Skip to content

Meluruskan Penakwilan Hadits-Hadits Tentang Khawarij Versi ‘Syaikh’ Idahram (Bagian 1)

Desember 28, 2011

Layaknya ulama besar dalam bidang hadits, saudara Idahram berusaha menakwil hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan hawa nafsunya demi menjatuhkan dakwah kepada tauhid dan sunnah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Dengan seenaknya saudara Idahram memaksakan bahwa celaan yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut tertuju kepada seorang ulama yang mulia dan para pengikutnya yang berusaha mengamalkan tauhid dan sunnah dengan sebenar-benarnya.

TIDAK BERADAB KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Buku Sejarah Berdarah ini pun masih disertai dengan ungkapan tidak sopan dan tidak beradab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan bahwa hadits-hadits tersebut adalah “prediksi”[1] dan “ramalan”[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah kalian menyamakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pengamat sepak bola dan peramal?

Padahal ulama seluruhnya sepakat bahwa apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu Allah Tabaraka wa Ta’ala, bukan hasil prediksi atau ramalan beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ, إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maksud ayat ini adalah, hakikat yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu yang Allah perintahkan kepadanya untuk disampaikan kepada manusia dengan sempurna, tanpa ada tambahan maupun pengurangan.”[3]

Namun yang lebih parah dari itu, tidak beradabnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk penafsiran hadits-hadits beliau tentang Khawarij dengan akal-akalannya, demi mendapatkan pembenaran atas tujuan buruknya, yaitu mencitrakan kejelakan terhadap dakwah tauhid dan sunnah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para pengikutnya.

Maka insya Allah Ta’ala dengan memohon pertolonganNya, kami akan meluruskan penakwilan hadits-hadits yang menyimpang ini dengan penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jana’ah, Ahlul Hadits wal Atsar.

Poin-poin berikut ini sesuai dengan penomoran yang ada dalam buku Sejarah Berdarah di bawah bab “Hadis-hadis Rasulullah Saw. (shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) tentang Salafi Wahabi.” (Sejarah Berdarah…, hal. 139)

1. WAKTU KEMUNCULAN MEREKA ADALAH “DI AKHIR ZAMAN”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِيْ آخِر الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ، فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman anak-anak muda yang bodoh, mereka mengucapkan dari ucapan sebaik-baik manusia, iman mereka tidak melewati kerongkongan mereka, mereka akan keluar dari agama seperti panah yang menembus sasarannya, di mana saja kalian temui maka perangilah mereka, karena sesungguhnya dalam membunuh mereka terdapat pahala pada hari kiamat bagi orang yang melakukannya.” (HR. Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim)[4]

Saudara Idahram membahas hadits ini pada buku Sejarah Berdarah dalam enam halaman (hal. 141-146) tanpa sedikit pun menukil penjelasan ulama ahli hadits. Tampaknya dia mau memutus mata rantai pemahaman dengan ulama terdahulu. Dengan akal-akalannya, dia memaksakan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan pengikutnya atau Salafi.

Pembaca yang budiman, mari kita cermati satu persatu penafsiran menurut akal saudara Idahram dan mari kita perhatikan bedanya menurut penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan ini sekaligus bantahan terhadap tuduhan dustanya kepada Salafi,

“memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama.” (Sejarah Berdarah…, hal. 226)

Juga tuduhan dustanya,

“kaum Salafi Wahabi mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.” (Sejarah Berdarah…, hal. 230)

Ternyata tuduhan dusta ini kembali kepadanya. Dalam menafsirkan hadits-hadits tentang Khawarij dia tidak mau merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari empat mazhab tapi dari akalnya sendiri.

Idahram berkata, “Ini berarti, keberadaan mereka tidak dekat dengan zaman Rasulullah saw. (shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), alias jauh. Lebih jelasnya, kaum/golongan yang dimaksud dalam hadis ini bukan Khawarij…” (Sejarah Berdarah…, hal. 142)

Jawaban:

Pertama: Makna “di akhir zaman” dalam hadits ini tidaklah seperti yang dipahami saudara Idahram, bahwa zaman tersebut jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata jauh itu sendiri tidak berarti akhir.

Apabila kita perhatikan keterangan para ulama, maka makna “akhir zaman” itu bisa memiliki dua makna:

1) keseluruhan zaman setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah akhir zaman, termasuk masa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang menjadi akhir masa Khilafah Nubuwwah. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang kabar-kabar yang benar (yang belum dirubah) dalam kitab Taurat tentang kedatangan Nabi di akhir zaman, “Mereka (orang-orang Yahudi) berkata, sesungguhnya akan diutus Nabi di akhir zaman…”[5]

Beliau juga berkata, “Dua orang ulama dari kalangan Yahudi mengatakan bahwa negeri ini (Madinah) adalah tempat hijrahnya Nabi di akhir zaman, namanya Ahmad.”[6]

2) Zaman munculnya tanda-tanda kiamat

Al-Imam Muslim rahimahullah berkata, “Bab hilangnya Iman di akhir zaman”. Lalu beliau menyebutkan hadits tentang tanda-tanda kiamat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُوْمُ السَّعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِى الأَرْضِ اللهُ اللهُ

“Tidak akan terjadi kiamat, sampai tidak disebut lagi di muka bumi; Allah, Allah.” (HR. Al-Imam Muslim)[7]

Maka jelaslah makna “di akhir zaman” yang pertama adalah Khawarij, sehingga Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Bahwa yang dimaksud akhir zaman dalam hadits ini, yaitu zaman khilafah Nubuwwah (yaitu masa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu).”[8]

Adapun makna yang kedua, maka tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para pengikutnya kecuali dikatakan oleh orang-orang yang tidak suka dengan dakwah tauhid dan sunnah yang beliau serukan. Bahkan kaum Khawarij sendiri tidak khusus di zaman Ali radhiallahu ‘anhu mereka akan terus ada sampai hari ini dan sampai hari kiamat kelak, mereka bergabung bersama Dajjal. Sebagaimana dalam hadits,

ينشأ نشء يقرؤن القرأن لا يجاوز تراقيهم٠ كلما خرج قرن قطع قال ابن عمر سمعت رسول الله يقول كلما خرج قرن قطع أكثر من عشرين مرة حتى يخرج في عراضهم الدجال

“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur’an namun bacaan mereka tidak melewati kerongkonganya. ‘Setiap kali muncul kelompok dari mereka pasti tertumpas.’[9] (Dalam satu riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang lebih dari 20 kali”). Hingga beliau bersabda, “Sampai muncul Dajjal dalam barisan mereka”.” (HR. Al-Imam Ibnu Majah)[10]

Kedua: Ulama-ulama besar ahli hadits juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah Khawarij. Sehingga, Al-Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam bab, “Perang Terhadap Khawarij dan Mulhidin Setelah Ditegakkan Hujjah Atas Mereka.”[11] Al-Imam Muslim rahimahullah juga meletakkan hadits ini dalam bab, “Dorongan untuk Memerangi Khawarij.”[12]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah penegasan wajibnya memerangi Khawarij dan bughot (pengacau), hal ini merupakan kesepakatan (ijma’) seluruh ulama.”[13]

Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dalam penjelasan hadits ini berkata, “Seluruh ulama telah ijma’, bahwa memerangi Khawarij dan ahlul bid’ah serta pengacau semisal dengan mereka, ketika mereka memberontak kepada penguasa, menyelisihi pemerintah dan mengoyak persatuan masyarakat, maka wajib memerangi mereka setelah diberi peringatan dan himbauan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ

“Maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (QS. Al-Hujurat: 9).”[14]

Alhamdulillah, dengan ini terbantahlah syubhat (kerancuan) saudara Idahram yang “mencoba-coba” menafsirkan hadits dengan akal-akalannya yang pendek dan tidak merujuk pada ulama ahli hadits, akibatnya adalah kesalahan fatal. Maka siapakah yang lebih layak menyandang sifat-sifat Khawarij yang seenaknya dituduhkan oleh saudara Idahram; “berumur muda” (pada hal. 143), “orang bodoh” (pada hal. 143), “Berbicara dengan sabda Rasulullah Saw. (shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), namun iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan.” (pada hal. 144)!?

Sesungguhnya tuduhan itu akan kembali kepada penuduhnya, jika saudaranya yang dituduh tidak seperti itu, berdasarkan mafhum hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاٍ بِالْفُسُوقِ، ولا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan kekafiran, kecuali akan kembali kepada penuduhnya apabila orang yang dituduh tidak seperti itu.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari)[15]

Takfir (Pengkafiran) ‘Syaikh’ Idahram Terhadap Kaum Muslimin

Hadits tentang bahaya pengkafiran di atas, benar-benar dilanggar oleh saudara Idahram, dia berkata,

“Mereka dihukumi oleh Nabi Saw. sebagai orang yang telah keluar dari agama Islam (murtad)…” (Sejarah Berdarah…, hal. 144)

Penakwilan hadits-hadits tentang Khawarij secara serampangan ini juga diulang oleh saudara Idahram pada bagian akhir dengan judul Kesamaan Salafi Wahabi dengan Khawarij,” di sini dia kembali mengkafirkan kaum muslimin, dia berkata,

”sebagaimana kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama.” (Sejarah Berdarah…, hal. 253)

Jawaban:

Pertama: Tuduhan melakukan takfir (mengkafirkan) umat Islam kepada Salafi benar-benar kembali kepada penuduhnya. Ternyata dia sendiri yang suka mengkafir-kafirkan, itu pun karena salah paham terhadap makna hadits, lalu dengan seenaknya dia mengarahkan ‘meriam’ takfirnya kepada kelompok yang tidak disenanginya.

Kedua: Makna hadits di atas tidaklah selamanya berarti “murtad” atau “keluar dari Islam”. Al-Imam Al-Khattabi rahimahullah berkata,

“(Keluar dari) agama yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah (keluar dari) ketaatan, yakni (keluar) dari ketaatan kepada pemimpin.”[16]

Bahkan inilah pendapat kebanyakan ulama, bahwa keluar dari agama yang dimaksudkan dalam hadits ini bukan murtad. Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata,

“Jumhur ulama berpendapat bahwa Khawarij, dengan keluarnya mereka (dari ketaatan kepada pemimpin) tidaklah mereka keluar dari golongan mukminin.”[17]

Ketiga: Ternyata takfir yang dilakukan saudara Idahram ini pun berdasarkan kedustaan –sebagaimana biasanya-, dia berkata,

“Hal itu di antaranya karena penyimpangan akidah mereka dalam tajsim (menganggap Allah Swt. (Subhanahu wa Ta’ala, pen) dengan makhluk)”. (Sejarah Berdarah…, hal. 144-145)

Seperti biasa, Idahram tidak bisa mendatangkan bukti ilmiah atas tuduhan ini. Tampaknya, dia memanfaatkan keawaman masyarakat yang tidak mengenal dakwah Salafi dengan baik, khususnya yang tidak mengenal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Padahal beliau telah menjelaskan aqidah beliau dalam banyak kitabnya, di antaranya beliau berkata,

“Aku berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada satupun yang bisa menyerupainya.”[18]

Asy-Syaikh Abdullah bin Ali Al-Qosimi rahimahullah juga membantah tuduhan keji ini, beliau berkata ketika membantah Al-Amili (seorang Syi’ah),

“Adapun tuduhannya bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, murid-muridnya dan Ahlus Sunnah dari penduduk Najd, mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki jism (badan), dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada dalam jihah (arah), dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupai makhluk-Nya, dan orang yang berdusta mendapatkan dosa bersama pengikutnya. Mereka itu adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kedustaan-kedustaan[19] dan menjelek-jelekkan para pendukung sunnah dan hadist dalam rangka menipu umat dan membuat mereka lari dari dakwah ini.”[20]

Maka siapakah yang lebih layak menyandang sifat-sifat Khawarij yang seenaknya dituduhkan oleh saudara Idahram, “berumur muda” (pada hal. 143), “orang bodoh” (pada hal. 143), “Berbicara dengan sabda Rasulullah Saw. (shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), namun iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan.” (pada hal. 144)!?

Dan siapakah yang gerakannya lebih layak diterbitkan larangan oleh pemerintah, apakah yang memperbaiki masyarakat dengan dakwah kepada tauhid dan sunnah ataukah orang-orang yang suka menafsirkan hadits menurut akal-akalannya untuk mengkafirkan kaum muslimin dengan berdasarkan pada tuduhan-tuduhan dusta!?

2. MEREKA MUNCUL DARI NAJD: NEGERI SUMBER FITNAH DAN KEGONCANGAN

Saudara Idahram (pada hal. 146-158) kembali memaksakan bahwa yang dimaksud dalam hadits-hadits tentang fitnah Najd adalah “Salafi Wahabi”. Lagi-lagi saudara Idahram tampil bagaikan ulama besar ahli hadits. Dengan seenaknya dia menafsirkan hadits-hadits untuk kepentingannya menjatuhkan dakwah yang mulia ini. Dalihnya pun sangat sederhana, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berasal dari Najd, arah timurnya Madinah, dan fitnah-fitnah berasal dari Najd.

Jawaban:

Pertama, Ulama berbeda pendapat tentang Najd yang dimaksud. Dan Al-Lajnah Ad-Daimah dengan jujur –sesuai amanah ilmiah- mengakui bahwa zhahir hadits mencakup Najd Saudi dan seluruh kawasan arah timur Madinah,[21] walaupun sebenarnya ada riwayat-riwayat lain yang menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksud adalah Najd Iraq. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah[22] ketika menjelaskan makna hadits, “Beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) menunjuk ke arah timur Madinah”, maka Al-Hafizh menyebutkan hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu bahwa timur yang dimaksudkan adalah Iraq. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Salim bin Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhum, beliau berkata,

يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنِ الصَّغِيْرَةِ وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِى عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِىءُ مِنْ هَا هُنَا. وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ: مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ. وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Wahai penduduk Iraq, betapa kalian sangat berlebihan dengan bertanya tentang dosa kecil, padahal kalian melakukan dosa besar, aku telah mendengar bapakku Abdullah bin Umar berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya fitnah datang dari sana,’ seraya beliau menunjuk dengan tangannya ke arah timur, ‘Dari tempat munculnya dua tanduk setan,’ sedang kalian saling memenggal satu dengan yang lainnya.” (HR. Al-Imam Muslim)[23]

Ad-Dawadi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Najd adalah pinggiran Irak.”[24]

Al-‘Allamah Muhammad Syamsul Haq Al-‘Azhim Abadi rahimahullah (penulis kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud) berkata,

“Najd adalah nama bagi setiap tempat di negeri-negeri Arab yang meninggi, mulai dari Tihamah sampai ke Iraq.”[25]

Bagi yang memperhatikan sejarah, fitnah-fitnah yang muncul di Iraq lebih banyak dibanding di Najd Saudi. Seperti fitnah nabi palsu Al-Mukhtar, pembunuhan Al-Husain radhiallahu ‘anhu; keluarnya Khawarij, pemberontakan Ibnul Asy’ats, pembunuhan yang dilakukan Al-Hajjaj bin Yusuf, munculnya Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan lain-lain.

Kedua, Sebenarnya yang menjadi inti masalah bukan keberadaan Najd di Saudi atau di Iraq. Tetapi yang menjadi masalah adalah fitnah-fitnah, yaitu penyimpangan-penyimpangan yang bertentangan dengan ajaran Islam; kesyirikan dan bid’ah. Andaikan Najd masih dicerca karena adanya Musailamah Al-Kadzdzab walaupun fitnahnya telah berakhir, maka Yaman juga layak dicerca karena adanya Al-Aswad Al-Ansi, yang juga nabi palsu.

Sehingga Madinah tidak pernah dicerca karena adanya orang-orang Yahudi yang dulu tinggal di sana, demikian pula Makkah tidak dicerca dengan adanya orang-orang yang dahulu mendustakan dan memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[26]

Dan tentunya sangat tidak adil –bagi orang yang berakal sehat-, jika Musailamah dan Sajah berasal dari Najd, lalu setiap orang yang berasal dari sana kita tuduh sebagai biang fitnah. Oleh karena itu, ketika orang-orang Al-Azhar Mesir mengatakan, “Musailamah Al-Kadzdzab adalah orang terbaik di Najd kalian.” Maka dijawab oleh Asy-Syaikh Abdul Lathif Aalusy Syaikh rahimahullah, “Dan Fir’aun yang terlaknat adalah pemimpin Mesir kalian”, mereka pun hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab.[27]

Walhamdulillah, para penentang dakwah salafiyah tidak menemukan penyimpangan dalam dakwah yang penuh berkah ini kecuali tuduhan-tuduhan dusta dan kesalahpahaman. Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahullah berkata ketika membantah kedustaan Al-Ghumari,

“Tuduhan mereka hanyalah kedustaan dan dosa yang nyata, karena sifat-sifat jelek yang dituduhkan kepada pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sama sekali tidak terdapat dalam diri mereka, adanya pada selain mereka (yakni Khawarij),

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Para ulama Islam telah bersaksi[28] bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendakwahkan tauhid, memperbaharui kembali dan mengajak kepada Islam. Mereka juga mengakui ilmu, keutamaan dan petunjuknya.”[29]

Ketiga, Sangkaan Idahram (pada hal. 158), bahwa yang dimaksud Najd dalam hadits ini hanya satu daerah yang bernama Najd dalam peta. Ini bukti kebodohan dan kesombongannya yang tidak mau membaca syarah para ulama. Dengan bekal ilmu yang sangat minim dia berani berbicara tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Pembaca yang budiman, perhatikan kembali penjelasan Al-‘Allamah Muhammad Syamsul Haq Al-‘Azhim Abadi rahimahullah dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, beliau berkata, “Najd adalah nama bagi setiap tempat di negeri-negeri Arab yang meninggi, mulai dari Tihamah sampai ke Iraq.”[30]

Asy-Syaikh Hakim Muhammad Asyraf rahimahullah telah menulis risalah khusus yang dicetak oleh Akademi Hadits Pakistan yang beliau beri judul, Akmalul Bayan fi Syarhi Hadits Najd Qarn Asy-Syaithon, yang artinya “Keterangan paling lengkap dalam penjelasan hadits Najd tanduk setan”.

Dalam risalah ini beliau mengumpulkan keterangan-keterangan ulama ahli hadits, ahli bahasa dan geografi. Beliau memberikan kesimpulan atas data-data yang berhasil beliau himpun,

“ULAMA PENSYARAH HADITS, PARA AHLI BAHASA DAN GEOGRAFI ARAB SEMUANYA SEPAKAT, BAHWA NAJD (YANG DIMAKSUD DALAM HADITS) BUKANLAH NAMA KHUSUS BAGI SUATU NEGERI, BUKAN PULA BAGI NEGERI TERTENTU, TETAPI YANG DIMAKSUD ADALAH SETIAP BAGIAN BUMI YANG LEBIH TINGGI DARI DAERAH SEKITARNYA.”[31]

Artikel http://rizkytulus.wordpress.com/

Footnote:

[1] Pada kata pengantar Said Agil Siraj, hal. 12

[2] Pada sampul buku Sejarah Berdarah bagian belakang.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 4/297.

[4] HR. Al-Imam Bukhari no. 6930 dan Al-Imam Muslim no. 2511 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

[5] Tafsir Ibnu Katsir, 1/325.

[6] Ibid, 7/258.

[7] HR. Al-Imam Muslim no. 392 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[8] Fathul Bari, 12/287.

[9] Hadits yang serupa dengan ini juga diarahkan oleh Idahram untuk menjatuhkan dakwah salafi (pada hal. 158-162), namun alhamdulillah, dakwah salafiyah tidak pernah tertumpas, baik setelah kemunculan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah maupun sebelumnya. Bahkan para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berhasil mendirikan Daulah Su’udiyyah yang sudah bertahan lebih dari dua abad.

[10] HR. Al-Imam Ibnu Majah no. 174 dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 8171.

[11] Shahih Al-Bukhari Kitab ke-92 (كتاب استتبة المرتدين والمعاندين وقتالهم) Bab ke-5 (باب قتل الخوارج والملحدين بعد إقامة الحجة عليهم).

[12] Shahih Muslim Kitab ke-13 (الزكاة) Bab ke-49 (باب التَّحْرِيضِ عَلَى قَتْلِ الْخَوَارِجِ).

[13] Syarah Muslim, 7/169-170.

[14] Syarah Muslim, 7/170.

[15] HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5698 dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.

[16] Syarah Muslim, 7/160.

[17] Syarah Bukhari, Ibnu Batthal, 8/585.

[18] Majmu’ah Muallafat Asy-Syaikh, 5/8, sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin, hal. 148.

[19] Inilah ciri utama Syi’ah, agama mereka adalah dusta, tidak jauh beda dengan koleksi kedustaan yang ada dalam buku sejarah berdarah ini, aroma Syi’ahnya sangat kental.

[20] Lihat Ash-Shiro’ bainal Islam wal Watsaniyyah, Asy-Syaikh Abdullah bin Ali Al-Qosimi rahimahullah, 1/510, sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin, hal. 174.

[21] Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menjelaskan dalil, berkata apa adanya sesuai ilmu yang mereka miliki. Namun oleh saudara Idahram, hal itu dijadikan sebagai senjata untuk menghantam Ulama Saudi (pada hal. 151), itu pun disertai dengan kelicikan, yaitu tidak mengutip fatwa secara utuh, sehingga yang diinginkan dari fatwa tersebut tidak tersampaikan.

[22] Lihat Fathul Bari, 13/46.

[23] HR. Al-Imam Muslim no. 7481 dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu.

[24] Fathul Bari, 13/47 dan Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ At-Tirmidzi, 10/314.

[25] Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4/80.

[26] Majmu’atur Rosaail wal Masaail, 4/265 sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin,hal. 238-239.

[27] Mizbahuz Zhulam, hal 237, sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin,hal. 241.

[28] Lihat kembali sub bab Pujian para Ulama dan Tokoh Dunia kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

[29] Idhahul Mahajjah fi Roddi ‘ala Shohibi Thanjah, hal. 123, sebagaimana dalam Al-Munawiin,hal. 246.

[30] Aunul Ma’bud, 4/80.

[31] Akmalul Bayan, hal. 21, sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin, hal. 246.

Ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafidzhahullah dalam buku “Salafi, Antara Tuduhan dan Kenyataan” penerbit TooBagus cet. kedua.  Bantahan terhadap buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” karya Syaikh Idahram hadahullah.

From → Belajar Islam

5 Komentar
  1. dedey juhaeni permalink

    Semakin ditelusuri semakin jelas dari golongan mana Idahram ini bermuara, yaitu sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yg gemar melestarikan bid’ah dan penentang paling keras dakwah Salafi Wahabi. Bahkan ketua umum organisasi tersebut yg berinisial SAS sdh mengakui bahwa Idahram adalah murid binaanya http://nahimunkar.com/9917/pantesan-idahram-berani-ngawur-mengusung-syi%e2%80%99ah-dan-menghujat-salafi-lha-wong-asuhan-sas/

    Maju terus pantang mundur Saafi Wahabi !!!

  2. fitrah permalink

    SUBHALLAH..semoga syeikh Idahram dapat hidayah dari Allah Ta’ala dan dapat memperbaiki diri dan agamanya sebelum dia di panggil Allah Azza wa Jalla yang siksaan nya sangat pedih.
    izin copy buat arsip.
    Jakamullah khairan

  3. suhaemi permalink

    mestinya klu mau menjawab tuduhan, ya semua yg d tuduhkan..bukan hanya yg bisa d jawab aja..tentang arah timur yg d tujuk Nabi adalah Najd..tetapi menurut jawaban anda Najd adalah dataran tinggi d tanah Arab dan itu bisa d mana aja…jadi arah timur yg d tujuk Nabi dan d maksud oleh Nabi adalah d mana?
    terima kasih

    • Silakan baca tulisan berikut ini :

      Muhammad bin Abdul Wahhab = Fitnah Nejed? (Sebuah Kritikan Ilmiyah)

      dan ini

      Fitnah Dari Arah Timur [Nejed Ataukah ‘Iraq?]

      Semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.

  4. abu rafi permalink

    saya yakin dia idahram adalah orang yang sama yang selalu menghina wahabi di sidogiri.com sebelum di blokir dengan nickname yoyotekim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: