Skip to content

Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah? [8]

Juli 13, 2011

SYUBHAT KEENAM:

Perkataan Al ‘Iz-bin Abdus Salam رحمه الله tentang “bid-‘ah,” bahwa:

“Bid’ah itu terbagi kepada bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang sunnah bid’ah yang makruh dan bid’ah yang mubah. Dan cara untuk mengetahui hal tersebut, maka bid’ah tersebut harus dikembalikan kepada kaidah-kaidah syari’at. Maka jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah yang wajib, maka itulah yang dinamakan dengan bid’ah wajibah, apabila ia masuk pada kaidah yang haram, maka itulah bid’ah muharramah. Jika ia masuk dalam kaidah sunnah, maka itulah bid’ah mandubah (sunnah) dan jika ia masuk dalam kaidah mubah, maka itulah bidah yang mubah”. [Qawaa’idul Ahkaam, 2/173]

BANTAHAN:

Pertama: Sesungguhnya kita tidak diperbolehkan untuk memperhadapkan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم dengan perkataan seorangpun dari manusia, siapapun orangnya. Dan hal ini telah saya peringatkan berulang kali sebelumnya.

Kedua:  Berkata Imam Asy-Syathiby رحمه الله : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah pembagian yang di ada-adakan, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, bahkan pembagian itu sendiri saling bertolak belakang, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. Sebab seandainya disana terdapat dalil syar’i tentang wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, niscaya tidak mungkin bid’ah itu ada, dan niscaya amalan tersebut masuk dalam amalan-amalan secara umum yang diperintahkan, atau yang diberikan pilihan. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”.[Al I’tisham, 1/246]

Ketiga: Bahwasanya bid’ah yang dimaksudkan oleh Al-‘lzz bin Abdus Salam رحمه الله adalah bid’ah menurut pengertian bahasa, bukan menurut pengertian syara’. Dan yang menunjukan hal tersebut (bahwa ia adalah bid’ah menurut bahasa- pent) adalah contoh-contoh yang dipaparkan terhadap pembagian-pembagian tersebut.

  • Maka bid’ah yang wajib beliau contohkan dengan menekuni ilmu nahwu yang dengannya firman Allah dan sabda Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم difahami. Apakah kata menekuni ilmu nahwu itu merupakan bid’ah menurut syari’at? Ataukah ia termasuk kepada kaidah yang mengatakan:

ما لا يتمّ الواجب إلا به فهو واجب

“Sesuatu yang tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu tersebut, maka sesuatu itu hukumnya wajib”

Ketahuilah bahwasanya mungkin dapat kita katakan mengenai ilmu nahwu, bahwa ia merupakan bid’ah menurut tinjauan bahasa, akan tetapi hukum-hukum syar’i itu ditetapkan dengan pengertian-pengertian menurut syari’at, bukan dengan menggunakan pengertian-pengertian menurut bahasa.

  • Sebagai contoh bagi bid’ah yang mandubah (sunnah), beliau mencontohkannya dengan shalat tarawih, pembangunan sekolah-sekolah, dan pembicaraan mengenai tasawwuf yang terpuji. Semua itu bukanlah merupakan bid’ah di dalam agama. Shalat tarawih telah ada contohnya dari perbuatan Nabi صلى الله عليه و سلم, sebagaimana yang telah kita bicarakan dalam pembahasan tentang syubhat ketiga.

Sedangkan pembangunan sekolah-sekolah adalah wasilah (sarana) untuk menuntut ilmu dan keutamaan ilmu serta mengajarkannya tidak dapat kita pungkiri, serta pembicaraan tentang tasawwuf terpuji telah diketahui sebagai bagian dari nasihat.

  • Adapun bagi bid’ah yang mubah (boleh), beliau memberikan contoh yang banyak terhadap kelezatan-kelezatan. Dan hal ini bukanlah merupakan bid’ah menurut agama, bahkan jika ia sampai kepada derajat israf (berlebih-lebihan), maka ia termasuk kepada hal yang diharamkan, yang masuk dalam suatu bentuk kemaksiatan, bukan termasuk bid’ah. Dan ada perbedaan antara kemaksiatan dan bid’ah. Imam Asy-Syathibiy telah membahas contoh-contoh tersebut dalam pembahasan yang panjang. [Al I’tisham, 1/246]

Keempat: Bahwasanya telah ada riwayat mengenai Al-‘Izz bin Salam Rahinahullah bahwa beliau adalah orang yang dikenal sebagai pemberantas bid’ah dan orang yang sangat melarang hal tersebut serta mentahdzir (memperingati) dan bahaya bid’ah. Sungguh beliau pernah melarang beberapa hal yang dinamakan oleh ahli bid’ah dengan bid’ah hasanah. Akan kami kemukakan contoh-contohnya kemudian.

Syihabuddin Abu Syaamah -salah seorang murid dari Al-‘lzz- berkata: “Beliau adalah orang yang paling berhak menjadi khathib dan imam, beliau telah menyingkirkan banyak bid’ah yang pernah dilakukan oleh para khatib dengan pukulan pedang di atas mimbar, dan lain-lain, beliau pernah mengungkapkan kebathilan dua shalat pada pertengahan bulan sya’ban (nishfu sya’ban), dan beliau melarang keduanya”. [Thabaqaat Asy Syafi’iyyah oleh Imam As Subki, 8/210)]

Dibawah ini akan kami kutip perkataan beliau yang menujukkan bahwa beliau adalah orang yang memerangi dan melarang bid’ah, yang di antaranya adalah apa yang dinamakan orang dengan “bid’ah hasanah”, namun demikian Al-‘lzz bin Salam tetap mengingkarinya. Di antaranya adalah:

Bahwasanya beliau pernah ditanya tentang bersalam-salaman setelah selesai shalat shubuh dan ashar, maka beliaupun berkata :

“Bersalam-salamn setelah shalat subuh dan ashar adalah merupakan salah satu dari bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang yang belum sempat bertemu dan berjabatan tangan dengannya sebelum shalat, sebab bersalam-salaman disyari’atkan oleh agama  ketika baru bertemu. Dan adalah Nabi صلى الله عليه و سلم biasanya setelah shalat berdzikir dengan dzikir-dzikir yang syar’i dan beristighfar 3x kemudian bubar dari shalatnya. Dan diriwayatkan bahwa beliau membaca; (yang artinya:) “Wahai Tuhanku jauhkanlah dari adzab-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dan segala kebaikan hanyalah dengan mengikuti Rasulullah صلى الله عليه و سلم. [Fataawaa Al ‘Izz Ibnu Abdissalaam, hal. 46, no. 15, Cet. Daarulbaaz]

Dan beliau juga pernah berkata:

و لا يستحبّ رفع اليدين فى الدعاء إلا فى المواطن الّتى رفع فيها رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يديه و لا يمسح وحهه بيديه عقب الدعاء إلاّ جاهل

“Dan tidaklah disukai (disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, kecuali pada tempat-tempat yang padanya Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengangkat kedua tangannya, dan tidak ada orang yang mengusapkan kedua tangannya kewajahnya setelah berdo’a melainkan orang yang jahil”. [Ibid, hal. 47]

Dan beliau berkata : “Dan tidak disyari’atkan membaca shalawat kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم dalam do’a Qunut, dan shalawat kepada Nabi صلى الله عليه و سلم tidak boleh ditambah atau dikurangi sedikitpun”[1]

Ketika mengornentari perkataan beliau ini, Syaikh Al-Albany berkata: “Di dalam perkatan beliau ini terdapat isyarat bahwasanya kita tidak memperluas istilah bid’ah hasanah, sebagaimana yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang disaat ini.

Saya katakan : “Dari apa yang telah dibahas, maka menjadi jelaslah bahawasanya yang dimaksudkan oleh Ai-‘lzz bin Abdus Salam dalam pembagian beliau terhadap bid’ah adalah bid’ah secara bahasa, bukan merupakan pengertian bid’ah menurut agama.”

Disana masih ada lagi nash yang shahih dari beliau mengenai apa yang beliau maksudkan dengan bid’ah hasanah, dimana beliau berkata ketika membantah Ibnu Shalah mengenai shalat ragha’ib: “Kemudian beliau -ibnu Shalah- mengaku bahwasanya shalat ragha’ib itu merupakan bid’ah yang dibuat-buat, maka kami berhujjah kepada beliau kalau begitu dengan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم,

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

artinya: “Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.

Dan telah dikecualikan dalam hadits tersebut bid’ah hasanah dari bid’ah dhalalah, yakni semua bid’ah yang tidak menyelisihi As-Sunnah, bahkan ia sesuai dengan sunnah maka jenis bid’ah yang lain masuk pada keumuman Sabda beliau صلى الله عليه و سلم:

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

artinya: “Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.

[Musaajalatu “Amaliyyah Bainal Imaamain Al Jaliilain Al ‘Izz bin Abdissalaam dan Ibnu Shalah, hal. 31]

Di sini kami katakan : Perkara yang ada kesesuaian dengan As-Sunnah, apakah boleh kita katakan sebagai bid’ah menurut agama ? Maka perhatikanlah perkataan Al-‘Izz mengenai pengertian bid’ah hasanah, yakni : “Tidak menyelisihi Sunnah, bahkan sejalan dengan As-Sunnah itu sendiri.” !!, maka apa saja yang sesuai dengan As-Sunnah sudah pasti tidak ternasuk dalam kategori bid’ah menurut syari’at, namun terkadang merupakan bid’ah menurut pengertian secara bahasa. Maka sudah sangat jelas apa yang dimaksudkan oleh Al-‘Izz dengan bid’ah hasanah, bid’ah wajibah, bid’ah mustahabbah (sunnah) dan bid’ah mubahah (boleh) adalah bid’ah secara makna bahasa. Adapun secara istilah agama, maka semua bid’ah itu sesat. Dan dari sini jelaslah bahwa perkataan bid’ah hasanah dalam agama merupakan salah satu di antara sebab-sebab utama terjadinya pembauran antara makna secara bahasa dan istilah agama terhadap makna bid’ah yang terdapat di dalam atsar-atsar, serta perkataan sebagian ahli ilmu. Maka barangsiapa yang diberi taufiq untuk dapat membedakan antara ini dan itu, maka syubbhat-syubhat tersebut akan hilang dari dirinya dan menjadi jelaslah baginya permasalahan tersebut.


[1] Mungkin yang beliau maksudkan adalah qunut di shalat subuh, sebab beliau bermadzhab Syafi’i, sedangkan mereka mengatakan bahwa hal tersebut disyari’atkan. Kalau tidak, maka sesungguhnya shalawat dalam do’a qunut pada shalat witir merupakan perbuatan Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه . (Ditakhrij oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya, hal. 1100. Lihat pula Shifat Shalat Nabi صلى الله عليه و سلم oleh Al Albani, hal. 160 pada catatan kaki.

From → Belajar Islam

5 Komentar
  1. faiz permalink

    awwalu bid’atin fil islam asy syiba’… Msih bnyk yg perutnya buncit aja udah ngebahas yg jauh, … Internet juga bid’ah, fb- an jga bid’ah… Truz npa msih nglakuin???

    barakallahu fiikum, hadaniyallahu wa iyyakum..

    • tugas s. permalink

      Maaf, yg bilang internet, fb, teknologi itu bid’ah adalah salah.

      Yg dimaksud bid’ah adalah melakukan/mengadakan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan contoh / ajaran dari Allah dan Nabi Muhammad. misalnya, menurut Allah pelaksanaan kurban itu telah ditentukan waktunya, maka orang yg mencari hari selain ditentukan tsb disebut melakukan bid’ah. misalnya lagi waktu-waktu shalat itu telah ditentukan oleh Allah sedemikian, maka orang yang melakukan shalat dg menyalahi waktu-waktu tersebut, maka disebut melakukan bid’ah. misalnya lagi jika ada orang meninggal, menurut sunnah Nabi Muhammad adalah sedemikian, maka orang yg menyalahi sunnah tsb. disebut melakukan bid’ah.

      Untuk hal-hal yang tidak diajarkan atau diatur oleh Allah dan Nabi-Nya, seperti pemakaian komputer, internet, kendaraan, hp, ipad, pulpen, penggaris, sepatu, jembatan, pabrik, dan teknologi-teknologi lainnya (asal tidak dipakai untuk hal-hal yang dilarang Allah & Nabi-Nya), berarti itu tidak ada masalah atau merupakan kemudahan/keringanan bagi manusia, sebab tidak ada unsur ketidaktaatan/pengkhianatan terhadap aturan/agama-Nya.

      Bid’ah (seperti yang dijelaskan di paragraf 1) adalah dosa besar, sebab merupakan perbuatan yang menunjukkan ketidaktaatan/pengkhianatan manusia terhadap hukum yang telah ditetapkan Allah dan Nabi-Nya. Bahkan pelaku-pelaku bid’ah ini bisa dikatakan menciptakan agama baru, sebab dia melakukan hal-hal yg tidak ada dalam agama Allah dan Nabi-Nya . dan kita bisa baca dengan mudah dlm al Qur’an, bagaimana balasan Allah bagi orang-orang yg tidak taat/berkhianat kepada Allah dan Nabi/Rasul-Nya.

      Banyak orang berdebat panjang tentang bid’ah, padahal ini masalah yg mudah (Kata Nabi: Islam itu mudah). Yang menjadikan masalah ini sulit/berat adalah ilmu keislaman yang kurang atau hati yang keras/kotor. Solusinya adalah tambah/dalami keilmuan Islam (Qur’an & Hadits) dan lunakkan/bersihkan hati dihadapan Allah swt.

    • Atsar permalink

      Bid’ah/Sunnah adalah perkara yg berhubungnan dengan IBADAH, sedangkan internet, FB , Mobil, Peswat Ruang Angkasa, Industri Komputer itu perkara dunia lagi halal selagi di hukumi HALAL atau HARAM

  2. tugas s. permalink

    dlm islam diperintahkan saling menasihati. jika tulisan saya ada yg salah tolong diluruskan. bukannya ditolak atau disembunyikan. jika anda tdk mau saling menasihati, smoga Allah memberi balasan kpd Anda.

    setiap perkara baru yg tidak diatur Allah dan Nabi-Nya, itu bukan bid’ah & tidak berdosa. seperti siasat perang, tdk ada perintah dari Allah/Nabi utk wajib memakai cara/strategi tertentu. trus cara berjalan, berlari, berenang, dsb. tidak diatur oleh Allah/Nabi harus dengan cara/arah tertentu. Nah, apa contoh2 ini kurang jelas?

    Ada hal-hal yang tidak diatur Allah / Nabi, dan itu boleh dibilang baru sebab tidak ada dalam aturan agam Islam. tapi hal-hal baru itu tidak selalu dosa, selama tidak melawan perintah atau melanggar larangan Allah & Nabi-Nya. seharusnya penjelasan dan contoh2 yg saya kemukakan bisa memberi pengertian yg jelas bagi orang2 yg berpikir.

    seharusnya kita bersikap terbuka terhadap kebenaran. bukannya menghindar atau menyembunyikan.

    jika tujuan anda tidak mendakwahkan kebenaran, tapi hanya melontarkan pendapat2 pribadi anda yg belum tentu benar, semoga Allah bertindak kepada orang2 seperti anda. pendapat yg menyulitkan/membingungkan umat, karena dibahas secara rumit (padahal islam itu mudah>hadits sahih imam bukhari:194 H – 256 H) pada akhirnya hanya menambah kesalahpahaman yg dapat menyesatkan.

Trackbacks & Pingbacks

  1. Memahami perkataan Al ‘Iz-bin Abdus Salam رحمه الله yang membagi bid’ah menjadi lima | Matikan Bid'ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: