Skip to content

Peringatan Malam Nishfu Sya’ban

Juli 8, 2011

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah – rahimahullah – bahwasannya ketika ia menafsirkan firman Allah ta’ala :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” [QS. Ad-Dukhaan : 3 – 4] – ia berkata :

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة ، وينسخ الأحياء من الأموات ، ويكتب الحاج فلا يزاد فيهم أحد ، ولا ينقص منهم أحد

”Bahwasannya yang dimaksud malam dalam ayat tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban; dibentangkan padanya perkara sunnah, dihapuskannya kematian dari kehidupan, dan diwajibkannya haji (dari Allah kepada manusia). Maka tidaklah ditambah padanya atau dikurangi darinya seorangpun” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an oleh Al-Qurthubi 16/126].

Adapun Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat yang sama berkata :

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر}، وكان ذلك في شهر رمضان كما قال تبارك وتعالى :{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }.

وقد ذكرنا الأحاديث الواردة في ذلك في سورة البقرة بما أغنى عن إعادته

”Allah ta’ala telah berfirman ketika menjelaskan Al-Qur’an Al-’Adhim bahwasannya Dia menurunkannya di malam yang diberkahi. Malam tersebut adalah Lailatul-Qadar sebagaimana firman Allah ta’ala : ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadr : 1). Malam tersebut berada di bulan Ramadlan sebagaimana firman Allah ta’ala : ”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185). Kami telah menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut dalam (pembahasan) QS. Al-Baqarah sehingga telah mencukupi dan tidak perlu diulangi kembali” [Tafsir Ibni Katsir 1/215,216].

Beliau berkata pula :

ومن قال إنها ليلة النصف من شعبان كما روي عن عكرمة فقد أبعد النجعة ، فإن نص القرآن في رمضان ا.هـ .

”Barangsiapa yang berkata bahwasannya malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban sebagaimana diriwayatkan dari ’Ikrimah, sungguh hal ini sangat jauh (dari pengertian yang benar). Karena Al-Qur’an telah menetapkannya bahwa hal itu terjadi di bulan Ramadlan” [idem, 4/570 – selesai].

Dalam menetapkan makna firman Allah ta’ala : ” pada suatu malam yang diberkahi” , para ulama terbagi menjadi dua pendapat :

  1. Malam dimaksud adalah Lailatul-Qadr – dan ini adalah pendapat jumhur ’ulama’.
  2. Malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban – dan ini adalah pendapat ’Ikrimah.

Yang rajih – wallaahu a’lam – adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud malam yang diberkahi pada ayat tersebut adalah Lailatul-Qadr. Bukan malam Nishfu Sya’ban. Hal tersebut dikarenakan Allah ta’ala telah menyatakannya dalam bentuk global : ”pada suatu malam yang diberkahi” ; dan kemudian menjelaskannya (makna global/umum itu) dalam ayat : ” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an” ; dan juga firman Allah : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan” [lihat Fathul-Qadir 4/137].

Maka dengan ini, anggapan yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban – tidak diragukan lagi – merupakan angapan yang bathil yang menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih (jelas). Dan tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang menyelisihi kebenaran maka hal itu adalah kebathilan. Adapun beberapa hadits yang menjelaskan bahwa malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban, maka hadits tersebut telah menyelisihi kejelasan makna yang ditetapkan Al-Qur’an sehingga tidak berdasar, tidak shahih sanadnya sedikitpun – sebagaimana dijelaskan oleh Al-’Araby dan yang lainnya dari kalangan muhaqqiqiin. Sungguh sangat menakjubkan jika ada seorang yang mengaku muslim menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih tanpa adanya sandaran Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih [lihat Adlwaaul-Bayaan 7/319].

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah (di sela-sela penjelasannya tentang waktu-waktu yang mempunyai keutamaan yang sering dianggap mempunyai keutamaan, padahal tidak benar bahkan terlarang) berkata :

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان فقد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنها ليلة مفضلة ، وأن من السلف من كان يخصها بالصلاة ، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة .

ومن العلماء من السلف من أهل المدينة وغيرهم من الخلف من أنكر فضلها ، وطعن في الأحاديث الواردة فيها كحديث إن الله يغفر لأكثر من عدد غنم كلب ))، وقال لا فرق بينها وبين غيرها .
لكن الذي عليه أكثر أهل العلم ، أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم على تفضيلها ، وعليه يدل نص أحمد، لتعدد الأحاديث الواردة فيها ، وما يصدق ذلك من الآثار السلفية، وقد روي بعض فضائلها في المسانيد والسننوإن كان قد وضع فيها أشياء أخر) ا.هـ

”Dalam bab ini, yaitu tentang malam Nishfu Sya’ban, maka telah diriwayatkan padanya keutamaan yang datang dari hadits-hadits marfu’ dan atsar-atsar yang menunjukkan bahwa malam tersebut adalah malam yang utama/mulia. Beberapa ulama salaf ada yang mengkhususkan padanya shalat dan juga puasa Sya’ban sebagaimana tertera dalam hadits-hadits yang shahih.

Di antara ulama salaf dari kalangan penduduk Madinah dan yang lainnya dari kalangan ulama khalaf mengingkari tentang keutamaannya dan mencela (mendla’ifklan) hadits-hadits yang menjelaskan tentangnya, seperti hadits : ”Sesungguhnya Allah mengampuni dosa lebih banyak dari jumlah domba Bani Kalb”.[1] Tidak ada perbedaan antara malam tersebut dengan malam yang lainnya.

Akan tetapi kebanyakan ulama atau kebanyakan dari shahabat kami dan yang lainnya menganggapnya sebagai malam mulia. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh nash Ahmad karena banyaknya hadits-haidts dan atsar-atsar kaum salaf yang menjelaskan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Telah diriwayatkan sebagaian keutamaan malam Nishfu Sya’ban dalam kitab-kitab musnad, sunan. Jika riwayat-riwayat tersebut adalah lemah/palsu, tentu perkaranya adalah lain” [lihat Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim 3/626-627, Majmu’ Fataawaa 23/123, dan Al-Ikhtiyaaraat Al-Fiqhiyyah hal. 65].

Telah shahih dari hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban sehingga kita tidak perlu berdalam-dalam dalam membahasnya.[2] Akan tetapi, jika keutamaan tersebut dihubungkan dengan amalan-amalan khusus tertentu, maka pendapat ini perlu dikaji lebih lanjut.[3] Menurut para peneliti, hadits-hadits yang menjelaskan amalan-amalan khusus di waktu Nishfu Sya’ban semuanya bukan merupakan hadits yang shahih. Di antara hadits-hadits tersebut adalah :

1. Hadits ’Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ’anhu secara marfu’ :

إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها

”Apabila datang malam Nishfu Sya’ban, maka lakukanlah shalat di waktu malamnya dan puasa di waktu siangnya”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1378, Ibnul-Jauzi dalam Al-’Ilal 2/561 serta Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman 3/378-379 dan Fadlaailul-Auqaat hal. 24. Status hadits ini adalah sangat lemah atau bahkan palsu. Letak kepalsuan hadits ini terletak pada rawi yang bernama Ibnu Abi Sabrah (Abu Bakr bin ’Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabrah). Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata tentangnya : ”Seorang yang memalsukan hadits”. Lihat selengkapnya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah no. 2132.

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu secara marfu’ :

من صلى ليلة النصف من شعبان ثنتى عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة قل هو الله أحد ثلاثين مرة ، لم يخرج حتى يرى مقعده من الجنة ويشفع في عشرة من أهل بيته كلهم وجبت له النار

”Barangsiapa yang melakukan shalat di malam Nishfu Sya’ban sebanyak 12 raka’at, dimana setiap raka’atnya membaca ”Qul Huwallaahu Ahad” sebanyak 30 kali, tidaklah ia keluar hingga ia melihat tempat duduknya di surga dan memberikan syafa’at terhadap 10 orang anggota keluarganya yang telah ditentukan nasibnya di neraka”.

Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzai dalam Al-Maudlu’aat 2/129. Sanadnya gelap yang terdiri dari para perawi yang tidak diketahui identitasnya (majhul). Lihat juga Al-Manaarul-Munif karya Ibnul-Qayyim hadits no. 177.

3. Hadits ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu secara marfu’:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة النصف من شعبان قام فصلى أربع عشرة ركعة ثم جلس بعد الفراغ فقرأ بأم القرآن أربع عشرة مرة وقل هو الله أحد أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب الفلق أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب الناس أربع عشرة مرة وآية الكرسي مرة ولقد جاءكم رسول الآية ، فلما فرغ من صلاته سألت عما رأيت من صنيعه فقال : من صنع مثل الذى رأيت كان له كعشرين حجة مبرورة وكصيام عشرين سنة مقبولة ، فإن أصبح في ذلك اليوم صائما كان كصيام ستين سنة ماضية وسنة مستقبلة

”Aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pada malam Nishfu Sya’ban. Beliau berdiri dan kemudian shalat sebanyak 14 raka’at. Kemudian beliau duduk setelah selesai dan membaca Al-Fatihah sebanyak 14 kali, Qul- Huwallaahu Ahad sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbil-Falaq sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbin-Naas sebanyak 14 kali, dan ayat Kursi sekali; sungguh akan mendatangi kalian utusan dari ayat-ayat tadi. Ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku lihat dari yang beliau lakukan. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Barangsiapa yang mengerjakan seperti yang yang engkau lihat tadi, maka baginya seperti 20 kali haji mabrur, puasa yang diterima selama 20 tahun. Apabila di keesokan harinya dia berpuasa, maka puasanya itu sama dengan puasa 60 tahun lamanya pada masa lampau atau masa yang akan datang”.

Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 2/131.

4. Dan yang lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu.

Oleh karena itu Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz berkata :

وأما ما اختاره الأوزاعي -رحمه الله- من استحباب قيامها للأفراد ، واختيار الحافظ ابن رجب لهذا القول فهو غريب وضعيف،لأن كل شيء لم يثبت بالأدلة الشرعية كونه مشروعاً لم يجز للمسلم أن يحدثه في دين الله، سواء فعله مفرداً أو في جماعة ، وسواء أسره أو أعلنه لعموم قوله صلى الله عليه وسلم:((من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد)) . وغيره من الأدلة الدالة على إنكار البدع والتحذير منها

”Adapun pendapat yang dipilih oleh Al-Auza’i – rahimahullah – bahwa disunnahkannya shalat malam sendirian pada malam Nishfu Sya’ban – dan didukung oleh Al-Hafidh Ibnu Rajab – maka hal itu sangatlah aneh dan lemah, karena segala sesuatu yang tidak ditetapkan oleh dalil syar’i yang disyari’atkan, maka tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk mengatakan sebagai bagian dari agama. Walaupun dikerjakan secara individu atau kelompok, baik dirahasiakan atau diumumkan kepada orang banyak. Hal ini sesuai dengan makna umum dari sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mengerjakan satu amalan yang bukan berasal perintah kami, maka ia tertolak”. Dan yang lainnya dari dalil-dalil yang menunjukan pengingkaran bid’ah dan menyuruhnya agar berhati-hati darinya” [At-Tahdzir minal-Bida’ hal 13].

Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’].

[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 739 dengan lafadh :

إن الله عز وجل ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

”Sesungguhnya Allah ’azza wa jalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban, dimana pada malam itu Allah mengampuni (dosa) yang jumlahnya lebih banyak dari bulu domba milik Bani Kalb” .

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad (6/238 no. 26060), ’Abdun bin Humaid (no. 1509), Ibnu Majah (no. 1389), dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (no. 199). Sanad hadits ini adalah dla’if sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dan Syaikh Al-Albani. Letak kedla’ifannya adalah pada Hajjaaj bin Arthaah. Ia seorang mudallis yang telah meriwayatkan secara ‘an’anah. Akan tetapi, hadits ini adalah shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1144. Beliau menyebutkan sekurangnya ada delapan shahabat yang meriwayatkan hadits tersebut yang masing-masing jalannya saling menguatkan satu sama lain. Wallaahu a’lam. – Abul-Jauzaa’

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa keutamaan yang tertera pada hadits tersebut bukanlah keutamaan yang khusus dimiliki oleh malam Nishfu Sya’ban tanpa dimiliki oleh malam-malam yang lain. Bahkan keutamaan yang dimiliki oleh malam Nishfu Sya’ban telah tercakup pada keumuman hadits :

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له

”Rabb kami tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman : ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya. Dan barangsiapa yang meminta, maka aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan dari-Ku, maka Aku akan mengampuninya” [HR. Al-Bukhari no. 1094 dan Muslim no. 758 dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu].

Dengan kalimat ringkas dapat dikatakan : Keutamaan yang dimiliki malam Nishfu Sya’ban juga dimiliki oleh malam-malam yang lainnya, terutama pada waktu sepertiga malam yang terakhir.

[2] Sebagaimana telah dituliskan penjelasannya pada catatan kaki no. 1.

[3] Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dimakruhkan shalat seseorang di rumahnya atau berjama’ah (di masjid) secara khusus di malam Nishfu Sya’ban sebagaimana pendapat Al-Auza’i, Ibnu Rajab, dan Ibnu Taimiyyah. Kebalikannya, ’Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, Abu Syammah Al-Maqdisi, dan jumhur ulama Malikiyyah mengatakan bid’ahnya amalan tersebut di malam Nishfu Sya’ban [Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 148; Maktabah Ash-Shaid].

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: