Dialog Bid’ah Hasanah Antara Aswaja, Syi’ah dan Wahhabi

حوار

dialog bid'ah hasanah

Aswaja : Hari ini 12 rabiul awwal sungguh aku sangat bahagia loh….

Syiah : Emang lu kenape?, kemarin-kemarin kurang bahagia?

Aswaja : Kagak gitu bro, hari ini gua ngerayain hari maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gua sangat gembira dengan hari lahirnya nabi

Syi’ah : Kalau gua …..gua sangat sedih pas hari 10 Muharram lalu….hik hik hik…jadi nangis gua ngingatnya…hik

Aswaja : Emang kenapa lu nangis??!

Syi’ah : Soalnya hari itu hari terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Tholib, kami kerukunan warga syi’ah memperingati hari tersebut dengan hari ratapan. Bahkan sebagian kami sampai memukulkan pedang di tubuh kami sehingga mengeluarkan darah.

Aswaja : Loh…lu lu kok pada ngeri buanget sih…sampai acara melukai tubuh segala. Emang itu disyari’atkan?, setahu ku aswaja tidak melakukannya

Syi’ah : Jelas sangat disyari’atkan…., bukankah kalian keluarga aswaja juga sangat cinta kepada Husain?, apakah kalian tidak bersedih dengan terbunuhnya Husain secara tragis pada tanggal 10 Muharrom?

Aswaja : Iya ….kami jelas sangat cinta pada Husain…tapikan acara seperti yang kalian lakukan itu tidak ada syari’atnya??

Syi’ah : Justru sangat disyari’atkan sebagai bentuk bela sungkawa dan turut berduka cita atas kematian Husain. Sekali lagi…kalau kalian mengaku cinta kepada Husain mestinya lu lu pade semuanya juga ikut berpartisipasi meramaikan acara kami. Kalau kalian tidak ikut berpartisipasi maka pengakuan kalian mencintai Husain hanyalah OMONG KOSONG BELAKA !!!!

Aswaja : Kok bisa begitu???, Kan Para sahabat tidak pernah melakukannya?, kan Nabi tidak pernah menganjurkannya??, kan tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sholeh terdahulu !!!

Syi’ah : Meskipun tidak pernah dicontohkan Nabi tapi kan yang penting baik?? Bisa menambah kecintaan kita kepada cucu Nabi yaitu Husain !!!. Loh kalian juga kenapa ngadain acara mauludan? Wong Nabi juga tidak pernah ngadain mauludan?

Aswaja : Memang sih…tapi kan itu baik sekali?, acara mauludan kan bisa menambahkan kecintaan kepada Nabi?

Syi’ah : Lah sama saja dengan kita-kita dong….wong kita juga ngadain acara ratapan pada 10 Muharrom kan juga menambahkan rasa cinta kepada Husain

Aswaja : Tapi cara kalian buruk, pake acara mukul-mukul badan segala?, sampai darah lagi?

Syi’ah : loh…buruk itu menurut lu…menurut gua sangat baik…justru dengan seperti itu semakin mendalam kecintaan kami kepada Husain…semakin kami merasakan derita yang dirasakan Husain dan keluarganya.

Loh kalian juga merayakan maulud Nabi, kan itu buruk, karena harus mengeluarkan biaya, kadang campur laki-laki perempuan, dll?

Aswaja : loh itu buruk menurut lu pade, tapi menurut kami justru itu sebagai indikasi dan barometer rasa kecintaan kepada kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syi’ah : Wah kita kagak usah ribut deh…kita ternyata sama loh….

Aswaja : Sama apaan?

Syi’ah : Banyak kesamaan kita :

-         Pertama : Acara mauludan dan acara ratapan 10 Muharam sama-sama tidak ada contohnya dari Nabi.

-         Kedua : Acara perayaan ini sama-sama dibangun karena rasa cinta kepada Nabi atau kepada Husain.

-         Ketiga : acara ini sama-sama mendatangkan kebaikan, meskipun kebaikannya sih bersifat relatif. Yang penting sih baik menurut masing-masing yang merayakannya.

Aswaja : Betul betul betul…tapi….tuh orang-orang wahabi ngatain acara-acara kita ini acara bid’ah??

Syi’ah
: Biarin aja mereka-mereka kaum wahabi…toh bid’ah kita kan bid’ah hasanah

Aswaja : Betul…betul…betul…ternyata kita sepakat dalam perkara yang sangat penting, yaitu semua perkara yang kita anggap baik (meskipun dianggap jelek oleh orang/pihak) lain, serta meskipun tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi maka itu adalah bid’ah hasanah sangat dianjurkan.

WAHABI : Wahai akhi aswaja…tidakkah lu tahu bahwasanya mauludan itu mengakibatkan banyak kemudhorotan??!, diantaranya :

-         Pertama : Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diperselisihkan, akan tetapi hampir merupakan kesepakatan para ulama bahwasanya Nabi meninggal pada tanggal 12 Rabi’ul awwal. Oleh karenanya pada hekekatnya perayaan dan bersenang-senang pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal merupakan perayaan dan bersenang-senang dengan kematian Nabi

-         Kedua : Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi bersabda مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”

-         Ketiga : Kelaziman dari diperbolehkannya merayakan hari kelahiran Nabi adalah diperbolehkan pula merayakan hari kelahiran Nabi-Nabi yang lain, diantaranya merayakan hari kelahiran Nabi Isa. Jika perkaranya demikian maka sangat dianjurkan bahkan disunnahkan bagi kaum muslimin untuk turut merayakan hari natal bersama kaum Nashrani

-         Keempat : Bukankah dalam perayaan maulid Nabi terkadang terdapat kemungkaran, seperti ikhtilat antara para wanita dan lelaki?, bahkan di sebagian Negara dilaksanakan acara joget dengan menggunakan music?, bahkan juga dalam sebagian acara maulid ada nilai khurofatnya dimana sebagian orang meyakini bahwa Nabi ikut hadir dalam acara tersebut, sehingga ada acara berdiri menyambut kedatangan Nabi. Bahkan dalam sebagian acara maulid dilantunkan syai’ir-sya’ir pujian kepada Nabi yang terkadang berlebih-lebihan dan mengandung unsur kesyirikan

-         Kelima : Acara perayaan maulid Nabi ini dijadikan sarana oleh para pelaku maksiat untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi. Sehingga tidak jarang acara perayaan maulid Nabi didukung oleh para artis –yang suka membuka aurot mereka-, dan juga dihadiri oleh para pelaku maksiat. Karena mereka menemukan sarana untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Nabi yang sesuai dengan selera mereka. Akhirnya sunnah-sunnah Nabi yang asli yang prakteknya merupakan bukti kecintaan yang hakiki kepada Nabipun ditinggalkan oleh mereka. Jika diadakan perayaan maulid Nabi di malam hari maka pada pagi harinya tatkala sholat subuh maka mesjidpun sepi. Hal ini mirip dengan perayaan isroo mi’rooj yang dilakukan dalam rangka mengingat kembali hikmah dari isroo mi’rooj Nabi adalah untuk menerima perintah sholat lima waktu. Akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang melaksanakan perayaan isroo’ mi’rooj yang tidak mengagungkan sholat lima waktu, bahkan tidak sholat sama sekali. Demikian juga perayaan nuzuulul qur’an adalah untuk memperingati hari turunnya Al-Qur’aan akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang semangat melakukan acara nuzulul qur’an ternyata tidak perhatian dengan Al-Qur’an, tidak berusaha menghapal Al-Qur’an, bahkan yang dihafalkan adalah lagu-lagu dan musik-musik yang merupakan seruling syaitan

-         Keenam : Kelaziman dari dibolehkannya perayaan maulid Nabi maka berarti dibolehkan juga perayaan-perayaan yang lain seperti perayaan isroo’ mi’rooj, perayaan nuzuulul qur’aan dan yang lainnya. Dan hal ini tentu akan membuka peluang untuk merayakan acara-acara yang lain, seperti perayaan hari perang badr, acara memperingati hari perang Uhud, perang Khondaq, acara memperingati Hijrohnya Nabi, acara memperingati hari Fathu Mekah, acara memperingati hari dibangunnya mesjid Quba, dan acara-acara peringatan yang lainnya. Hal ini tentu akan sangat menyibukkan kaum muslimin. (lihat kembali : http://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/92-semua-bidah-adalah-kesesatan)

Adapun anda akhi syi’ah tahukah anda bahwa perbuatan anda meratapi hari kematian Husain itu mengandung kemudhorotan, diantaranya :

-         Pertama : Hal ini bertentangan dengan al-quran dan hadits-hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk bersabar tatkala menghadapi musibah dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

-         Kedua : Juga bertentangan dengan hadits-hadits yang melarang merobek-robek baju dan menampar-nampar pipi tatkala terjadi musibah

-         Ketiga : Acara seperti ini bertentangan dengan sunnah Nabi yang menganjurkan kita untuk berpuasa pada tanggal 10 muharrom

-         Keempat : Metode seperti ini menjadikan kaum non muslim semakin benci dan antipati kepada Islam jika Islam modelnya seperti ini

Syi’ah & Aswaja (kompak) : Waaah itu buruk menurut kamu wahai bang wahabi…menurut kami kerukunan warga aswaja mauludan itu baik dan menurut syi’ah acara 10 muharrom itu baik

Wahabi : Kalau begitu yang menjadikan patokan untuk menentukan baik buruknya perkara siapa dong?. Bukankah aswaja memandang acara memukul-mukul tubuh pada 10 muharrom itu merupakan perkara yang buruk.

Syi’ah
: Yaaa… masing-masing berjalan menurut perasaannya !!!

Wahabi : Kalau tidak ada yang menjadi patokan untuk menentukan kebaikan maka seluruh kelompok sesat dalam barisan kaum muslimin harus kita terima, karena setiap kelompok memandang baik bid’ah yang mereka ada-adakan. Thoriqoh At-Tijaaniyah, memandang thoriqoh merekalah yang terbaik…, toriqoh As-Syadziliyah Al-Qoodiriyah yang beribadah sambil joget juga memandang bid’ah mereka yang terbaik? (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=E0nKMIHA0kA&feature=player_embedded), wihdatul wujud memandang aqidah merekalah yang terbaik…, bahkan Ahmadiah memandang bid’ah mereka di atas kebaikan.

Terus kaum wahabi yang kalian anggap sesat juga memandang apa yang mereka dakwahkan (mengembalikan kaum muslimin kepada pemahaman para sahabat) adalah yang terbaik. Jika masing berhak menentukan penilaian baik maka semua kelompok dan sekte agama adalah baik. Padahal kelompok-kelompok tersebut saling berseteru. Maka membenarkan semua bid’ah hasanah mereka melazimkan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan…. Seperti berkumpulnya timur dan barat, utara dan selatan !!.

Bukankah Aswaja menganggap sikap syi’ah yang mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah yang buruk??!!

Aswaja : Yaa itu benar…mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat adalah bid’ah yang buruk dan tercela..

Syi’ah
: Tunggu dulu akhi aswaja…itu sih menurutmu, adapun menurut kami kerukunan warga Syi’ah maka mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah hasanah, karena mengkafirkan para sahabat Nabi merupakan bentuk pembelaan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, pembelaan kepada Ali bin Abi Tholib dan keturunannya yang berhak memegang tampuk kepemimpinan. Hanya saja Abu Bakar dan Umar tamak dan rakus terhadap kepemimpinan dan telah berkhianat terhadap washiat Rasulullah !!!.

Syi’ah : akhi aswaja…saya harap anda menghormati pendapat dan aqidah kami kerukunan warga syi’ah yang mengkafirkan para sahabat. Bukankah para pimpinan kalian juga toleransi dengan aqidah kami ini??. Jangankan toleransi terhadap kami warga syi’ah…bukankah para pemimpin kalian juga toleransi terhadap kaum nasharani yang merayakan hari kelahiran Tuhan mereka??, jangan lupa ini akhi aswaja !!!

Aswaja : iya..iyaa..betul..betul…hampir-hampir aku terhasut oleh tipuan si bang wahabi !!! salam sejahtera wahai akhi syi’ah.

Wahabi : Akhi aswaja…jangan lupa mereka warga syi’ah juga memiliki perayaan-perayaan yang lain, mereka juga merayakan hari meninggalnya ibu kita Aisyah radhiallahu ‘anhaa dengan menyatakan bahwa Aisyah seorang pezina…Aisyah masuk neraka…?? (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=yRyqscRd6aY&feature=related), apakah engkau tidak marah dengan sikap mereka itu??. Jangan lupa juga akhi aswaja…mereka kaum syiah juga merayakan hari meninggalnya Umar bin Al-Khottoob radhiallahu ‘anhu, mereka gembira dengan wafatnya Umar, bahkan mereka memuja-muja Abu Lu’lu’ yang telah membunuh Umar? (lihat : http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=732), apakah engkau sebagai anggota kerukunan warga aswaja masih menghormati pendapat syi’ah??

Aswaja : Wah…gua bingung jadinya…

Syi’ah
: Akhi Aswaja…jangan kau terpedaya dengan igauan bang wahabi…, perayaan-perayaan tersebut menurut kami adalah bid’ah hasanah. Ingatlah kesamaan kita banyak…ingat kita harus toleransi…ingat bahwa wahabi adalah musuh kita bersama !!!!

Aswaja : Ya..ya.. akhi syi’ah..bagaimanapun kita sama…dan banyak samanya…terutama dalam masalah bid’ah hasanah…. Syukron atas peringatannya….kita harus bersepakat untuk memusuhi wahabi…sekali lagi kita harus bersepakat. Jangan sampai kita termakan hasutan para wahabi !!!

Wahabi : Yaa sudah kalau begitu….semoga Allah memberi hidayah kepada kalian suatu hari. Aaamiiin

Sumber : http://www.firanda.com/

Tentang Abu Umamah

ingin meniti jejak salafus sholih ahlussunnah wal jama'ah

Posted on Februari 24, 2012, in Belajar Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Komentar.

  1. Hahaha… memang kuman diseberang lautan keliatan jelas, tapi Gajah didepan hidungnya kagak keliatan.. Lho gimana kauma wahabisme merayakan hari nasional .. juga haram Donk.. lha wong Maulid Nabi aja haram.. muke gile.

  2. seru banget neeh, tapi kenapa ditulis Wahabi, bukankah Wahabi adalah julukan yang dibuat inggris, sepanjang pengetahuan saya, jika kita belajar ahlussunnah yang lurus sesuai pemahaman sahabat, maka kita menisbatkan menjadi salafi/salafiyyin, kalau wahabi berarti kita membenarkan tuduhan mereka bahwa kita adalah golongan/hizb/harakah baru yang didirikan oleh Syaikhul ISlam Muhammad bin Abdul Wahhab, saya yakin beliau rahimahullah juga tidak setuju dinisbatkan kepada beliau, namun kita menisbatkan kepada salaf.
    kemudian mengapa ditulis aswaja, menurut saya lebih baik ditulis sunni, karena bukankah kita sedang berusaha menjadi aswaja yang baik, wallahu a’alam
    barakallahu fiik

    • Barakallahu fiik ….
      Wallahu a’lam, mungkin pertimbangan penulisnya karena tulisan ini dibuat untuk menggugah kesadaran masyarakat bahwa sebenarnya orang-orang yang mereka sebut sebagai “Wahhabi” itulah yang sebenarnya mengikuti sunnah, bukan Aswaja yang sebenarnya adalah Shufi.

      ‘Ala kulli haal, ana setuju dengan pernyataan antum, dan memang tidak ada seorangpun yang mengenal dan mengikuti dakwah ini yang menyebut dirinya sebagai wahhabi, akan tetapi mereka adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah atau Salafy. Wallahu a’lam.

  3. izin share….

  4. wah ngak mutu ente ngak tau apa yang sebenarnya tentang maulud dan 10 muharam baca litelatur yang bener emang ente ikut pada nabi yang mana yeeee apa ngak boleh kita memperingati atas dilahirkan nya NABI MUHAMMAD SAWW dengan suka cita emang ente kenal islam dari mana ? emang nye ente bisa baca syahadat dan ibadah yang ente sekarang jalan kan dari siape ??? jawab yeeee

    Alhamdulillah, terima kasih atas tanggapan antum. Saya katakan:
    - Islam yang sampai kepada kita sekarang dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para Shahabat -radhiyallahu ‘anhum-, kemudian disampaikan dari generasi ke generasi melalui lisan dan tulisan para ulama. Alhamdulillah, kita termasuk orang yang berikan nikmat oleh Allah untuk mendapatkan hidayah Islam ini.

    Sayangnya, dari ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi dan para Shahabatnya tidak ada satupun yang memerintahkan kita untuk melakukan ritual-ritual peringatan semacam maulid apalagi peringatan 10 Muharram. Kalaulah itu semua termasuk bagian dari Islam tentu para Shahabat Nabi telah lebih dahulu mengerjakannya karena mereka orang yang paling tamak terhadap kebaikan. Kalau para shahabat tidak mengamalkannya maka bisa dipastikan itu bukan petunjuk apalagi perintah dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kemudian para Imam madzhab yang empat, tidak satu pun dari mereka yang mengerjakan perayaan-perayaan semcam itu. Kesimpulannya, itu semua hanyalah bid’ah yang diada-adakan oleh manusia. Silakan baca tulisan tentang sejarah maulid Nabi yang pernah ditampilkan di sini.

    - Terkhusus tentang peringatan 10 Muharram, itu hanyalah dilakukan oleh orang-orang Rafidhah Syi’ah yang sangat jauh dari ajarn Islam. Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak bid’ah dan kesesatan yang ada pada mereka. Na’udzu billah.

    Sekarang gantian saya yang tanya, Antum tau kalau peringatan maulid dan 10 muharram itu disyari’atkan dari siapa? dari mana? amalan itu dipraktekkan atau tidak oleh Nabi dan para Shahabat? ada riwayatnya atau tidak tentang perintah untuk melakukan itu?

    Akhi… umur kita ini sedikit, waktu kita sempit sedangkan semangat kita lemah…. kasihanilah diri-diri kita sendiri….
    Petunjuk yang shahih dari Rasulullah dan para Shahabatnya sangat banyak yang belum kita amalkan, padahal semua itu jelas-jelas disyari’atkan dan dijamin mendapatkan ganjaran bagi siapa yang ikhlas mengerjakannya…? sudah seberapa besar bagian kita dalam mengamalkan petunjuk-petunjuk itu? 100% atau 90% atau 50% atau….?

    Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengatkan bahwa beliau takut akan dibinasakan oleh Allah dengan sebab meninggalkan satu saja dari petunjuk Rasulullah, sedangkan kita, berapa banyaknya perintah Rasulullah yang telah kita kerjakan…???

    Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita dan seluruh kaum muslimin.

  5. drama kok di buat cuman dari satu sisi, coba perluas cara pandang anda……………………..

  6. yo wajar aja anda menjelek2kan aswaja lebih2 syiah karna anda mengaku sebagai wahabi,yang kiblat pada arab saudi yang tentaranya /teman dekatnya amerika itu,mungkin maksud anda untuk mengadu islam,kalau niat anda dakwah kuk g santun alias menanam kebencian pada pihak2 yg tidak sealiran dgn anda,dan itu tdklah d contohkan oleh rosul.jd akan berkesan bila anda mengemukakan dalil2 dan memberi saran dgn bhsa yg baik.yg kita takutkan bid ah dalam bid ah,menjelekkan memaksakan pendapat ajaran yg tidak dgn cara yang di ajarkan rosul masyaallah.

    • Alhamdulillah, Sama sekali tidak ada niat untuk menjelekkan sesama kaum muslimin. Silakan Anda baca dengan seksama.
      Yang diinginkan dari tulisan ini adalah agar membuka fikiran orang-orang yang masih mau berfikir secara obyektif tentang hakikat dari bid’ah, bahwasanya tidak ada bid’ah yang “hasanah” dalam Islam. Sebab, jika dikatakan ada bid’ah yang “hasanah” dalam islam maka akan timbul lagi pertanyaan hasanah/baik menurut siapa? Tentu setiap kelompok yang memiliki bid’ah baik dalam aqidah maupun amaliyah akan mengklaim bahwa bid’ahnya adalah hasanah/baik sehingga tidak boleh diingkari.

      Jika sudah demikian maka akan hilanglah amar ma’ruf dan nahi munkar. Jika demikian terus, maka Islam yang murni sebagaimana didakwahkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya akan menjadi sangat tersamar bahkan tidak mustahil akan hilang. Akan tetapi Allah dengan hikmah dan kebijaksanaanNya senantiasa menjaga agama Islam ini agar tetap terjaga hingga akhir zaman. Disana akan senantiasa ada sekelompok orang dari ummat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terus istiqamah menegakkan agama ini menjaganya dari penyimpangan orang-orang yang menyimpang dan kerancuan orang-orang yang bodoh serta tipu daya yang dimasukkan oleh musuh-musuh Islam.

  7. Assalamu’alaikum…

    mantab……..
    mungkin maksudnya ASWAJA=ASli WAjah JAwa :-)
    beragama itu memang butuh ILMU,.. bukan asal ikut2 agama nenek moyang
    atau pasrah saja dengan kiyai “ah yg penting ikut kiyai A ajalah, kiyai B, C…”
    atau ikut yang umum “semua orang begitu ya udah kita ikut ajalah….”

    ingat… agama Islam itu sudah sempurna
    dan kita ini tidak lebih pintar dari Rosullulloh dalam masalah agama ini.
    beragama islam itu mudah & sederhana saja,
    kita hanya diperintah mengikuti petunjuk Rosullulloh..
    yang dicontohkan oleh Rosullulloh kita laksanakan
    yang tidak dicontohkan oleh Rosullulloh kita tinggalkan.. itu saja kan???

    tapi sekarang ini malah terbalik…yang dicontohkan oleh Rosullulloh tidak di laksanakan
    tapi yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosullulloh malah dibela mati2an seakan2 wajib
    karena banyak saya jumpai didaerah2 yg merayakan maulid nabi masjidnya penuh…..

    tapi bagaimana keadaan masjid pada waktu sholat wajib???
    sungguh menyedihkan sekali…
    seakan2 penduduk disekitar masjid hanya ada 5 orang atau 3 orang saja SEPI..!!!

    Pesan:
    mari kita terus mempelajari agama islam ini dengan benar sesuai pemahan para sahabat yang di didik langsung oleh Rosullulloh dikarenakan pentingnya ILMU dalam beragama.

    semoga bermanfaat….

  8. Allah SWT telah berfirman : “وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَ أَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ءَايٰتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَن يَعْتَصِمْ بِا اللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ۝

    “Bagaimanakah kamu ( sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada ( agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” ( Qs: An-Nisa (4) ayat; 101).
    Di dalam ayat yang mulia ini ada tiga panduan bagi kita. “Pertama Allah, Menafihkan kita tak akan menjadi kafir, kalau kita masih berpegang teguh dengan Kitab Allah. Kedua. kita tak akan mengerti akan ayat-ayat Allah, melainkan yang telah di jelaskan oleh Rasulullah SAW, ( yakni mengikuti Sunnah Nabi SAW). Dan yang ke tiga: ” Kita tak akan mengetahui kedua sumber itu, melainkan mengikuti manhaj para sahabat Nabi SAW yang telah di jamin Allah Allah SWT akan syurgaNya. Dan Allah telah meridhoi mereka. Kemudian di akhir ayat itu” Barangsiapa yang berpegang teguh dengan ke tiga di atas tadi ( Al-Qur’an, Al-Hadits, serta Salaful Ummah/ para sahabat RA anhum ajmain). maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

  9. Ahlul Bid'ah Hasanah

    Asslmkum…
    Kalo begittu,,,pmahaman saya terhadap drama diatas, (Maaf Kalo salah), semua orang di zaman ini akan masuk neraka..karena semuanya tidak terlepas dari bid’ah. yang dilakukan pasti kadang bid’ah, kadang ibadah. coba sebutkan orang yang tidak pernah melakukan bid’ah di masa ini? bahkan hampir semua syirik…..pernahkah anak2 kita meminta uang jajan kepada Allah???tentu pada orang tuanya. Kepada siapa kuli bangunan, buruh, PNS meminta gaji???tentu pada Mandor, juragan, pemerintah, dll….Bukankah meminta kepada selain ALLAH adalah Syirik???????

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. (Afwan, lain kali tulisan salamnya jangan disingkat ya mas -barakallahu fiik-)

      Alhamdulillah, Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Diantara bentuk kasih saya Islam kepada ummatnya adalah Allah mengutus kepada mereka Rasul yang penuh dengan rahmat, beliau sangat menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi ummat Islam.

      لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

      Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (At-Taubah : 128)

      Kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan segala perkara kebaikan kepada ummatnya dan memerintahkan mereka untuk mengamalkannya sesuai kemampuan, dan memperingatkan mereka dari segala keburukan dan memerintahkan mereka untuk menjauhinya. Diantara keburukan yang beliau peringatkan ummat ini agar menjauhinya adalah bid’ah, bahkan beliau memberikan ancaman yang keras bagi para pelaku bid’ah.

      Kemudian yang harus difahami disini adalah bahwa setiap dosa yang dibawa mati oleh pelakunya pasti akan diampuni oleh Allah bagi siapa yang dikehendakinya, kecuali dosa syirik. Karena Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dalam hal ini, dosa bid’ah termasuk kedalam salah satu jenis dari dosa-dosa besar, tapi dia bukanlah kesyirikan.

      Keyakinan Ahlussunnah bahwa setiap orang yang mengerjakan dosa besar dan mati di atas dosa besar maka urusannya diserahkan kepada Allah. Jika Allah menghendaki maka Dia akan mengampuni orang tersebut dengan rahmatNya, dan jika Allah menghendaki Dia akan mengadzabnya dengan keadilanNya dan Allah sama sekali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba.

      Adapun contoh yang Anda sebutkan tentang meminta kepada selain Allah maka penjelasannya sebagai berikut.

      Meminta atau meminta tolong (isti’anah) terbagi menjadi beberapa macam:
      1. Meminta dengan disertai sikap merendahkan diri dengan serandah-rendahnya, bersandar dan keyakinan kepada yang diminta, maka meminta dengan jenis yang seperti ini tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah.
      2. Meminta sesuatu yang hanya Allah saja yang mampu untuk memberikannya, seperti meminta dijauhkan dari bahaya, meminta diselamatkan dari api neraka dan meminta agar dimasukkan ke surga, maka meminta semua perkara ini dan yang semisal dengannya hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

      Dalilnya : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (Hanya kepada Engkau kami meminta dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan [Alfatihah :5])

      3. Meminta bantuan (isti’anah) kepada makhluk yang mereka mampu untuk mengerjakannya, maka ini dibolehkan. Bahkan bisa jadi ibadah, jika meminta bantuan dan saling tolong menolong itu dalam rangka keta’atan kepada Allah.

      Dalilnya : وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى (Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa [Almaidah ; 2])

      4. Meminta kepada orang yang sudah mati atau orang yang masih hidup tapi tidak ada dihadapannya atau kepada jin dengan permintaan yang hanya Allah saja yang mampu untuk mewujudkannya maka permintaan semacam ini adalah kesyirikan. Karena tidaklah seseorang itu meminta kepada yang semisal dengan ini melainkan karena adanya keyakinan dalam hatinya bahwa orang-orang yang dia meminta kepadanya tersebut memiliki kekuasaan di alam ini, dengan demikian dia telah menjadikan sekutu bagi Allah.

      Untuk penjelasan lebih lengkap, silakan baca kitab Tsalatsatu Al-ushul (Tiga landasan utama) dan pejelasannya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

    • Ahlul Bid'ah Hasanah

      Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
      Salam Ukhuwwah.
      Syukron sudah mengingatkan tentang salam dan penjelasannya.alhamdulillah sudah tambah ilmu. mau tanya dalam dialog di atas, oleh Wahabi dikatakan :
      “Pertama : Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diperselisihkan, akan tetapi hampir merupakan kesepakatan para ulama bahwasanya Nabi meninggal pada tanggal 12 Rabi’ul awwal. Oleh karenanya pada hekekatnya perayaan dan bersenang-senang pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal merupakan perayaan dan bersenang-senang dengan kematian Nabi”
      Pertanyaan saya, tidak bolehkah kita memperingati wafatnya baginda Rosulullah?padahal dalam peringatan tersebut dibacakan doa-doa. sebagaimana Rosulullah datang ke medan badar satu tahun setelah perang badar untuk mendoakan para syuhada’.
      dikatakan lagi oleh Wahabi :
      “Kedua : Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi bersabda مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”Ketiga : Kelaziman dari diperbolehkannya merayakan hari kelahiran Nabi adalah diperbolehkan pula merayakan hari kelahiran Nabi-Nabi yang lain, diantaranya merayakan hari kelahiran Nabi Isa. Jika perkaranya demikian maka sangat dianjurkan bahkan disunnahkan bagi kaum muslimin untuk turut merayakan hari natal bersama kaum Nashrani”
      Sedangkan Untuk memperingati lahirnya Nabi isa, ummat islam juga berhak,,,sebagaimana puasa yang dilakukan orang yahudi pada tanggal 10 Muharrom untuk memperingati Nabi musa, kemudian Rosulullah bersabda : نحن أحق به . dan Rosulullah menambahi puasa tanggal 9 nya. untuk peringatan Natal, itu tidak sama memperingati kelahiran Nabi Isa.karena Natal Untuk memperingati Tuhan Yesus, bukan Nabi Isa.
      Untuk keempat dan kelima, semua itu tergantung pelaksananya.di daerah saya yang ada, ketika maulud nabiitu baca qur’an, Dzikir dengan membaca Tahlil (La Ilaha Illalloh), Ceramah agama, Doa. apakah itu juga termasuk kemungkaran?????
      dikatakan lagi oleh Wahabi :
      “Keenam : Kelaziman dari dibolehkannya perayaan maulid Nabi maka berarti dibolehkan juga perayaan-perayaan yang lain seperti perayaan isroo’ mi’rooj, perayaan nuzuulul qur’aan dan yang lainnya. Dan hal ini tentu akan membuka peluang untuk merayakan acara-acara yang lain, seperti perayaan hari perang badr, acara memperingati hari perang Uhud, perang Khondaq, acara memperingati Hijrohnya Nabi, acara memperingati hari Fathu Mekah, acara memperingati hari dibangunnya mesjid Quba, dan acara-acara peringatan yang lainnya. Hal ini tentu akan sangat menyibukkan kaum muslimin.”
      Kalau ummat islam mau, peringatan tersebut boleh dilakukan. dan itu semua tidak wajib. kalau hanya karena kesibukan dan tidak sempat, terus mengatakan peringatan-peringatan tersebut sebuah kemungkaran, berarti yang mengatakan itu termasuk orang malas. dan sifat malas termasuk sifat yang dibenci Nabi.
      Wallahu a’lam.
      kurang lebihnya mohon maaf.
      Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    • Wa’alaikumussalam wa rahamtullahi wa barakatuh.
      Semoga Allah memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat dan memberikan kita taufiq untuk beramal dengan ilmu dan isitqamah di atas Islam dan Sunnah.

      Pertanyaan Anda berkisar pada mengapa kita tidak boleh melakukan peringatan maulid padahal itu khan baik, di dalamnya dipenuhi dengan bacaan-bacaan yang baik, dst. ?

      Jawabannya adalah bahwasanya yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah sempurna, tidaklah beliau diwafatkan oleh Allah melainkan setelah selesai menjalankan tugasnya di dunia ini untuk menyampaikan risalah Rabbul ‘Alamin. Tidak seorang pun muslim yang akan berkata dengan lisannya bahwa ada bagian dari Islam yang belum disampaikan oleh beliau. Dan beliau telah menjelaskan segala sesuatu dari hal-hal yang dapat mendekatkan seseorang ke surga dan telah memperingatkan mereka dari hal-hal yang dapat menjatuhkan mereka ke dalam neraka.

      Kemudian, kelompok manusia pertama yang menerima ajaran beliau ini adalah para shahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Mereka adalah orang yang paling mengerti tentang seluk beluk agama ini dan tatacara pengamalannya, karena mereka dibina langsung oleh pendidik terbaik sepanjang sejarah manusia. Mereka telah mengamalkan agama ini sengan sebaik-baiknya pengamalan, mendakwahkannya dengan sebaik-baiknya cara berdakwah, merekalah orang terdepadn dalam kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Maka mereka inilah kaum yang paling layak untuk kita contoh dan kita teladani dalam memahami dan mengamalkan Islam. Salah seorang dari mereka berkata :

      مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.

      “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus” [Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/947 no. 1810), tahqiq: Abul Asybal.]

      Maka tidak ada jalan bagi orang yang datang setelah mereka kecuali untuk ikut meniti jalan di atas jalan mereka.

      Akhi, jika kita mau merenungi atas di atas -insya Allah- kita akan merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh para pembela bid’ah “hasanah” dan kita akan sadar betap pentingnya kita mencukupkan diri dengan sunnah.

      Bayangkanlah, adakah orang yang lebih baik dari Ummat ini melebihi Abu Bakar Ash-shiddiq ? Beliau berkata “Tidaklah aku meniggalkan sedikitpun perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah, melainkan aku amalkan. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sedikit saja dari perintahnya, aku akan tersesat.”

      Adakah Abu Bakar memperingati maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dst. dari perkara-perkara yang dianggap sebagai bid’ah “hasanah” ? padahal beliau orang yang paling takut menyelsihi sunnah Nabi.

      Akhi, mencukupkan diri di atas sunnah itulah hidayah meskipun orang-orang memandang sedikit amal kita. Bacalah hadits tentang 3 orang yang mendatangi Istri Nabi dan menanyakan perihal ibadah beliau dst.

      Akhi, renungkanlah ini
      Seandainya kita diperintahkan untuk mengamalkan semua yang telah shahih dari Nabi sebagaimana datangnya tanpa ditambah-tambah dengan bid’ah hasanah atau dikurangi sedikitpun, maka apakah kita mampu menjalankannya tanpa cacat sedikitpun? Jangan terburu-buru menjawab ini sebelum Anda merenungkannya dalam hati.

      Akhi, seandainya kita tidak mampu untuk menunaikan semua yang telah pasti datangnya dari Nabi, padahal itu jelas-jelas merupakan jalan yang lurus, petunjuk dan keselamatan. Mengapa kita malah membuang umur kita untuk mengerjakan apa-apa yang sama sekali tidak ada contohnya dari Nabi dan para Shahabatnya?

      Semoga Allah mengampuni Anda dan saya.
      Barakallahu fiikum

  10. dialog yang di drmatisir, apa misi yang ada di balik itu semua. gunakan media untuk memberi manfaat. jari jemari yang kini menari di keyboard besok akan memberi saksi niat yang terselip di hati. jaga jemari dari hasad hasud, yang akan berjung pada prpchan dan khncuran

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s