Kesyirikan dalam Sumpah Pramuka “Tri Satya”

Posted on Updated on

“Tri Satya, demi kehormatanku aku berjanji…”

Demikianlah kata-kata yang sering kita dengar dari Pramuka. Dalam kalimat di atas terdapat ucapan sumpah dengan selain Allah yaitu bersumpah dengan ‘kehormatan’.

Apakah ini dibolehkan? Berikut ini jawabannya,

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلاً يَحْلِفُ لاَ وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ».

Dari Sa’ad bin Ubadah, suatu ketika Ibnu Umar mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan ‘Tidak, demi Ka’bah’ maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan” (HR Abu Daud no 3251, dinilai shahih oleh al Albani).

Bersumpah dengan Allah adalah bentuk mengagungkan Allah. Oleh karenanya, bersumpah dengan selain Allah dinilai sebagai bentuk tindakan lancang kepada Allah dan melecehkan kesempurnaan dan keagungan Allah. Karena seorang insan jika ingin menegakan bahwa dirinya benar dalam perkataannya atau berupaya membersihkan diri dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya maka dia akan bersumpah dengan sesuatu yang paling agung dalam hatinya. Adakah di alam semesta ini suatu yang lebih agung dibandingkan dengan Allah. Oleh karena itu, bersumpah dengan selain Allah tergolong kesyirikan.

Hukum bersumpah dengan selain Allah adalah haram menurut mayoritas ulama.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Bersumpah dengan makhluk hukumnya haram menurut mayoritas ulama. Inilah pendapat Abu Hanifah dan merupakan salah pendapat dari dua pendapat yang ada dalam mazhab Syafii dan Ahmad. Bahkan ada yang menyatakan bahwa para shahabat telah bersepakat dalam hal ini.

Ada juga yang berpendapat bahwa sumpah dengan selain Allah itu makruh. Namun pendapat pertama jelas pendapat yang lebih benar sampai-sampai tiga shahabat nabi yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar berkata, ‘Sungguh jika aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan aku berbohong itu lebih aku sukai dibandingkan jika aku bersumpah dengan selain Allah dalam kondisi benar” (Majmu Fatawa 1/204).

Dalam kesempatan yang lain, beliau berkata, “Menurut pendapat yang benar dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama baik dari generasi salaf maupun khalaf adalah tidak boleh bersumpah dengan makhluk baik nabi atau bukan nabi, malaikat, seorang raja ataupun seorang ulama. Terlarangnya hal ini adalah larangan haram menurut mayoritas ulama sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan yang lainnya. Hal tersebut merupakan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Ahmad” (Majmu Fatawa 27/349).

Tentang rahasia di balik larangan ini, Syaukani mengatakan, “Para ulama mengatakan bahwa rahasia di balik larangan bersumpah dengan selain Allah adalah karena bersumpah dengan sesuatu itu menunjukkan pengagungan dengan suatu yang disebutkan. Padahal keagungan yang hakiki adalah hanya milik Allah. Oleh karena itu tidak boleh bersumpah kecuali dengan Allah, zat dan sifatNya. Ini merupakan kesepakatan semua ahli fikih” (Nailul Author 10/160).

Jadi bersumpah dengan selain Allah adalah syirik besar yang mengeluarkan dari Islam jika diiringi keyakinan bahwa makhluk yang disebutkan dalam sumpah tersebut sederajat dengan Allah dalam pengagungan dan dalam keagungan. Jika tidak ada unsur ini maka hukumnya adalah syirik kecil.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما أَنَّهُ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فِى رَكْبٍ وَهْوَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ ، فَنَادَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَلاَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ ، وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ »

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya beliau menjumpai Umar bin al Khattab bersama suatu rombongan. Saat itu Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Nabipun lantas memanggil rombongan tersebut lalu bersabda, “Ingatlah sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian. Siapa yang hendak bersumpah maka hendaknya bersumpah dengan Allah atau jika tidak diam saja” (HR Bukhari no 5757).

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ حَلَفَ بِالأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا ».

Dari Ibnu Buraidah dari Buraidah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan amanah maka dia bukanlah umatku” (HR Abu Daud no 3253, dinilai shahih oleh al Albani).

Oleh karena itu tidak diperkenankan untuk bersumpah dengan Ka’bah, amanah, kehormatan, pertolongan, barokah fulan, kehidupan fulan, kedudukan nabi, kedudukan wali, bapak, ibu dan tidak pula dengan kepala anak. Ini semua hukumnya haram. Barang siapa yang terjerumus ke dalamnya maka kaffarah/tebusannya adalah dengan mengucapkan laa ilaha illallah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِى حَلِفِهِ وَاللاَّتِ وَالْعُزَّى . فَلْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ . فَلْيَتَصَدَّقْ »

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah lalu berkata dalam sumpahnya ‘demi Latta dan Uzza’ maka hendaknya mengucapkan laa ilaha illallah. Barang siapa yang berkata kepada kawannya ‘mari kita bertaruh’ maka hendaknya dia bersedekah” (HR Bukhari no 4579) [Muharramat Istahana biha anNas hal 21, maktabah al Khudairi].

Di sisi lain, dalam al Qur’an Allah sering bersumpah dengan menyebut makhlukNya semisal mengatakan, ‘Demi matahari dan terangnya’ atau ‘Demi malam jika telah gelap’ atau kalimat yang semisal.

Ada dua jawaban untuk mendudukkan masalah ini dengan benar.

  • Pertama, ini adalah perbuatan Allah dan Allah tidak boleh ditanya tentang yang Dia lakukan. Dia berhak untuk bersumpah dengan makhluk apa saja yang Dia kehendaki. Dialah yang akan menanyai makhlukNya bukan malah ditanya. Dialah yang menghukumi bukan yang dihukumi.
  • Kedua, Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk ini menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kuasa dan hikmah Allah. Jadi jika Allah bersumpah dengan ini semua, maka ini menunjukkan pengagungan terhadap makhluk-makhluk tersebut. Sehingga secara tidak langsung menunjukkan sanjungan terhadap Allah. Sedangkan kita tidak diperkenankan untuk bersumpah dengan selain Allah karena kita dilarang untuk melakukan hal tersebut (al Qoul al Mufid 2/325-326).

Kesyirikan dalam Sumpah Pramuka “Tri Satya”

Iklan

9 respons untuk ‘Kesyirikan dalam Sumpah Pramuka “Tri Satya”

    laskardp said:
    Juli 14, 2010 pukul 1:04 am

    perlu dibedakan antara janji dan sumpah……. try satya itu bukan sumpah tp janji.

      Hamdani responded:
      Juli 14, 2010 pukul 7:35 am

      iya pak, memang sumpah itu memiliki perbedaan dengan janji. Terkadang janji dikuatkan dengan sumpah untuk memepertegas janji tersebut. Bukankah pada Janji Pramuka ini ada sebuah sumpah?

      Kata-kata “Demi kehormatanku”, ini adalah sebuah sumpah. Orang yang mengucapkannya bersumpah dengan kehormatannya..

      Dan seorang muslim tidak boleh bersumpah dengan selain nama Alloh, sebagaimana telah ada larangannya dari Rasulullah -shallallohu ‘alaihi wa sallam-.. insya Alloh akan kami hadirkan pembahasan tentang hal ini..

    […] posting tentang “Kesyirikan dalam sumpah pramuka Trisatya“, berikut ini kami nukilkan fatwa dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin […]

    laskardp said:
    Juli 15, 2010 pukul 7:49 pm

    jd menurut anda sebaiknya gmana???? jangan hanya menyalahkan tanpa memberikan solusi…….

      Hamdani responded:
      Juli 16, 2010 pukul 7:49 am

      Terima kasih atas tanggapannya pak, Sebaiknya sebagai seorang muslim kita mengetahui beberapa adab dalam bersumpah, diantaranya : Jika seorang muslim hendak bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Alloh, dan janganlah dia bersumpah dengan selain Alloh. Jika memungkinkan lafazh sumpah dari Janji Pramuka tersebut diganti dengan “Demi Allah” atau jika tidak memungkinkan maka jangan gunakan kalimat sumpah dalam janji itu. Semoga Alloh memberkahi Anda dan memuliakan Anda dengan Islam.

    scouting said:
    Februari 1, 2011 pukul 12:13 am

    wal ashri……’demi masa’, berarti surat al ashri pada al-quran termasuk mengandung unsur sirik dong, kan ada kata demi masa di dalamnya, sedangkan menurut penjelasan anda menggunakan kata sumpah khususnya ‘demi’ merupakan suatu kesirikan, berarti anda menghina kitab suci al-quran dnk,. sedangkan al-quran merupakan sumber hukum islam yang utama dan merupakan firman alloh yang tidak di ragukan lagi kebenarannya, dan juga rosululoh tidak mengajarkan kita agar tidak mempercayai kitab suci al-quran…tolong teliti lebih jelas lagi dengan apa yang anda tafsirkan,… kata demi kehormatanku,aku berjanji. disini sudah di pertegas dengan kata berjanji, dan pengertian ‘trisatya’ adalah tiga janji bukan tiga sumpah.dan pada isi trisatya bait pertama berbunyi ‘bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap tuhan…… jadi saya rasa disini tidak ada kesirikan… apa bila ada maka bunyi bait pertama berbunyi menjalankan kewajibanku terhadap berhala.. itu namanya sirik… maaf brow tafsir dulu dengan benar, jangan asal posting.

      Hamdani responded:
      Februari 2, 2011 pukul 8:24 am

      Semoga Alloh memberikah hidayahNya untuk saya dan Anda… hal yang Anda pertanyakan -yakni soal adanya sumpah dengan nama selain Allah di dalam alqur’an- sudah dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.

      Selanjutnya, ketahuilah -semoga Allah merahmati Anda- bahwa kesyirikan itu bukan hanya menyembah berhala, akan tetapi kesyirikan adalah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah atau menjadikan perantara anatra kita dengan Allah dalam beribadah. Untuk lebih jelasnya silakan anda baca di sini

    ali said:
    Juni 28, 2012 pukul 12:27 am

    demi kehormatanQ aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanQ terhadap Tuhan (Allah) dan Negara (….dst).
    menurut z, demi hormatnya sebgai manusia akan mnjalankn kwajibannya kpd Allah.

    Maarif said:
    September 13, 2016 pukul 6:46 pm

    Perlu diklat bahasa…
    Nek posting pelajari sek toh kaidah bahasa yang benar, haa…
    Cari guru bahasa Indonesia dulu sana, nanti kalau sudah ketemu cari guru bahasa Arab terus ketemukan dengan Pak kyai anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s