Skip to content

Barisan Ulama Pembela Sunnah : Siapakah Ulama Dan Orang-Orang Yang Dianggap Ulama ?

September 23, 2011

SIAPAKAH ULAMA ?

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari berkata :

هم عمادُ الناس في الفقه والعلم وأمور الدين والدنيا

“Mereka adalah sandaran-sandaran manusia di dalam fiqih, ilmu, dan perkara-perkara agama dan dunia “ ( Jami’ul Bayan 6/544 ).

Para ulama adalah thoifah manshuroh ( kelompok yang mendapat pertolongan ) yang senantiasa ada di setiap zaman, Rasulullah e bersabda :

لن تزال طائفة من أمتي   منصورين  لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة

Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat “ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 1/6 , hadits ini Muttafaq Alaih dengan lafadz :لا تزال طائفة  من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله   )..

Al-Imam Bukhari berkata : “ Thoifah manshuroh ini adalah para ulama “.

Al-Imam Ahmad berkata : “ Kalau mereka ini bukan Ahlul Hadits maka aku tidak tahu lagi siapa mereka !“.

Al-Qodhy ‘Iyadh berkta – mengomentari perkataan Al-Imam Ahmad ini – : “ Ahmad memaksudkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan orang yang meyakini madzhab Ahlul Hadits “ ( Lihat Syarh Nawawi 13/67, Syaraf Ashabil Hadits hal.26, dan Syarhus Sunnah 1/216 ).

Karena inilah maka ketika Ibnul Mubarak ditanya : Siapakah jamaah yang wajib diikuti ?, dia menjawab : “ Abu Bakar, Umar,…” – dia terus menyebutkan nama-nama sampai berhenti kepada Muhammad bin Tsabit dan Hasan bin Waqid -.

Dikatakan kepadanya : Mereka ini sudah meninggal, maka siapakah dari mereka yang masih hidup ?

Dia menjawab : “ Abu Hamzah As-Sukary “ ( Lihat Jami’ Tirmidzy : 2167, Tarikh Abu Zur’ah Ad-Dimasyqy hal. 208, dan Al-I’tishom 3/302-303 ).

Para ulama adalah Robbaniyyun, yang dikenal dengan ketegaran dan kekokohan langkah mereka di atas gelombang syubhat dan fitnah, yang saat itu melencenglah pemahaman-pemahaman, tidak ada yang selamat kecuali yang dirahmati Allah I .

Ibnul Qoyyim berkata : “ Seorang yang kokoh dalam ilmu adalah jika datang syubhat-syubhat kepadanya yang sebanyak ombak lautan tidak akan menggoyahkan keyakinannya, dan sama sekali tidak menimbulkan keraguan sedikitpun pada hatinya; karena jika seorang telah kokoh dalam ilmu maka tidak akan digoyahkan oleh syubhat, bahkan jika datang syubhat kepadanya maka akan ditolak oleh penjaga ilmu dan pasukannya, sehingga syubhat itu akan kalah dan terbelenggu “ ( Miftah Daris Sa’adah 1/140 ).

Para ulama inilah yang dikenal dengan jihad dan da’wah mereka kepada Allah U , selalu mencurahkan waktu dan kesungguhan di jalan Allah, dikenal dengan ibadah dan rasa takut mereka kepada Allah, maka mereka inilah rujukan umat dan pemuka-pemukanya, dengan berkumpul di sekitar mereka, dan taat kepada mereka – dengan landasan agama dan taqorrub kepada Allah – maka ummat akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Yang harus diperhatikan bahwa para ulama bertingkat-tingkat, jika ilmu datang dari ulama-ulama yang tua maka ummat berada dalam kebaikan, Ibnu Mas’ud t berkata : “ Sesungguhnya kalian selalu dalam kebaikan selama ilmu berada pada orang-orang yang tua dari kalian, jika ilmu berada pada yang muda dari kalian maka yang muda akan membodohkan yang tua “ ( Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd : 815 dan Abdur Rozzaq dalam Mushonnafnya 11/246 dengan sanad yang shohih ).

Bahkan kebaikan dan kerusakan agama tergantung dari hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Umar t bahwasanya dia berkata : “ Kerusakan agama adalah jika ilmu datang dari orang yang muda; karena dia akan ditentang oleh yang tua, dan kebaikan manusia jika ilmu datang dari orang yang tua; karena dia akan diikuti oleh yang muda “ ( Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi : 1055 dan 1056 dengan sanad yang hasan ).

Ibnu Qutaibah berkata : “ Tidak henti-hentinya manusia dalam kebaikan di saat ulama mereka orang-orang tua, dan bukan anak-anak muda, karena orang yang sudah tua sudah hilang darinya darah muda, telah hilang darinya sifat keras, tergesa-gesa, dan kedunguan, dia telah banyak pengetahuan dan pengalaman; sehingga tidak masuk syubhat dalam ilmunya, tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, tidak terpengaruh oleh ketamakan, tidak mudah digelincirkan oleh syaithan sebagaimana anak muda, dengan tambahnya usia maka tumbuhlah keagungan dan kewibawaan, adapun orang-orang yang muda akan lebih mudah terkena hal-hal di atas, kalau hal itu masuk padanya dan dia berfatwa, maka dia akan binasa dan membinasakan “ ( Mukhtashor Nashihat Ahlil Hadits oleh Al-Khothib Al-Baghdady hal. 93 sebagaimana dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah hal. 84 ).

Maka para ulama yang tua wajib dicintai lahir dan batin, dan yang layak dimintai fatwa tentang perkara-perkara insidental dan masalah-masalah yang sifatnya umum, di saat terjadi kegoncangan dan permasalahan wajib mengikuti pendapat mereka dan segera kembali kepada perintah mereka.

Menentukan prioritas permasalahan, menyibukkan diri sesuai dengan keharusan keadaan, menentukan mana yang mashlahat dan mana yang mafsadah dan kadarnya- terutama di zaman fitnah – semuanya itu adalah urusan mereka.

Ketika orang-orang hizbiyyin berusaha menutup kekosongan yang timbul karena lenyapnya para ulama robbaniyyin, maka jatuhlah umat ke dalam kejelekan yang menyebar, dan kerusakan yang berbahaya, karena orang-orang hizbiyyin ini hanya memperhatikan keuntungan pribadi dan hawa nafsu belaka, membela nama-nama dan label-label mereka tanpa memperhatikan perintah-perintah Allah U .

Para manusia secara keseluruhan – para ulama, para penuntut ilmu yang senior, para penuntut ilmu yang pemula dan orang-orang awam – selayaknya terjadi hubungan di antara mereka yang sifatnya saling melengkapi dan bukan malah saling memakan, mereka semua hendaknya menegakkan loyalitas keimanan di antara mereka, dari saling menasehati dalam haq dan kesabaran, saling memerintah kepada yang ma’ruf, saling melarang dari kemungkaran, melandaskan cinta dan benci, wala’ dan bara’ atas agama, bukan atas nama-nama dan label-label.

Kebahagiaan umat dan kembalinya kemuliaan mereka yang hilang tidak akan terealisasi pada akhir ummat ini melainkan dengan apa yang dilakukan pendahulunya, yaitu dengan berkumpul di sekitar ulama, bukan di sekitar orang-orang awam yang tidak jelas, dari pemuka-pemuka kesesatan, yang berbicara tentang agama tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan…

KELOMPOK-KELOMPOK YANG DIANGGAP ULAMA PADAHAL MEREKA BUKANLAH ULAMA 

Yang perlu diperhatikan dan diwaspadai bahwa di sana ada orang-orang yang dianggap ulama padahal mereka tidak termasuk golongan ulama, mereka-mereka ini adalah :

1.   Para khothib dan tukang pidato, tidak selalu orang yang pandai berkhotbah dan ceramah adalah termasuk ulama, walaupun dia selalu dikerumuni oleh ribuan orang-orang awam, yang benar mereka ini hanya sebatas tukang cerita dan tukang omong, mereka ini bisa bermanfaat bagi umat sebatas kadar kebenaran aqidah dan manhaj mereka, kalau tidak benar aqidah dan manhaj mereka maka mereka ini adalah yang disinyalir oleh perkataan Mujahid : “ Para ulama telah pergi, tidak tersisa kecuali orang-orang yang pandai bicara “ ( Dikeluarkan oleh abu Khoitsamah dalam Al-‘Ilm hal. 69 ).

Telah datang dari Ibnu Mas’ud bahwasanya dia berkata : “ Sesungguhnya kalian sekarang ini pada zaman yang masuh banyak ulamanya, sedikit tukang ceramahnya, dan sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu zaman, yang banyak tukang ceramahnya dan sedikit ulamanya “ ( Dikeluarkan oleh Bukhary dalam Adabul Mufrad : 789 dan Abu Khoitsamah dalam Al-Ilm hal. 109 dengan sanad yang shahih ).

2. Para pemikir dan ahli wawasan Islam , mereka ini bukanlah ulama meskipun mereka memiliki telaah dalam masalah-masalah global yang ada hubungannya dengan gambaran umum tentang syari’at, seperti pandangan tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, pengetahuan tentang ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran kontemporer, bersamaan dengan telaah masalah-masalah yang terhitung persimpangan jalan antara Islam dan seluruh ajaran-ajaran buatan manusia yang mereka namakan – pada saat ini – “ Fiqh waqi’ “ ( Pemahaman Realita ) !!, mereka memiliki semangat pembelaan Islam, tetapi tidak layak untuk bicara tentang hukum-hukum syar’i dalam kasus-kasus insidental dan perkara-perkara baru, apakah itu dalam masalah siyasah ( politik ), ekonomi, atau yang lainnya, lebih-lebih jika latar belakang keilmuan mereka adalah ilmu-ilmu praktis atau sosial kemanusiaan, maka jelas persepsi mereka tidak terarah, bercampur dengan kekaburan dan ketimpangan… kecuali yang diberi rahmat oleh Allah dari mereka.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh berkata : ” Banyaknya orang-orang yang menulis tentang Islam secara pemikiran dan tersebar tulisan-tulisan mereka. Maka Engkau lihat di koran-koran banyak tulisan-tulisan dari orang-orang yang disebut sebagai pemikir-pemikir Islami. Dan di sana ada tulisan-tulisan dari orang-orang yang tidak ada di negeri ini seperti Malik bin Nabi, Al-Maududi, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, dll. Mereka memiliki tulisan-tulisan, dan tulisan-tulisan mereka ini disifati sebagai tulisan-tulisan pemikiran … ” ( Al-Fikr wal Ilmu hal. 3-4 ).

3. Orang-orang rasionalis ( pendewa akal ), para reporter media massa, para penyiar, dan pemilik pemikiran-pemikiran bathil, mereka semua ini bukanlah ulama, terutama golongan dari kelompok ini yang banyak bicara ngelantur, dan nampak kejelekan pemikirannya di koran-koran dan majalah-majalah.

Alangkah mulianya Ibnu Rojab yang mengatakan : “ Banyak dari orang-orang belakangan yang terfitnah dengan hal ini, mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicaranya, banyak perdebatannya, dan banyak dialognya dalam masalah agama, maka dia lebih berilmu dibanding orang-orang yang tidak seperti itu, sangkaan seperti ini adalah kejahilan yang nyata !, lihatlah kepada pembesar-pembesar sahabat dan para ulama mereka seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit, bagaimana mereka ?!, perkataan mereka lebih sedikit dibanding perkataan Ibnu Abbas, padahal mereka lebih berilmu dibanding Ibnu Abbas, demikian juga perkataan tabi’in lebih banyak dibanding perkataan sahabat, padahal sahabat lebih berilmu dibanding para tabi’in, demikian juga tabiit tabi’in, perkataan mereka lebih banyak dibanding perkataan tabi’in, padahal para tabi’in lebih berilmu dibanding mereka “.

Dan dia berkata : “ Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, tidak juga dengan banyaknya omongan, tetapi dia adalah cahaya yang terpancar ke dalam hati, yang dengannya seorang hamba bisa memahami al-haqq, dan memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, dan mengungkapkan hal itu dengan ibarat yang singkat tetapi memenuhi apa yang dimaksudkan “ ( Fadlu Ilmi Salaf hal. 57-58 ).

4. Ahlu bid’ah bukanlah ulama 

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : “ Telah sepakat para ahli fiqh dan atsar dari seluruh penjuru negeri bahwasanya ahli kalam, ahli bid’ah dan kesesatan, mereka semua tidak termasuk golongan ulama, karena ulama hanyalah ahli fiqh dan atsar, mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan mereka dalam keahlian, ketelitian, dan pemahaman “ ( Jami’ Bayanil Ilmi 2/96 )

Sumber : Makalah Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah Pada Kajian Umum Ilmiyah Di PP Al-Ukhuwah Sukoharjo

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: