Arsip Blog

Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?

Muqoddimah

Syirik merupakan dosa yang paling besar. Dosa syirik tidak diampuni Allah jika pelakunya tidak bertaubat. Dosa syirik menjadikan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya. Dosa syirik bisa membatalkan semua amalan yang telah dikerjakan. Bila demikian maka merupakan kewajiban kita semua untuk mewaspadai syirik dan menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kubangannya. Perhatikanlah firman Allah:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾

Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Renungkanlah, jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja yang merupakan penghulu ahli tauhid takut akan kesyirikan pada dirinya dan anak keturunannya, lantas bagaimana dengan kita?! Apakah kita merasa lebih kuat tauhidnya daripada Nabi Ibrohim ‘alaihissalam?!! Read the rest of this entry

Wahhabi Melarang Membangun Kubur dan Meninggikannya Karena Hal Tersebut Dilarang Oleh Nabi

Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhuberkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no. 2027-2028 dan dalam Al-Kubraa 2/463 no. 2166, ‘Abdurrazzaaq 3/504 no. 6488, Ahmad 3/295, ‘Abd bin Humaid 2/161 no. 1073, Ibnu Maajah no. 1562, Ibnu Hibbaan no. 3163-3165, Al-Haakim 1/370, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘alaa Shahiih Muslim no. 2173-2174, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/410 & 4/4, Ath-Thayaalisiy 3/341 no. 1905, Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/191 no. 2057 dan dalam Al-Ausath 6/121 no. 5983 & 8/207 8413, Abu Bakr Asy-Syaafi’iy dalam Al-Fawaaaid no. 860, Abu Bakr Al-‘Anbariy dalam Hadiits-nya no. 68, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/515-516 no. 2945-2946, dan yang lainnya. Read the rest of this entry

Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Natal Bersama dan Tahun Baru ?

Penyusun: Ummu Aiman | Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Setiap bulan Desember umat nasrani merayakan hari raya agama mereka, yaitu Hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Mendekati bulan ini, beberapa sudut pertokoan mulai ramai dengan hiasan natal. Supermarket-supermarket yang mulanya sepi-sepi saja, kini dihiasi dengan pernak-pernik natal. Media massa pun tidak ketinggalan ikut memeriahkan hari raya ini dengan menayangkan acara-acara spesial natal.

Disudut kampus, seorang mahasiswi berkerudung menjabat tangan salah seorang teman wanitanya yang beragama nasrani sambil berkata, “Selamat Natal ya…” Aih-aih, tidak tahukah sang muslimah ini bagaimana hukum ucapan tersebut dalam syariat Islam?

Saudariku, banyak sekali umat Islam yang tidak mengetahui bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan, dengan tanpa beban dan tanpa merasa berdosa ucapan selamat natal itu terlontar dari mulut-mulut mereka. Mereka salah kaprah tentang toleransi beragama sehingga dengan gampang dan mudahnya mereka mengucapkan selamat natal pada teman dan kerabat mereka yang beragama nasrani. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan islam dalam perkara ini? Berikut ini adalah bahasan seputar natal yang disusun dari beberapa fatwa ulama. Read the rest of this entry

Bolehkah Menjual Pernak-Pernik Natal dan Tahun Baru?

Bolehkah Menjual Pernak-Pernik Natal

Pertanyaan:

Bolehkah saya membuat mainan atau pernik-pernik untuk dijual pada perayaan natal, valentine, tahun baru atau yang lainnya. Namun saya tidak mendesain makhluk hidup, karena saya tahu itu haram. Saya hanya mendesain bunga-bunga dan saya tulis kata-kata indah.

Jawaban:

Alhamdulillah washshalatu wassalamu `ala rasulillah.. Read the rest of this entry

Hukum Menerima Makanan Natal..?

Pertanyaan:

Bagaimana sikap kita jika tetangga kita memberikan makanan Natal pada tanggal 25 Desember? Apakah makanan tersebut kita buang, atau kita tolak, meskipun jika penolakan kita menyebabkan kesalahpahaman mereka terhadap kita? Jazaakumullah khairan.

Jawaban:

Alhamdulillah, Read the rest of this entry

Al-Waduud, Yang Maha Mencintai Hamba-hamba-Nya yang Shaleh

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Waduud, Yang Maha Mencintai Hamba-hamba-Nya yang Shaleh

Dasar penetapan

Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha agung ini disebutkan dalam dua ayat al-Qur’an:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ}

“Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu (Allah ‘Azza wa Jalla) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesengguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih” (QS Huud: 90). Read the rest of this entry

Bantahan terhadap Abu Salafy (seri 5) Hakikat Kesyirikan Kaum Muysrikin Arab

(Logika Abu Salafy vs Logika Syaikh Muhammad Abdul Wahhab)

Para pembaca yang budiman pada tulisan ini saya akan menyampaikan logika Abu Salafy dibandingkan dengan logika Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang dicaci maki habis oleh Abu Salafy.

Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Abu Salafy merupakan kutipan dari gurunya Hasan Saqqoof (Abu Salafy telah menyatakan bahwa Hasan Saqqoof adalah guru beliau, silahkan lihat http://abusalafy.wordpress.com/2010/01/19/tanggapan-atas-luapan-emosi-saudara-anshari-taslim/, Abu Salafy berkata : “Al Ibânah karya Ibnu Buththah, seorang pemalsu, seperti dijelaskan guru kami; Sayyid habib Hasan As Seqaf dalam kitabnya Ilqâm al Hajar”)

Insyaa Allah pada kesempatan lain saya akan menjelaskan hakekat Hasan Saqqoof yang merupakan guru Abu Salafy yang juga sering melakukan tipu muslihat seperti sang murid Abu Salafy Read the rest of this entry

Download Audio | Dauroh Tiga Doktor Alumni Universitas Islam Madinah

Alhamdulillah berikut ini kami hadirkan rekaman audio dari Dauroh yang diselenggarakan di STDI Imam Syafi’i, Jember. Pemateri dalam dauroh ini adalah tiga orang Ustadz yang merupakan para Doktor lulusan Universitas Islam Madinah, KSA. Adapun rincian materi dan pembicara pada dauroh tersebut sebagai berikut :

  1. Kitab “Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf” (Keutamaan Ilmu Salaf Atas Ilmu Khalaf) – Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA.
  2. “Meluruskan Pandangan Miring Terhadap Ulama” – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA.
  3. “Memperbaiki Pemahaman Ekstrim Terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” – Ustadz Dr. Ali Musri, MA.

Selanjutnya silakan download materi lengkapnya pada link berikut ini.

Semoga bermanfaat Read the rest of this entry

Inilah Alasan Logis Syirik Merupakan Dosa Terbesar

Read the rest of this entry

Faidah Dari Surah Al-Mulk : Hikmah Allah Menciptakan Bintang Di Langit

luar angkasa

luar angkasa

Artikel kali ini adalah lanjutan dari pembahasan kami dalam faedah tafsir surat Al Mulk. Namun pembahasan ini akan melebar sampai pembahasan ramalan bintang dan zodiak dalam ilmu astrologi. Semoga bermanfaat.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 3-5) Read the rest of this entry

Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Ahlussunnah Wal Jama’ah [Bukti Otentik Dari Surat Beliau Kepada Penduduk Al-Qashim]

wahhabi dan imperialisme

wahhabi dan imperialisme

Setelah membahas syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para pengekor hawa nafsu dan orang-orang yang bodoh tentang hakikat dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir menutup kitabnya yang penuh manfaat dengan mencamtumkan salah satu dari risalah-risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang beliau kirimkan kepada penduduk Al-Qashim, tatkala mereka bertanya kepada beliau tentang aqidah beliau. Agar mereka bisa tenang mengikutinya atau agar mereka bisa membantahnya jika pada kenyataannya aqidah beliau tersebut bertentangan dengan aqidah yang diyakini oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Perlu Anda ketahui, bahwa penduduk Al-Qashim tidaklah menerima dakwah beliau kecuali setelah adanya pembahasan dan pemeriksaan. Dan inilah hendaknya yang dilakukan oleh para ulama atau orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dalam menyingkap hakikat sebenarnya dari setiap berita yang sampai kepada mereka tentang seorang atau sebuah jama’ah yang dituduh dengan kesesatan oleh manusia. Agar orang-orang yang ingin mencari kebenaran dapat berjalan dengan isitqomah diatas kebenaran.

Berikut nukilannya.. Read the rest of this entry

Nabi Sulaiman dan Nabi Musa Memakai Jimat? [2/2] | Studi kritis kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dengan tongkatnya

tongkat-nabi-musa

tongkat-nabi-musa

Poin Kedua: Studi kritis kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dengan tongkatnya.

Jika pada studi kritis kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm dan cincinnya, pembahasan di dalamnya lebih banyak dititikberatkan pada sorotan akan keabsahan kisah tersebut; maka studi kritis kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dan tongkatnya, tidak akan menempuh metode serupa. Sebab kisah tersebut sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Berhubung nash kisah penggunaan tongkat Nabi Musa ‘alaihissalâm telah disebutkan di dalam Alquran.

Pembahasan kita kali ini akan cenderung mengkritisi sisi istidlâl (penarikan kesimpulan) mereka dari kisah tersebut, untuk mendukung tindak pemakaian jimat. Hal itu bisa kita rumuskan dalam beberapa jawaban:

i. Analogi mereka yang keliru.

Perlu diketahui bahwa Nabi Musa ‘alaihissalâm memakai tongkatnya tersebut, berdasarkan perintah dan wahyu dari Allah ta’ala. Sebagaimana terlihat jelas dalam firman Allah,

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu!’. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.” (Q.S. Asy-Syu’arâ: 63). Read the rest of this entry

Nabi Sulaiman dan Nabi Musa Memakai Jimat? [1/2] | Studi kritis kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm dengan cincinnya.

jimat-nabi-sualiman

jimat-nabi-sualiman

Alhamdulillâh wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh.

Barangkali pertanyaan di atas terasa begitu aneh, asing atau mungkin lucu di telinga sebagian besar pembaca, yang telah mendapatkan hidayah untuk mengenal akidah yang murni, serta terdidik di atas ajarannya. Namun, lain halnya jika yang membaca adalah orang-orang yang ketergantungan terhadap benda mati (baca: jimat) telah mendarah daging dalam dirinya. Sampai-sampai ketika ada seseorang yang mencoba meluruskan keyakinan paganismenya itu, dia akan amat tersentak dan kaget dengan adanya pemahaman ‘baru’, yang 180 derajat bertolak belakang dengan apa yang diyakininya selama ini.

Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat sekitar, bukan suatu hal yang aneh jika kita berhadapan dengan berbagai fenomena di atas. Seorang muslim yang cerdas dan memiliki semangat juang tinggi untuk menularkan al-haq yang telah ia nikmati, tentunya selalu berusaha mempersiapkan dirinya untuk menghadapi berbagai jenis manusia yang amat heterogen latar belakang pemikiran dan tingkat pendidikannya. Read the rest of this entry