Skip to content

Sakit, Anugerah yang Dianggap Musibah [Agar Sakit Tidak Terasa Pahit]

Juli 22, 2011

Penulis : Fadlan Fahamsyah, Lc.
Dosen di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

“Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Alloh yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Alloh yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.”

Imam Ibnu Qoyyim rohimahulloh

Dunia adalah negeri ujian, tidak ada seorang manusiapun melainkan akan diuji dengan kesehatan dan kelapangan untuk mengetahui sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah dan kesempitan untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar menghadapi ujian tersebut.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

١٦٨. … وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. al-A’rof: 168)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya , jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim: 2999)

Imam Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata, “Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Alloh yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Alloh yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.” (Syifaa`ul ‘Aliil: 525)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

٢١٦. … وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqoroh: 216)

Maka dari itu, hendaklah seorang hamba yang ditimpa penyakit, tidak merasa cemas, takut, dan selalu dirundung duka, akan tetapi hendaklah ia bersabar dan menjadikan rasa sakitnya sebagai wahana beribadah. Ketahuilah, rasa sakit itu datang sebagai kasih sayang Alloh yang dikirim untuk menghapuskan dosa dan mengangkat derajat seorang hamba.

Dan sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkannya, di antaranya adalah:

1. Menghapuskan dosa dan menyucikan jiwa.

Alloh Ta’ala berfirman:

٣٠. وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu).” (QS. asy-Syuro: 30)

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

Tidaklah keletihan, kepayahan, kesedihan, gundah gulana, dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya, kecuali Alloh akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhori: 5318)

Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkunjung ke rumah Ummu Saib kemudian berkata:

مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ. قَالَتْ: الْحُمَّى لاَ بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّى الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ.

”Ada apa denganmu wahai Ummu Saib kenapa engkau menggigil?” Ia menjawab, “Demam (ya Rosululloh), semoga Alloh tidak memberkahinya,” maka Rosululloh berkata, “Janganlah engkau menghina demam, karena sesungguhnya ia bisa menghapus dosa anak cucu Adam sebagaimana bara api bisa menghilangkan karatan besi.”” (HR. Muslim: 6735)

2. Mendapatkan pahala tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari sakit yang diderita sewaktu di dunia, sebab kepahitan hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” (HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.)

3. Alloh berada di dekat orang sakit.

Dalam hadits qudsi, Alloh berfirman:

قَالَ ابْنُ آدَمَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ.

Wahai manusia, si fulan hambaKu sakit dan engkau tidak membesuknya. Ingatlah seandainya engkau membesuknya niscaya engkau mendapatiKu di sisinya.” (HR. Muslim: 6721)

4. Sebagai ukuran kesabaran seorang hamba

Dunia adalah negeri ujian dan cobaan, Alloh ingin melihat keimanan dan keteguhan hati seorang hamba, maka Alloh kirimkan kepada mereka musibah dan bencana, akankah mereka sabar dan kembali menuju Alloh ataukah justru menjauhkan dirinya dari Alloh.

٢. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Allohlah Dzat yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ اْلبَلاَءِ، وَإنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Alloh mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barangsiapa yang ridho atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhoan Alloh dan barangsiapa yang berkeluh-kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Alloh.” (HR. Tirmidzi dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi: 2396)

5. Dapat menjernihkan tauhid dan menautkan hati kepada Alloh.

Wahab bin Munabbih berkata, “Alloh menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan doa dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushshilat, ayat 51, Alloh berfirman:

٥١. وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاء عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Alloh (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang mana hal itu lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita.

6. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khosyyah (rasa takut) kepada Alloh. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqomah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Alloh, menjauhkan diri dari kesesatan. Amat banyak hamba yang setelah ditimpa sakit, ia mau memulai bertanya persoalan agamanya, mulai mengerjakan sholat, dan berbuat kebaikan, yang kesemua itu tak pernah ia lakukan sebelum menderita sakit. Maka sakit yang dapat memunculkan ketaatan-ketaatan pada hakekatnya merupakan kenikmatan baginya.

Maha Benar Alloh dalam firmannya:

٢١٦. … وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqoroh: 216)


Selengkapnya, poin ke-7 hingga ke-13, bisa disimak di Adz-Dzakhiirah, edisi 70, halaman 30-37

Daftar Isi Edisi 70 | Daftar Agen Majalah Adz-Dzakhiirah

Sumber : http://www.majalahislami.com/2011/07/anugerah-yang-dianggap-musibah/

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: