Al Qur’an dan Sunnah adalah Segalanya

Posted on

Dalam salah satu edisinya, majalah Ad Dakwah memuat salah satu fatwa Syeikh Ibnu Baz. Namun dalam fatwa tersebut terdapat kekeliruan karena fatwa tersebut dimulai dengan kalimat, ‘Sesungguhnya dalam mazhab (Hambali) hukumnya adalah demikian dan demikian’. Kalimat semisal ini jelas bukan berasal dari perkataan Syeikh Ibnu Baz. Beliau lantas memanggil penulis fatwa lalu berkata kepadanya, “Bacakanlah kepadaku”. Ternyata salah satu isinya, “Dalam mazhab (Hambali) hukumnya demikian dan demikian”. Beliau lantas berkata kepadanya, “Kami tidak pernah mengatakan, ‘dalam mazhab, hukumnya demikian dan demikian’. Yang kami katakan adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah demikian.

Ada seorang penuntut ilmu berkata kepada Syeikh Ibnu Baz, “Wahai syeikh, engkau sering membaca buku-buku hadits dan perhatian dengan hadits”. Beliau lantas berkata, “Bukankah hakekat ilmu agama adalah hadits? Bukankah hakekat ilmu agama adalah hadits? Wahai fulan, taklid bukanlah ilmu, taklid bukanlah ilmu”.

Dalam sebuah pengajian, Syeikh Ibnu Baz mengatakan bahwa hukum menikahi wanita ahli kitab adalah boleh dengan bersyarat, lantas ada salah seorang peserta pengajian yang berkata, “Wahai syeikh, sebagian shahabat melarang hal tersebut”. Seketika itu pula, beliau menoleh ke arah orang tersebut dengan muka memerah seraya berkata, “Apakah pendapat seorang shahabat bisa digunakan untuk menentang Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah?! Perkataan seorang pun tidaklah teranggap setelah ada firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Ada seorang yang menulis buku tentang memelihara jenggot. Dalam bukunya, dia menyebutkan pendapat Abu Hurairah, Ibnu Umar dan beberapa shahabat lain yang membolehkan memotong jenggot yang lebih dari genggaman tangan. Ketika buku ini disodorkan kepada beliau, di bagian ini beliau memberikan komentar, “Meskipun ini adalah pendapat Abu Hurairah dan Ibnu Umar akan tetapi yang diutamakan adalah perkataan Allah dan rasulNya serta perbuatan Rasulullah. Perkataan Abu Hurairah dan Ibnu Umar tidaklah bernilai dibandingkan dengan sabda Rasulullah”.

Inilah metode yang benar dalam beragama yang sepatutnya kita titi. Taat kepada Allah dan rasulNya merupakan sumber keselamatan, bukan perkataan si A dan si B meskipun beliau-beliau adalah mujtahid. Namun mendahulukan perkataan beliau-beliau dengan meninggalkan perkataan Allah dan rasulNya adalah sebuah musibah besar. Perkataan ulama hanya kita gunakan sebagai alat bantu untuk memahami firman Allah dan sabda rasulNya dengan baik dan benar, bukan malah digunakan sebagai alat untuk membantah perkataan Allah dan rasulNya. Kita hanya diperintahkan untuk mentaati Allah dan rasulNya, bukan perkataa ulama A atau ustadz B yang tidak sejalan dengan aturan Allah dan rasulNya.

Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas,

يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء! أقول لكم قال الله وقال رسوله، وتقولون قال أبو بكر وعمر!

Hampir saja akan terjadi hujan batu dari langit. Kusampaikan kepada kalian perkataan Allah dan rasulNya namun kalian bantah dengan mengajukan perkataan Abu Bakar dan Umar”. Padahal tidak ada manusia semulia Abu Bakar dan Umar.

Jika membantah perkataan Rasulullah dengan pendapat Abu Bakar dan Umar saja hampir-hampir mendatangkan murka dan adzab Allah yang demikian mengerikan yaitu hujan batu dari langit yang merupakan adzab Allah untuk kaum Nabi Luth, bagaimana lagi jika sabda Nabi dibantah dengan pendapat seorang imam mazhab yang tentu ilmu dan keutamaannya jauh di bawah Abu Bakar dan Umar. Lalu bagaimana dengan orang yang membantah hadits yang shahih dengan perkataan seorang ulama masa sekarang? Bagaimana pula dengan orang yang menolak ajaran Nabi beralasan dengan perkataan seorang ustadz yang belum sampai derajat ulama sesungguhnya.

Namun ada yang lebih parah lagi, yaitu orang-orang yang membantah hadits yang demikian shahih dikarenakan hadits tersebut tidak diterima oleh ilmuwan kafir.

Ada orang yang menolak kandungan hadits lalat karena isi hadits tersebut tidak sejalan dengan perkataan seorang dokter barat yang kafir. Ada juga yang menolak hadits Nabi yang berisikan boleh memberikan hukuman fisik kepada anak karena tidak mau mengerjakan shalat dikarenakan hal ini tidak sejalan dengan perkataan pakar pendidikan dari barat yang kafir. Orang kafir tersebut menegaskan bahwa adanya hukuman fisik bagi anak hanya akan membuahkan bahaya dan tidak mendatangkan manfaat sedikit pun.

Layakkan hal semacam ini digunakan untuk membantah dan menihilkan hadits ini?!

Di samping itu, di antara hal yang keliru adalah sikap sebagian orang yang menggembargemborkan perkataan syeikh fulan atau ustadz fulan, menurut mazhab kami adalah demikian atau kalimat semisal itu. Ironinya perkataan Allah dan rasulNya tidak disebut-sebut dalam pembicaraannya sama sekali.

http://ustadzaris.com/al-qur%e2%80%99an-dan-sunnah-adalah-segalanya

Iklan

2 respons untuk ‘Al Qur’an dan Sunnah adalah Segalanya

    Xarel Xerxes said:
    April 5, 2012 pukul 7:36 pm

    Setuju dengan tulisan di atas, tetapi mengapa salafi mengerjakan shalat tarwih berjamaah…? padahal:

    1. Allah dan Rasulnya tidak pernah menamai shalat malam di bulan romadhan dengan nama tarawih, yang memberi nama tsb adalah sahabat Umar.

    2. Allah dan Rasulnya tidak pernah menyuruh dan menganjurkan shalat tarawih berjamaah. hal itu muncul ketika zamannya umar memrintahkan utk berjamaah.

    3. rasulullah sang rujukan ummat shalat “tarawih” di masjid selama seumur hidupnya hanya tiga malam.

    dalam kasus shalat “tarawih” mengapa anda /salafi lebih mengikuti sahabat Umar ketimbang mengikuti Allah dan Rasul-Nya…?

    Jika anda mengikuti sahabat umar krn berdasarkan hadits alaikum bisunnati khulafai rasyidin….lalu mengapa anda tidak mengikuti Kholifah ustaman adzan jumat dua kali…/ bukankah sama-sama kholifah….

      Abu Umamah responded:
      Mei 24, 2012 pukul 4:25 pm

      Silakan Anda baca dan perhatikan baik-baik penjelasan tentang Shalat Tarawih dan Adzan Jum’at. Insya Allah pertanyaan Anda itu akan terjawab dengan sendirinya.

      Ringkasnya, Rasulullah melaksanakan shalat malam berjama’ah hanya 3 malam kemudian beliau berhenti dari mengerjakannya secara berjama’ah karena adanya sebab, yaitu beliau khawatir hal tersebut diwajibkan atas ummatnya. Kemudian, Umar menghidupkan kembali sunnah ini setelah wafatnya Rasulullah karena telah hilangnya sebab yang menghalangi beliau untuk terus menerus melaksanakan shalat malam dibulan Ramadhan secara berjama’ah.

      Tentang Adzan Jum’at yang dikumandangkan dua kali dizaman Utsman, hal ini dilakukan karena adanya sebab. Adapun sekarang sebab tersebut Alhamdulillah telah hilang dengan adanya Kalender, Jam, Pengeras Suara dsb. Wallahu a’lam.

      Mari kita sama-sama terus belajar untuk dapat memahami dan mengamalkan Islam ini dengan sebaik-baiknya. Barakallahu fiik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s