Skip to content

Tidak Ada Benda Keramat Dalam Agama Islam

Oktober 23, 2012

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Rabb semesta alam. Tiada yang berhak diibadahi kecuali Dia semata, yang telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab demi kebahagian manusia di dunia dan di akhirat kelak. Dia-lah tempat meminta dan bergantung dalam segala keadaan. Baik di saat suka maupun duka, di saat senang maupun susah, di saat sehat maupun sakit. Dia-lah yang memberi kesembuhan atas segala penyakit.

Salawat beserta salam kita ucapkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Nabi pembawa rahmat untuk seluruh alam. Nabi yang amat mencintai umatnya, yang telah menyuruh umatnya untuk memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Semoga salawat juga terlimpah buat keluarga, para sahabat beliau dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka sampai hari kemudian.

Para pembaca yang kami muliakan, pada kesempatan kali ini kita akan membahas peristiwa menyedihkan yang melanda negeri kita; yang bila dilihat dari sisi syar’i lebih dahsyat dari tsunami atau gempa yang memporak-porandakan gedung-gedung. Peristiwa itu adalah musibah kehancuran dan robohnya aqidah umat dilindas batu para dukun cilik. Betapa tidak, fitnah ini korbannya jauh lebih dahsyat dari segala bencana. Betapa rapuhnya aqidah umat kita, yang hanya dengan tiga batu kerikil milik tiga anak cilik saja mampu merobohkannya. Bagaimana seandainya mereka dihadapkan kepada fitnah Dajjal yang mampu menyuburkan bumi yang kering kerontang; menghidupkan orang mati dan lainnya ? Tentu tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan umat ini. jika mereka dihadapkan kepada fitnah yang dimiliki Dajjal itu. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk mengembalikan umat kepada agama yang lurus.

Perbuatan syirik itu telah menjadi berita hangat dan tontonan serta menyita perhatian berbagai tokoh nasional. Amat sedikit sekali yang mengomentari peristiwa tersebut dengan nilai-nilai aqidah dan sebagian besar malahan menyalahkan pemerintah terutama departemen kesehatan.

Di tengah-tengah kemajuan teknologi dan keilmuan, ternyata dalam hal agama, kita masih primitif. Seharusnya yang perlu menjadi perhatian pertama adalah pendidikan umat dengan ilmu agama dan aqidah yang lurus. Agar mereka tidak dapat dihanyutkan oleh berbagai kesyirikan yang diungkapkan dengan istilah-istilah yang menyesatkan. Semoga kejadian ini menjadi pertimbangan berbagai pihak dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan kita ke depan. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang bersumber dari penelitian manusia tidak mampu mengeluarkan dari keprimitifan dalam beragama.

Memang Nabi kita Shallallahu ’alaihi wa sallam dari jauh-jauh hari sudah memperingatkan bahwa umat ini akan kembali terjerumus ke dalam kesyirikan dan kesesatan umat-umat yang lalu

« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». متفق عليه

“Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang Dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti”. [HR. Bukhâri dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla sangat membenci orang yang melakukan kebiasaan jahiliyah:

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلاَثَة مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطْلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُرِيْقَ دَمَهُ)). رواه مسلم

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling dibenci Allah Azza wa Jallaada tiga; orang melakukan dosa di tanah haram, orang yang mencari kebiasaan jahiliyah dalam Islam dan orang yang mengincar darah seseorang tanpa hak untuk ia tumpahkan (membunuhnya)”. [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengubur kebiasaan jahiliyah itu di bawah telapak kakinya, sebagaimana beliau nyatakan :

((أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمِيْ مَوْضُوْعٌ)) رواه مسلم

“Ketahuilah segala sesuatu dari urusan jahiliah terkubur di bawah telapak kakiku ” [HR. Muslim]

Di antara kebiasaan jahiliyah yang dilakukan manusia di abad modern ini adalah kepercayaan kepada benda-benda mati. Di zaman jahiliyah manusia sering menggantungkan harapannya kepada benda-benda mati. Jika mereka menemukan sebuah batu yang amat besar atau berbentuk menyerupai makhluk hidup, atau memiliki warna yang agak asing atau bentuknya agak aneh, maka mereka meyakini bahwa batu-batu itu memiliki keistimewaan. Jika ukurannya kecil mereka membawanya pulang, jika tidak mereka mendatangi tempat batu itu. Mereka berkeyakinan bahwa batu-batu itu dapat menangkal sihir, menghentikan aliran darah atau memudahkan kelahiran. Ada yang digantungkan di leher atau diikatkan di tangan dan di kaki wanita yang akan melahirkan. Ada lagi batu yang disebut ”batu akik”, mereka yakini dapat membuat diam seseorang yang mau marah, atau bahkan obat bagi penyakit ‘ain (mata jahat). Ada pula yang disebut batu zamrud, mereka yakini dapat mengobati penyakit ayan. Padahal semua itu adalah khurafat dan khayalan belaka.

Sebagaimana halnya al-Lâta adalah batu berhala yang dianggap berkah atau sakti. Mereka juga mempertuhankan batu; jika mereka menghadapi paceklik, kekurangan pangan, hujan tidak turun, atau ditimpa wabah penyakit, mereka datang ke tempat batu-batu yang mereka anggap berkah atau sakti.

Ibnu Katsîr berkata: “Al Lâta” adalah batu besar berwarna putih yang diukir; di atasnya dibangun rumah yang dihiasi kelambu dan dijaga; di sekelilingnya lapangan luas yang dimuliakan oleh penduduk Thâif. Mereka membanggakannya di atas suku-suku Arab lain [1].

Demikian pula jika mereka menemukan pohon besar yang rindang daunnya, mereka menganggap sakti dan mereka duduk di bawahnya, atau membawa sesajian ke sana, atau menggantungkan pedang mereka pada dahan-dahannya. Menurut khayalan mereka, pohon itu dapat memberi keberkahan dan kekuatan tertentu pada diri mereka atau senjata-senjata mereka, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits berikut ini:

عَنْ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيْ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَىْ حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ، يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَمَرَّرْناَ بِسِدْرَةٍ فَقُلْنَا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ إجْعَلْ لَناَ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلُ لِمُوْسَى: (إجْعَلْ لَنَا إلهاً كَماَ لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ) لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ”. [رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ وَصَحَّحَهُ]. هَذاَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Waqid Al Laysie, ia berkata: “Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, saat itu kami baru saja keluar dari kekufuran. Orang-orang musyrikin memiliki sebatang pohon yang besar, mereka duduk di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut pohon Dzâtu Anwâth. Lalu kami melewati sebatang pohon yang besar pula. Maka kami berkata:”Ya Rasulullâh jadikanlah untuk kami pohon Zatu Anwâth, sebagaimana mereka memiliki pohon Dzâtu Anwâth!” Rasululâh pun bertakbîr (Allâhu Akbar) Demi Zat yang jiwaku berada ditangannya sesungguhnya ucapan kalian ini sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa Alaihissallam: “Jadikanlah untuk kami sembahan sebagaiman mereka memiliki sesembahan! Musa berkata: sesungguhnya kalian kaum yang bodoh”. Sesungguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian“[HR Tirmidzi]

Sebagaimana halnya berhala mereka “Al-‘Uzza”, Ibnu Katsîr berkata: “Al-‘Uzza” adalah pohon yang dibangun rumah di bawahnya dan dihiasi kelambu. Orang-orang Quraisy mengagungkannya [2].

Banyak kisah tentang batu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tapi beliau maupun sahabat tidak menjadikan ajimat maupun benda sakti seperti kisah-kisah berikut ini:

1. Kisah Batu Khandak.
Berkata Amru bin ‘Auf: Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan kepada kami khandak (parit yang dalam) pada waktu perang Ahzâb. Lalu ditemukan sebuah batu besar putih yang bulat. Batu tersebut tidak bisa dihancurkan bahkan membuat alat-alat kami patah. Maka kami menyebutkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu Rasulullâh n menggambil linggis dari Salmân Al Fârisi dan beliau memukul batu tersebut dengan sekali pukul. Maka, batu tersebut terbelah dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah, bagaikan sinar lampu di malam hari yang gelap gulita. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbîr. Kemudian dipukul lagi untuk yang kedua kali, maka batu tersebut terbelah dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbîr. Maka Rasulullâh memukul lagi untuk yang ketiga kali, maka batu tersebut terbelah hancur dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbîr[3].

Para sahabat tidak menganggap sakti batu itu, atau menjadikannya sebagai ajimat, penangkal dan sebagainya.

2. Kisah Batu Yang Memberi Salam Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Semasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah sebelum diangkat menjadi nabi; ada batu yang memberi salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau masih mengetahui batu tersebut, tetapi beliau maupun para sahabat tidak pernah memungutnya atau membawanya pulang untuk dijadikan penangkal atau alat terapi jika beliau sakit.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنِّيْ َلأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّيْ َلأَعْرِفُهُ الآنَ”. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari sahabat Jabîr bin Samrah, ia berkata bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi nabi. Sesungguhnya aku mengetahuinya sampai sekarang” [HR. Muslim]

3. Batu Hajar Aswad.
Seluruh umat Islam sepakat bahwa Hajar Aswad adalah batu yang paling mulia dari segala batu. Tapi tidak ada seorangpun dari para sahabat yang menganggap sakti, apalagi minta kesembuhan kepadanya. Oleh sebab itu Amirul Mukminin Umar bin Khatâb Radhiyallahu anhu saat menciumnya di hadapan para kaum Muslimin, beliau berkata:

“إِنِّيْ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّيْ رَأَيْتُ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُقَبِّلُكِ مَا قَبَّلْتُكِ”. رَوَاهُ الْبُخَارِيْ

“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memiliki mudharat dan tidak pula memberikan manfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu”[HR Bukhari]

Hukum mencium Hajar Aswad hanya sekedar mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat Umar Radhiyallahu anhu. Tidak sebagaimana yang diyakini oleh kebanyakan orang-orang yang berebutan untuk menciumnya, bahwa Hajar Aswad dapat menyembuhkan penyakit, memurahkan rezki, dan dugaan-dugaan khurafat lainnya.

4. Ka’bah Dan Maqâm Ibrâhîm.
Banyak anggapan dari sebagian orang-orang yang pergi haji dan umrah, bahwa Ka’bah dan Maqâm Ibrâhîm memililki berbagai kesaktian, sehingga mereka mengusab-usab bangunan Ka’bah dan Maqâm Ibrâhîm dengan tangan dan kain mereka. Padahal tidak ada anjuran dalam agama tentang perbuatan tersebut. Apalagi meyakini dapat memberikan berbagai keistimewaan kepada manusia.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Amat disayangkan, sebagian orang menjadikan segala ibadahnya hanya untuk bertabarruk (mencari berkah) semata. Seperti apa yang terlihat bahwa sebagian manusia mengusap rukun (tiang) yamani lalu mengusapkan ke muka atau dada. Artinya mereka menjadikan mengusap rukun yamani sebagai tabarruk bukan untuk berta’abud (beribadah). Ini adalah sebuah kebodohan” [4]. Lalu beliau menukil ungkapan Amîrul Mukminîn Umar bin Khatab yang kita sebutkan di atas.

Tidak dipungkiri bahwa Ka’bah atau Masjidil haram memiliki berkah. Tetapi mengambil berkah bukan dengan mengusap-ngusap dinding masjid atau Ka’bah. Tetapi beribadah pada tempat tersebut sesuai dengan ketentuan agama, seperti shalat, i’tikaf, tawaf, atau berhaji dan umrah.

Demikian pula tentang kisah pohon kayu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau maupun para sahabat tidak menjadikannya sebagai tempat sakti yang dapat menyembuhkan penyakit, seperti kisah-kisah berikut ini:

1. Kisah pohon yang merunduk ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dalam perjalanan beliau ke Syam bersama paman beliau.

Para ulama sîrah (sejarah nabi) menyebutkan bahwa saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke negeri Syam bersama paman beliau Abi Thâlib, beliau selalu dinaungi awan. Ketika berhenti di sebuah tempat di negeri itu, di dekat rumah seorang Rahib (pendeta), beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam disuruh paman beliau untuk menunggu barang dagangannya di pinggir jalan. Tiba-tiba Rahib itu melihat sebatang pohon merunduk ke arah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menaunginya dari panas terik matahari. Saat melihat hal tersebut, Rahib berkata dalam hatinya: ”Sesungguhnya ini tidaklah terjadi kecuali pada seorang Nabi.” Lalu Rahib itu mengajak mampir ke rumahnya, dan menyuruh Abu Thâlib membawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam cepat-cepat pulang ke Mekah. Ia berkata: ”Anak ini akan memiliki kemulian, jika orang-orang Yahudi mengetahuinya maka mereka akan membunuhnya.” Rahib itu mengetahui hal itu dari kitab Taurât dan Injîl yang dimilikinya [5].

Demikian kisah tersebut. Namun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak menganggap pohon itu keramat atau sakti.

2. Pohon Hudaibiyah.
Allah Azza wa Jallaberfirman dalam al-Qur’an:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jallatelah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Allah Azza wa Jallamengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.[al-Fath/48:18]

Tatkala Amîrul Mukminîn Umar bin Khatâb melihat sebagian orang mendatangi tempat tersebut dan shalat di situ, beliau menebang pohon tersebut untuk menentang perbuatan syirik[6].

3. Kisah Tangis Tiang Masjid Dari Batang Korma.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ يَسْتَنِدُ إِلَىْ جِذْعِ نَخْلَةٍ مِنَ سِوَارِي الْمَسْجِدِ فَلَمَّا صُنِعَ الْمِنْبَرُ وَاسْتَوَى عَلَيْهِ اضْطَرَّبَتْ تِلْكَ السَّارِيَةُ كَحَنِيْنِ النَّاقَةِ حَتَّى سَمِعَهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ حَتَّى نَزَلَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْتَنَقَهَا فَسَكَتَتْ . رَوَاهُ النَّسَائِيْ وَصَحَّحَهُ الشَّيْخُ اْلأَلْبَانِيْ

“Dari Jâbir bin Abdillâh ia berkata: “Jika Rasulullâh berkhutbah beliau bersandar kepada batang kurma di salah satu tiang masjid. Tatkala mimbar telah dibuat dan beliau duduk di atasnya, tiang tersebut menangis bagaikan rintihan seekor onta, semua orang yang ada dalam masjid mendengarnya. Lalu Rasulullâh turun dan mengusapnya, barulah ia diam”.

Dalam hadits ini disebutkan bahwa tiang tersebut sedih karena tidak lagi menjadi sandaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Suara tersebut terdengar oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap tiang itu, agar berhenti dari kesedihannya; bukan karena untuk mencari berkah. Sebagaimana saat musim haji, betapa banyaknya orang yang mengusap-ngusap dan berebut untuk shalat dekat tiang tempat mu’adzin mengumadangkan azan di masjid Nabawi.

4. Kisah Pohon Yang Berjalan Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ الثَّقَفِيْ قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ نَسِيْرُ مَعَهُ النَّبِيُ فَنَـزَلْنَا مَنْـِزلاً فَناَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَتْ شَجَرَةٌ تَشُقُّ اْلأَرْضَ حَتَّى غَشِيَتْهُ ثُمَّ رَجَعَتْ إِلَى مَكَانِهَا فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ لَهُ فَقَالَ هِيَ شَجَرَةٌ اسْتَأْذَنَتْ رَبَّهَا عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تُسَلِّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنَ لَهَا …)). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَغَوِيْ فِيْ شَرْحِ السُّنَّةِ. وَقَالَ الشَّيْخُ اْلألْبَانِيْ: صَحِيْحٌ لِشَوَاهِدِهِ [7].

Dari Ya’la bin Murrah ats-Tsaqafy, ia berkata: “Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, kami berhenti di suatu tempat, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur. Tiba-tiba datang sebatang pohon berjalan membelah bumi sampai menaungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian ia kembali lagi ke tempatnya semula. Tatkala Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, aku sebutkan hal tersebut kepada beliau. Beliau berkata: ”Ia adalah pohon yang meminta izin pada tuhannya untuk memberi salam padaku, lalu Allah Azza wa Jalla mengizinkannya“. [8]

Nabi dan para shahabat tidak mengkeramatkan pohon tersebut sebagaimana kebiasaan orang-orang terhadap pohon-pohon yang biasa mereka anggap sakti, padahal pohon tersebut tidak memiliki keluarbiasaan. Hanya karena sudah berumur ratusan tahun, tidak tumbang ditiup kangin kencang, maka seolah-olah sering terdengar suara-suara ghaib di situ. Atau berbagai kepercayaan khurafat lainnya yang mereka buat-buat sendiri. Mereka tidak mengetahui bahwa suara ghaib itu bisa suara jin yang tinggal di atas pohon itu.

5. Kisah Onta Yang Berbicara Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut:

عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ الثَّقَفِيْ قَالَ بَيْناَ نَحْنُ نَسِيْرُ مَعَ النَّبِيْ إِذْ مَرَرْنَا بِبَعِيْرٍ يُسْنَى عَلَيْهِ فَلَمَّا رَآه ُالْبَعِيْرُ جَرْجَرَ فَوَضَعَ جِرَانَهَ فَوَقَفَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْنَ صَاحِبُ هَذَا اْلبَعِيْرِ فَجاَءَهُ فَقَالَ بِعْنِيْهِ فَقَالَ بَلْ نَهِبُهُ لَكَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَإِنَّهُ ِلأَهْلِ بَيْتٍ مَا لَهُمْ مَعِيْشَةٌ غَيْرَهُ قَالَ أَمَّا إِذَا ذُكِرَتْ هَذَا مِنْ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ شَكَا كَثْرَةَ الْعَمَلِ وَقِلَّةَ الْعَلَفِ فَأَحْسِنُوْا ِإَليْهِ…)).

Dari Ya’la bin Murrah Ats Tsaqafy, ia berkata: ”Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Kami melewati seekor onta yang sedang diberi minum. Tatkala onta tersebut melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengeluh dan meletakkan lehernya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dekatnya dan bertanya: ”Mana pemilik onta ini?” Lalu datanglah pemiliknya, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Juallah ia padaku!” Lalu pemiliknya menjawab: ”Kami hadiahkan padamu ya Rasulullâh. Ia adalah milik keluarga yang tidak memiliki mata pencaharian selain onta ini.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya ia telah mengadukan tentang banyak bekerja dan kekurangan makanan, maka berbuat baiklah kamu kepadanya”.

Onta tersebut tidak pernah disaktikan oleh pemiliknya, atau diambil kotorannya untuk penangkal atau pelaris dagangan, apalagi dianggap sebagai wali/syaikh.

Dengan memperhatikan contoh-contoh di atas, sangat nyata perbedaannya dengan sebagian manusia abad modern dewasa ini. Meskipun disebut manusia modern, namun mereka mengangap sakti berbagai macam barang seperti, keris, batu, pohon tua, kuburan, sungai atau laut. Termasuk perabot rumah tangga, peningalan kuno, binatang ternak, batu kali, kayu di hutan, bahkan kuburan sekalipun.

Demikian juga seandainya contoh-contoh di atas terjadi di zaman sekarang, tidak bisa dibayangkan akibatnya. Sebagian besar orang yang menyaksikan tentu akan mengkeramatkan batu, pohon atau binatang itu dan menjadikannya sebagai tempat berundi nasib, menyembuhkan penyakit, mencari jodoh, dan seterusnya.

Dan seandainya peristiwa-peristiwa itu terjadi di hadapan orang-orang yang mengidap penyakit “TBK” (tahyul, bid’ah dan khurafat), sangat mungkin mereka akan melakukan pemujaan atau penyembahan

Maka sungguh amat mengherankan dan menyedihkan kita, jika baru-baru ini, hanya sebuah batu kecil milik seorang bocah cilik dapat melindas tauhid sebagian umat ini.

Demikian bahasan kita kali ini semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta segenap kaum muslimin. Wallâhu A’lam.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ ِإلاَّ أَنْتَ وَأَسْتَغْفَرك وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII/Rabiul Tsani 1430/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

sumber : almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Tafsîr Ibnu Katsîr: 7/455.
[2]. Ibid.
[3]. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Jarîr, Ibnu Abi Hâtim, Al-Baihaqi dll. Lihat “Ad Dûrur Mantsûr”6/574.
[4]. Al-Qaulul Mufîd: 1/129.
[5]. Lihat “Târikhuth Thabary: 1/520 dan “Al-Bidâyah wan Nihâyah”: 2/284.
[6]. Lihat “Al bida’ Wannahyu ‘anha” Ibnu Wadhah: 26.
[7]. “Misykâtul Mashâbîh”: 3/287.
[8]. Lihat; Musnad imam Ahmad: 29/106, Syarhussunnah: 6/454, Misykâtul Mashâbîh: 3/287.

From → Belajar Islam

7 Komentar
  1. tauhid yang salah kaprah, vonis syirik-kafir yang serampangan…. la haula wala quwwata illa billah!

  2. terimakasih,alhamdulillah,tauhid yg benar itu sy tdk berkomentar vonis syirik-kapir serampangan,itu benar kok apa yg dikatakan blog abu umamah,sy tunggu lagi yg banyak linknya ya wassalam.agus mtoha

    • yang ditulis benar,tapi….
      “Maka sungguh amat mengherankan dan menyedihkan kita, jika baru-baru ini, hanya sebuah batu kecil milik seorang bocah cilik dapat melindas tauhid sebagian umat ini.”

      pantas lo mas Hade Kretifedy bilang -SRAMPANGAN- masa hal tiu langsung dikatakan melindas tauhid c….???

      coba mereka yang berOBAT ditanya…nyembahkah??minta tolongkah???

      orang berobat kan melalui perantara….

    • Subhanallah, semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Silakan dibaca dan difikirkan secara seksama tulisan di atas.

      Bukankah keyakinan sebagian orang yang berobat itu serupa dengan keyakinan orang-orang musyrik dalam mempercayai bahwa batu tersebut dapat mengihilangkan mudharat atau mendatangkan manfaat untuk mereka. Bukankah hanya Allah yang kuasa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat untuk hambaNya?!

  3. AHMAD permalink

    berarti antum, ana, serta qt smua tdk mmiliki manfaat maupun mudharat yah mas ABU-ABU?
    bgini ini kl belajar sm “mbah google” asal co-pas ajh.

    begini mas abu-abu….
    HAKIKAT sgl kehidupan sdh jelas ada dalam kekuasaaan serta keagungan ALLAH SWT. namun dlm ursn syariat dan muamalah apkh antum terserah bgmn ALLAH sj?… dlm ursn syariat smua musti ada wasilah/perantara.
    kl antum sakit sdh pasti ikhtiar dgn ber-wasilah kpd dokter atw ahlinya., nah kl anda sembuh apkh anda katakan itu dokter yg mnymbuhkan?… kl anda jawab iya, maka anda yg musti berhati-hati trhdp aqidah anda sndiri.

    Sama halnya dgn adanya kita terlahir di bumi ini,.. wasilah atw perantaranya adlh ortu qt sndiri. Dan segala larangan dan perintah ALLAH dimuka bumi ini dgn wasilah/perantara para NABI DAN RASUL-NYA sesuai dgn zamannya.

    Bilamana qt dilahirkan atas wasilah kedua ortu qt, maka ALLAH perintahkan jg agar qt patuh dan taat kpd ortu qt, krn Ridho ALLAH adlh Ridho Ortu.

    Bilamana ALLAH turunkan para NABI & RASUL-NYA maka ALLAH perintahkan jg qt taat dan mengikuti SUNNAH-NYA.

    “betapa agung dan luhur-nya perangai2 yg diajarkan dan diperintahkan oleh yg MAHA LUHUR DAN MULIA, ALLAH SWT… ALLAH dn RASUL-NYA tdk pernah cemburu jika kita taat pd ortu sesuai dgn ketentuan yg syar’i.
    Karena taat-nya qt kpd Ortu dan RASUL-NYA adalah mutlak ketaatan qt jua kpd ALLAH SWT.

    jadi jelas mas abu-abu. bahwasanya manusia mencari jln ikhtiar dgn berwasilah/ber-perantara baik kpd makhluk ALLAH skalipun sah2 saja, asalkan bkn kmudian menyandarkan keyakinannya bhw wasilah tersebut adalah TUHAN yg mndatangkan dan menolak segala manfaat..

    Anda serta golongan yg ngaku2 SALAFFI yg selalu jahil trhdp saudara seiman ajh qt2 gak prnh pusingin, lah kok ente mau jahil dlm ursn aqidah dan syariat umat yg sdh ada sjk dhl.
    anda ngaku salafi tp malah mnghianati SALAFUS SHALIH.

    INGAT.. BAGINDA ROSUL SAW. LEBIH SENANG MEMUJI PR SHAHABAT, SEKALIPUN KEMULIAAN DUNIA DAN AKHIRAT SDH ADA DLM GENGGAMAN BELIAU SAW.

    • Iya, kita semua tidak berkuasa untuk memberikan manfaat ataupun menolak mudharat kecuali atas idzin Allah. Bahkan Allah memerintahkan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk berkata kepada manusia dan jin seluruhnya,

      قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً

      Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfa’atan”. [72 : 21]

      Jika demikian keadaan makhluk yang paling mulia maka bagaimana mungkin ada makhluk selain beliau yang berkuasa untuk mendatangkan manfaat ataupun menolak mudharat kepada makhluk lainnya tanpa izin Allah.

      Ber-ikhtiar dan berusaha itu disyari’atkan dalam Islam. Demikian juga meminta pertolongan kepada sesama makhluk pada perkara-perkara yang memang disanggupinya pun dibolehkan dalam Islam. Yang terlarang adalah mengambil jalan-jalan ikhtiar yang diharamkan dalam islam dan/atau meminta pertolongan kepada makhluk pada perkara-perkara yang hanya Allah saja yang mampu atas hal itu.

      Jika ada yang mengatakan bahwa orang-orang musyrikin dahulu berkeyakinan bahwa para sesembahan mereka tersebut adalah TUHAN selain Allah yang mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudharat maka ketahuilah bahwa ia telah salah besar. Allah memerintahkan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk mendebat mereka tentang siapakah yang mampu mendatangkan manfaat atau menolak madharat,

      قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ – سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

      Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [23:88-89]

      Bahkan mereka hanyalah beranggapan bahwa para sesembahan mereka itu hanyalah pemberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah, hanyalah wasilah/perantara yang akan menyampaikan maksud-maksud mereka kepada Allah, hanyalah sarana untuk mengantarkan mereka agar dapat dekat kepada Allah. Allah membantah keyakinan mereka ini dan mensucikan diriNya dari kesyirikan mereka,

      وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

      Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi ?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). [10:18]

      Jadi jelas bahwa yang kuasa atas manfaat dan mudharat hanyalah Allah semata, maka konsekuwensi logis dari hal ini adalah kita wajib untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Kita meminta dan memohon kemaslahatan dunia maupun akhirat hanya kepadaNya, langsung kepadaNya. Karena Dia berfirman,

      وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

      Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [40:60]

      Diantara perkara yang hanya Allah saja yang mampu atasnya adalah menyembuhkan penyakit. Maka ketika sakit, kita harus mengingat hal berikut :

      1. Nabi menganjurkan untuk berobat, karena itu kita berobat kepada orang yang memang dikenal sebagai dokter yang dapat mengobati (bukan menyembuhkan!).
      2. Nabi melarang kita untuk berobad dengan sesuatu yang haram, karena itu kita tidak boleh berobat dengan sesuatu yang diharamkan. Diantara pengobatan yang diharamkan dan marak belakangan ini adalah pengobatan dengan sihir apapun bentuk dan namanya.
      3. Kita hanya memohon kesembuhan kepada Allah, bukan kepada dokter atau kepada Wali atau kepada Nabi. Karena hanya Allah saja yang berkuasa untuk menyembuhkan segala penyakit. Kalau kita meyakini bahwa kita sembuh semata-mata karena dokter/obat maka kita telah jatuh dalam sebuah kesyirikan.

      Untuk hal lainnya -insya Allah- bisa dikiaskan dengan hal ini.

  4. andy abd.latif permalink

    keramat berasal dari kata karoma, karima.
    ada benda2 yg dikeramatkan dlm islam, seperti al quranul karim, makkah al mukarromah.

    yg nulis artikel di atas itu faham bhs arab apa gak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: