Skip to content

Sejarah Dari Tradisi “Bersulang” [Awas! Jangan Suka Ikut-Ikutan]

Mei 30, 2011
toast

Tradisi bersulang awal mulanya dilakukan dengan ritual minum anggur. Tradisi ini kemudian digantikan dengan roti panggang oleh masyarakat Roma. Diharapkan, kesehatan dan kebahagiaan pasangan pengantin dan para tamu yang hadir pada pesta pernikahan terwujud. Apa pun bentuknya, ritual bersulang ini telah menjadi bagian penting dari resepsi pernikahan itu sendiri.

Tradisi bersulang yang dilakukan pada saat pernikahan memiliki sejarah yang panjang. Tradisi itu dimulai pada abad keenam sebelum Masehi di Yunani dengan menuangkan anggur pada kendi. Para tamu pertama kali akan meminumnya sekaligus memastikan tidak ada racun yang dicampur dalam anggur tersebut. Setelah itu, orang-orang Yunani akan meminumnya dan memastikan keheningan dan bahkan digunakan untuk mencegah perceraian.

Tradisi ini sekitar seratus tahun kemudian diikuti bangsa Roma, tetapi dengan alasan yang berbeda. Pada tahun 1800-an tradisi bersulang di Roma digantikan dengan roti panggang. Dengan bersulang roti panggang diharapkan kesehatan dan kebahagian bagi pasangan pengantin dan para tamu yang menghadiri pesta pernikahan terwujud.

Bersulang, menurut American Heritage Dictionary versi Inggris merupakan sebuah tindakan dengan mengangkat gelas dan minum sebagai bentuk penghormatan atau diharapkan kesehatan bagi seseorang. Asal-usul kata ini diawali tahun 1600-an ketika banyak orang melemparkan sepotong roti dan crouton ke dalam minuman seseorang sebagai pembumbu untuk dibumbui dalam bersulang sehingga ada rasa dalam minuman.

Sementara menurut sejarawan bersulang, Paul Dickson seperti dikutip dari berbagai sumber, tradisi bersulang pertama kali terjadi di Bath, Inggris pada tahun 1709. Bath, kata Paul, mencatat sebuah keindahan sebagai kota adil. Dan itu terlihat pada saat mandi di depan umum, ketika seorang pengagum keindahan wanita mengisi sebuah cangkir dengan air mandi dan meminumnya untuk menghormatinya! Segera setelah itu, pengagum akan mengungkapkan kekagumannya terhadap wanita, namun dia jijik untuk mandi. Sehingga, pengagum itu alih-alih menawarkan untuk makan roti bakar sebagai wujud rasa hormatnya.

Sejarah Toast atau Ganbei (dalam Mandarin) dimulai sejak jaman Yunani Kuno (1100-146 SM). Saat itu karena banyak orang berebut kekuasaan, masalah terbesar adalah meracuni makanan/minuman orang lain.

Untuk membuat nyaman tamu yang datang, tuan rumah biasa menuangi tamunya dan dirinya anggur ke dalam gelas. Kemudian tuan rumah akan meminum dulu untuk membuktikan bahwa minuman itu aman dan tidak beracun. Setelah minum, biasanya tuan rumah akan mengacungkan gelas ke tamu dan mempersilahkan mereka untuk minum juga.

Ada lagi kebiasaan menempelkan gelas 2 orang saat ganbei. Hal ini supaya minuman ada yang bercampur ketika benturan cukup kuat. Saya teringat dengan semua iklan Extra Joss yang kalau bilang “Joss”, pasti ada minumannya yang keluar/tumpah dari gelas. Kalau itu kejadiannya di rumah, pasti ga sampai 5 menit, rumah kita akan dipenuhi semut hehe….

Istilah “toast” sendiri berasal dari nama seorang gadis pada tahun 1709, yang menambah pedas roti bakar pada anggurnya dan kemudian si gadis mabuk. Setelah itu, toast digunakan untuk arti “a call to drink to someone’s health”.

Dalam Mandarin, Ganbei berarti “mengeringkan/ mengosongkan gelas”. Mereka akan menyapa “Ganbei” saat minum alkohol. Sama seperti orang Jepang akan bilang “Kanpai” Amerika bilang “Cheers”, dan orang Jerman bilang “Prost”.

Orang Taiwan terkenal sangat doyan minum akohol. Hampir di semua karaoke/KTV Taiwan, penjualan alkohol sangat bagus. Di Taiwan juga ada klub malam semacam klub gigolo, di mana tamu yang datang adalah wanita yang kesepian. Di sana, para “gigolo” itu melayani tamunya berdansa, bernyanyi, curhat, bercanda, minum sampai mabuk-mabukan. Persis seperti klub malam di Jakarta, tapi yang ini tamunya adalah wanita. Konon, di Jakarta sekarang sudah ada klub malam gigolo di daerah Pasar Baru sana.

Dalam Ganbei, ada 1 lagu dan peribahasa Mandarin yang mengartikan ini. Judulnya “Bei1 di3 bu4 ke3 si4 jin1 yu2″.

bei1 = gelas
di3 = dasar
bu4 ke3 = tidak boleh
si4 = memelihara
jin1 yu2 = ikan mas

Jika dirangkai artinya “Di dasar gelas jangan untuk pelihara ikan mas”. Maksudnya “Minum bir sampai kering/habis, jangan biarkan ada sisa di gelasmu untuk memelihara ikan mas.

Makanya, kenapa kita lihat cara minum alkohol orang China/Taiwan dengan orang Bule itu berbeda. Orang Taiwan sekali minum langsung menghabiskan minuman gelasnya sampai habis. Sementara orang bule suka minum sambil santai pelan-pelan. Di klub malam di Prancis, mereka tidak suka menjual anggur terbaiknya ke rombongan/turis orang Taiwan. Kita tahu, untuk membuat se-drum anggur yang baik, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk memfermentasinya. Makin lama difermentasi, anggur itu makin mahal dan bermutu. Jika orang Taiwan menghabiskannya langsung dalam seteguk, tentu itu bukan cara yang baik untuk menikmati anggur itu.

Diambil dari milis Everyday Mandarin by Alfonso – Sejarah Toast atau Ganbei (Mandarin)

Sumber : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com

Cara Minum Yang Benar

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: