Skip to content

Mengucapkan Selamat Natal Diabadikan Dalam Al-Qur’an ?!

Desember 27, 2012

Apakah benar bahwa ayat berikut ini adalah dalil bolehnya mengucapkan selamat natal atau bahkan dalil bolehnya natalan?

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 33)

Bagaimana pula jawaban atas orang yang membolehkan mengucapkan “Selamat” kepada orang kafir dengan berdalil menggunakan ayat dalam surah Az-Zukhruf ayat 89 :

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

Jawab:

Mempelajari tafsir Al-Qur’an adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim karena dengannya akan dicapai maksud dari diturunkannya Al-Qur’an yaitu agar ditadabburi ayat-ayatnya dan agar diambil pelajaran darinya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata “…hikmah diturunkannya al-Qur’an yang diberkahi ini adalah agar manusia mentadabburi (merenungi) ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran dari kandungannya. Tadabbur artinya merenungi lafazh-lafazh guna mencapai (pengetahuan tentang) makna-maknanya. Sebab bila tanpa tadabbur, maka hilanglah hikmah diturunkannya al-Qur’an sehingga ia hanya menjadi lafazh-lafazh yang tidak ada pengaruhnya sama sekali. [Ushûl Fi at-Tafsîr karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn]

Lebih lanjut beliau menjelaskan tentang tujuan mempelajari tafsir Al-Qur’an adalah “untuk mencapai target-target yang terpuji dan buah (hasil) yang mulia, yaitu membenarkan informasi-informasinya, mengambil manfa’at darinya dan menerapkan hukum-hukumnya sesuai dengan yang dimaksudkan Allah agar melaluinya Dia diibadahi berdasarkan ilmu pengetahuan yang yakin.”[Ushûl Fi at-Tafsîr karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn]

Dengan demikian, jika ada orang yang menafsirkan Al-Qur’an dengan tafsiran yang menyelisihi ajaran Islam maka dapat dipastikan bahwa tafsiran tersebut keliru dan orang tersebut tidak meniti jalan yang ditempuh oleh para Ulama Islam dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Dahulu para ulama mempelajari Al-Qur’an dan tafisrnya sekaligus. Mereka belajar lafazh-lafazh dan makna-makna al-Qur’an karena dengan cara itu mereka mampu mengamalkan al-Qur’an sesuai yang Murâd (maksud) Allah terhadapnya sebab mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui maknanya tentulah tidak mungkin dilakukan.

Abu ‘Abdurrahman as-Sullamy berkata, “Orang-orang yang dulu pernah membacakan al-Qur’an kepada kami, seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud dan selain keduanya telah menceritakan kepada kami bahwa bila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi SAW, mereka tidak melebihinya (menambah lagi) hingga benar-benar mempelajari kandungannya dari sisi ilmu maupun pengamalannya. Mereka berkata, ‘Sehingga dengan begitu, kami telah belajar al-Qur’an, ilmu dan amal sekaligus.’”

Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah berkata, “Adalah tertolak secara adat kebiasaan, bahwa ada suatu kaum yang membaca suatu buku pada salah satu seni ilmu seperti kedokteran dan ilmu hitung namun tidak mencari bagaimana penjelasannya. Nah, tentunya, apalagi terhadap Kalamullah yang ia membuat mereka terjaga, dengannya mereka selamat dan bahagia serta dapat menjalankan urusan dien dan dunia.”

Adapun dimasa kini kita jumpai sekelompok manusia yang menempuh jalan dalam menafsirkan Al-Qur’an bukan sebagaimana yang ditempuh oleh para Ulama terdahulu. Sehingga lahirlah penafsiran-penafsiran aneh terhadap ayat Al-Qur’an yang bahkan sebagiannya bisa menjatuhkan pada kekafiran. wal ‘iyadzu billah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : “Di dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang Muslim wajib menyadari bahwa ketika menafsirkan itu posisinya adalah sebagai penerjemah Allah, saksi atas-Nya terhadap Kalam yang dimaksud-Nya, sehingga dengan kesaksian ini, dia telah mengagungkan-Nya, takut untuk mengatakan atas nama Allah tanpa ilmu yang dapat membawanya terjerumus ke dalam hal yang diharamkan Allah dan lantas karenanya pula dia akan terhina pada hari Kiamat kelak. Mengenai hal ini, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْأِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan pebuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.s.al-A’râf:33)

dan Allah berfirman :

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوىً لِلْمُتَكَبِّرِينَ

“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam, bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?.” (Q.s.az-Zumar:60)” [Ushûl Fi at-Tafsîr karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn]

Syaikh Muhammad Al-Imam -hafizhahullah- berkata tentang larangan menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu, “Seseorang tidak boleh berbicara tentang hal yang tidak ia ketahui. Dan tidak boleh juga berbicara tentang ilmu agama padahal ia tidak memiliki ilmu. Ini merupakan kejahatan yang besar, dan berbahaya bagi orang yang melakukannya. Ini juga merupakan kejahatan terhadap kalamullah (Al-Qur’an), dan bahaya yang besar bagi orang yang melakukannya.

Maka, hendaknya orang-orang suka bermudah-mudah ini bertaqwa kepada Allah, dan jauhi berbicara mengenai kalamullah padahal ia tidak memiliki ilmu yang mencukupi yang membuat ia bisa menafsirkan dengan benar. Karena perbuatan ini merupakan penyimpangan dan kejahatan terhadap Allah dan terhadap agama Allah dan juga terhadap Rasul-Nya. Dan ini juga merupakan keburukan yang besar, sebagaimana sudah saya katakan.

Maka takutlah kepada Allah dengan tidak melakukan hal seperti ini, yang menyebabkan sebagian orang yang mengikutinya melakukan kebid’ahan, berdalil dengan ayat ini dan ayat itu, ayat ini menyuruh perbuatan ini dan itu, padahal bukan demikian maksud ayat tersebut dan dia bukan orang yang ahli dalam menafsirkan ayat Qur’an.

Ada riwayat shahih dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, beliau melewati seorang lelaki yang sedang mengajarkan orang-orang Al Qur’an. Beliau berkata:

أتعرف الناسخ والمنسوخ ؟ قال : لا ، قال : هلكت وأهلكت

Apakah engkau sudah paham nasikh dan mansukh? Lelaki tadi berkata: ‘Saya belum paham’. Ali berkata: ‘Sungguh engkau ini binasa dan membuat orang lain binasa’“. Demikian, hendaknya hal ini dipahami. [Selesai nukilan.]

Semoga dengan nasihat di atas dapat menjadi pengingat bagi diri kita agar tidak sembarangan berbicara atas nama Agama Allah. Selanjutnya kita simak bagaimana keterangan para ulama Islam tentang ayat di atas, bukan berdasarkan penafsiran kaum liberal dan orang tua mereka dari kalangan orientalis.

Mari kita lihat pemahaman para ahli tafsir mengenai ayat ini:

  1. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “dalam ayat ini ada penetapan ubudiyah Isa kepada Allah, yaitu bahwa ia adalah makhluk Allah yang hidup dan bisa mati dan beliau juga akan dibangkitkan kelak sebagaimana makhluk yang lain. Namun Allah memberikan keselamatan kepada beliau pada kondisi-kondisi tadi (dihidupkan, dimatikan, dibangkitkan) yang merupakan kondisi-kondisi paling sulit bagi para hamba. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada beliau” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 5-230)
  2. Al Qurthubi menjelaskan: “[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku] maksudnya keselamatan dari Allah kepadaku -Isa-. [pada hari aku dilahirkan] yaitu ketika di dunia (dari gangguan setan, ini pendapat sebagian ulama, sebagaimana di surat Al Imran). [pada hari aku meninggal] maksudnya di alam kubur. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] maksudnya di akhirat. karena beliau pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini, demikian yang dikemukakan oleh Al Kalbi” (Al Jami Li Ahkamil Qur’an, 11/105)
  3. Ath Thabari rahimahullah menjelaskan: “Maksudnya keamanan dari Allah terhadap gangguan setan dan tentaranya pada hari beliau dilahirkan yang hal ini tidak didapatkan orang lain selain beliau. Juga keselamatan dari celaan terhadapnya selama hidupnya. Juga keselamatan dari rasa sakit ketika menghadapi kematian. Juga keselataman kepanikan dan kebingungan ketika dibangkitkan pada hari kiamat sementara orang-orang lain mengalami hal tersebut ketika melihat keadaan yang mengerikan pada hari itu” (Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 18/193)
  4. Al Baghawi rahimahullah menjelaskan: “[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan] maksudnya keselamatan dari gangguan setan ketika beliau lahir. [pada hari aku meninggal] maksudnya keselamatan dari syirik ketika beliau wafat. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] yaitu keselamatan dari rasa panik” (Ma’alimut Tanzil Fi Tafsiril Qur’an, 5/231)
  5. Dalam Tafsir Al Jalalain (1/399) disebutkan: “[Dan keselamatan] dari Allah [semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali]“
  6. As Sa’di menjelaskan: “Maksudnya, atas karunia dan kemuliaan Rabb-nya, beliau dilimpahkan keselamatan pada hari dilahirkan, pada hari diwafatkan, pada hari dibangkitkan dari kejelekan, dari gangguan setan dan dari dosa. Ini berkonsekuensi beliau juga selamat dari kepanikan menghadapi kematian, selamat dari sumber kemaksiatan, dan beliau termasuk dalam daarus salam. Ini adalah mu’jizat yang agung dan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah, hamba Allah yang sejati” (Taisir Kariimirrahman, 1/492)

Demikianlah penjelasan para ahli tafsir, yang semuanya menjelaskan makna yang sama garis besarnya. Tidak ada dari mereka yang memahami ayat ini sebagai dari bolehnya mengucapkan selamat kepada hari raya orang nasrani apalagi memahami bahwa ayat ini dalil disyariatkannya memperingati hari lahir Nabi Isa ‘alaihis salam.

Oleh karena itu, kepada orang yang berdalil bolehnya ucapan selamat natal atau bolehnya natalan dengan ayat ini, berikut beberapa poin sanggahannya:

  • Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menerima ayat ini dari Allah tidak pernah memahami bahwa ayat ini membolehkan ucapkan selamat kepada hari raya orang nasrani atau bolehnya merayakan hari lahir Nabi Isa ‘alahissalam. Dan beliau juga tidak pernah melakukannya.
  • Para sahabat Nabi yang ada ketika Nabi menerima ayat ini dari Allah pun tidak memahami demikian.
  • Ayat ini bukti penetapan ubudiyah Isa ‘alaihis salam kepada Allah. Karena beliau hidup sebagaimana manusia biasa, bisa mati, dan akan dibangkitkan pula di hari kiamat sebagaimana makhluk yang lain. Dan beliau mengharap serta mendapat keselamatan semata-mata hanya dari Allah Ta’ala. Ini semua bukti bahwa beliau adalah hamba Allah, tidak berhak disembah. Sehingga ayat ini justru bertentangan dengan esensi ucapan selamat natal dan ritual natalan itu sendiri, yang merupakan ritual penghambaan dan penyembahan terhadap Isa ‘alaihissalam. Jadi tidak mungkin ayat ini menjadi dalil ucapan selamat natal atau natalan.
  • Para ulama menafsirkan السَّلامُ (as salaam) di sini maknanya adalah ‘keselamatan dari Allah‘, bukan ucapan selamat.
  • Baik, katakanlah kita tafsirkan ayat ini dengan akal-akalan cetek kita, kita terima bahwa السَّلامُ (as salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kepada siapa ucapan selamatnya? السَّلامُ عَلَيَّ ‘as salaam alayya (kepadaku)’, berarti ucapan selamat seharusnya kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Bukan kepada orang nasrani.
  • Baik, andai kita pakai cara otak-atik-gathuk dan tidak peduli tafsiran ulama, kita terima bahwa السَّلامُ (as salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kapan diucapkannya? يَوْمَ وُلِدْتُ ‘hari ketika aku dilahirkan‘, yaitu di hari ketika Nabi Isa dilahirkan. Nah, masalahnya mana bukti otentik bahwa Nabi Isa lahir tanggal 25 Desember??
    Katakanlah ada bukti otentik tentang tanggal lahir Nabi Isa, lalu masalah lain, ingin pakai penanggalan Masehi atau Hijriah? Pasti akan berbeda tanggalnya. Berdalil dengan ayat Qur’an, tapi koq dalam kasus yang sama pakai sistem penanggalan Masehi? Ini namanya tidak konsisten dalam berdalil.
  • Pada kitab orang Nasrani sendiri tidak ada bukti otentik dan dalil landasan perayaan hari lahir Isa ‘alaihissalam. Beliau tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengadakan ritual demikian. Mengapa sebagian kaum muslimin malah membela bahwa ritual natalan itu ada dalilnya dari Al Qur’an, dengan pendalilan yang terlalu memaksakan diri?

Pembahasan ini semata-mata dalam rangka nasehat kepada saudara sesama muslim. Kami meyakini sebagai muslim harus berakhlak mulia bahkan kepada non-muslim. Dan untuk berakhlak yang baik itu tidak harus dengan ikut-ikut mengucapkan selamat natal atau selamat pada hari raya mereka yang lain. Akhlak yang baik dengan berkata yang baik, lemah lembut, tidak menzhalimi mereka, tidak mengganggu mereka, menunaikan hak-hak tetangga jika mereka jadi tetangga kita, bermuamalah dengan profesional dalam pekerjaan, dll. Karena harapan kita, mereka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Dengan ikut mengucapkan selamat natal, justru membuat mereka bangga dan nyaman akan agama mereka karena kita pun jadi dianggap ridha dan fine-fine saja terhadap agama dan keyakinan kufur mereka. Wabillahi at taufiq was sadaad.

Adapun mengenai firman Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 89 maka kita katakan sebagai berikut :

Apakah orang yang menggunakan lafal سَلَام salamun dalam ayat ini untuk konteks ayat surat Maryam 33 bermaksud agar dapat menghasilkan kesimpulan bolehnya mengucapkan selamat natal? Jika demikian, nah, inilah yang namanya othak-athik-gathuk. Bongkar-pasang sana sini, demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Pertama, para ulama berbeda pendapat mengenai memulai ucapan salam kepada non-muslim. Yang dimaksud ucapan salam di sini adalah mendoakan keselamatan semacam “assalamu’alaikum“. Jika ini pembahasannya, maka Zuhkruf ayat 89 ini salah satu dalil yang dibahas. Namun kalau untuk membahas selamat natal, maka tidak nyambung.

Kedua, jika kita membaca keseluruhan ayat, dan juga berdasarkan keterangan para ulama ahli tafsir, makna ayat ini jelas. Yaitu, Nabi mengajak orang kafir Quraisy untuk beriman menyembah Allah semata dengan menyampaikan segala argumen, namun mereka menolak. Maka ya sudah, tinggalkan, tidak perlu ngotot jika memang mereka ngeyelan. Kira-kira demikian ringkasnya.

Ketiga, sebagian ulama mengatakan ayat ini Makiyyah sehingga terjadi ketika kaum muslimin masih lemah, belum diperintahkan jihad. Adapun setelah diperintahkan jihad, maka jika mereka ngeyel, perangi sampai mereka bersyahadat. Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan:

{فَاصْفَحْ} أَعْرِضْ {عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَام} مِنْكُمْ وَهَذَا قَبْل أَنْ يُؤْمَر بِقِتَالِهِمْ

“فَاصْفَحْ” maksudnya berpalinglah عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَا dari mereka, dan ini sebelum diperintahkan untuk memerangi mereka

Keempat, jadi andai mau mencoba berdalil dengan ayat ini untuk membolehkan selamat natal (walaupun pendalilannya tidak benar), maka seharusnya sebelum mengatakan selamat natal ajak dahulu orang yang anda beri selamat untuk masuk Islam dengan berbagai argumen.

Kelima, سَلَام salamun dalam Zukhruf 89 ini maknanya bara’ah (tidak suka dan berlepas diri) sambil mendoakan keselamatan. Beda dengan ucapan selamat natal yang maknanya apreciate, mendoakan semoga natalannya baik, lancar, bahagia, sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak suka dan keberlepas-dirian.

Keenam, sudah saya katakan beberapa kali di atas, andai kita maknai as salaam dalam Maryam 33 itu dengan ucapan selamat, pun tetap tidak nyambung dengan selamat natal dan tetap menjadi pendalilan yang nyeleneh dan terlalu dipaksakan.

Ketujuh, mohon renungkan kembali apa yang ada di artikel ini: http://kangaswad.wordpress.com/2012/12/01/menafsirkan-quran-tanpa-ilmu/

Demikian, semoga menjadi pelajaran bagi yang belum mengetahui dan menjadi pengingat bagi yang lupa. Wallahu waliyyut taufiq.

Dikompilasi dari :

From → Belajar Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: