Skip to content

Saudaraku, Wajib Bagi Kita Mengikuti Pemerintah dalam Penentuan Awal-Akhir Ramadhan

Juli 18, 2012

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saya melihat Pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang dipimpin oleh seorang muslim, yaitu bapak SBY beserta jajarannya, semoga Allah Ta’ala selalu memberikan keshalihan dalam langkah-langkah beliau untuk mengurus Negara ini..

Saya melihat kementrian Agama Republik Indonesia sudah sesuai sunnah dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan, yaitu dengan ru’yah hilal atau menyempurnakan bulan Sya’ban jika tidak terlihat hilal.

Saya juga telah membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

« الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ ». رواه الترمذى

Artinya: “Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, berbuka pada hari kalian semua berpuasa dan dan hari ‘iedul Adhha ketika kalian semua berkurban”. HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah no. 224.

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah di dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Sebagian Ulama menafsirkan bahwa puasa dan berbuka sesungguhnya hanya bersama sekumpulan besar manusia (dari kaum muslimin-pent)”.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ « لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenyebutkan Ramadhan, beliau bersabda: “Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal dan jangan kalian berbuka (berhari raya) sampai kalian melihat (hilal)nya, maka jika tertutup atas kalian (hilal tersebut), maka ukurlah baginya.” HR. Bukhari dan Muslim.

عن أَبَي هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – يَقُولُ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – « صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah (berhari rayalah) karena melihatnya, maka jika terhalang oleh kalian (hilalnya) maka sempurnakanlah jumlah hari Sya’ban menjadi 30 hari.” HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasa kalian, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah (berhari rayalah) kalian, jika terhalang atas kalian mendung maka berpuasa sebanyak 30 hari.” HR. Muslim.

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ قَبْلَهُ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ قَبْلَهُ ».

Artinya: “Hudzifah bin Al Yaman meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mendahulukan (puasa) Ramadhan sampai kalian melihat hilal sebelumnya atau kalian menyempurnakan jumlah bilangan hari (bulan Sya’ban), kemudian berpuasalah kalian sampai kalian melihat hilal atau sempurnakanlah jumlan hari (untuk bulan sebelumnya).” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih An Nasai, 2/98.

Dengan berbagai macam redaksi hadits; ada yang bersifat perintah, ada yang bersifat penetapan setelah peniadaan yang kesemuanya menunjukkan bahwa menentukan awal Ramadhan hanya dengan 2 cara tidak ada yang ketiga, yaitu; dengan rukyah hilal atau menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari jika hilal tidak terlihat.

Saya juga sangat kagum dengan Indahnya perkataan Al Muhaddits Al-Albani rahimahullah tentang kewajiban mengikuti pemimpin yang sah dan kesatuan kaum muslimin di dalam memulai berpuasa dan berbuka (yaitu mengakhirinya-pent), dan setiap individu hendaknya mengikuti kesatuan kaum muslimin, beliau berkata:

“و هذا هو اللائق بالشريعة السمحة التي من غاياتها تجميع الناس و توحيد صفوفهم ، و إبعادهم عن كل ما يفرق جمعهم من الآراء الفردية ، فلا تعتبر الشريعة رأي الفرد – و لو كان صوابا في وجهة نظره – في عبادة جماعية كالصوم و التعبيد و صلاة الجماعة ، ألا ترى أن الصحابة رضي الله عنهم كان يصلي بعضهم وراء بعض و فيهم من يرى أن مس المرأة و العضو و خروج الدم من نواقض الوضوء ، و منهم من لا يرى ذلك ، و منهم من يتم في السفر ، و منهم من يقصر ، فلم يكن اختلافهم هذا و غيره ليمنعهم من الاجتماع في الصلاة وراء الإمام الواحد ، و الاعتداد بها ، و ذلك لعلمهم بأن التفرق في الدين شر من الاختلاف في بعض الآراء ، و لقد بلغ الأمر ببعضهم في عدم الإعتداد بالرأي المخالف لرأى الإمام الأعظم في المجتمع الأكبر كمنى ، إلى حد ترك العمل برأيه إطلاقا في ذلك المجتمع فرارا مما قد ينتج من الشر بسبب العمل برأيه ، فروى أبو داود ( 1 / 307 ) أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد (5 / 155) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين .

فليتأمل في هذا الحديث و في الأثر المذكور أولئك الذين لا يزالون يتفرقون في صلواتهم ، و لا يقتدون ببعض أئمة المساجد ، و خاصة في صلاة الوتر في رمضان ، بحجة كونهم على خلاف مذهبهم ! و بعض أولئك الذين يدعون العلم بالفلك ، ممن يصوم و يفطر وحده متقدما أو متأخرا عن جماعة المسلمين ، معتدا برأيه و علمه ، غير مبال بالخروج عنهم ، فليتأمل هؤلاء جميعا فيما ذكرناه من العلم ، لعلهم يجدون شفاء لما في نفوسهم من جهل و غرور ، فيكونوا صفا واحدا مع إخوانهم المسلمين فإن يد الله مع الجماعة “.

“Hal inilah yang paling sesuai dengan syari’at yang mudah, yang mana tujuannya mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka, menjauhkan mereka dari setiap hal yang memecah belahkan kesatuan mereka, syari’at Islam tidak menganggap pendapat personal -meskipun benar di dalam pandangannya- di dalam ibadah yang dilakukan secara bersama-sama, seperti; berpuasa, berhari raya, shalat berjama’ah.

Bukankah Anda melihat para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum, sebagian mereka shalat dibelakang yang lainnya, padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita dan kemaluan serta keluarnya darah membatalkan wudhu, sedangkan di antara mereka ada yang tidak berpendapat demikian, di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat ketika safar dan diantara mereka ada yang mengqashar, tidak menjadikan perbedaan mereka dalam permasalahan ini atau yang lainnya, melarang mereka untuk bersatu di dalam perkara shalat di belakang satu imam dan menganggap shalatnya sah. Yang demikian itu, karena pengetahuan mereka bahwa berpecah belah di dalam perkara agama adalah lebih buruk daripada hanya sekedar berselisih di dalam beberapa pendapat.

Bahkan perkara bersatu ini, sampai kepada bahwa sebagian mereka tidak menganggap pendapat yang menyelisihi pendapat pemimpin yang utama di dalam kesatuan umat yang sangat besar, seperti keadaan ketika di Mina, yang menyebabkan meninggalkan pendapat mereka. Sampai-sampai ada yang benar-benar meninggalkan beramal dengan pendapatnya di kumpulan masyarakat tersebut, agar terlepas dari sesuatu yang mengakibatkan keburukan karena beramal dengan pendapatnya.

Abu Daud meriwayatkan (1/307): bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakan shalat di Mina empat raka’at (dengan menyempurnakannya tanpa di qashar-pent), berkatalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seraya mengingkari atas perbuatan Utsman radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah shalat (di Mina-pent) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dan Umar dua raka’at, lalu bersama Utsman radhiyallahu ‘anhu di awal kepemimpinan dua raka’at kemudian setelah itu Utsman menyempurnakan menjadi empat raka’at, kemudian terpecah belah jalan bagi kalian. Maka aku berharap dari empat raka’at ini, dua raka’atnya semoga diterima”. Lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu shalat empat raka’at (mengikuti Utsman radhiyallahu ‘anhu -pent), maka ada yang berkata: “Engkau menegur Utsman radhiyallahu ‘anhu atas empat raka’atnya tetapi engkau sendiri shalatnya empat raka’at (ketika di Mina-pent), beliau menjawab: “Perbedaan itu adalah buruk”. Sanadnya shahih dan Imam Ahmad meriwayatkan juga seperti ini dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhum seluruhnya.

Maka orang-orang yang masih saja berbeda pada shalat mereka dan tidak mengikuti imam dibeberapa masjid, hendaklah memperhatikan tentang hadits dan riwayat yang disebutkan tadi, khususnya pada shalat witir dengan alasan bahwa imam tidak sesuai dengan madzhab mereka! juga sebagian mereka yang mengaku mengetahui ilmu hisab, sehingga berpuasa dan berbuka sendirian, baik itu mendahului atau terlambat dari kesatuan kaum muslimin, bersandarkan dengan pendapat dan pengetahuannya, tanpa memperhatikan bahwa ia telah keluar dari kesatuan kaum muslimin.

Sekali lagi, hendaklah orang-orang tesebut memperhatikan dari apa yang telah kami sebutkan dari ilmu pengetahuan, semoga saja mereka mendapatkan obat penawar bagi kebodohan dan kekeliruan yang ada pada diri mereka. Yang mana pada akhirnya, mereka menjadi satu barisan dengan kaum muslimin, karena sesungguhnya Tangan Allah bersama kesatuan (kaum muslim)”. Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, (1/50) dalam penjelasan hadits no. 229.

Oleh karenanya, Saya akan mengikuti Pemerintah kita dalam penentuan masuk dan keluarnya Bulan Ramadhan dan semoga kaum muslim juga melaksanakan seperti apa yang saya yakini, agar kesatuan kaum muslimin di Indonesia tetap terjaga.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan Penuh Berkah tahun 1433H.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kaum muslim.

Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Selasa, 27 Sya’ban 1433H, Dammam KSA

Judul Asli : Mengikuti Pemerintah dalam Rukyah Hilal dan Penentuan Awal Akhir Ramadhan

From → Belajar Islam

8 Komentar
  1. sujarwanto permalink

    mksh infox. bs djdkan sarana pemersatu umat.

  2. sang pembelajar permalink

    afwan perlu di tegaskan dalam hal ini pemerintah adalah bukan ulil amri,jd tidak harus di ta’ati.

    • Afwan mas, namanya Pemerintah itu ya bahasa lain dari Ulil Amri. Mungkin Anda mau mengatakan (bukan nuduh, tp biasanya yg ngomong kyaka gini menganggap) bahwa Pemerintah ini kafir! Na’udzubillah.

      Saya rasa penjelasan di atas sudah mencukupi.

  3. Afwan, ustd untuk kita di indonesia, masihkan kita percaya dengan pemerintahan yang membiarkan diri untuk korup dan didukung Yahudi… yang jelas-jelas tidak rela dan tidak akan pernah ridho terhadap umat Islam.. silahkan lihat
    1. http://ulil.net/
    2. http://id.wikipedia.org/wiki/Ulil_Abshar_Abdalla

    semoga bermanfaat…

    • Afwan -dan saya bukan ustadz-. Rasulullah memerintahkan kita untuk ta’at kepada pemimpin baik disaat senang maupun sulit, saat mereka berbuat adil ataupun saat mereka menzholimi kita, meskipun mereka mengambil/merampas harta kita dan memukul punggung kita. Kita tidak dibenarkan untuk menyelisihi mereka apalagi sampai memberontak kepada mereka. Kecuali jika nampak kekufuran yang nyata dari mereka yang kita memiliki bukti yang jelas dari Allah tentang kekafiran mereka.

      Maka selagi pemerintah kita adalah muslim -dan alhamdulillah mereka adalah muslim- maka wajib bagi kita untuk ta’at kepada mereka dalam hal-hal yang ma’ruf. Apalagi dalam hal menentukan awal Ramadhan dan Hari raya ini sudah ada dalil yang tegas dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana telah disebutkan di atas.

      « الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ ». رواه الترمذى

      Artinya: “Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, berbuka pada hari kalian semua berpuasa dan dan hari ‘iedul Adhha ketika kalian semua berkurban”. HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah no. 224.

      Barakallahu fiikum.

      Maka tentang Ulil Abshar ini -semoga Allah memberinya hidayah- tidak asing bagi kita bahwa dia adalah salah satu orang yang merupakan alat dari orang-orang kafir untuk menimbulkan keraguan dalam Islam, dia sering kali berdusta, dan perilaku fasik lainnya. Maka tidak layak kita mengambil perkataan orang semacam ini.

  4. waduh ulil amri yg mana dulu tentunya yg ber iman secara kafah,,apakah sudah kafah ulil amri nkri?…hukum pakai hukum belanda KUHP(bukan ALQURAN),sistem demokrasi bertentangan dg ALQURAN,ekonomi kapitalis ribawi tidaj syari,APAKAH wajib diikuti,,”tidak ada ketaatan sesama mahluk nselagi bermaksiat kepada ALLAH,,ngapain bersatu tetapi salah,,persatuan perampok menurut mereka benar,,pakah menurut ALLAH BENAR,,bersatu dg kebenarran sesuai tuntunan ALQURAN DAN HADIS DONG

  5. BARANGSIAPA YG TIDAK BERHUKUM DG HUKUM ALLAH YA KAFIR LAH PAK?????ALMAIDAH 44

    • mirza permalink

      jangan ditafsirkan sendiri toh ayatnya, belajar lagi sana, jangan ikut2an HT dan semisalnya, hihihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: