Bagaimana Memahami Perbedaan Yang Terjadi Dikalangan Salafus Sholih Dalam Menasihati Penguasa?

Posted on

Disalin dari Blog Al-Ustadz Sufyan Basweidan -hafizhahullah- dengan dengan judul asli “Bagaimana Menasehati Penguasa?”, disalin dengan penyempurnaan kalimat.

Pertanyaan 1 :

assalamu’alaykum..
ustadz, benarkah yang disebutkan dalam link ini http://www.islamedia.web.id/2011/02/bagaimana-hukum-menggulingkan.html bahwa banyak dari ulama salaf yang menyebutkan keburukan penguasa di depan khalayak ramai??
jazakallahukhayran atas jawaban antum^^..

mahdi
6 Februari 2011 at 5:27 pm

Jawaban  Al-Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary

11 Februari 2011 at 7:59 am

Wa’alaikumussalaam…

Apa yang dilakukan oleh sejumlah ulama salaf tersebut adalah salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengingkari kemunkaran yang dilakukan oleh sebagian penguasa, namun tidak merongrong kekuasaan mereka, ini bedanya. Dan mereka melakukannya di depan penguasa, bukan di belakangnya (seperti yang dilakukan oleh harokiyyin dan takfiriyyin), kalau amar ma’ruf tadi disampaikan di depan penguasa dengan tujuan nasehat dan hisbah, maka ini dibolehkan walaupun dilakukan di depan khalayak ramai, kalau memang tidak ada kesempatan lain. Tetapi yang lebih baik ialah menasehatinya empat mata, baik dengan mengunjunginya atau menyuratinya dan sebagainya. Adapun pemberontakan kepada penguasa zhalim atau adil yang dilakukan oleh sebagian salaf, seperti mereka yang turut serta dalam perang Jamal dan Siffin, demikian pula Al Husein bin Ali ra, Abdullah bin Zubeir, Abdurrahman bin Asy’ats, Warga Madinah dalam tragedi Al Harrah, dan semisalnya; adalah madzhab lawas yang dahulu dianut oleh SEBAGIAN salaf, meskipun mayoritas tokoh-tokoh sahabat dan tabi’in lebih memilih untuk tidak terjun dalam fitnah. Itu berangkat dari ijtihad mereka dan mereka semua orang-orang yang shalih. Akan tetapi setelah terbukti bahwa hal tersebut hanya membawa mafsadat yang jauuuh lebih besar dari kemaslahatan yang ditimbulkan, mereka kemudian sepakat untuk tidak memberontak kepada pemimpin yang zhalim selama belum kafir.

Di antara kerusakan yang timbul dalam fitnah-fitnah tersebut ialah: Terbunuhnya kaum muslimin, termasuk di antaranya tokoh-tokoh sahabat, seperti Thalhah, Zubeir, Ibnu Zubeir, Al Husein bin Ali, Ammar bin Yaasir… kemudian pembantaian tentara Syam di bawah komando Muslim bin Uqbah Al Murri terhadap warga madinah yang sangat tragis, hingga disebutkan dalam Al Bidayah wan Nihayah, bahwa jumlah gadis perawan dari Bani Hasyim saja yang terbunuh mencapai seribu… kemudian pemberontakan Abdurrahman Ibnul Asy’ats kepada Hajjaj yang sekaligus hendak melengserkan khalifah saat itu, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang akhirnya berujung kepada kekalahan mereka sehingga terjadi pembunuhan atas pengikutnya Ibnul Asy’ats yang konon jumlahnya mencapai 130 ribu orang, yang paling akhir di antaranya adalah Sa’id bin Jubeir. Kemudian penggulingan Bani Abbas terhadap Bani Umayyah, yang menelan korban jiwa sekitar 600 ribu orang… dan seterusnya. Ini jelas mafsadat besar yang tidak sebanding dengan kemaslahatannya. Walaupun dilakukan oleh para ulama, sebab perbuatan ulama bukanlah hujjah dengan sendirinya, tapi justru ia membutuhkan hujjah yang mendukungnya. kalau Nabi sudah jelas-jelas melarang kita untuk berontak kecuali setelah melihat kekafiran yang nyata –dan para ulama menambahkan syarat lain yaitu: Adanya kemampuan untuk menggulingkan tanpa menimbulkan mafsadat yang lebih besar– maka inilah yang harus kita pegangi, bukan perbuatannya para ulama yang tak lain adalah ijtihad, yang bisa benar dan bisa pula salah.

Al Izz bin Abdussalaam itu bukan ulama yang ma’shum. Beliau bahkan memiliki akidah yang parah karena meyakini bahwa seorang wali dapat mengetahui apa yang ada di lauhul mahfuzh (lihat: Qowa’idul Ahkam 1/118-119, karya beliau), dan pengikut ajaran tasawuf, bahkan suka mendengar lagu-lagu sufi dan mengikuti tarian mereka, hal ini dijelaskan oleh As Subki ketika menulis biografinya dalam kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyah. Demikian pula oleh Adz Dzahabi dalam Al ‘IBar (3/299). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan berbagai kekeliruan akidah yang ada pada Al Izz bin Abdussalaam dalam kitabnya Majmu’ Fatawa (4/144-164). Beliau bahkan menyifatinya dengan istilah Jahmiyyah Kullaabiyah (salah satu firqah sesat dalam akidah asma’ was sifat), selain beliau juga Asy’ari tulen tentunya. Jadi, ulama pun bisa terjerumus dalam bid’ah yang sesat, meskipun mereka belum tentu berdosa karena mungkin berangkat dari ijtihad. Pun demikian, kekeliruan ulama tidak halal untuk diikuti. Yang salah tetap salah.

——————————————————————————————————————————————————

Pertanyaan 2 :

Assalamu’alaikumwarohmatullohiwabarokatuh..

semoga Allah menjaga ustadz.

Mohon penjelasan apakah ada hadits

. سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لَا يَفْعَلُونَ، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَنْ يَرِدَ عَلَيَّ الْحَوْضَ (رواه أحمد

“Akan ada para pemimpin yang memimpin kalian dengan perkara-perkara yang tidak mereka laksanakan. Karena itu, siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kedzaliman mereka maka ia bukan termasuk golongganku, dan aku juga bukan termasuk golongannnya; telaga haud pun sekali-kali tidak akan bermanfaat bagiku (untuk menolongnya). (HR. Ahmad).

dalam praktiknya, dalil ini dijadikan Hizbut Tahrir untuk mengkritik/mengoreksi penguasa…dengan alasan sebagai kontrol sosial atau menasehati penguasa merupakan sunnah rasul dan tabi’at para pemimpin Islam. Rakyat, tanpa memandang status sosialnya merasa berkewajiban dan berani mengkritik atau mengoreksi segala kebijakan atau tindakan yang dilakukan pejabat Negara, pada setiap kesempatan terbuka.

Kemudian menurut HT Sebaliknya, para pejabat Negara tanpa memandang posisi dan jabatannya merasa berkewajiban menerima kritik dan koreksi dari rakyatnya, tanpa ada perasaan tersinggung atau terrendahkan martabatnya, walau kritik dan koreksi dilakukan di depan umum.

selengkapnya di *****

mohon penjelasan hadits di atas ya ustadz..

terimakasih

Rifthian
8 Maret 2011 at 5:44 pm

———————————————————————————————————————————————————-

Jawaban  Al-Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary
9 Maret 2011 at 10:33 am

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Iyadh bin Ghanm (yang kala itu adalah gubernur di suatu wilayah bernama Daria) yang mencambuk salah seorang pemimpin warga tersebut ketika berhasil menundukkan wilayahnya. beliau (yakni Iyadh bin Ghanm) lantas ditegur keras oleh seorang sahabat lainnya, yakni Hisyam bin Hakiem, hingga Si Iyadh murka. Setelah beberapa hari, Hisyam kemudian mendatangi Iyadh dan minta maaf, seraya berkata: Tidakkah engkau pernah mendengar hadits Nabi yang mengatakan: “Orang yang paling keras siksanya, ialah yang paling keras dalam menyiksa manusia ketika di dunia”. Iyadh pun menyanggah, Ya Hisyam, aku telah mendengarnya sebagaimana yang kau dengar, namun tidakkah engkau mendengar hadits Nabi yang mengatakan:

(( من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية، ولكن ليأخذ بيده، فيخلو به، فإن قبل منه فذاك، وإلا كان قد أدي الذي عليه له )) وإنك يا هشام لأنت الجريء إذ تجترئ على سلطان الله فهلا خشيت أن يقتلك السلطان فتكون قتيل سلطان الله – تبارك وتعالي – ))

“siapa yang ingin menasehati seorang penguasa, maka janganlah menampakkan nasehat (teguran) tersebut terang-terangan, namun gandenglah dia dan nasehatilah dia empat mata. Kalau dia menerimanya maka syukurlah, namun kalau tidak berarti dia (si penasehat) telah menunaikan kewajibannya”. Hai Hisyam, kamu sungguh berani karena menantang orang yang dijadikan penguasa oleh Allah. Tidakkah kamu takut jika penguasa tersebut membunuhmu sehingga engkau menjadi korbannya penguasa? (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, dan lain-lain yang dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah).

Hadits ini merupakan kaidah dasar yang dianut Ahlussunnah (tapi HT kelihatannya banyak menyelisihi ahlussunnah) dalam menasehati penguasa, yakni tidak secara terang-terangan, karena akan menimbulkan mafsadat. Jadi, cara menasehati yang syar’i ialah dengan menemui penguasa zhalim tersebut lalu menasehatinya empat mata, sebagaimana yang dilaksanakan oleh Nabiyullah Musa dan Harun yang diperintahkan oleh Allah untuk mendatangi dan mengingatkan Fir’aun secara langsung dan mengatakan perkataan yang lemah lembut. Atau dengn menyurati penguasa tersebut dengan bahasa yang baik, bukan dengan caci-maki. Dia boleh saja menasehati seorang penguasa di depan orang lain, namun ketika penguasa tersebut hadir di tempat, bukan dengan menggunjing penguasa tersebut di mimbar-mimbar sehingga mengompori rakyat untuk berontak kepada pemimpinnya sehingga menimbulkan fitnah besar, seperti yang akhir-akhir ini terjadi di Mesir, Tunisia, Yaman, dan Libya. Wallahu a’lam.

——————————————————————————————————————————————————

Pertanyaan 3 :

Ustadz…saya ingin melanjutkan permasalahan sebelumnya. mohon pembetulannya jika saya salah

1-.Dari pendapat As Sindi, Asy Syaukani dan An-Nawawi yang ustadz nukil, dinyatakan dengan redaksi kalimat yang tidak secara tegas menyatakan bahwa menasehati penguasa seara terang-terangan adalah perkara yang Haram. Hal ini berbeda dengan pendapat Ulama yang sering melabeli khawarij atau manyatakan keharaman terhadap orang yang memberi nasehat secara terang-terangan.

2-.berkaitan dengan sejarah yang ustadz nukilkan, bahwa korban yang tewas di tangan Hajjaj akibat pemberontakan Abdurrahman bin Asy’ats mencapai 130 ribu orang, dan semuanya dieksekusi di depan Hajjaj tanpa bisa melawan”

Dengan banyaknya korban dari kalangan shahabat atau tabi’in yang gugur ditangan hajjaj, bukankah menunjukkan bahwa tidak ada ijma’ dari kalangan shahabat dan tabi’in bahwa menasehati penguasa secara terang-terangan adalah haram?

lalu bagaimana dengan :

1) Mazhab Imam Malik menjadikan pendapat ahlul Madinah sebagai dalil syara’, sedangkan ahlul Medinah telah menentang Yazid. Dan Imam Malik rahimahullah, tidak menyukai pemberontakan terhadap khalifah, tetapi juga menyatakan ketidaksetujuannya secara terang-terangan terhadap kezhaliman penguasa yang meminta bai’at dengan paksa dengan menyatakan hadist:

“Laysa ‘ala mustakrohi yamiin” (tidak sah sumpah dibawah paksaan)
Beliau rahimahullah disiksa oleh penguasa Abu Ja’far Al Mansur.

2) Mahzhab Imam Syafi’i membatasi pengggunaan dalil syara’ adalah dari Al Qur’an dan Hadist shahih, ijma’ shahabat dan Qiyash Syar’i.

Artinya, Imam Syafi’i rahimahullah tidak menjadikan ijma’ ulama sesudah mereka (jika memang mereka telah berijma) sebagai dalil syara’. Telah jelas, terdapat perselisihan dikalangan shahabat dan tabi’in di dalam masalah menasehati penguasa secara terang-terangan ini dikalangan mereka, maka bagaimana mungkin dinyatakan bahwa menasehati penguasa secara siir adalah kaidah Ulama salaf? Sedang, ulama salaf shalih adalah ada dari kalangan shahabat.

Apakah dibenarkan pendapat meyakini, bahwa mereka yang gugur menentang kezaliman penguasa (termasuk Said bin Zubair, Hasan dan Husein), insyaAllah syahid karena usaha mereka menegakkan Agama, sedangkan mereka pembunuhnya akan mendapat kemurkaan yang besar dari Allah subhana wa Ta’ala?

Apakah Jika kita menganggap menasehati penguasa secara terang-terangan adalah haram, maka berarti kita menganggap bahwa mereka yang gugur karena menasehati penguasa dan menentang penguasa secara terang-terangan berarti meninggal di dalam keadaan berdosa?

Rifthian
12 Maret 2011 at 5:23 am

——————————————————————————————————————————————————
Jawaban Abu Hudzaifah Al Atsary

12 Maret 2011 at 11:24 am

Sebelum mengingkari kemunkaran (baik dari penguasa/lainnya), seseorang harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Ia harus tahu benar bahwa yang terjadi adalah kemunkaran menurut syar’i.
  2. Ia harus melihatnya dengan mata kepala, baru wajib mengingkarinya. Adapun yang sekedar diberitahu maka tidak wajib. Karena Nabi mengaitkan pengingkaran dengan ‘melihat’ (man ro’a minkum munkaran…).
  3. Ia harus memperhatikan tahapan-tahapan inkarul munkar. Apakah mengingkarinya dengan tangan, dengan lisan, atau cukup dengan hati. Sebab tidak semua orang bisa dan boleh melakukan penginkaran dengan tangan dan lisan. Penginkaran dengan tangan ialah bagi yang berkuasa melakukannya. sedangkan dengan lisan bagi yang berilmu. Namun semuanya harus dan bisa mengingkari dengan hati.
  4. Ia harus memperhitungkan bahwa pengingkarannya tidak akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dari yang ingin dia ingkari. Kalau ia yakin, atau menduga kuat tidak akan menimbulkan kemungkaran lebih besar; maka dianjurkan baginya untuk inkarul munkar. Tapi kalau tidak yakin (ragu-ragu) maka tidak dianjurkan, karena keraguan tidak boleh menjadi landasan berbuat dalam syari’at.
  5. Ia harus mengingkari dengan cara yang syar’i, bukan dengan semangat doang tanpa ilmu…
  6. Bentuk pengingkaran tidaklah sama, tergantung siapa yang mengingkari, siapa yang diingkari, dan apa kemungkaran yang dilakukan.

setelah memperhatikan poin-poin di atas, cobalah kita tanyakan diri kita sendiri:

Apa yang kita inginkan dengan mengingkari penguasa?

Kita ingin menasehati dia atau sekedar ingin membeberkan aib-aibnya karena tidak senang dengan kekuasaan yang Allah berikan kepadanya? kalaulah seseorang benar-benar tulus dalam menasehati –dan nasehat itu artinya: iradatul khair lil mansuuh, yakni menginginkan kebaikan bagi yang dinasehati–, maka hendaknya ia menggunakan cara-cara yang menjadikan si penguasa/yang dinasehati mau mendengarkan nasehatnya. Bukankah begitu?

Nah, cara ini tidak sama. Lain orang lain caranya.

Ketika yang mengingkari seorang yang berwibawa di mata penguasa, akan berbeda hasil dan akibatnya dengan ketika yang mengingkari adalah orang yang tidak disukai oleh si penguasa atau tidak memiliki kedudukan apa-apa di matanya. Karenanya, ketika Anas bin Malik dicaci maki oleh Hajjaj bin Yusuf dan diancam hendak dihabisi, Anas tidak membalas cacian dan ancaman tersebut. Beliau mengatakan: Demi Allah, kalaulah tidak teringat akan anak-anakku yang masih kecil, niscaya takkan kupedulikan bagaimana aku akan dibunuhnya (yakni beliau akan melawan ucapan tersebut dan tidak peduli bila akhirnya dibunuh). Beliau lantas menyurati Abdul Malik bin Marwan yang menjadi khalifah saat itu, dan merupakan boss-nya Hajjaj.

Anas mengatakan bahwa kalaulah kaum yahudi melihat sahabat2nya Musa, pastilah mereka menghormati dan menghargainya. Demikian pula kalau Nashara melihat sahabat2nya Isa, mereka pasti menghormati dan menghargainya. Dan aku adalah sahabat Rasulullah dan pembantunya selama 10 tahun, namun Hajjaj telah mengatakan perkataan yang munkar dan kurang ajar kepadaku, padahal ia tidak berhak mengatakannya. Maka tahanlah dia. Wassalaam…

Setelah membaca surat tersebut, maka Abdul Malik langsung naik pitam dan menulis surat dengan bahasa yang sangat kasar kepada Hajjaj, dan menyuruhnya agar begitu membacanya hajjaj hendaknya bersikap lebih rendah kepada Anas daripada sandal Anas sendiri. sehingga begitu membacanya, Hajjaj langsung gemetar dan minta maaf kepada Anas. (lihat: Al Bidayah wan Nihayah 9/153).

Nah, ini salah satu contoh bagaimana Anas mengingkari kemungkaran Hajjaj dengan cara yang lebih tepat, dibandingkan cara yang dilakukan oleh mereka yang memberontak bersama Ibnul Asy’ats.

Lagi pula, siapa sih orang yang senang dibeberkan kesalahannya? Bukankah kebanyakan orang yang keliru justru semakin keras kepala ketika kesalahannya dibeberkan di muka orang? Nah, kalau sudah begitu, maka tidak ada baiknya melakukan hal tersebut… kecuali bila dengan kata-kata yang sopan dan tidak menyakitkan atau tidak menyebut-nyebut namanya, namun sekedar menyebut kesalahannya.

Adapun pengingkaran yang dilakukan oleh para ulama seperti Imam Malik, dan lain-lain terhadap penguasa; maka semuanya dengan cara yang sesuai dengan poin keenam. yang mengingkari adalah ulama besar yang memiliki wibawa, dan fatwanya diikuti oleh kaum muslimin. Jadi, kalau dia tidak mengingkari maka akan banyak yang tersesat. Karenanya, beliau mengingkari demi menyelamatkan umat walaupun beliau sendiri yang harus menanggung akibatnya. Bandingkan ini dengan pengingkaran secara massa yang dilakukan oleh Harokiyyin hari ini… ga’ nyambung sama sekali. Lagi pula, yang diingkari adalah orang yang berilmu (meskipun zhalim), sehingga bisa memahami duduk permasalahannya. tentunya kalau yang diingkari adalah orang jahil plus zhalim, caranya beda lagi.

Kemudian, Imam Malik sama sekali tidak menyinggung-nyinggung kedudukan Abu Ja’far Al Manshur sebagai Khalifah, artinya beliau mengingkari kebijakannya tanpa mengingkari keabsahan dirinya sebagai khalifah. Yakni tidak ada unsur merongrong kekuasaan sama sekali, namun sekedar menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Abu Ja’far itu keliru, tanpa memaki-maki, dan tanpa menghasung massa untuk memberontak kepadanya.

Adapun pendapat imam syafi’i yang hanya membatasi dalil syar’i pada Al Qur’an, hadits, ijma’ para sahabat, dan qiyas yang shahih; maka ini tidak menjadi ilzam bagi orang lain yang menganggap adanya ijma’ setelah sahabat, dan inilah yang rajih. Lagi pula, sikap yang benar dalam menghadapi perbedaan ijtihad di kalangan sahabat ialah tarjih berdasarkan dalil-dalil yang ada. Bukan pokoknya saya pilih pendapat si fulan. Apalagi dengan adanya ijma’ setelah itu, dan boleh jadi ijma’ ini baru terjadi setelah wafatnya imam syafi’i (th 204) shg beliau tidak mengetahuinya. Nah, apakah pendapat beliau hendak kita menangkan diatas berbagai dalil yang ana sebutkan dalam jawaban ana yang lalu, lalu dimenangkan pula atas ijma’ yang dinukil oleh sejumlah ulama, di antaranya Ibnu Hajar, dan dimenangkan pula atas qiyas yang shahih?? Apakah ini sikap yang ilmiyah??

Adapun tentang Al Husein bin Ali, Sa’id bin Jubeir dan lain-lain yang berijtihad lalu terbunuh, maka khusus Al Husein, kita katakan sebagai syahid karena sabda Nabi. Adapun Sa’id bin Jubeir memang dibunuh secara zhalim dan diharapkan (tanpa memastikan) sebagai syahid pula. Adapun Hasan bin Ali tidak gugur karena menentang kezhaliman, beliau mati dengan cara biasa, setelah menyerahkan kekuasaannya kepada Mu’awiyah. Itu yang ana tahu. Dan jelaslah bahwa yang membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar terancam dengan siksa pedih, apalagi kalau yang dibunuh adalah ulama, bahkan sahabat Nabi.

Bagi mereka yang terbunuh sebelum terjadinya ijma’ yang mengharamkan pemberontakan bersenjata terhadap penguasa muslim, maka mereka tidak berdosa karena mereka dianggap mujtahid. Namun bagi yang terbunuh setelah itu, maka wallahu a’lam… bisa jadi mereka berdosa. Apalagi kalau caranya dengan berdemonstrasi, maka jelas ia telah melakukan sesuatu yang haram, atau bahkan bid’ah. Nanti akan ada artikel khusus yang panjang lebar ttg hukum demonstrasi.

Demikian. wallaahu ta’aala a’lam

——————————————————————————————————————————————————–

Pertanyaan 4 :

maaf ada yang terlewat ustadz.mohon dikoreksi jika salah

HT mengganti penguasa yang ada saat ini dengan sistem khilafah tanpa jalan kekerasan. Tentu saja, tidak dapat disamakan dengan memerangi penguasa yang dimaksud di dalam hadist:

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah menyeru kepada kami, kemudian kami membai’at beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam untuk selalu mendengar dan mentaati, baik dalam kondisi yang kami senangi, kami benci, maupun dalam kondisi susah maupun lapang, dan AGAR KAMU TIDAK MEMERANGI PENGUASA kecuali nampak kekufuran yang nyata”[Bukhari]

Perkara penguasa melakukan tindakan kekerasan kepada syabab HT meskipun HT tidak melakukan kekerasan, itu bukanlah kesalahan HT, tetapi kesalahan penguasa itu sendiri yang menyiksa orang-orang mukmin. Apalagi, menasehati penguasa secara terang-terangan itu sendiri, bukanlah perkara haram:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.[QS:85.10]

Rifthian
12 Maret 2011 at 5:37 am

——————————————————————————————————————————————————

Jawaban Al-Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary

12 Maret 2011 at 10:39 am

Pertanyaan saya: Mengapa penguasa melakukan tindak kekerasan kepada HT? Apakah mungkin pemerintah kita bersikap demikian jika HT melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang diajarkan Nabi, seperti dengan mengutus tokoh-tokoh yang terpandang di mata pemerintah, lalu menghadap presiden (misalnya) secara empat mata dan menjelaskan baik-baik maksudnya dan menasehatinya… atau dengan menyurati beliau? Saya rasa (bahkan yakin), kalau caranya baik dan benar, kita tidak akan diperlakukan seperti itu. SBY itu jauh lebih ‘ramah’ dan ‘berperasaan’ daripada Hajjaj bin Yusuf.

Antum jangan punya anggapan bahwa ana membela penguasa yang zhalim, ana hanya ingin menjelaskan bagaimana menghadapi penguasa yang zhalim sesuai dengan yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Memang, menyiksa orang-orang beriman adalah kesalahan besar… tapi memberontak kepada penguasa yang jauh lebih kuat, dan belum jelas-jelas kafir, adalah dosa besar pula, yang mengakibatkan fitnah besar.

Karenanya, Imam Ahmad walaupun telah disiksa demikian berat oleh Al Ma’mun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq; ketika dimintai pendapatnya bolehkah mengangkat senjata (memberontak) kepada mereka oleh tokoh-tokoh masyarakat dan sebagian ulamanya; beliau dengan tegas melarangnya. Simaklah nas riwayatnya berikut:

يقول حنبل – رحمه الله تعالي -:
((أجتمع فقهاء بغداد في ولاية الواثق إلي أبي عبد الله – يعني الإمام أحمد بن حنبل – رحمه الله تعالي – وقالوا له: أن الأمر قد تفاقم وفشا – يعنون: إظهار القول بخلق القرآن، وغير ذلك ولا نرضي بإمارته ولا سلطانه !
فناظرهم في ذلك، وقال: عليكم بالإنكار في قلوبكم ولا تخلعوا يداً من طاعة، ولا تشقوا عصا المسلمين، ولا تسفكوا دمائكم ودماء المسلمين معكم وانظروا في عاقبة أمركم، واصبروا حتى يستريح بر، ويستراح من فاجر
وقال ليس هذا – يعني نزع أيديهم من طاعته – صواباً، هذا خلاف الآثار ))

Hambal -sepupu Imam Ahmad- mengatakan: “Para fuqaha’ Baghdad pernah berkumpul dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) di masa kekuasaan Al Watsiq. Mereka berkata: masalah ini semakin meluas dan parah -maksudnya: menampakkan perkataan bahwa Al Qur’an itu makhluk dan lain-lain- dan kami tidak meridhai kepemimpinan dan kekuasaan dia (yakni Al Watsiq)”. Maka Imam Ahmad mendebat mereka, dan mengatakan: “Hendaknya kalian mengingkarinya dalam hati dan janganlah mencabut bai’at kalian untuk taat kepadanya (dalam selain maksiat tentunya -pent), dan jangan memecah kesatuan kaum muslimin… janganlah menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian… fikirkanlah akibat dari perbuatan yang akan kalian lakukan… dan sabarlah sampai yang orang baik beristirahat, atau orang yang bejat ‘diistirahatkan’. Beliau juga mengatakan: “Ini (maksudnya mencabut bai’at ketaatan) bukanlah sesuatu yang benar… ini bertentangan dengan atsar (hadits Nabi)” (Lihat: Al Aadaabusy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 1/195-196 dan kisah ini diriwayatkan oleh Al KHallal dalam kitab As Sunnah hal 133). Al Khallal sendiri adalah murid Imam Ahmad.

Coba antum perhatikan, bagaimana sikap Imam Ahmad, Imam Ahlussunnah wal jama’ah ketika menghadapi seorang penguasa yang jelas-jelas menyeru kepada kekafiran yang telah disepakati bahwa ia merupakan kekafiran (yakni mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk, bukan kalamullah). Tidak cuma sampai di situ, bahkan si penguasa ini memaksa para ulama untuk mengatakan hal tersebut, bahkan tak sedikit yang telah disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengatakannya. Salah satu yang dibunuh oleh Al Watsiq sendiri adalah Ahmad bin Nashr al Marwazi yang disembelih langsung olehnya !! Pun demikian, Imam Ahmad tetap tidak merestui keinginan mereka karena melihat akibatnya akan lebih buruk.

Adapun apa yang terjadi di zaman Hajjaj, tragedi Al Harrah (di zaman Yazid bin Mu’awiyah), Kudeta Bani Abbas terhadap Bani Umayyah, Perlawanan Ibnuz Zubeir, Husein bin Ali, dan lain-lain terhadap penguasa saat itu dan kejadian-kejadian semisal lainnya; maka itu semua terjadi sebelum zaman imam Ahmad, dan itu memang madzhab klasik yang dianut sebagian salaf. Akan tetapi setelah melihat bagaimana akibatnya yang mengerikan, maka para ulama yang datang kemudian sepakat untuk meninggalkan cara-cara tersebut. Simaklah perkataan Ibnu Katsir berikut setelah menceritakan akibat pemberontakan Ibnul Asy’ats terhadap Hajjaj, yang didukung oleh banyak ulama:

والعجب كل العجب من هؤلاء الذين بايعوه بالامارة وليس من قريش، وإنما هو كندي من اليمن، وقد اجتمع الصحابة يوم السقيفة على أن الامارة لا تكون إلا في قريش، واحتج عليهم الصديق بالحديث في ذلك، حتى إن الانصار سألوا أن يكون منهم أمير مع أمير المهاجرين فأبى الصديق عليهم ذلك، ثم مع هذا كله ضرب سعد بن عبادة الذي دعا إلى ذلك أولا ثم رجع عنه، كما قررنا ذلك فيما تقدم.
فكيف يعمدون إلى خليفة قد بويع له بالامارة على المسلمين من سنين فيعزلونه وهو من صلبية قريش ويبايعون لرجل كندي بيعة لم يتفق عليها أهل الحل والعقد ؟ ولهذا لما كانت هذه زلة وفلتة نشأ بسببها شر كبير هلك فيه خلق كثير فإنا لله وإنا إليه راجعون.

Yang sungguh aneh bin ajaib adalah perbuatan mereka (maksudnya para fuqaha’) yang membai’at Ibnul Asy’ats sebagai Amirul Mukminin, padahal dia bukan berasal dari Quraisy. Dia hanyalah orang Arab dari suku Kindah asal Yaman. Padahal para sahabat telah ijma’ pada hari Saqifah, bahwa kepemimpinan haruslah dipegang oleh orang yang berasal dari suku Quraisy. Abu Bakar As Shiddiq bahkan berdalil dengan sebuah hadits ttg hal ini ketika mendebat keinginan mereka (orang-orang Anshar). Bahkan ketika kaum Anshar mengusulkan agar mereka juga memiliki Amir bersama Amir dari kalangan Muhajirin, Abu Bakar tetap menolaknya. Bahkan Abu Bakar lantas memukul Sa’ad bin Ubadah (tokoh Anshar) karena semula mengajak kaum Anshar untuk mengangkat pemimpin dari mereka, meskipun akhirnya ia rujuk. Sebagaimana yang telah kami jelaskan sblmnya.

Lantas, bagaimana kok mereka justru mencopot seorang khalifah (maksudnya Abdul Malik bin Marwan) yang telah dibai’at oleh kaum muslimin seluruhnya selama bertahun-tahun, dan melengserkannya, padahal dia adalah seorang Quraisy asli?? Kemudian mereka membai’at seseorang dari suku Kindah yang belum disepakati oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi (semacam wakil-wakil rakyat yang berhak mengangkat/mencopot pemimpin). Nah, karena kesalahan dan ketergelinciran para fuqaha’ tadilah, akhirnya timbul bencana dan kerusakan yang sangat besar, yang menewaskan banyak orang. Fa inna lillaahi wa inna ilaihi Raaji’uun (Al Bidayah wan Nihayah 9/66).

Simak pula perkataan Ibnu Hajar di akhir biografi Al Hasan bin Shalih bin Hayy, yang digolongkan sebagai Khawarij Qa’adiyyah, maksudnya khawarij yang tidak ikut memberontak secara langsung, namun memprovokasi orang lain untuk memberontak lewan perkataan dan sikapnya terhadap penguasa. Antum bisa baca biografinya dan bagaimana para tokoh Ahlussunnah yang sezaman dengannya menyikapinya. Contohnya Imam Sufyan Ats Tsauri yang demikian pedas dan keras dalam mengingkari sikap-sikapnya… dan masih banyak ulama lain yang bersikap seperti itu dan mengatakan bahwa si Hasan ini (كان يرى السيف). Maka di akhir biografinya, Ibnu Hajar mengatakan:

تهذيب التهذيب (2/ 250):
وقولهم كان يرى السيف يعني كان يرى الخروج بالسيف على ائمة الجور وهذا مذهب للسلف قديم لكن استقر الامر على ترك ذلك لما رأوه قد افضى إلى أشد منه ففي وقعة الحرة ووقعة ابن الاشعث وغيرهما عظة لمن تدبر .

Mereka yang mengatakan (كان يرى السيف) maksudnya ialah bahwa si Hasan ini termasuk yang mendukung pemberontakan dengan senjata (pedang) terhadap penguasa-penguasa zhalim. Ini memang madzhab yang dahulu dianut oleh para salaf. Akan tetapi kemudian terjadi kesepakatan untuk meninggalkan cara tersebut, setelah mereka menyaksikan akibatnya yang lebih buruk. Apa yang terjadi dalam tragedi Al Harrah, Ibnul Asy’ats dan lain-lain menjadi mau’izhah dan ‘ibrah bagi orang yang ingin mengambil pelajaran.

Nah, dari nukilan-nukilan tadi, jelaslah duduk perkaranya… bahwa pendapat yang membolehkan angkat senjata melawan penguasa zhalim adalah pendapat yang telah ditinggalkan, sehingga kita tidak boleh mengikutinya. Lagi pula, di zaman mereka yang membolehkan hal tersebut, banyak pula ulama yang tidak sependapat dengan mereka. Contohnya Ibnu Umar dan Sa’ad bin Abi Waqqash yang menjauhkan dirinya dari fitnah dan tidak mau membai’at Ibnu Zubeir, tidak ikut memberontak bersama warga Madinah, dan seterusnya… lalu di zaman Tabi’in kita mengenal Muhammad ibnul Hanafiyyah yang juga tidak mau berbai’at kepada Ibnuz Zubeir krn telah memba’iat Yazid, lalu Hasan Al Basri, dan berikutnya Sufyan Ats Tsauri, dan lain-lain… dan disusul oleh Imam Ahmad bin Hambal. Kalaulah ini merupakan masalah khilafiyah di kalangan mereka, maka jelas bahwa mereka yang tidak khuruj (tidak berontak)-lah yang benar, karena akhirnya pendapat mereka-lah yang dipilih dan menjadi ijma’ ulama yang datang kemudian. Faham?

Tidak cukupkah dalil-dalil yang memerintahkan untuk taat kepada penguasa zhalim untuk mengharamkan pemberontakan? Tidak cukupkah akibat buruk yang dicatat oleh sejarah tersebab pemberontakan (yang dilakukan oleh sejumlah ulama) menjadi dalil bahwa cara ini sama sekali tidak membuahkan hasil yang baik? Itupun yang memimpin pemberontakan adalah para ulama yang tidak diragukan keshalihannya… lantas bagaimana kalau yang mimpin saja masih diragukan ‘nawaitu’-nya… tidak dikenal sbg orang baik, dan kalaupun dia orang baik maka kebaikannya jauh tak sebanding dengan para ulama tersebut…??

Bahkan secara logika, kalaupun penguasanya jelas-jelas kafir dan rakyatnya lemah… maka membolehkan pemberontakan terhadap penguasa dalam kondisi ini sama dengan mati konyol.

Sumber :  http://basweidan.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s