Ziarah Kubur Koq Dibilang “SYIRIK!” [Teliti Sebelum Memutuskan]

Posted on Updated on

Di Indonesia fenomena ziarah kubur banyak kita jumpai, sebut saja makam para Wali Songo, sebagai (orang-orang yang turut) menyebarkan agama Islam di Indonesia, tidak pernah sepi dari para peziarah. Tapi di sisi lain ada yang menyebutkan bahwa kegiatan ini termasuk syirik. Nah loh, oleh karena hal itu kita pelajari bersama-sama secara mendalam. Kenapa? karena syirik kita sepakati adalah dosa yang paling besar (seperti tersebut dalam AlQuran dan Hadits), lebih besar daripada membunuh.

Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran dan kesyirikan di masa jahiliyah. Terbukti hal yang demikian dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَرَأَيْتُمُ الاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ اْلأُنْثَى تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَى

“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-’Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (An-Najm: 19-22)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mencerca kaum musyrikin dengan peribadatan mereka kepada patung-patung, tandingan-tandingan bagi Allah dan berhala-berhala, di mana mereka memberikan rumah-rumah untuk menyaingi Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata”. Al-Lata adalah sebutan untuk batu yang terukir di mana di atasnya dibangun rumah dan berada di kota Thaif. Ia memiliki kelambu dan juru kunci dan di sekitarnya terdapat halaman yang diagungkan oleh penduduk Thaif, yaitu kabilah Tsaqif dan yang mengikuti mereka. Mereka berbangga-bangga dengannya di hadapan seluruh kabilah Arab kecuali Quraisy.”

Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Mujahid, Rabi’ bin Anas mereka membaca (الاَّتَ) dengan ditasydidkan taa (تَّ) dan mereka menafsirkannya dengan: “Seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji di masa jahiliyyah. Tatkala dia meninggal, mereka i’tikaf di kuburannya lalu menyembahnya.”

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan: Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah “Al-Latta dan Al-’Uzza.”: “Al-Latta adalah seseorang yang menjadikan gandum untuk para jamaah haji.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/35, lihat Tafsir Al-Qurthubi, 9/66, Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Al-Latta dengan bacaan ditasydidkan huruf taa adalah bacaan Ibnu ‘Abbas berdasarkan bacaan ini berarti isim fa’il (bentuk subyek) dari kata ‘latta’ (yang berbentuk) patung, ini asalnya adalah seseorang yang mengadoni tepung untuk para jamaah haji yang dicampur dengan minyak samin lalu dimakan oleh para jamaah haji. Tatkala dia mati, orang-orang i’tikaf di kuburnya lalu mereka menjadikannya sebagai berhala.” (Qaulul Mufid, 1/253)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Termasuk dari tipu daya setan yang telah menimpa mayoritas orang sehingga tidak ada seorangpun yang selamat-kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah- yaitu “Apa-apa yang telah dibisikkan para setan kepada wali-walinya berupa fitnah kuburan.” (Ighatsatul Lahfan, 1/182)

Yang mengawali terjadinya fitnah besar ini adalah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagaimana telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang mereka:

قَالَ نُوْحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًا وَقَالُوْا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوْثَ وَيَعًوْقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَلاَ تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ ضَلاَلاً

“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq dan Nasr. Dan sesungguhnya mereka menyesatkan kebanyakan manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh: 21-24)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat Al-Bukhari menyatakan: “Mereka adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika orang-orang shalih itu mati, tampillah setan menyampaikan kepada orang-orang agar mendirikan di majelis-majelis mereka gambar orang-orang shalih tersebut dan namakanlah dengan nama-nama mereka! Orang-orang pun melakukan hal tersebut dan belum disembah, sampai ketika mereka meninggal dan ilmu semakin dilupakan, maka gambar-gambar itu pun disembah.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: “Bukan hanya satu ulama salaf yang mengatakan: ‘Mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal, orang-orang i’tikaf di kubur-kubur mereka lalu membuat patung-patung tersebut hingga masa yang sangat panjang, lalu menjadi sesembahan.” Kemudian beliau mengatakan: “Mereka telah menghimpun dua fitnah yaitu fitnah kubur dan fitnah menggambar.” (Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Loh kok disamain sih, kan orang zaman dahulu menyembah patung, itu jelas-jelas perbuatan syirik?

Sisi persamaan disini pada pengagungan yang berlebihan terhadap orang yang sholeh. Awalnya mereka para orang shalih tidak disembah. Seperti juga keadaan makam-makam yang dianggap keramat, bermacam-macam tanggapan orang. Ada yang hanya digunakan sebagai tempat berdoa kepada Allah, mencari barokah, mencari petunjuk, mensucikan pusaka, selamatan, dan banyak yang lainnya. Coba kita cermati dan renungkan.

Kan di kuburan kita tidak beribadah kepada kuburan itu, hanya berdoa kepada Allah.

Mari kita baca hadits-hadits berikut ini:

Hadits Abu Martsad Al Ghanawi, Rasulullah bersabda:

لاَتُصَلُّوا إِلَى الْقُبُور

“Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur.” (HR. Muslim)

Hadits Anas bin Malik:

أَنَّ النَّبِيَّ نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُورِ

“Sesungguhnya Nabi Muhammad melarang shalat diantara kuburan-kuburan.” (HR. Al Bazzar no. 441, Ath Thabrani di Al Ausath 1/280)

Hadits Abu Sa’id Al Khudri

الأََرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi dan seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)

لاَتَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi. Karena di manapun kalian bershalawat untukku, akan sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud)

Dan jenis perbuatan ini pun juga masuk dalam larangan sabda Rasulullah :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, Muslim, 2/67 dan lainnya)

Karena makna menjadikan kuburan sebagai masjid mencakup membangun masjid di atas kuburan dan juga mencakup menjadikan kuburan sebagai tempat sujud (ibadah) ataupun berdo’a walaupun tidak ada bangunan di atasnya. Kecuali berdo’a untuk si mayit, karena inilah yang dianjurkan dalam agama. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 279 karya Asy Syaikh Al Albani dan Al Qaulul Mufid 1/396)

Ketika berdoa di kuburan, kami hanya menjadikan para wali sebagai perantara (tawasul) kepada Allah.

Jika perbuatan ini benar, niscaya tidak akan ditinggal oleh para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kuburan imam para Rasul yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tentu akan berlomba-lomba untuk melakukannya dan tentu akan teriwayatkan dari mereka setelah itu. Berdasarkan sisi ini jelas bahwa perbuatan ini diada-adakan, termasuk perkara baru dan merupakan satu kebid’ahan di dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha).

Loh ada syariat Rasulullah untuk berziarah kubur…!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ، فَزُوْرُوْهَا لِتَذْكِرِكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْراً

“Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu mengingatkanmu berbuat kebajikan.” (HR. Ahmad, hadits sahih)

“Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian.”(Muslim)

Memang benar bahwasanya Rasulullah mensyariatkan untuk ziarah kubur, tapi dari hadits-hadits diatas kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah mengingatkan kepada kematian, mendoakan si mayit, dan amalan sunnah lainnya. Bukan untuk sholat, membaca Al-Quran, berdoa untuk dirinya dengan perantara si mayit, menabur bunga, memberikan sesaji, dan hal-hal yang dilarang lainnya.

Aku (‘Aisyah) berkata : “Apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kuburan) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Katakanlah : Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin. Dan semoga Allah merahmati orang yang terdahulu dan orang yang belakangan dari kita. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim, An Nasa’i, Abdurrazzaq, dan Ahmad)

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَ لاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tha’waf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (AI-Hajj: 29). Tidak thawaf di kuburan.

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تـُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)

“Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: l06)

(Orang-orang yang zhalim adalah musyrikin).

Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya. Sebab hal itu dilarang,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).

Cukup meletakkan sebuah batu setinggi satu jengkal, untuk menandai kuburan. Dan itu sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika meletakkan sebuah batu di atas kubur Utsman bin Mazh’un, lantas beliau bersabda,

أَتَعَلـَّمُ عَلَى قَبْرِ أَخِيْ

“Aku memberikan tanda di atas kubur saudaraku.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan).

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)

Kalau begitu kafir dong yang suka ziarah di makam-makam wali dan tempatnya di neraka.

Eits…, tunggu dulu. Untuk menghukumi seseorang secara khusus kafir butuh tahapan dan tidak asal dia melakukan perbuatan kekafiran langsung dicap kafir, siapa yang melakukan bid’ah dicap ahlul bid’ah. Harus diteliti terlebih dahulu apakah pelakunya sudah diingatkan atau belum.

Terlebih lagi masalah neraka dan syorga ini adalah rahasia Allah, bahkan kepada orang non-Islam yang masih hidup kita tidak boleh berkata “kamu masuk neraka!”, karena bisa saja di akhir hidupnya dia bertaubat dan diampuni dosa-dosanya oleh Allah.

***
Sumber: http://mumtazanas.wordpress.com/2007/12/03/ziarah-kubur-kok-dibilang-syirik/

—————————-

Bukti kesyirikan: “Ngalap” Berkah di Makam Walisongo

“Sebagai orang suci yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat, keberadaan makam Walisongo tidak lepas dari mitos. Konon, bila orang punya tujuan tertentu berziarah ke makam Walisongo, doa-doanya akan dikabulkan.”

”Orang yang ingin mendapat ilmu biasanya berziarah ke makam Sunan Kalijaga, mendapat harta pergi ke makam Sunan Kudus, dan bila ingin mendapat kedudukan berziarah ke makam Raden Fatah,” ungkap Soleh, salah satu penjaga makam Raden Fatah di halaman Masjid Agung Demak.” (Silakan klik):
http://www.infogue.com/viewstory/2009/08/18/_ngalap_berkah_di_makam_walisongo/?url=http%3A%2F%2Fregional.kompas.com%2Fread%2Fxml%2F2009%2F08%2F18%2F12003639%2Fngalap.berkah.di.makam.walisongo

Catatan Terkait:
ZIARAH KUBUR ANTARA YANG SUNNAH & BID’AH

Abu Muhammad Herman

Iklan

3 respons untuk ‘Ziarah Kubur Koq Dibilang “SYIRIK!” [Teliti Sebelum Memutuskan]

    Hade Kreatifedy said:
    Juni 6, 2012 pukul 2:21 pm

    Terimakasih atas atas tanggapannya..
    Sebelumnya, saya ingin menegaskan dan mengusulkan, alangkah baiknya jika komentar semacam komentar saya ini tetap diposting/dipasang, biarlah pembaca yang memutuskan (bukan di-edit sepihak dan dirugikan oleh admin). Karena sudah beberapa kali saya mengirim tanggapan dengan lumayan panjang lebar tapi tidak dipasang. Ketika beberapa kali saya kirimkan pertanyaan:kenapa tanggapan saya tidak dipasang?dijawab:postingan saya tidak bermutu (dan malahan pertanyaan saya ini yang malah dipasang).. fairlah kalau berdiskusi dan bermudzakarah…

    Soal ziarah kubur, semua dalil dan argumentasi yang anda kemukakan sudah kerap say abaca dan dengar, dan semuanya berputar-putar di dalil, ayat dan hadis serta ucapan ulama yang itu-itu saja. Inti dari pernyataan saya tidak tersentuh sama sekali, yaitu: kaum wahabi tidak bisa membedakan antara ta’abbud dan tabaruk! Mana yang termasuk kategori “menyembah” dan mana yang “ngalap berkah”. Keduanya mereka kaburkan pengertiannya, entah karena tidak mengerti atau memang tidak mau mengerti.
    Kesemua dalil quran dan hadis yang anda kemukakan, semuanya juga kami amini. Namun yang tidak kami amini adalah tafsir dan pengertian yang diambil dari semua dalil-dali tersebut.

    Izinkan saya membahsnya: (kalimat berhuruf tebal atau kalimat berikutnya adalah tanggapan dari saya):

    Hadits Abu Martsad Al Ghanawi, Rasulullah bersabda:
    لاَتُصَلُّوا إِلَى الْقُبُور
    “Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur.” (HR. Muslim)
    Hadits Anas bin Malik:
    أَنَّ النَّبِيَّ نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُورِ
    “Sesungguhnya Nabi Muhammad melarang shalat diantara kuburan-kuburan.” (HR. Al Bazzar no. 441, Ath Thabrani di Al Ausath 1/280)
    Hadits Abu Sa’id Al Khudri
    الأََرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ
    “Bumi dan seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi,
    Kesemua hadis ini tidak relevan dengan pelarangan ziarah kubur, bahkan memusyrikan pelakunya. Perhatikan baik-baik redaksinya!
    لاَتَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ
    “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi. Karena di manapun kalian bershalawat untukku, akan sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud)
    Di sini nampak kesalahan fatal penerjemahan. Jelas-jelas di hadis memakai kata “ ‘Iid” mengapa diartikan “jangan menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi”?? “’Iid” itu artinya hari raya besar keagamaan…. Dan sama sekali hadis ini tidak berarti pelarangan menziarahi kubur beliau Saw. Mana kalimat pelarangannya???

    لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, Muslim, 2/67 dan lainnya)

    Apakah kuburan nabi, para sahabat, para wali ada yang dijadikan objek sujud? Apakah mereka diyakini memiliki kekuatan setara dengan Allah? Apakah mereka diyakini mempunyai kekuasaan yang tidak bergantung kepada Allah sehingga dijadikan objek sujud? Maaf, saya tidak tsiqah dengan pendapat al-albani yang tidak mempunyai kapasitas seorang ahli hadis dan ahli fiqih, sementara masih banyak ulama yang jauh melebihi dia yang fatwanya bisa dipegang.
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha).

    Apakah anda faham definisi bid’ah?sebenarnya redaksi hadis inipun telah menjawab kesalahan kaum wahabi yang mensyirikkan pelaku ziarah kubur. Perhatikan saja redaksinya: laysa ‘alaihi amrunaa yang diartikan “tidak ada perintahnya dari kami”.. ziarah kubur itu disyariatkan, dianjurkan, dan digemarkan oleh beliau Saw, para sahabat dan ulama. Malah kami balik bertanya: mana ayat dan hadis larangan berziarah??
    Penjelasan si penulis: Memang benar bahwasanya Rasulullah mensyariatkan untuk ziarah kubur, tapi dari hadits-hadits diatas kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah mengingatkan kepada kematian, mendoakan si mayit, dan amalan sunnah lainnya. Bukan untuk sholat, membaca Al-Quran, berdoa untuk dirinya dengan perantara si mayit, menabur bunga, memberikan sesaji, dan hal-hal yang dilarang lainnya.
    Saya malah balik bertanya: siapakah yang berziarah melakukan sholat menyembah si penghuni kubur?asal anda tahu saja, pendapat ulama tentang melakukan sholat di tengah-tengah kubur, atau menghadap kubur tidak sampai level syirik, paling banter makruh tahrim!
    Membaca al-Quran dilarang ketika ziarah kubur?dan cukup hanya mengatakan “Katakanlah : Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin. Dan semoga Allah merahmati orang yang terdahulu dan orang yang belakangan dari kita. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.”??? Silahkan anda cari kaum wahabi yang ziarah hanya mengatakan kalimat tersebut. Saya tidak yakin ada. Kenapa?ya karena mereka tidak melakukan ziarah kubur, karena kuatnya anggapan bahwa ziarah kubur itu syirik, maka bagaimana mereka mau mengucapkan kalimat itu ketika ziarah kubur (karena mereka meyakini ziarah kuburnya aja syirik). Silahkan kemukakan dalil-dalil larangan membaca quran dan doa-doa ketika ziarah!

    لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَ لاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا
    “Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” (HR. Muslim)
    وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
    “Dan hendaklah mereka melakukan tha’waf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (AI-Hajj: 29). Tidak thawaf di kuburan.
    لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تـُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
    “Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)
    وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)
    “Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: l06)
    (Orang-orang yang zhalim adalah musyrikin).
    Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya. Sebab hal itu dilarang,
    نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

    أَتَعَلـَّمُ عَلَى قَبْرِ أَخِيْ
    “Aku memberikan tanda di atas kubur saudaraku.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan).

    Kesemua hadis ini tidak relevan dengan persoalan syiriknya ziarah kubur (sebagaimana judul artikel anda). Tidak ada kesesuaian pembahasan. Kalau soal mengapur, membangun, duduk di atas kubur, solat menghadap kubur (tadi sudah saya jawab sepintas di atas)…. Itu berkenaan dengan hal lain, tapi tidak pas dengan persoalan syiriknya ziarah kubur.

    لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)
    Memahami hadis ini, harus dengan membandingkan dengan hadis “allahumma laa taj’al qobrii watsanan yu’bad”. Ini adalah doa dan harapan Nabi Saw. Dan pastilah doa beliau diijabah allah swt, hingga sekarangpun kubur beliau Saw tidak dijadikan arca yang disembah, tidak ada seorangpun umatnya yang meyakini beliau mempunyai kekuasaan yang setara dengan Allah sebagaimana kaum nasrani mengangkat isa putra maryam ke derajat ketuhanan.
    “Sebagai orang suci yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat, keberadaan makam Walisongo tidak lepas dari mitos. Konon, bila orang punya tujuan tertentu berziarah ke makam Walisongo, doa-doanya akan dikabulkan.”
    ”Orang yang ingin mendapat ilmu biasanya berziarah ke makam Sunan Kalijaga, mendapat harta pergi ke makam Sunan Kudus, dan bila ingin mendapat kedudukan berziarah ke makam Raden Fatah,” ungkap Soleh, salah satu penjaga makam Raden Fatah di halaman Masjid Agung Demak.”
    Memangnya kenapa kalau punya keyakinan seperti itu? anda jangan menilai aqidah mereka seperti anda dan kaum wahabi lainnya yang menganggap bahwa penghuni kubur diyakini mempunyai kuasa ketuhanan selain Allah. Tidak demikian! Sebaiknya anda bandingkan pengertian berkah yang anda yakini dengan berkahnya ahlussunnah wal jama’ah.
    Tidak seorangpun yang hidup dalam tradisi ziarah mempunyai keyakinan bahwa penghuni kubur yang diziarahu mempunyai kekuasaan ketuhanan (rububiyah) setara dengan Allah. Keyakinan kami adalah: jika kami berziarah kepada kuburan orang-orang yang diyakini kesalehannya, maka akan mendapatkan berkah dari Allah, Allah-lah yang menurunkan berkah, bukan penghuni kubur itu. Allah-lah yang menyuruh berziarah, memohonkan ampun kepada penghuni kubur, membaca doa, melantunkan ayat suci. Sebagai ganjarannya, Allah member keberkahan bagi yang melakukannya. Dapatkan anda membedakan??sama sekali tidak ada dalam hati dan pikiran kami sebagaimana tuduhan kaum wahabi, bahwa kami (yang suka ziarah kubur) meyakini bahwa penghuni kubur sanggup mendatangkan bencana dan berkah dan nikmat, seoalah-olah penghuni kubur itu mempunyai kuasa rububiyah selain Allah. (kalau memang begitu keyakinan kaum wahabi, memang sebaiknya mereka tidak boleh ziarah kubur, karena lemahnya iman dan pengetahuan mereka tidak mampu membedakan tabaruk dan ta’abbud). Na’udzu billahi min dzaalik!
    Dan tabaruk bukan hanya ziarah kubur. Datangnya berkah tidak hanya didapat dari ziarah kubur. Tabaruk banyak ragam dan cara mendapatkannya: zikir, sedekah, melakukan amalan sunnah, menyebut-nyebut keagungan Allah, rasul-Nya, kesalehan para wali-Nya, mengagungkan orang tua, ulama, mencari rezeki halal… bahkan Khalid bin walid bertabaruk dengan beberapa helai rambut Saw yang disimpan dalam kopiahnya setiap kali perang, para sahabat bertabaruk dengan baju gamis nabi saw utk mengobati orang sakit….dll
    Saya ingin menginagtkan anda dengan peringatan keras rasul saw tentang larangan mudahnya menganggap kafir dan syirik kepada umat islam, karena jika salah seorang mengatakan kepada muslim lainnya ‘hei kafir”, berrati memang salah satunya telah kafir. Dalam hal ini, berarti anda atau saya yang kafir atau musyrik (nau’dzu bilahi min dzaalik). Kalau anda tidak setuju dengan keyakinan kami (yang memang mempunyai dalil dan hujjah yang kuat), kami cukup mengatakan; silahkan kalau tidak setuju ya tidak apa-apa. Namun anda yang tidak setuju malah memvonis kami musyrik. Siapakah yang lebih lembut, bijak dan toleran di antara kita???

    Wallahu a’lam bish showab

      Abu Umamah responded:
      Juni 6, 2012 pukul 4:42 pm

      Saya tidak akan banyak menanggapi apa yang Anda sampaikan tersebut di atas secara panjang lebar sebagaimana Anda telah mengutarakan pendapat Anda tersebut secara panjang lebar. Mohon maaf atas hal ini. Tapi satu hal, marilah kita terus belajar untuk mengeluarkan diri kita dari gelap dan hinanya kebodohan… Adapun mengenai komentar Anda, saya tampilkan seluruhnya tanpa saya potong, sesuai permintaan Anda. Jika Anda menginginkan kebenaran, maka sungguh komentar Anda itu telah terjawab dengan tulisan di atas dan beberapa tulisan lainnya di sini atau dibeberapa situs/blog yang membahas tentang hakikat tauhid dan syirik, silakan Anda membaca tulisan-tulisan tersebut dengan seksama, dengan fikiran yang jernih dan hati yang ikhlas untuk mencari kebenaran. Akan tetapi, jika Anda hanya menginginkan perdebatan atau yang semisal maka cukuplah ini sebagai komentar terakhir Anda.

      Akhi, renungkanlah firman Allah berikut ini :

      أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

      Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [Az-Zumar : 3]

    Hade Kreatifedy said:
    Juni 7, 2012 pukul 9:17 am

    —- deleted —-

    Admin:
    Saran saya masih sama mas… perbanyak belajar… baca dan renungi Al-Qur’an dan Hadits jangan mengikuti hawa nafsu… ikhalskan niat dalam mencari kebenaran… Barakallahu fiik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s