Skip to content

Selama Ikhlasmu, Pasti Ada Dampaknya

Mei 16, 2013

[Selama Ikhlasmu, Pasti Ada Dampaknya -Bagian Kedua- ]

Pernah dengar nama Syaikh Abdul Ghaniy Al-Juma’ily Al-Maqdisy? Beliau adalah seorang ulama ahli hadits bermadzhab Hanbaly. Salah satu karya termasyhur beliau adalah Umdatul Ahkam, sebuah kitab kumpulan hadits ahkam yang dijamak dari dua kitab Shahih -Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim-. Tak terhitung sudah berapa juta dari manusia mengambil manfaat dari kitab tersebut; dan masih…dan masih dicetak, disebarkan dan dipelajari oleh umat Islam.

Diriwayatkan dalam kitab Thabaqat Al-Hanabilah, bahwa beliau -rahimahullah- kala itu dipenjara di Bait Al-Maqdis, Palestina. Suatu malam, beliau menunaikan Qiyamul Lail dengan setulus-tulus tunaian pada Allah Ta’ala. Beliau pun bangkit untuk shalat. Bersamanya di penjara, para penjarawan dari Yahudi dan Nashrani. Beliau tak mampu membendung air mata dalam Qiyam-nya. Sepanjang malam, pipi beliau menjadi lukisan anak-anak sungai air mata. Subuh pun tiba. Mereka, para penjarawan selainnya semalaman menyaksikan hamba yang tulus ini. Mereka pun mendatangi penjaga penjara.

Mereka berteriak, “Bebaskan kami! Tolong bebaskan kami! Sungguh kini kami memeluk Islam. Kami telah memeluk agama pria ini (yakni: agama Syaikh Abdul Ghaniy: Islam!).

Penjaga penjara terheran melihat mereka, “Mengapa? Apa ia menyeru kalian pada Islam?”

Mereka berkata, “Tidak. Ia tidak menyeru kami padanya. Namun, kami telah bermalam bersamanya. Dan kami pun teringat pada Hari Kiamat!”

Saudaraku, adakalanya kau melakukan sesuatu begitu ikhlasnya, dan dampaknya datang kemudian begitu indahnya. Kau mengharap ridha-Nya, dan Dia pun membalasmu dengan ridha-Nya yang agung. Kau tidak mengharap apa dari makhluk dan bagaimana, dan Dia pun memberikan lebih banyak tanpa pernah kau membayangkan sebelumnya.

Mari ingat kembali apa yang telah kita perbuat. Terkadang kita membuat suatu perbuatan yang dibuat-buat. Sedemikian rupa ia terbuat demi pencaharian puji atau lirikan. Namun, dampaknya tidaklah ada melainkan cepatnya ia terlupakan. Lihat mengapa kini banyak orang berilmu namun tak mengilmui. Banyak mengetahui, namun sedikitnya meresapi. Banyak gelar dan rekomendasi, namun ujung-ujungnya adalah materi. Dan marilah kita berlindung pada Allah dari hal-hal semacam ini.

Ingatlah ketika itu, kau berbuat baik; sebuah amalan kecil namun tulus demi Allah. Dan setelah melakukan, rasakan damai dan tentram di dada membuncah.

Ingatlah ketika itu, kau berbuat baik; sebuah amalan besar namun bercacat niat. Dan setelah melakukan, yang dirasa hanya kenihilan dan kekosongan yang pekat.

Aku teringat sebuah kalimat. Kalimat yang kudapat pada masa remaja dahulu, dari kitab Tazkiyyat An-Nufuus, sebuah kitab saripati dari kalam ketiga ulama Rabbany, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab Al-Hanbaly, dan Abu Hamid Al-Ghazaly. Kalimat ini dinisbatkan pada kaum salaf, yang telah wafat lebih dari 1000 tahun silam. Namun, kalimat ini selalu hadir terdengung dan di benak menggaung:

رب عمل صغير تعظمه النية ورب عمل عظيم تصغره النية

“Boleh jadi amalan kecil bernilai besar karena niat. Boleh jadi amalan besar bernilai kecil karena niat.”

Dan tambahan dariku: “Boleh jadi belum beramal pun, terganjari karena niat. Boleh jadi sudah beramal pun, ternodai karena niat.”

Saudaraku, jika engkau memang bukanlah seorang ulama, dan bukanlah engkau seorang yang ahli dalam ilmu agama, namun tetaplah kau menjadi orang yang berguna. Di dunia nyata, jadilah sebagai fulan atau fulanah yang bermanfaat bagi dirinya dan selainnya. Di dunia maya, tetaplah menjadi seperti dirimu di dunia nyata.

Jika hidupmu tiada manfaat bagi selainmu, maka ingatlah: binatang pun seringkali bermanfaat bagi manusia. Akankah manusia lebih rendah derajatnya dibanding binatang?!

Dan jangan putus asa jika kau sudah mengikhlaskan suatu amalan atau pemberian. Tidak dilihat manusia, tidak apa-apa. Tidak dipuji, tidak apa-apa. Bahkan dihina dan dimaki manusia pun, tidak apa-apa. Tidak apa-apa selama kau telah berhasil meraih ridha-Nya.

Dahulu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin –rahimahullah-, kala masih berumur 25 atau sekiranya, beliau sudah mulai mengajar ilmu agama pada manusia. Kala itu, muridnya segelintir. Saat itu, masa-masanya masih getir. Hingga pernah, suatu hari beliau mendatangi majelis tempat mengajar rutinnya tidak dihadiri siapapun. Yang terlihat hanya sebuah buku milik salah satu muridnya. Sepertinya murid itu sedang keluar sebentar untuk menunggu teman-temannya. Lalu beliau pun masuk ruangan dan terduduk di depan. Beliau sempatkan muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Datanglah si murid pemilik buku. Rupanya ia sangat malu sendirian datang di ruangan itu. Akhirnya, ia pun mengambil buku dan beranjak pergi meninggalkan Syaikh sendiri. Meninggalkan sang guru sendiri, yang sebenarnya muridlah yang membutuhkan guru, bukan sebaliknya. Namun, beliau tetap sabar dan tak berhenti mengajar. Manusia punya rasa kecewa, namun sabar adalah penawar rasa.

Dan, Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah Sang Rahman. Jika Dia memberi, tak satupun dari makhluk mampu mencegah pemberian-Nya. Jika Dia mencegah, tak satupun dari makhluk mampu memberi.

Allah memberkati beliau. Zaman menuju zaman, murid beliau justru semakin banyak. Dari yang berawal dari segelintir, menjadi berpuluh-puluh. Kemudian, beratus-ratus. Lalu, beribu-ribu. Dan berapa juta manusia kini telah mengambil manfaat dari ilmu yang beliau tebarkan pada umat?! Subhanallah!

Maka, janganlah berlarut sedih ketika pemberianmu seolah tak berbalas, upayamu seolah tak berbekas, atau antara upaya dan harapan seolah takkan selaras.
Dan ini perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin -rahimahullah- yang saya baca di kitab Syarh Al-Arba’iin An-Nawawiyyah:

فلا تحزن أيها الداعي إلى الله إذا لم تقبل دعوتك، فإذا أدّيت ما يجب عليك فقد برئت الذمة والحساب على الله تعالى،
ولكن اعلم أنك إذا قلت حقاً تريد به وجه الله فلابد أن يؤثر، حتى لو رد أمامك فلابد أن يؤثر، والله الموفق

“Maka, janganlah engkau sedih wahai dai menuju jalan Allah, jika dakwahmu belum diterima! Jika engkau telah menunaikan apa yang wajib bagimu, maka lepaslah bebanmu. Hitungan kemudian adalah urusan Allah Ta’ala.

Tetapi KETAHUILAH, bahwasanya engkau, jika engkau berucap suatu kebenaran yang kau inginkan dengannya wajah Allah, maka PASTI akan membekas [memberi dampak, MESKIPUN orang di depanmu secara nyata menentangmu. Ia pasti akan membekas. Dan Allah lah yang Memberi Taufiq!” ]

[Syarh Al-Arba’iin An-Nawawiyyah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 153]

Dan itu bisa kau terapkan di status-statusmu, ataupun blogmu, untuk dunia maya. Tidak mesti orang yang menerima kalimatmu atau terbekas di hatinya akannya, mengatakan dan mengakuinya. Biarlah Allah yang mencatatnya. Tidak harus kau ketahui siapa-siapa; karena tugas kita perihal kebenaran: menyampaikannya.

Keberkahan diawali dengan ikhlasnya niatan; kemudian dengan sahihnya amalan. Jika ikhlas dan sahihnya sudah tertunaikan, maka pada Allah lah segalanya dipercayakan. Mungkin kini tak terlihat dampaknya, namun bisa jadi pahalamu mengalir setelah berakhirnya hidupmu dengan kematian.

Wallahu al-muwaffiq!

Sumber : Hasan Al-Jaizy

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: