Skip to content

Kesamaan Dalih Para Penentang Dakwah Para Rasul

Mei 26, 2011

Allâh Ta’âla mengutus para rasul-Nya dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allâh Ta’âla semata dan menjauhi thâghût.

Allâh Ta’âla berfirman:

(Qs an-Nahl/16:36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allâh (saja), dan jauhilah thâghût”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allâh Ta’âla dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).  (Qs an-Nahl/16:36)

Dakwah para rasul ini merupakan seruan menuju hikmah diciptakannya manusia di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:

(Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Maksudnya, Allâh Ta’âla menciptakan mereka (jin dan manusia) untuk beribadah kepada-Nya semata dan menjauhi peribadahan kepada selain-Nya.

SEMUA UMAT MENENTANG DENGAN ALASAN YANG SAMA

Semua umat menentang dakwah para rasul yang mulia dengan hujjah (argumen) yang sama, yaitu mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Dahulu, orang-orang jahiliyah di Mekah –di zaman Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam– melakukan perbuatan syirik dengan tanpa bukti, tanpa petunjuk, dan tanpa argumen yang nyata, maka Allâh Ta’âla berfirman mengingkari mereka:[1]

(Qs az-Zukhruf/43:21-22)

Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum al-Qur‘ân, lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Qs az-Zukhruf/43:21-22)

Inilah alasan perbuatan syirik mereka, yaitu mengikuti jejak nenek moyang. Oleh karena itu, Allâh Ta’âla menjelaskan bahwa alasan mereka itu juga merupakan alasan semua orang kafir pada zaman dahulu:

(Qs az-Zukhruf/43:23)

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”
(Qs az-Zukhruf/43:23)

ARGUMEN KAUM NUH ‘ALAIHISSALAM

Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul pertama kali yang diutus Allâh Ta’âla di muka bumi. Kaum beliau adalah orang-orang musyrik pertama kali di dunia ini. Beliau menyeru umat beliau untuk mengesakan ibadah hanya bagi Allâh Ta’âla semata, sebagaimana firman-Nya:

(Qs al-Mukminûn/23:23)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Qs al-Mukminûn/23:23)

Namun kaumnya mengingkari kerasulan beliau, dengan alasan bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan Nabi Nûh ‘alaihissalam itu pada masa nenek moyang mereka.

Allâh Ta’âla berfirman memberitakan hal ini:

(Qs al-Mukminûn/23:24)

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allâh menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”. (Qs al-Mukminûn/23:24)

ARGUMEN SUKU ‘AD, KAUM NABI HUD ‘ALAIHISSALAM

Setelah kehancuran kaum Nabi Nûh ‘alaihissalam, manusia menjadi banyak kembali. Muncul kemusyrikan pada suku ‘Ad, maka Allâh Ta’âla mengutus Nabi Hûd ‘alaihissalam:

(Qs al-A’râf/7:65)

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hûd. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Qs al-A’râf/7:65)

Kemudian lihatlah bantahan suku ‘Ad ini kepada Nabinya, mereka berargumen membela perbuatan syirik mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka!

(Qs al-A’râf/7:70)

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allâh saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Qs al-A’râf/7:70)

ARGUMEN SUKU TSAMUD, KAUM NABI SHALIH ‘ALAIHISSALAM

Demikian juga suku Tsamûd, mereka melakukan syirik dengan sebab taqlîd kepada nenek moyang mereka. Dengan hikmah-Nya, Allâh Ta’âla mengutus Nabi Shâlih ‘alaihissalam kepada mereka:

Dan kepada Tsamûd (Kami utus) saudara mereka Shâleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya tuhanku amat dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Qs Hûd/11:61)

Namun bagaimana sikap suku Tsamûd? Mereka tidak berbeda dengan para pendahulu mereka sesama orang-orang kafir. Mereka menentang dakwah Nabi Shâlih ‘alaihissalam dengan alasan mengikuti nenek moyang!

(Qs Hûd/11:62)

Kaum Tsamûd berkata: “Hai Shâlih, sesungguhnya sebelum ini kamu adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”  (Qs Hûd/11:62)

ARGUMEN KAUM IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM

Allâh Ta’âla berfirman mengisahkan dakwah Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam kepada bapaknya dan kaumnya:

(Qs al-Anbiyâ’/21:51-52)

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrâhîm hidayah kebenaran sebelum (Mûsa dan Hârûn) dan Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrâhîm berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (Qs al-Anbiyâ’/21:51-52)

Maka apakah jawaban mereka kepada Nabi Ibrâhîm?

(Qs al-Anbiyâ’/21:53)

Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (Qs al-Anbiyâ’/21:53)

Mendengar jawaban klasik tersebut, dengan tegas Nabi Ibrâhîm memvonis mereka dengan kesesatan yang nyata.

(Qs al-Anbiyâ’/21:54)

Ibrâhîm ‘alaihissalam berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs al-Anbiyâ’/21:54)

ARGUMEN KAUM SYU’AIB ‘ALAIHISSALAM

Kaum yang lain adalah kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam di Madyan, Allâh Ta’âla berfirman:

(Qs Hûd/11:84)

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib ‘alaihissalam . Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh Ta’âla , sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (Qs Hûd/11:84)

Bantahan mereka serupa dengan orang-orang kafir sebelumnya.

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki pada harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Qs Hûd/11:87)

KEADAAN KAUM NABI YUSUF ‘ALAIHISSALAM

Nabi Yûsuf ‘alaihissalam diutus kepada bangsa Mesir. Beliau sudah memulai dakwah ketika berada di dalam penjara. Beliau mengingatkan kawannya di penjara bahwa kemusyrikan yang dilakukan oleh bangsa Mesir waktu itu hanyalah dibuat oleh mereka sendiri dan nenek moyang mereka.

Allâh Ta’âla mengisahkan perkataan beliau ‘alaihissalam :

(Qs Yûsuf/12:39-40)

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allâh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allâh kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allâh tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. (Qs Yûsuf/12:39-40)

ARGUMEN KAUM NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM

Nabi Mûsa ‘alaihissalam dan Nabi Hârûn ‘alaihissalam juga diutus kepada bangsa Mesir selain kepada Bani Israil.

Allâh Ta’âla berfirman tentang keduanya:

(Qs Yûnus/10:75)

Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Mûsa dan Hârûn kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Qs Yûnus/10:75)

Namun ternyata Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya menolak dakwah kedua Rasul mulia itu dengan argumen yang sama seperti orang-orang kafir yang lain.

(Qs Yûnus/10:78)

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?
Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
(Qs Yûnus/10:78)

ARGUMEN KAUM NABI MUHAMMAD SHALLALLÂHU ‘ALAIHI WASALLAM

Rasul terakhir yang Allâh Ta’âla utus di dunia ini mengalami hal yang sama. Kaum Quraisy lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk Allâh Ta’âla .

Allâh Ta’âla berfirman:

(Qs Luqmân/31:21)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allâh.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?  (Qs Luqmân/31:21)

Bahkan tokoh-tokoh Qurasiy berusaha menghalangi keislaman Abu Thâlib, paman Nabi, dengan argumen mengikuti agama orang tuanya. Maka akhirnya, Abu Thâlib lebih memilih kekafiran daripada keimanan. Hal ini dikisahkan di dalam hadits berikut ini:

hadits

Dari Sa’îd bin al-Musayyab, dari bapaknya, dia berkata: “Ketika kematian mendatangi Abu Thâlib, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam menjenguknya. Beliau mendapati Abu Jahal dan `Abdullâh bin Abi Umayyah bin al-Mughîrah di dekat Abu Thâlib. Beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Lâ ilâha illallâh, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allâh Ta’âla !” Abu Jahal dan Abdullâh bin Abi Umayyah mengatakan: “(Wahai Abu Thâlib) apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam terus-menerus menawarkan kalimat itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang dikatakan Abi Thâlib kepada mereka bahwa dia di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Lâ ilâha illallâh.” (HR. Bukhâri no. 4772; Muslim no. 24)

Demikian pula, setelah beliau berhijrah ke Madinah. Orang-orang Yahudi yang termasuk umat dakwah beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam, lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk yang beliau bawa dari Allâh Ta’âla .

(Qs al-Baqarah/2:170)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allâh Ta’âla ,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs al-Baqarah/2:170)

PENUTUP

Setelah kita mengetahui sikap para umat terhadap para rasul mereka, yang menentang al-haq dengan argumen mengikuti nenek moyang, maka tidak heran betapa banyak masyarakat sekarang yang menolak al-haq dengan argumen tradisi orang tua, warisan leluhur, adat kebiasaan suku, atau semacamnya.

Namun yang aneh ada sebagian kaum Muslimin yang mengikuti pola pikir jahiliyah ini dan meninggalkan al-Kitab dan Sunnah, padahal hujjah telah datang kepada mereka. Maka dengan sedikit tulisan ini, semoga menyadarkan kita bahwa nilai kebenaran itu ukurannya adalah wahyu yang dibawa Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan wujud al-Kitab dan Sunnah, dengan pemahaman yang benar dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Dan kita tidak boleh menentangnya dengan ajaran dari guru, tokoh, nenek moyang, atau lainnya. Wallâhul Musta’ân.

RUJUKAN:

  1. Mu’jamul Mufahras li Alfâzhil Qur’ân, Syaikh Muhammad Fuâd Abdul Bâqi
  2. Muqaddimah tahqîq kitab Tath-hîrul I’tiqâd dan Syarhus Shudûr, syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbâd
  3. Tafsir Ibnu Katsîr
  4. Shahih Bukhari
  5. Shahih Muslim
  6. Dan lain-lain

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsîr pada surat az-Zukhruf, ayat 21

(Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII)

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: