Skip to content

Beberapa Faidah dari Sebuah Duri

Januari 2, 2013

Kata duri merupakan istilah umum (generik) untuk menyatakan bagian tumbuhan atau hewan yang berujung tajam dan cukup keras sehingga cenderung melukai kulit atau permukaan tubuh lainnya.[http://id.wikipedia.org/wiki/Duri]

Sakit, itulah rasa yang terasa dan dirasakan oleh orang yang terkena duri. Jika Anda hobi memakan ikan maka berhati-hatilah dari durinya, karena lezatnya ikan akan hilang seketika apabila Anda tertusuk durinya apalagi jika sampai duri itu tertelan dan berhenti ditenggorokan Anda.

Ketika terkena duri, pernahkah kita berfikir bahwa ada banyak hal yang dapat kita renungkan dibalik ciptaan Allah ini ? Sebuah duri -insya Allah- akan membantu kita berfikir untuk dapat mawas diri. Berhati-hati dari “duri-duri” dunia agar kita selamat dari kait-kait duri di akhirat ketika melintas di atas Ash-Shirath.

1. Mengharap pahala dan ampunan dari Allah karena kita terkena duri. Karena sebab duri yang menusuk tubuh kita Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kita, insya Allah. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i dari Al-Aswad bin Zaid :

عن الأسود قال دخل شباب من قريش على عائشة وهي بمنى وهم يضحكون فقالت ما يضحككم قالوا فلان خر على طنب فسطاط فكادت عنقه أو عينه أن تذهب فقالت لا تضحكوا فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها إلا كتبت له بها درجة ومحيت عنه بها خطيئة

“Pada suatu hari, seorang pemuda Quraisy berkunjung kepada Aisyah, ketika ia sedang berada di Mina. Ketika itu para sahabat sedang tertawa terbahak-bahak, maka Aisyah dan bertanya kepada mereka, ‘Mengapa kalian tertawa?’ Mereka menjawab, “Si fulan jatuh menimpa tali kemah hingga lehernya atau matanya hampir lepas.” Aisyah berkata, “Janganlah kalian menertawainya! Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘ Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih kecil dari itu, melainkan akan ditulis baginya satu derajat dan akan dihapus satu kesalahannya.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ ، وَلَا وَصَبٍ ، وَلَا هَمٍّ ، وَلَا حُزْنٍ ، وَلَا أَذًى ، وَلَا غَمٍّ ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”

2. Menyingkirkan duri atau benda yang dapat menimbulkan gangguan dari jalan manusia termasuk cabang keimanan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ ، بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ “

Abu Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah “Iman itu memiliki tujuh puluhan atau enam puluhan cabang. Yang paling utama adalah perkataan Laa illaaha illallah (Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu termasuk bagian dari iman. [HR. Muslim]

Bahkan, Allah bersyukur dan mengampuni orang yang menemukan potongan duri ditengah jalan lalu dia menyingkirkannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بينما رجل يمشي بطريق، وجد غصن شوك فأخذه، فشكر الله فغفر له).

Abu Hurairah berkata : Bahwasanya Rasulullah bersabda : Ada seseorang yang ketika berjalan disebuah jalan dia menemukan potongan duri, lalu diambilnya potongan duri tersebut dan disingkirkan dari jalan. Maka Allah bersyukur atas apa yang perbuatnya tersebut lalu Allah mengampuninya. [HR. Bukhari]

Itulah beberapa nash yang berbicara tentang duri-duri di alam dunia ini. Siapa yang ingin terhindar dari hal yang menyakitkan maka hendaklah dia berhati-hati ketika menemukan duri.

3. Ibarat yang indah tentang hakikat taqwa. Menghindari duri-duri maksiat dan apa-apa yang diharmakan itulah hakikat taqwa.

وَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُبَيًّا عَنِ التَّقْوَى ; فَقَالَ : هَلْ أَخَذْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ : قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهِ ؟ قَالَ : تَشَمَّرْتُ وَحَذِرْتُ ; قَالَ : فَذَاكَ التَّقْوَى

Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada ‘Ubay tentang taqwa, maka dia balik bertanya kepada Umar : “Apakah Anda pernah melewati sebuah jalan yang banyak durinya ?” Umar menjawab : “Iya” Lalu Ubay bertanya lagi : “Apa yang Anda lakukan di jalan itu?” Umar menjawab : “Aku bersegara untuk keluar darinya dan berhati-hati dari terkena durinya.” Ubay berkata : “Itulah taqwa!” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 2]

4. Kelak, di sisi Ash-Shirath ada kait-kait duri seperti duri pohon sa’dan yang akan menyambar seseorang tergantung kadar amalnya. Dalam sebuah hadits yang berisi tentang peristiwa di hari kiamat Rasulullah bersabda :

… وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ مِنْهُمْ الْمُوبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُخَرْدَلُ

“… dan dipasanglah jembatan jahannam.” Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Akulah manusia pertama-tama yang menyeberangi. Dan doa para rasul ketika itu ialah; ‘Allahumma Sallim-sallim (ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah).’ Dalam jembatan itu terdapat sekian banyak besi-besi pengait seperti duri pohon sa’dan. Bukankah kalian pernah melihat pohon sa’dan?“. ‘betul, ya Rasulullah, ‘ jawab mereka. Nabi meneruskan; ‘Besi-besi pengait itu bagaikan duri pohon sa’dan, hanya tidak ada yang tahu besarannya selain Allah. Besi-besi pengait itu menyambar manusia tergantung dengan amalan mereka, ada diantara mereka yang celaka lantaran amalannya, ada diantara mereka yang tercabik kemudian selamat.” [HR. Bukhari]

Pohon Sa'dan

Pohon Sa’dan

5. Para penghuni neraka akan diberikan makanan dari pohon Zaqqum. Sebuah pohon yang tumbuh dineraka, buahnya berduri lagi beracun, tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.

لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ # لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِن جُوعٍ

“Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar” [Al-Ghasyiyah : 6-7]

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan berbagai riwayat tentang pohon tersebut, dengan mengumpulkan semua penjelasan tersebut kita ketahui bahwa pohon tersebut adalah pohon zaqqum yang tumbuh di Neraka, buahnya berduri, semisal dengan pohon yang dikenal oleh orang Hijaz dengan nama Asy-Syibraq, jika sudah mengering disebut Adh-Dharii’ dan pohon tersebut beracun.

الشبرق

الشبرق

الشبرق

الشبرق

6.Kebalikan dari penghuni Neraka yang mereka menikmati hidangan zaqqum yang berduri lagi beracun, para penghuni Surga bebas memilih berbagai buah-buahan yang mereka kehendaki. Seluruh kenikmatan disempurnakan di dalam Surga, bahkan pohon Sidr (bidara) yang dipenuhi duri, Allah jadikan pohon tersebut dipenuhi buah yang dapat dinikmati oleh penghuni Surga.

Pohon Sidr (bidara) adalah sebuah pohon yang dipenuhi duri dan sedikit manfaatnya di dunia, akan tetapi di akhirat Allah menjadikannya sebagai pohon yang tidak berduri dan banyak buahnya. Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقولون : إن الله ينفعنا بالأعراب ومسائلهم أقبل أعرابي يوما فقال : يا رسول الله ، لقد ذكر الله في القرآن شجرة مؤذية وما كنت أرى أن في الجنة شجرة تؤذي صاحبها . فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : ” وما هي ؟ ” قال : السدر ، فإن لها شوكا . فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : ” في سدر مخضود يخضد الله شوكه فيجعل مكان كل شوكة ثمرة ، فإنها تنبت ثمرا تفتق الثمرة معها عن اثنين وسبعين لونا ما منها لون يشبه الآخر ” . ” صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Abu Umamah berkata : Para Shahabat Rasulullah berkata : Sesungguhnya Allah memberikan manfa’at kepada kita dengan sebab orang-orang A’rab (Badui) dan pertanyaan-pertanyaan mereka (kepada Rasulullah). Pernah pada suatu hari datang seorang Arab Badui lalu ia berkata kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an sebuah pohon yang mengganggu, dan aku tidaklah berpendapat bahwa di dalam Surga akan ada sebuah pohon yang akan mengganggu pemiliknya. Maka Rasulullah bertanya kepadanya : “Pohon apakah itu?”. Arab Badui menjawab : Pohon Sidr, sungguh pohon itu memiliki duri. Maka Rasulullah bersabda “(Mereka berada) di antara pohon sidr yang tidak berduri, Allah menghilangkan duri dari pohon tersebut dan menumbuhkan buah pada setiap tempat yang dahulunya ditumbuhi duri, maka pohon itu ditumbuhi buah-buahan yang memiliki lebih dari tujuh puluh dua warna, tidak satupun dari warna-warni tersebut yang menyerupai warna lainnya.”  [Al-Hakim mengatakan “Sanadnya shahih, tapi keduanya (Bukhari-Muslim) tidak mengeluarkannya. Lihat Tafsir Ibn Katsri pada ayat ke 28 dari surah Al-Waqi’ah]

السدر

السدر

Demikian beberapa faidah yang dapat kita ketahui dari sebuah Duri. Semoga Allah menjadikan yang sedikit ini bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya.

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: