orang yang dicintainya yang mana dalam wasiat itu, ia akan memberikan wasiat yang paling pernting untuk kemaslahatan bagi yang diberikan nasehat tersebut dan orang yang orang yang memberikan nasehat /wasiat sangat berharap agar wasiat tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya

Karenanya, penting sekali untuk kita memperhatikan wasiat-wasiat terakhir dari beberapa manusia pilihan di bumi ini dari para Nabi dan orang-orang sholeh, agar kita bisa mengetahui apa yang menjadi perhatian besar dan keinginan/harapan yang sangat dari sesuatu yang diwasiatkan tersebut kepada orang-orang dekat yang dicintainya.

1.    Wasiat rasul yang pertama, Nuh ‘alaihihis salam kepada anaknya tatkala kematian mendatanginya.  Dia memberikan wasiat kepada anaknya :

ان نبي الله نوحا صلى الله عليه وسلم لما حضرته الوفاة قال لابنه اني قاص عليك الوصية آمرك باثنتين وأنهاك عن اثنتين آمرك بلا إله إلا الله فإن السماوات السبع والأرضين السبع لو وضعت في كفة ووضعت لا إله الا الله في كفة رجحت بهن لا إله الا الله ولو ان السماوات السبع والأرضين السبع كن حلقة مبهمة قصمتهن لا إله الا الله وسبحان الله وبحمده فإنها صلاة كل شيء وبها يرزق الخلق وأنهاك عن الشرك والكبر

Sesungguhnya nabi Allah Nuh ‘alaihis salam tatkala menghadapi kematiaanya, ia berkata kepada anaknya, sesungguhnya aku akan memberikan wasiat kepadamu, saya perintahkan kamu dengan dua perkara dan melarangmu dari dua perkara.  Saya perintahkan kamu dengan kalimat laa ilaaha illallah. Maka sungguh langit yang tujuh dan bumi yang tujuh kalau diletakkan di satu timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah di timbangan yang lain, maka akan lebih beratlah timbangan laa ilaaha illallah tersebut.  Dan kalaulah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh sebagai satu lingkaran yang tertutup maka kalimat laa ilaaha illallah yang memecahkannya.  Dan aku perintahkan kepadamu dengan ucapan Subhaanallah wa bihamdih karena ucapan tersebut adalah tasbihnya semua makhluk dan dengannya mereka diberikan rezki.  Dan saya melarang kamu dari berbuat syirik dan bersikap sombong.[1]

2.    Wasiat Nabi Ya’qub ‘alaihis salam kepada anak-anaknya ketika kematian mendatanginya

أم كنتم شهداء إذ حضر يعقوب الموت إذ قال لبنيه ما تعبدون من بعدي قالوا نعبد إلهك وإله آبائك إبراهيم وإسماعيل وإسحاق إلها واحدا ونحن له مسلمون

apakah kalian menyaksikan tatkala Nabi Ya’qub kedatangan tanda  kematian tatkla dia berkata kepada anak-anaknya: “apakah yang kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya”. ” (QS.  Al-Baqoroh:133)

3.    Wasiat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum kematiannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub radhiyallahu ‘anhu ia berkata : saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafatnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك

“Ingatlah sungguh orang-orang sebelum kalian mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka dan orang-orang sholeh mereka sebagai mesjid.  Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai mesjid-mesjid.  Sungguh saya melarang kalian melakukan yang demikian itu.”

Maksud hadits ini adalah, orang-orang Yahudi dan nasroni tatkala wafat Nabi dan orang-orang sholeh diantara mereka, maka mereka membangun tempat ibadah di atas kuburan nabi dan orang sholeh tersebut.  Sehingga nantinya mereka melakukan kesyirikan dengan berdoa dan meminta kepada penghuni kuburan-kuburan tersebut.  Karenanya, Nabi kita melarang membangun mesjid di atas kuburan untuk menutup jalan-jalan menuju kesyirikan.  Yang hal ini Beliau sampaikan diakhir-akhir kehidupannya.

4.    Wasiat Luqmanul Hakim kepada anaknya sebagaimana Allah telah berfirman:

يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah karena  sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar” (QS. Lukman :13)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan : Luqman adalah seorang hamba sholeh, berkulit hitam yang Allah telah anugrahkan padanya hikmah (pemahaman ilmu dan ta’bir).  Dia telah memberikan wasiat kepada anaknya yang sangat disayangi dan dicintai dengan sesuatu wasiat yang paling afdhol dari perkara yang diketahuinya.  Oleh karenanya, dia memberikan nasehat kepada anaknya yang pertama adalah agar dia menyembah Allah saja dan tidak mensyarikatkan sedikitpun dengan-Nya.  Kemudian dia menjelaskan bahwa kesyirikan itu adalah sebesar-besar kezaliman.[2]

5.    Demikian pula wasiat para sahabat dalam detik-detik kematiannya berwasiat kepada anak-anaknya dan keluarganya yang ditinggalkannya dengan wasiat Tauhid sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : bahwasanya para sahabat biasanya menulis wasiatnya kepada keluarga yang ditinggalkannya, diantara wasiatnya adalah

وأوصى من ترك من أهله أن يتقوا الله ويصلحوا ذات بينهم ويطيعوا الله ورسوله إن كانوا مؤمنين وأوصاهم بما أوصى به إبراهيم بنيه ويعقوب ( يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون

“mereka wasiatkan kepada keluarga yng ditinggalkannya agar bertakwa kepada Allah dan memperbaiki keadaan diantara mereka dan taat kepada Allah dan rasul-Nya jika mereka orang mu’min.  dan mereka mewasiatkan sebagaimana yang diwasiatkan oleh nabi Ibrahim dan ya’qub kepada anak-anaknya : ” wahai anakku sesungguhnya Allah telah memilih kepada kalian agama islam.  Maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim (tidak melakukan kesyirikan yang akan membatalkan keislamannya-pent) .[3]

Jika kita memperhatikan wasiat-wasiat terakhir dari para Nabi dan orang-orang sholeh kepada anak-anaknya yang sangat dicintainya maka kita menyimpulkan bahwasanya yang menjadi perhatian besar dalam wasiatnya adalah perkara mentauhidkan Allah Ta’ala dan mewaspadai dari berbuat syirik pada-Nya.  Ini menunjukkan bahwasanya tauhid adalah suatu kewajiban yang tidak boleh terlepas dari setiap orang mu’min sejak pertama dan terakhir sampai dia meninggalkan dunia ini.  Karena dengan tauhid, seseorang akan selamat dari kekalnya di neraka dan dia akan masuk ke dalam surga disebabkan karena tauhid

Keutamaan-keutamaan tauhid :

1.    Tauhid adalah hak Allah yang paling besar, sedangkan syirik adalah kezaliman yang paling besar

فإن حق الله على عباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا

“sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya yakni agar mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak mensyarikatkan sesuatu pun dengan-Nya, sedangkan haknya para hamba atas Allah adalah Allah tidak mengazab hamba-Nya selama hamba-nya tidak mensyarikatkan sesuatu pun dengan-Nya.”[4]

2.    Semua para Nabi yang diutus, menyeru kaumnya untuk bertauhid

ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

sungguh kamitelah mengutus kepada setiap umat seorang rasul untuk menyeru umatnya beribadah kepada Allah dan menjauhi thoghut (kesyirikan)” (QS. An-nahl : 36)

3.    Perintah pertama dalam ibadah di Alquran adalah tauhid

يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون

wahai manusia, sembahlah Allah yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqoroh :21)

4.    Orang yang berbuat syirik akan terhapus amalannya

لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين

sungguh jika kamu berbuat syirik maka kami akan menghapus amalanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang merugi” (QS. Az-Zumar : 35)

5.    dengan tauhid akan memasukkan ke surga, sebaliknya dengan kesyirikan akan mengekalkan di neraka

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار

sungguh orang yang berbuat syirik kepada Allah, Allah mengharamkian baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. Al-Maidah :72 )

6.    Bumi dan makhluk alam semesta diciptakan hanya untuk bertauhid kepada Allah

ألم تر أن الله يسجد له من في السماوات ومن في الأرض والشمس والقمر والنجوم والجبال والشجر والدواب وكثير من الناس

apakah kamu tidak memperhatikan bahwa kepada Allah lah bersujud apa yang ada dilangit dan dibumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang melata dan sebagian besar manusia….” (QS. Al-Hajj : 18)

7.    Syarat mendapatkan ampunan adalah dengan mentauhidkan Allah

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang berbuat syirik dengan-Nya dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki” (QS. An-Nisaa : 48)

8.    Keagungan tauhid ini membuat para nabi takut untuk tidak memilikinya sehingga Bapak para ahli tauhid, penghancur berhala dan pembangun ka’bah Ibrahim alaihis salam berdoa agar dijauhkan dia dan anak cucunya dari menyembah berhala

وإذ قال إبراهيم رب اجعل هذا البلد آمنا واجنبني وبني أن نعبد الأصنام

dan ketika Ibrahim berkata ” ya tuhanku, jadikanlah negeri ini (mekkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim :35)

Kendari  Rabi’ul Awwal 1431

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Musnad Imam Ahmad no 6583

[2] Tafsir Ibnu Katsir III / 453

[3] Irwaul Gholiil no 1647, Syaikh Albani rahimahullah

[4] HR. Bukhari no 2701

About these ads

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: