Skip to content

Mengapa Enggan Untuk Merapatkan Shaf?

Mei 10, 2013

Hampir setiap kali menunaikan salat berjamaah kita mendengar imam salat mengatakan, “Rapatkan dan luruskan barisan!”; “Luruskan dan rapatkan barisan, karena rapat dan lurusnya barisan merupakan kesempurnaan salat!” atau kata-kata senada yang kurang lebih maknanya sama. Namun, pada kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang tidak mendengar dan tidak mau mematuhi ajakan imam untuk meluruskan dan merapatkan barisan.

Sering kali kita dapati para makmum tidak memedulikan masalah meluruskan barisan, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, telapak kaki membentuk huruf V sehingga mustahil bisa rapat satu sama lain, ataupun kaki-kaki mereka tidak bersentuhan dengan saudaranya yang ada di sampingnya, tidak peduli lagi akan lurus dan rapatnya barisan salat berjamaah. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang apabila ada orang yang merapat, malah semakin menjauh dan marah karena didekati saudaranya sesama umat Islam. Padahal kaum muslimin adalah bersaudara yang diperintah agar merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

MENGAPA TIDAK MAU MERAPAT ?

Apabila kita mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri ataupun pada saudara kita sesama umat Islam, maka kita akan mendapati jawaban yang bermacam-macam. Pada kesempatan kali ini, kami sebutkan beberapa alasan dengan disertai solusi atau jawabannya.

Merapatkan Shaf Dapat Menghilangkan/Mengurangi Kekhusyu’an?!

Sesungguhnya tidak menaati perintah-perintah Allah dan Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– merupakan sebab terhalangnya seseorang dari mendapatkan hidayah, khusyu’, dan tuma’ninah, bukan malah sebaliknya.

Terkadang memang timbul rasa was-was pada waktu pertama kali merapatkan shaf sebagaimana yang diperintahkan, dan hal ini jelas datangnya dari setan, agar kita tidak meluruskan dan merapatkan barisan shaf dalam shalat berjamaah. Hal ini karena belum terbiasa, dan kesulitan penyesuaian dalam setiap awal suatu perbuatan adalah suatu hal yang biasa dan wajar. Hal itu akan hilang dengan sendirinya setelah adanya kebulatan tekad dan pelaksanaan secara istiqamah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti barisannya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. (Shahih, HR. Abu Dawud no. 666)

Hadis ini sangat gamblang menjelaskan kepada kita bahwa umat Islam diperintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah, renggangnya barisan jamaah merupakan celah bagi setan untuk menggoda orang-orang yang sedang salat.

Tidak Mengetahui Wajibnya Merapatkan dan Meluruskan Barisan ketika Salat Berjamaah

Akibat dari ketidaktahuan kaum muslimin akan wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan ketika shalat berjamaah, banyak kita jumpai kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan tidak rapat dan lurusnya barisan dalam salat berjamaah. Di antara kesalahan-kesalahan tersebut, yaitu:

  • banyak jamaah pergi ke masjid dengan membawa sajadah yang lebih lebar dari badannya dan terkesan tidak boleh diinjak jamaah lain karena takut kotor, memperlihatkan sajadahnya yang bagus,
  • ada jamaah yang menghindar dan tidak rela ketika kakinya disentuh/ditempeli kaki jamaah lain di sampingnya, semakin banyak celah di antara jamaah yang tidak rapat sehingga memungkinkan setan masuk di barisan salat,
  • imam salat hanya sebatas memberikan himbauan kepada makmumnya untuk merapatkan barisan shaf salat tanpa merasa perlu memeriksa lagi dan meluruskan shaf yang masih renggang.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan tentang keharusan meluruskan dan merapatkan barisan ketika kaum muslimin menjalankan ibadah shalat berjamaah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rahimahullah, dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap akan salat selalu menghadap kepada kami sebelum beliau bertakbir, lalu beliau bersabda, “Berdirilah kalian rapat-rapat dalam shaf dan luruskanlah shaf-shaf kalian!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini kita mengetahui wajibnya rapat dan lurus dalam barisan salat berjamaah, karena asal dari suatu perintah adalah menunjukkan keharusan kecuali apabila ada dalil lain yang memalingkannya. Hadis ini juga memberikan pengajaran bagi para imam agar memperhatikan dan memastikan bahwa jamaah sudah rapat dan lurus sebelum takbir untuk memulai salat berjamaah.

Setelah membaca hadis tersebut, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk mengatakan saya tidak tahu dasar/dalil wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

Kebencian terhadap Sesama

Sesungguhnya Islam telah menghimbau kepada umatnya untuk senantiasa menjaga ukhuwah ini, karena pada hakikatnya kaum mukminin itu bersaudara. Mereka bagaikan susunan bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu sama lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10)

Dari Abu Qasim al-Jadali berkata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap­kan wajahnya kepada manusia dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian (3X)! Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Nu’man berkata, “Maka aku melihat seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, mata kaki dengan mata kaki temannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 662)

Perhatikan hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintah­­kan kita untuk meluruskan barisan dalam salat berjamaah yang salah satu faedahnya adalah agar hati-hati kaum muslimin tidak berselisih.

Dengannya lah –Insya Allah– akan terwujud kecintaan di antara kaum muslimin. Inilah salah satu jalan untuk meraih persatuan dan kesatuan umat Islam.

Bagaimana Cara Meluruskan dan Merapatkan Barisan Salat?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menerangkan cara meluruskan dan merapat­kan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ia berkata,

“Dahulu salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau melakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal (hewan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai) yang liar.” (HR. al-Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut dan dalil-dalil sahih yang lainnya, dapat dipahami bahwa cara meluruskan dan merapatkan shaf di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Merapatkan bahu dengan bahu, kemudian menempelkan telapak kaki dengan telapak kaki (bagian tumit), mata kaki dengan mata kaki, dan lutut dengan lutut saudaranya yang ada di sampingnya.
  2. Menjaga agar bahu, leher, dan dada tetap lurus dengan sampingnya, yaitu tidak lebih maju atau lebih mundur dari yang lainnya.
  3. Tidak membuat shaf sendirian selama hal itu memungkinkan, apabila tidak memungkin­kan maka tidak mengapa berjamaah dengan membuat shaf sendiri atau berdiri di samping imam.

Semoga dengan risalah yang singkat ini menguatkan semangat kita dalam mengamalkan kewajiban-kewajiban, termasuk merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah. Dan semoga umat Islam bisa bersatu secara lahiriah maupun batiniah dengan berpegang erat serta berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis yang sahih. Dan akhirnya persatuan umat Islam kembali bermula dan semakin kokoh ke depannya. Aamiin.

Oleh : Abu Hisyam Liadi

Sumber : Bulettin Al-Iman Judul Asli : Mengapa tidak Mau Merapat?

From → Belajar Islam

2 Komentar
  1. Ahsan permalink

    Yang sering saya lihat justru banyak jamaah yang memaksakan menyentuhkan jari kelingking kaki ke jari kelingking kaki sebelahnya, tetapi bahunya tidak nempel. Kok malah yg dipaksain nempelin jari kaki ya? Nyalahin hadits dong kalo gitu …

    Atau, banyak yang pasang “kuda-kuda” melebarkan kaki, maksudnya supaya kakinya nempel ke sebelah … Tapi ya malah bahu-nya nggak pada nempel dong … Nggak ikut hadits namanya …

    Kan hadits-nya bilang bahu ketemu bahu …

  2. izin disebarluaskan ustadz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: