Skip to content

Bagaimana Wujud Kegembiraan Nabi Dengan Nuzulul Qur’an?

Agustus 25, 2010

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?

Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. البقرة 185

“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Qs. Al Baqarah: 185)

Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?

Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu tentang apa yang beliau lakukan.

كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري

“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)

Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. …. Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?

Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?

Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.

Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.

Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.

Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.

Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ .  الزمر23

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Qs. Az Zumar: 23)

Dan oleh firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال 2-4

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al Anfaal: 2-4)

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

***

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Artikel http://www.pengusahamuslim.com

From → Belajar Islam

One Comment
  1. Muhammad Dharmawan permalink

    Kenalilah hakikat dirimu niscaya engkau akan meng ucapkan “ Laa haula wa laa quata illaa billaahil ‘aliyil ‘azhiim(i ) Tidak ada daya dan upaya (kuasa) kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Tinggi dan Agung, Kenalilah Pencipta dan Pemilikmu pasti engkau akan mengucapkan  Laa ilaaha illallah dgn makna “ Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah.” yang berkuasa mutlak atas seluruh ciptaan-Nya, lalu engkaupun  akan menyerah dan pasrah hanya pada-Nya, mengabdi dan meminta pertolongan kepada-Nya, perlu dipahami apa yang menyebabkan setiap orang mau menyembah, mengagungkan sesuatu ?  karena sesuatu itu dianggap memiliki kuasa atau kemampuan untuk menolong penyembahnya dan sudah pasti tidak ada yang mau menyembah sesuatu jika mereka tau dan sadar bahwa apa yang mereka agungkan dan sembah itu lemah dan tak berdaya. 

       Demikianlah jaman dahulu banyak orang yang menganggap bahwa para raja, penguasa, dewa, patung dan arwah orang mati, benda2 keramat dianggap memiliki kuasa yang dapat menolong dan menyelamatkan orang yang mengabdi dan menyembahnya, demikianlah juga dengan Buddha dan Yesus disembah karena dianggap mampu “kuasa”  memberi pertolongan, menyelamatkan dan melindungi para penyembahnya dan Nabi Muhammad Saw diutus saat itu untuk mendakwahkan kepada seluruh umat manusia  bahwa “ Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah “ Penguasa mutlak  atas seluruh alam semesta dan segala yang telah diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada. Selain dari Allah, maka semua itu adalah lemah dan tidak berdaya bahkan untuk menolong dirinya sendiri, dakwah inilah yang banyak ditentang oleh para penguasa dan  penyembah selain dari Allah pada saat itu, dengan berbagai argumen  yang menunjukkan kesombongan dan ketakutan yang timbul diantara mereka sendiri.

    Ketahuilah bahwa Kita menyembah, mengabdi, berbakti” bertaqwa’ kepada Allah yang “ Pengasih lagi Penyayang” bagaimana mungkin kita memiliki sifat sebaliknya, ” serakah dan pendengki” ?  Sesungguhnya sifat tidak setia dan tidak patuh kepada Allah, serakah dan pendengki pada sesama, itu adalah sifat dasar iblis dan orang2 yang mengikuti jalannya menuju neraka sesuai dengan tingkat2nya.

    Al Qur’an bukanlah hiburan atau syair tetapi pelajaran, peringatan, pembeda antara benar dan salah, baik dan buruk, . Maka bacalah Al Qur’an, pahami & amalkanlah dan dirikan shalat dgn bahasa aslinya itu berguna agar kita bisa mengerti bacaan imam dimana saja kita shalat dimuka bumi ini, sebagai bahasa persatuan dan berusahalah untuk mengerti apa yang kita ucapkan agar khusyuk yaitu penjiwaan dan penyelarasan antara niat, ucapan, katahati dan gerakan yang sungguh2 dan konsentrasi ketika kita berhadapan dengan Allah Swt, ketahuilah itu adalah suatu kewajiban bagi orang yang berakal,

    Bukankah, amalan yang pertama kali dihisab kelak adalah shalat ? Jika baik shalatnya maka akan baiklah perbuatan2nya karena “ Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka tentu akan ringanlahlah hisabnya namun jika shalatnya buruk maka tentu buruk jugalah perbuatan2nya maka shalatnya tidak dapat mencegahnya untuk berbuat keji dan mungkar justru hanya akan menambah celakanya saja ketika dihisab kelak. Salah satu ciri orang2 yang shalat yang mendapat celaka ialah orang yang rajin shalat tetapi hanya untuk pamer namun enggan memberi bantuan atau kikir sedangkan kikir itu salah satu ajaran utama iblis sebagai wujud dari pembangkangan dan ketidak percayaan kepada janji2 Allah Swt, mulai dari kikir ilmu, harta, dll sehingga orang tersebut tidak bermanfaat bagi orang lain sebaliknya hanya memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya, padahal wujud syukur seorang hamba kepada Rabbnya ialah dengan berbagi pada sesama yang membutuhkan.

           Ingat! bukanlah semata-mata ibadah atau amal shaleh kita yang menentukan hak surga atau neraka kita, tetapi keridhaan Allah dan mustahil pula kita dapat meraih keridhaan Allah jika kita sendiri tidak ridha/rela berkorban dijalan-Nya serta mematuhi segala ketetapan,  perintah dan larangan-Nya.

     Pahamilah setiap perintah dan larangan yang datang dari Allah yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw bukanlah suatu hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tetapi semua itu bentuk dari kepatuhan dan kesetiaan yang mengandung suatu ajaran dan pelatihan yang sarat dengan makna guna mendidik seseorang itu agar tercegah dari perbuatan keji dan mungkar serta membentuk karakter manusia yang mulia dan terpuji  ( ikhlas, jujur, adil, tanggungjawab dan kasihsayang)  sehingga  bermanfaat bagi misi agama Islam dan misi kemanusiaan, yaitu karakter manusia calon surgawi sesuai dengan tingkatannya, namun harus kita akui orang2 demikian ini susah ditemukan karena sering terpinggirkan atau terkontaminasi dari orang2 jahil, karena kejujuran orang jujur dan keadilan orang yang adil akan dianggap kekejian bagi orang fasik, dan kebaikan orang2 yang ikhlas adalah batu sandungan bagi orang kikir dan serakah yang berambisi. Sementara orang fasik, kikir dan serakah masih lebih banyak saat ini dan kelebihan mereka hanyalah fitnah dan hasut maka tidak heran kalau Nabi bersabda ” diakhir zaman memegang agama seperti memegang bara api “ Tetapi, beruntunglah orang yang sabar dan pasrah (tawwakal ) kepada Allah Swt karena akhir yang baik adalah hak mereka.

      Mengertilah, agama itu bukanlah bahasa tetapi bahasa itu adalah media untuk menyampaikan agama agar mudah dimengerti dan dipahami sehingga bisa diamalkan, membesar2 kan urusan bahasa tanpa usaha pemahaman dari bahasa itu sendiri adalah suatu kesalahan fatal dalam syiar Islam dan salah satu pembodohan dan pengalihan dari substansi juga tujuan dari pewahyuan kitab suci.

    Perlu disadari bahwa amanah adalah  barometer utama atas ujian keimanan ” kepercayaan”, kepatuhan dan kesetiaan seseorang kepada Allah Swt, karena Allah tidak tampak hadir langsung dialam semesta ini maka Allah mengangkat manusialah yang menjadi perpanjangan tangan dalam pengurusan alam dan urusan sesama manusia itu sendiri sesuai dengan kapasitasnya , untuk inilah setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban atas setiap aktifitasnya, apakah perbuatannya menyebabkan kerusakan dan pertumpahan darah atau membawa kebaikan/perbaikan dan persaudaraan dan untuk masing2 akan mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatannya. jika seseorang itu beriman “percaya ” kepada Allah, bahwa Allah Swt pasti akan membalas setiap kebaikan yang diperintahkan-Nya dengan balasan yang jauh lebih baik, pastilah orang tersebut akan berlomba2 untuk berbuat baik, bahkan mengorbankan harta, ilmu, tenaga, waktu bahkan nyawa sekalipun terutama dalam urusan agama dan hanya berharap balasan dari Allah semata hingga sampai derajat taqwa “tanpa pamrih ( berbakti)” namum orang  yang minus iman pastilah mereka akan mengharap upah dari manusia atau menjadikan agama sebagai proyek untuk mencari nafkah, bukan berkorban demi agama, tapi mengorbankan agama untuk kepentingannya, bagi orang yang beriman “percaya” bahwa Allah akan membalas setiap kejahatan yang diperbuatnya pastilah mereka akan takut, namun bagi mereka yang tidak ada  iman   ” siapa takut  ?”                                                                                                          

               Pikirkanlah ! atas misi pengembanan amanah inilah Allah senantiasa membuka diri bagi setiap hambanya yang memohon pertolongan dari-Nya kapan saja dan dimana saja, karena hanya Dia sajalah yang mampu mendengar katahati, pikiran serta doa  setiap manusia dan kuasa menyelesaikan seluruh permasalahan setiap manusia dan mahkluk yang sekarang ada dimuka bumi ini juga  semua mahkluk-Nya yang telah ditelan oleh kesunyian itu.

              Perlu diwaspadai, bahwa setiap orang atau kelompok memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan keagamaannya dalam bentuk ritual dan amal “perbuatan” maka nilai akhir dari penilaian benar salah atau baik buruknya dapat melalui nash-nash Al Qur’an dan Sunnah atau hasil dari amal itu sendiri jika amal tersebut tidak memberi manfaat apapun kecuali pembodohan,keburukan, kekacauan dan pencemaran maka dapat dipastikan itu adalah amalan yang salah atau keliru, karena sudah jelas tegas visi dan misi diturunkannya agama Islam adalah sebagai agama yang baik juga memperbaiki dan rahmat bagi semua.

               Iblis adalah satu sosok mahkluk yang terkutuk karena kesombongan, keserakahan dan kedengkiannya kepada manusia. misi penyesatan dan penghancuran yang dilakukan iblis ini terhadap manusia sangat sistematis diantaranya: menduakan lalu menghilangkan Nama Pencipta alam semesta ini yaitu  “ Allah “ dari  hati, pikiran dan mulut manusia, mengaburkan bukti2 kekuasaan Allah,  lalu mengagungkan nama2 atau sebutan2 lain dan menjadikan  benda2 atau manusia  sebagai media sembahan yang  diasumsikan sebagai alat konsentrasi, perantara atau anak yang memiliki berbagai kasih dan kuasa yang dapat menolong dan menghubungkan mereka dengan Penciptanya, padahal itu hanya tipu daya untuk menyesatkan manusia sesuai dengan sumpahnya iblis bahwa dia berusaha  agar manusia itu tidak mengenal dan bersyukur langsung kepada Penciptanya yang telah memberikan berbagai  fasilitas selama ini untuk kita.

              Ingatlah ! Pencipta Alam Semesta ini hanya memberikan Nama-Nya saja pada manusia sejak dahulu kala yaitu “ ALLAH ” Itulah jalan /penghubung bagi kita untuk kontak atau kembali kepada-Nya kelak, dan tidak ada yang pernah melihat-Nya juga tidak ada satupun yang mampu menggambarkan-Nya, jadi ingatlah Nama itu, tanamkan didalam hati dan jagalah ! Senantiasalah menyebutnya agar kita tidak lupa dan Sucikanlah,  Besarkan dan Bersyukurlah kepada-Nya sebanyak2nya dan mohon ampunlah atas segala dosa2 .  

              Sesungguhnya syetan itu akan selalu berusaha agar kita jangan menyebut “ Allah “ dimulut / lisan  dan hati kita agar terputus hubungan kita kepada Allah, Yaitu lain dimulut lain dihati atau sebaliknya, seperti gambaran orang munafik dan musyrik  

                     Serulah Allah Swt sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad Saw, yaitu dengan seruan Rabb “ Pemilik/Tuan” dan kita adalah milik-Nya / hamba-Nya, atau Illahi (Penguasa/Yang Kuasa) dan kita serta semua yang ada dialam semesta ini berada dalam Kekuasaan-Nya atau sesuai Asma Ul Husna, karena pengertian sebutan2 itulah kita bisa memahami posisi siapa kita dan siapa Allah, dan bagaimana kita harus bersikap kepada-Nya dan biarkanlah kata Tuhan dan God itu menjadi milik orang2 Kristen, dan merekalah yang akan mempertahankannya !  karena tanpa kedua kata tersebut mereka akan kesulitan mempromosikan Yesus kepada agama-agama lain. Dan tanpa kedua kata tersebut maka otomatis Yesus akan kembali menjadi manusia atau Nabi sesuai dengan jati dirinya

     Keterpurukan yang melanda umat Islam saat ini adalah Sunatullah suatu hal yang sudah menjadi ketetapan yang telah tertulis, bahwa kemuliaan umat Islam adalah Al Qur’an, jika meninggalkannya berarti kehidupan yang sempit, kekacauan dan kehinaanlah yang akan menerpa baik didunia maupun diakhirat. Maka, marilah kita kembali dan awali dengan berusaha untuk memahami Al Qur’an dan menjadikannya sebagai petunjuk untuk perbaikan serta penyempurnaan keimanan dan ibadah menuju perbaikan akhlak,  Jika ini dapat direalisasikan dengan baik maka kita dapat melihat terbitnya matahari falaq yang akan menerangi otak dan hati kita, bukankah keadaan kita masih malam dan gelap sebagaimana yang tersirat dilambang bulan sabit dan bintang diatas kubah di tempat2 ibadah . kita masih merayap dalam kegelapan dan saling menyerang antar kita secara membabi-buta seakan tidak mengenal bahwa kita seharusnya adalah bersaudara bagai satu tubuh, maka tidak heran jikalau umat Islam kerap saling berbenturan antara mereka sendiri mulai dari pribadi, golongan “mahzab”, negara dan lain-lain. juga kecintaan yang sangat kepada diri, keluarga dan harta membutakan mata kita sehingga kita menghalalkan segala cara untuk memenuhi setiap keinginan kita, bahkan lupa bahwa semua yang bersifat materi yang kita miliki dan cintai pasti akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita, cepat ataupun lambat.

    Sedangkan ruh  “ segenap perasaan,(termaasuk rasa “ keber-ada-an atau ke-aku– an “  pikiran dan ingatan,  katahati dan keinginan kita“ akan kembali kepada Allah untuk diminta pertanggung jawaban.

    Amanah yang dibebankan Pencipta alam semesta kepada setiap manusia yang diciptakan Nya diantaranya:

    -. Mensucikan, memuliakan dan membesarkan Nama, Sifat-Sifat dan Zat-Nya. Dan jangan sekali-kali  mensekutukan, mem persamakan atau  mensetarakan semua itu dengan satu apapun.

    -, Ingat, berterimakasih ” bersyukur” , Patuh dan Setia kepada Nya meski kita tidak harus melihat-Nya, tetapi ketahuilah kita tidak luput dari penglihatan dan pengawasan Allah Swt.

    -. Memelihara dan merawat apa yang telah diciptakan-Nya dibumi ini  untuk kemaslahatan dan kesinambungan hidup serta berlaku adil dan berbuat baik  pada sesama.

       Tips menjaga Keimanan ” Keyakinan ” yang pasti tidak akan tersesat selamanya diantaranya:

    -. Meyakini bahwa kita dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Swt.

    -. Meyakini tujuan kita diciptakan/dilahirkan ke dunia ini  untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah Swt dalam segala aktivitas kita.

    -. Meyakini bahwa kita pasti akan mati dan kembali kepada Allah Swt untuk mempertanggung jawabkan  perbuatan2  kita dan pasti menerima ganjaran dari-Nya

    -. Meyakini bahwa “Tidak ada Yang Kuasa  kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah)   Khalik (Pencipta), Rabb (Pemilik/Tuan), Malik (Raja),  Ilaahi ( Penguasa )  atas manusia dan seluruh alam semesta serta segala isinya dan selain dari Allah itu, semua adalah mahkluk ciptaan-Nya yang lemah dan tidak punya kepemilikan atau kekuasaan apapun dimuka bumi ini secara permanen, tetapi semua hanya titipan sementara, dan itupun hanya sebatas omongan belaka karena apa yang dianggap pemilik atau ilah “yang kuasa”  yang selama ini disembah dan diharapkan manusia selain dari Allah Swt, itu  hanyalah benda-benda hasil karya manusia juga, demikian juga sosok-sosok yang zaman dahulu dianggap memiliki, berkuasa dan dapat melindungi juga sudah mati, dan semua yang hidup sekarang ini juga tinggal tunggu mati,  sehingga tidak pantas bagi kita mengandalkan dan menggantungkan harapan selain dari pada Allah Swt yang Dia tidak pernah tidur atau mati dan Takutlah kepada Allah karena Dia tidak hanya kuasa menyiksa orang hidup tetapi juga kuasa menyiksa orang yang sudah mati. ,  serta Meyakini Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah yang menyampaikan kebenaran dari Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnahnya,  sebagai rekam jejak yang diwariskan kepada kita agar kita tidak tersesat dan sengsara.

                  Tips sifat/akhlak yang pasti akan membuat kita bahagia di dunia dan akhirat : -. Ikhlas, -.Jujur, -. Tanggung jawab. -. Kasihsayang pada sesama -, Sabar. serta beribadah dan berakhlaklah sesuai tuntunan Nabi Muhammad Saw.

         Orang yang hidup pasti akan mempersiapkan diri utk menghadapi kematiannya, mencari tau bagaimana keadaan disana dan mengantisipasi segala sesuatu yang akan membuatnya menderita dan meraih apa-apa yang akan membuatnya bisa bahagia, tetapi bagaimana dgn orang mati ? Tentu tidak peduli,  karena mereka telah mati dalam kehidupannya.

           Demikianlah setiap orang baru akan benar2 menyadari ketidak kekuasaannya serta tidak ada satu kuasapun yang dapat menolongnya ketika nyawanya akan dicabut “sakaratul maut” syukurlah orang2 yang masih sempat menyadari dan mengaku bahwa Laa ilaaha illallah Muhammadurasullullah (Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

           Renungkanlah “ Jika aku menyembah, memuji, mengabdi, berbakti dan bersyukur kepada Penciptaku yaitu Allah Swt yang telah menciptakanku dan semua yang ada di alam semesta ini yang selama ini menolongku memberi petunjuk-Nya  kepadaku serta mengasih-sayangiku dan memberikan berbagai nikmat yang tidak terhitung kepadaku, dianggap sebagai suatu Kebodohan dan Kesesatan ! Maka apakah orang2 yang menyembah dan memuji serta mengharapkan pertolongan  selain Allah yang jelas2 terbukti tidak pernah memberikan fasilitas apapun untuk mendukung kehidupan mereka selama ini bahkan sebagian mereka justru memberi makan pada apa yang mereka sembah adalah suatu Kebenaran?  

    Kebenaran akan berbicara dengan bahasa logika dan kenyataan sedangkan kebathilah berbicara dengan bahasanya sendiri yaitu : fitnah,  janji2, khayalan dan dusta.

     Akhirnya segala urusan kembali kepada Allah Swt,  Karena hanya Allah Swt yang Paling Benar dan Paling Mengetahui segalanya. 

    QS: “Sesungguhnya Allah  menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

                                                                           Oleh : Muhammad Dharmawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: