Skip to content

Hadits-hadits Palsu Tentang Keutamaan Menziarahi Kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Oktober 25, 2011
Hadits-hadits Palsu Tentang Keutamaan Menziarahi Kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ustadz Abdullah Taslim. MA

     عن عبد الله بن عمر، عن النبي قال: ((مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي))

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahi kuburanku setelah aku wafat maka dia seperti orang yang mengunjungiku sewaktu aku masih hidup”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam ath-Thabarani[1], Ibnu ‘Adi[2], ad-Daraquthni[3], al-Baihaqi[4] dan al-Fakihani[5] dengan sanad mereka dari Hafsh bin Sulaiman Ibnu Abi Dawud, dari al-Laits bin Abi sulaim, dari Mujahid, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini adalah hadits palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Hafsh bin Sulaiman Ibnu Abi Dawud al-Asadi, imam Ahmad, Abu Hatim, al-Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan riwayat haditsnya (karena sangat lemah)”[6]. Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Dia adalah seorang pendusta”. Bahkan Ibnu Khirasy berkata: “Dia adalah pendusta, ditinggalkan (riwayat haditsnya) dan pemalsu hadits”[7].

Dalam sanadnya juga ada perawi yang bernama al-Laits bin Abi Sulaim, Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentangnya: “Dia adalah orang yang sangat jujur, tetapi hafalannya tercampur dan tidak bisa dibedakan (yang benar dan salah) sehingga (riwayat) haditsnya ditinggalkan”[8].

Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain, akan tetapi dalam sanadnya juga terdapat perawi yang dihukumi sebagai pendusta oleh para ulama ahli hadits[9].

Hadits ini diisyaratkan kelemahannya yang sangat fatal oleh imam Ibnu ‘Adi[10] dan Ibnu ‘Abdil Hadi[11].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hadits ini kedustaannya sangat jelas dan (maknanya) bertentangan dengan (ajaran) agama Islam”[12].

Juga dihukumi sebagai hadits palsu oleh Syaikh al-Albani rahimahullah[13].

Ada hadits lain yang semakna dengan hadits di atas:

     عن ابن عمر قال: قال رسول الله: ((مَنْ حَجَّ الْبَيْتِ فَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي)).

     Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berhaji ke baitullah lalu tidak menziarahi (kuburanku) maka sungguh dia telah bersikap kasar terhadapku”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam Ibnu ‘Adi, Ibnu Hibban dan Ibnul Jauzi dengan sanad mereka dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini juga hadits yang palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama an-Nu’man bin Syibl al-Bahili al-Bashri, imam Musa bin Harun berkata tentangnya: “Dia adalah seorang yang tertuduh (berdusta dalam meriwayatkan hadits)”[14]. Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia meriwayatkan dari perawi-perawi terpercaya malapetaka besar (hadits-hadits dusta dan palsu) dan dari perawi-perawi yang kuat hafalannya hadits-hadits yang terbalik”[15].

Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh imam Ibnu Hibban[16], Ibnul Jauzi[17], adz-Dzahabi[18], asy-Syaukani[19] dan Syaikh al-Albani[20].

Demikian pula hadits-hadits lain tentang keutamaan/anjuran menziarahi kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya adalah hadits yang sangat lemah atau palsu, maka sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi dan landasan dalam beramal[21].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya hadits-hadits (tentang keutamaan) menziarahi kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semuanya (sangat) lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dalam agama Islam, oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak satupun diriwayatkan oleh (para imam) pemilik kitab-kitab (hadits) shahih dan sunan, yang meriwayatkannya adalah (para imam) yang meriwayatkan hadits-hadits yang (sangat) lemah (dalam kitab-kitab mereka), seperti ad-Daraquthni, al-Bazzar dan lain-lain”[22].

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya banyak hadits-hadits lain (selain hadits di atas) tentang (keutamaan/anjuran) menziarahi kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya dibawakan oleh as-Subki dalam kitabnya “asy-Syifaa’”, tapi seluruhnya adalah hadits yang sangat parah kelemahannya, bahkan sebagiannya lebih parah dari yang lainnya…Imam Ibnu ‘Abdil Hadi telah menjelaskan kelemahan semua hadits-hadits tersebut dalam kitab beliau “ash-Shaarimul manki” dengan penjelasan yang detail dan teliti yang tidak terdapat dalam kitab-kitab lain”[23].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Jumadal akhir 1432 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

==================================================                             

[1] Dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 13497) dan “al-Mu’jamul ausath” (no. 3376).

[2] Dalam “al-Kamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (2/382).

[3] Dalam “Sunan ad-Daraquthni” (2/278).

[4] Dalam “As-Sunanul kubra” (no. 10054) dan “Syu’abul iimaan” (no. 4154).

[5] Dalam “Akhbaaru Makkah” (no. 901).

[6] Semuanya dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “Tahdziibut tahdziib” (2/345).

[7] Ibid.

[8] Kitab “Taqriibut tahdziib” (Hal. 464).

[9] Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/121-122).

[10] Dalam “al-Kamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (2/382).

[11] Dalam kitab “ash-Shaarimul manki” (hal. 63).

[12] Kitab “Majmuu’ul fataawa” (1/234).

[13] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/120, no. 47).

[14] Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam “Miizaanul I’tidaal” (4/265).

[15] Kitab “al-Majruuhiin” (3/73).

[16] Dalam kitab “al-Majruuhiin” (3/73).

[17] Dalam kitab “al-Maudhuu’aat” (2/217).

[18] Dalam kitab “Miizaanul I’tidaal” (4/265).

[19] Dalam kitab “al-Fawa-idul majmuu’ah” (hal. 118).

[20] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/119, no. 45).

[21] Lihat kitab “Syifa-ush shuduur” (hal. 168) tulisan Zainuddin Mar’i al-Karmi dan “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/123).

[22] Kitab “Majmuu’ul fataawa” (1/234).

[23] Kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/123).

From → Belajar Islam

2 Komentar
  1. umar permalink

    Kalau antum tidak mau berziarah kemakam nabi ya ndak papa… Tidak usah berdakwah hal-hal ga penting. Masih banyak orang Islam yang melanggar hukum islam yang perlu didakwahi… Jangan khilafiyah ndak penting seperti ini dibahas..

    Afwan akhi, permasalahannya tidak seperti yang antum katakan.

    Sebagian orang terutama jamaah haji menganggap bahwa apabila mereka menunaikan ibadah haji tanpa melakukan ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ibadah haji mereka menjadi kurang sempurna. Padahal seperti yang kita lihat, bahwa hadits yang menjadi dasar keyakinan tersebut adalah hadits yang lemah bahkan palsu sehingga tidak dapat dijadikan hujjah, dan keyakinan tersebut menjadi tidak berdasar.

    Yang disyari’atkan adalah ziarah ke masjid Nabawi, itupun sebatas sunnah saja. Silakan baca selengkapnya di sini

  2. Kenapa yach tidak ada yang kritis dengan masalah korupsi , krisis ahklahk, krisis moral dan masalah pengakuan nabi setelah nabi Muhammad SAW yg ada disekitar kita, kenapa masih meributkan masalah yang sudah ribuan tahun dan mungkin akan sampai kiamat nanti. kenapa tidak berbuat yang bisa kita lakukan saja dan ada disekitar kita ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: