Skip to content

Kisah Dua Sejoli Berzina Di Dalam Ka’bah, Lalu Dijadikan Sembahan Kaum Musyrikin

Juni 1, 2012

Ahli sejarah Ibnu Ishaq berkata,

قال ابن إسحاق : ، اتخذوا إسافا ونائلة على موضع زمزم ينحرون عندهما وكان إساف ونائلة رجلا وامرأة من جرهم – هو إساف بن بغي ونائلة بنت ديك – فوقع إساف على نائلة في الكعبة ، فمسخهما الله حجرين

“Kaum kafir Quraisy menjadikan Isaf dan Nailah [sebagai berhala sesembahan] di dekat sumur Zamzam, mereka menyembelih qurban di sisi mereka berdua. Isaf dan Nailah dahulunya adalah seorang laki-laki dan wanita dari suku Jurhum –yaitu Isaf bin Baghy dan Nailah binti Diik- Isaf Menzinahi Nailah di dalam Ka’bah, maka Allah mengubah mereka berdua menjadi dua buah batu.”[1]

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

ما زلنا نسمع أن إسافا ونائلة كانا رجلا وامرأة من جرهم ، أحدثا في الكعبة ، فمسخهما الله تعالى حجرين والله أعلم

“Kami dahulunya selalu mendengar kisah mengenai Isaf dan Nailah, mereka berdua adalah laki-laki dan wanita dari suku Jurhum, mereka berdua berzina di dalam Ka’bah, maka Allah mengubah mereka berdua menjadi dua buah batu. Wallahu A’lam.”[2]

Ulama ahli Tafsir Ath-Thabari membawakan atsar dari Asy-Sya’bi,

أن وَثَنًا كان في الجاهلية على الصفا يسمى”إسافًا”،  ووثنًا على المرْوة يسمى”نائلة”، فكان أهل الجاهلية إذا طافوا بالبيت مَسحوا الوثَنين. فلما جاء الإسلام وكُسرت الأوثان

“Ada sebuah berhala di zaman jahiliyah di Shafa yang bernama “isaf” dan satu lagi berhala di Marwah yang dinamakan Nailah. Masyarakat jahiliyah jika thawaf di Ka’bah, mereka mengusap [mengharap berkah] kedua berhala tersebut. Tatkala datang Islam, kedua berhala tersebut dihancurkan.”[3]

Manusia yang mulia jadi hina dengan kesyirikan

Lihat bagaimana dua sejoli yang seharusnya diberi hukuman atau bahkan dicemooh oleh orang malah disembah dan diagungkan oleh pelaku kesyirikan.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah berkata,

الشرك مهانة للانسانية : إنه إهانة لكرامة الانسان، و انحطاط لقدره و منزلته ، فقد استخلفه الله في الأرض و كرّمه و علمه الأسماء كلها، و سخر له ما في السموات و ما في الأرض جميعا منه ، و جعل له السيادة على كل ما في هذا الكو ، و لكنه جهِل نفسه و جعل بعض عناصر هذا الكون إلها معبودا يخضع له و يذل ، و أي إهانة للانسان أكثر من أن يرى -إلى يومنا هذا- مئات الملايين من البشر في الهند يعبدون البقر التي خلقها الله للانسان و لتخدمه و هي صحيحة و يأكلها و هي ذبيحة ، ثم ترى بعض المسلمين يعكفون على قبور الموتى و يسألونهم حاجاتهم و هم عبيد

“Syirik adalah kehinaan bagi manusia, syirik adalah kehinaan bagi kemuliaan manusia, perendahan derajat dan kedudukan mereka. Allah telah menjadikan mereka khalifah di muka bumi, memuliakan mereka, mengajarkan mereka nama-nama semua, menundukkan bagi mereka apa yang ada di langit dan di bumi seluruhnya dan menjadikan kebahagiaan bagi mereka apa yang ada di alam semesta. Akan tetapi mereka membodohi diri mereka sendiri. Mereka menjadikan berbagai unsur di semesta ini sebagai tuhan yang disembah, menundukkan diri dan merendahkan diri padanya.

Kehinaan kesyirikan sangat parah jika dilihat pada zaman sekarang ini, 200 Juta orang di India menyembah sapi yang Allah ciptakan untuk manusia guna berkhidmad kepada manusia, dimakan dagingnya ketika disembelih. Kemudian kalian bisa melihat sebagian kaum muslim yang beribadah [menyembah] disekitar kuburan orang mati, meminta kepada kuburan hajat mereka padahal mereka juga hamba semisal mereka.”[4]

Contoh lainnya hinanya pelaku kesyirikan

-Sapi Albino keraton Solo  “Kiayi Slamet” yang dianggap suci dan “ngalap berkah”, kotoran tahinya diperebutkan sebagai membawa keberuntungan, bahkan ada yang menggunakan kotoran untuk dipakai cuci muka

-seseorang harus permisi dan takut ketika lewat pohon yang angker kemudian memberikan sesaji supaya yang lewat tidak diganggu. Padahal manusia tidak perlu takut dengan hal seperti ini

-memberi sesembahan sesajen kepada Ratu pantai selatan setiap tahun atau kepada makhluk halus penjaga gunung merapi. Padahal ini tidak perlu, menghinakan manusia dan membuang-buang waktu, tenaga dan harta.

Demikianlah para pelaku kseyirikan hina bahkan lebih hina dan sesat dari binatang ternak, karena binatang ternak saja terkadang saling serang dengan binatang ternak yang lain. Akan tetapi pelaku kesyirikan malah mengagungkannya. Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon:44).

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan,

كذلك المشرك، فالإيمان بمنزلة السماء، محفوظة مرفوعة. ومن ترك الإيمان، بمنزلة الساقط من السماء، عرضة للآفات والبليات، فإما أن تخطفه الطير فتقطعه أعضاء، كذلك المشرك إذا ترك الاعتصام بالإيمان تخطفته الشياطين من كل جانب، ومزقوه، وأذهبوا عليه دينه ودنياه

“Demikianlah kesyirikan, keimanan sebagaimana langit, ia terjaga dan tinggi, barangsiapa yang meninggalkan keimanan, maka sebagaimana benda yang jatuh dari langit, maka  akan mudah mengalami gangguan dan godaan, bisa jadi disambar oleh burung lalu memotong angota tubuh. Demikian juga pelaku kesyirikan, jika meninggalkan berpegang teguh dengan keimanan, maka akan digoda oleh syaitan dari segala sisi, lalu merobek-robeknya dan menghancurkan agama dan dunianya.”[5]

wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

11 Jumadil akhir 1432 H, Bertepatan  3 Mei 2012

Penyusun: Raehanul Bahraen
Judul Asli : Hinanya Kesyirikan: Dua Sejoli Berzina Di Dalam Ka’bah, Lalu Disembah

Artikel http://www.muslimafiyah.com
_______________________________

[1] Sirah Ibnu Hisyam 1/82, Syamilah

[2] idem

[3] Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran 3/231,  Muassasah Risalah, cet. I, 1420 H, Syamilah

[4] Minhaj Firqotun Najiyah hal. 78,  Darul Haramain

[5] Taisir karimir Rahmah hal. 509, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. I, 1424 H

About these ads

From → Belajar Islam

7 Komentar
  1. edy permalink

    saya tidak bisa mengomentari semua contoh-contoh yang dianggap kessyirikan di artikel tersebut.. tapi kalau orang ziarah atau membaca quran di kuburan selalu dianggap menyembah kuburan, bahkan disebut Qubuuriyyuun, menurut saya itu karena para Wahabi tidak mampu memilah dan membedakan antara ta’abbud (menyembah) dengan tabaruk (mencari berkah). mereka selalu mengacaukan pengertian keduanya sehingga menjadi rancu, dan tersebarlah vonis-vonis syirik dan kafir di tengah-tengah umat. hingga orang wahabi yang awampun dengan mudahnya mencap kafir dan syirik karena pemahaman yang dangkal ini.

    • Afwan, semoga tulisan berikut ini bisa menjawab keresahan Anda, silakan baca di sini.

  2. maaf saya salah kirim, postingan ttg az-zumar ayat 3 di atas untuk mengomentari artikel yang lain….

    • Cukup sampai di sini, jika Anda hanya mengandalkan “menurut saya..” dan “menurut saya…”. Bukan bermaksud merendahkan, argumen yang Anda kemukakan di sini telah gugur dengan sendirinya jika dihadapkan dengan dalil-dalil yang dikemukakan di sini…

      Jika Anda ragu bahwa ada sebagian orang yang beriman kepada Allah dalam RububiyahNya (Kekuasaan dan Pengaturan Allah atas alam semesta) akan tetapi mereka masih berbuat kesyirikan, bacalah Firman Allah :

      وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ

      “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [Yusuf : 106]

      Imam Ibn Katsir ketika menjelaskan tentang ayat ini, beliau membawakan penjelasan dari Abdullah Ibnu ‘Abbas -seorang yang dido’akan oleh Rasulullah agar Allah menjadikannya faqih dalam agama dan mengajarkan kepadanya Ta’wil (tafsir)-. Berkata Ibnu Abbas : “Diantara bentuk keimanan mereka adalah bahwasanya mereka jika dikatakan kepada mereka “Siapakah yang menciptakan Langit dan Bumi dan Gunung-gunung ?” Mereka akan menjawab “Allah”. Sedangkan mereka berbuat syirik kepadaNya.” Demikian juga yang dijelaskan oleh Mujahid, ‘Atha dan ‘Ikrimah dan Asy-Sya’bi dan Qatadah dan Adh-Dhahhak dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. [Silakan lihat penjelasan Ibn Katsir tentang ayat ini, disana ada penjelasan yang sangat bermanfaat yang insya Allah akan menghilangkan segala keraguan yang ada dalam diri Anda]

      Kemudian, silakan Anda baca penjelasan dari ayat yang merupakan perintah Allah yang pertama kali akan Anda temukan ketika Anda membaca Al-Qur’an, Allah berfirman :

      يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ | الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

      Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui. [Al-Baqarah : 21-22]

      Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada saya dan Anda.

  3. Ahlul Bid'ah Hasanah permalink

    Jadi nanti pertanyaan munkar dan nakir di alam qubur mengenai tauhid ada 3 jadinya ya mas… Siapakah Rabbmu..? Siapakah Ilahmu ? Apakah kamu mengimani Asma Wa Shifat…? Gitu ya mas… Jadi kalau ndak sama dan ndak sesuai langsung disiksa gitu ya….

    Plus Quburiyyun yang bertabarruk itu termasuk syirik rububiyyah yang mengeluarkan pelaku dari islam / kafir gitu ya mas….? Mohon ilmunya ustad…

    • Mas Umar Abdil Aziz semoga Allah menerangi jalannya dengan cahaya tauhid dan sunnah. Pertanyaan di dalam kubur itu sudah diketahui bahkan oleh anak-anak usia SD bahkan sebagian anak TK, Siapakah Rabb kamu ? Siapakah Nabi yang diutus kepadamu? Apa Agama kamu?

      Hanya saja yang menjadi permasalahan bagi orang yang mengingkari pembagian tauhid menjadi 3, Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ wa Shifat adalah mengapa pertanyaan di alam kubur hanya, “Siapa Rabb kamu?”

      Dalam bahasa Arab kata Ar-Rabb dan Al-Ilah adalah termasuk dua kata yang apabila disebutkan secara terpisah maka keduanya memiliki makna yang berbeda, tapi apabila disebut salah satunya saja maka mengandung makna dari kedua kata tersebut. Konsekuensinya jika seseorang mengakui salah satu dari keduanya makan dia harus mengakui yang lainnya juga.

      Jika seseorang ditanya siapakah Rabb kamu ? kemudian dia menjawab “Rabb saya adalah Allah”. Maka konsekuensi dari pernyataan/jawaban tersebut adalah dia haruslah beribadah hanya kepada Allah semata, menjadikan Allah semata sebagai Ilah-nya dan tidak mempersekutukannya dengan makhluk. Karena makna Ar-Rabb adalah Dia yang menciptakan, mengatur dan memelihara dan berkuasa atas segala sesuatu di alam ini.

      Jika dia mengakui Allah sebagai Rabb, kemudian dia beribadah kepada selain Allah maka dia telah berdusta dalam pengakuannya bahwa Rabbnya adalah Allah. Bahkan dia telah menjadi orang yang paling bodoh, karena dia berpaling dari Rabb yang telah menciptakan, mengatur dan memelihara segala sesuatu di alam ini kepada makhluk yang lemah lagi tidak berdaya tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di langit maupun di bumi. Dan perbuatan semacam ini tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang memiliki akal sehat. Akan tetapi Allah memberi hidayah siapa yang dikehendakiNya, semoga kita termasuk diantaranya.

      Sedangkan jika seseroang ditanya siapakah Ilah kamu ? kemudian dia menjawab “Ilah saya adalah Allah semata tidak ada sekutu bagiNya”. Maka akan timbul pertanyaan selanjutnya kepada orang tersebut, “kenapa kamu hanya menjadikan Allah semata sebagai Ilah bagimu?”

      Jawabannya akan kembali lagi kepada yang pertama, karena Allah Dialah yang telah menciptakan, mengatur, memelihara dan berkuasa atas seluruh makhluk di alam ini, Dialah Allah Rabbul ‘Alamin (Rabb Alam semesta). Karena mustahil seseorang yang berakal sehat akan menyerahkan ketundukan, kepatuhan dan penghambaan dirinya kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat atau menolak bahaya dari diri seorang hamba.

      Demikianlah penjelasan singkat tentang kata Ar-Rabb dan Al-Ilah, semoga ada manfaat yang bisa dipetik darinya. Wallahu waliyyut taufiq.

  4. apriyanti permalink

    sya sgat stju dgn artikel d’atas,,wlopun ilmu sya dangkal..tp sya bisa memahami’y dan membedakan’y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: