Skip to content

Risalah Kecil Bagi Penyeru Bid’ah Hasanah

Juni 3, 2013

Ini hanyalah risalah kecil bagi penyeru bid’ah hasanah. Da’i adalah penyeru. Di antara penyeru, ada yang terang-terangan menyeru dengan lisan perkataannya. Yakni, yang jelas-jelas mengatakan bahwa bid’ah hasanah dalam ibadah itu ada dan tidak semua bid’ah adalah dhalalah. Di antara penyeru, ada yang tidak mau terang-terangan menyeru dengan lisan perkataannya. Yakni, yang tidak mau mengakui makna zahir ‘wa kulla bid’atin dhalalah’ dan senang berpartisipasi dalam melawan -atau minimal membalik-balikkan- seruan para penyeru bahwa semua bid’ah dalam syariah adalah dhalalah.

Jika memang keyakinan kalian akan bagusnya sebagian bid’ah dalam syariah karena taqlid-nya kalian pada orang di atas kalian atau orang-orang di sekitar kalian, maka semoga Allah memaafkan kalian. Jika itu karena kesalahfahaman kalian semata, maka semoga Allah memaafkan kalian. Jika itu karena memang kalian tidak ridha disebabkan orang tua kalian -mau tidak mau kalian akui- adalah pelaku bid’ah, atau guru-guru kalian, atau bahkan kalian sendiri, sehingga kalimat ‘wa kulla bid’atin dhalalah’ menyakiti hati kalian dan menikam tradisi kalian, maka semoga Allah memaafkan kalian dan memberi hidayah pada kesemuanya.

Dan jika ternyata kami lah yang bersalah, yang meyakini kesesuaian hadits ‘kullu bid’atin dhalalah’ (setiap bid’ah adalah sesat), maka semoga Allah memaafkan kami. Kami hanya memahami hadits sesuai kapasitas kami, dengan bantuan dari lahiriyyah lafal hadits, perkataan-perkataan shahabat dan para ahli ilmu dari kaum muslimin yang kami cintai; sebagaimana kalian pun mencintai mereka semua.

Hadits yang di dalamnya ada kalimat وكل بدعة ضلالة adalah hadits shahih yang semoganya kita semua bersekapat akannya. Ia diriwayatkan oleh At-Tirmidzy, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimy, disahihkan oleh sekelompok besar dari ulama Ahli Hadits. Sebagian menghasankan derajatnya. Namun, tidak ada yang men-tha’n (menikam) keabsahan hadits ini. Maka, hadits ini adalah hujjah shahihah.

Sekarang, bagaimana kita memahami potongan kalimat berikut: وكل بدعة ضلالة ? Apakah kita langsung menuju ceramahnya Habib Al-Jufry -hadaahullaah-? Atau segera berkonsultasi ke Majelis Rasulullah? Atau langsung cari di Google.com dan menyimpan segala dokumen yang menafsirkan hadits tersebut dengan tafsiran pengkhususan terhadap umum dengan tujuan berikut:

–> Agar bid’ah hasanah terlegalisir dalam syariat.
–> Agar orang tua, teman, lingkungan dan golongan kita yang berlaku bid’ah tidak dikatakan sesat; karena toh ternyata bid’ah hasanah itu ada.
–> Agar bisa membantah kalimat وكل بدعة ضلالة suatu saat jika ada kesempatan berdebat.
–> Agar segala ritual tradisional maupun modern yang dihakimi sebagai bid’ah dalam beribadah mulus dijalani.

dan tujuan lainnya.

Allah Maha Tahu tujuan dan hati manusia. Semuanya. Sedetail-detailnya. Semoga Allah memaafkan kelalaian kita, baik disengaja maupun tidak.

Langkah pertama, jika memang pernah mengklaim diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, setidaknya berusahalah mencocokkan dengan ayat, atau hadits lain. Dan ini membutuhkan ilmu yang cukup dan kesempatan yang luas. Jika belum punya, carilah dokumen yang menafsirkan kalimat tersebut dengan ayat, atau hadits lain. Bukan justru mencari-cari celah agar bagaimana tujuan-tujuan yang terpampang di atas tadi terlakukan. Mau cari kebenaran atau memang pembenaran saja?

Jika kesulitan, bertahaplah kemudian kepada pencarian tafsiran atau perkataan kaum generasi salaf, yaitu para sahabat Nabi. Atau para tabi’in. Jika para sahabat Nabi diriwayatkan mereka berbicara A, maka moga-moga hawa nafsu dan ketakutan kita dari ditinggalkan masyarakat kala ceramah TIDAK menjadikan kita memilih B atau C. Moga-moga cari perhatiaannya kita akan ormas tertentu atau rakyat tidak menjadikan kita memilih C atau mencari-cari celah agar bisa jadi C.

Cobalah lihat perkataan-perka­taan sahabat terlebih dahulu. Mereka ulama, bukan? Jika tega mengatakan, ‘Emang loe siape, Imam Syafi’i kok diseberangi perkataannya? Loe ulama mane?’, maka apakah tega sendirinya menyeberangi perkataan Rasul, atau perkataan sahabat Rasul? Coba direnungi lebih-lebih dengan kepahitan hati. Coba renungi kembali perkataan para sahabat:

Seseorang meminta wasiat dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-. Maka inilah wasiat beliau:

عليك بالاستقامة واتباع الأثر, وإياك والتبدع

“Wajib atas kamu beristiqamah (konsisten) dan ber-ittiba (mengikuti) al-atsar. Dan JANGANLAH kamu berbuat bid’ah.” [Riwayat Ad-Darimy]

Di dalam riwayat lain, beliau berkata:

اتبع ولا تبتدع

“Ber-ittiba lah, dan janganlah ber-ibtida’ (berbuat bid’ah).”

Dan beliau tidak pernah mengkhususkan adanya bid’ah hasanah.

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu anh- berkata:

الاقتصاد في السنة خير من الاجتهاد في البدعة

“Minimalis dalam bersunnah, lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.” [H.R. Hakim, Al-Marwazy, Ad-Darimy, Ath-Thabraany]

Ucapan ‘khair’ yang bermakna ‘lebih baik’, bukan berarti minimalis dalam bersunnah itu baik, dan ijtihad dalam bid’ah itu juga baik. Tidak begitu. Justru siratan dari kalimat beliau menunjukkan rendahnya bid’ah. Ijtihad adalah perkara mulia. Namun, ketika disandarkan pada bid’ah, maka hilanglah kemuliaan itu. Jikalau ada bid’ah hasanah, maka kenapa tidak ada sahabat yang setidaknya mengisyaratkan bahwa sebagian ijtihad dalam bid’ah adalah mulia? Kenapa para sahabat menggunakan lafadz umum dalam ‘bid’ah’?

Ibnu Umar -radhiyallahu anhuma- berkata:

كل بدعة ضلالة وإن راّها الناس حسنة

“Setiap bid’ah itu sesat, meskipun manusia memandangnya baik (hasanah).” [Riwayat Al-Marwazy, Ibnu Baththah, dan Al-Lalaka’i]

Ungkapan beliau ibarat sambaran petir bagi sebagian orang yang menghasankan bid’ah. Sahabat saja berkata begitu. Namun, bisa jadi ungkapan beliau biasa-biasa saja dan tetap teguh pendengarnya dengan bid’ah hasanah nya. Terlebih jika sudah punya ilmu dan mempelajari kitab-kitab. Bisa saja keluar puluhan dalih untuk membelokkan makna atau bahkan melawannya.

Mu’adz bin Jabal -radhiyallahu anh- berkata:

إياكم وما اتبدع, فإن ما ابتدع ضلالة

“Jauhilah oleh kalian apa yang dilakukan sebagai bid’ah. Sesungguhnya apa yang dilakukan sebagai bid’ah adalah dhalalah (sesat).” [Riwayat Al-Hakim]

Lagi-lagi, seorang sahabat Nabi menggunakan shighat lafadz umum, yang berarti mencakup keumuman bid’ah, tanpa pengecualian atau pengkhususan. Semua.

Apakah luput dari Rasulullah dan para sahabat perkara yang namanya ‘Bid’ah Hasanah’ sehingga terlewati oleh mereka perbincangan akannya? Bukankah tugas Rasul menyampaikan perkara-perkara asasi religius tanpa boleh satu pun disembunyikan? Bukankah perkara bid’ah (innovation in Islam) adalah perkara yang teramat penting?

Ya, Rasulullah telah mewartakan akan hal itu.
Ya, para sahabat Rasulullah telah mewartakan akan hal itu.
Kesimpulan dari warta-warta mereka: “Setiap bid’ah adalah sesat.”

Sepertinya perkataan Rasul dan para sahabat tidak pernah cukup. Ya, ucapan mereka yang mulia takkan pernah cukup bagi yang cinta bid’ah (meskipun klaimnya cinta sunnah/Rasul). Sebagaimana ibadah sunnah dalam Islam bagi mereka tidak cukup sehingga layak atau bahkan harus melakukan inovasi dalam beribadah. Sehingga lahirlah tarekat baru, ritual baru, dengan mengatasnamakan itu adalah ibadah dan jikalau bid’ah, itu adalah bid’ah hasanah.

Maka, benturkanlah dengan perkataan Imam Syafi’i, bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, Sayyi’ah (buruk) dan Hasanah (baik).

Maka, benturkanlah dengan perkataan Al-Izz bin Abd As-Salam, atau Abdurrahman As-Suyuuthy, atau Al-Habib Al-Jufry, atau Al-Habib Al-Mundzir, atau Gus Dur sekalian, bahwa bid’ah terbagi menjadi sekian. Bolehlah adanya bid’ah hasanah.

Lalu bertanya begini:

“Anda berani melawan ‘ijtihad’ Syafi’i (Naashir As-Sunnah!), Al-Izz (Sulthaan Al-Ulamaa’), As-Suyuthy (ensiklopedi ilmu) dan ulama kaum muslimin yang mengatakan adanya bid’ah hasanah???? Apakah mereka semua antum salahkan? Apakah mereka semua antum tuduh bersalah dan melawan hadits Nabi???”

Balikkan:

“Anda sendiri lebih berani dari kami. Kami ikut dzahir hadits Nabi, dan perkataan orang-orang termulia di masa terawal Islam. Kalian ikut yang beratus tahun setelahnya. Bahkan semakin dekat kemari, makin kalian ikuti. Terutama yang semakin dekat dengan golongan atau kepuasan hati kalian.”

Tambahan:

“Anda sendiri, berani melawan hadits Nabi? Anda sendiri, berani melawan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Mu’adz bin Jabal? Kenapa tidak sekalian Anda katakan pada mereka berempat -radhiyallahu anhum-, “Kenapa kalian -wahai para sahabat- tidak mengabarkan pada kami bahwa bid’ah hasanah dalam Islam itu ada? Kenapa kalian menggeneralisir bahwa seluruh bid’ah adalah dhalalah? Kenapa? Kenapa?”

Yang untuk terakhir, bolehlah saya katakan:

“Kenapa sekarang umat Islam berpecah-pecah?”

Risalah kecil ini untuk saudara-saudaraku yang mengambil pendapat akan hasan-nya sebagian bid’ah dalam syariah. Semoga Allah merahmati semua dari kalian dan kami. Sesungguhnya kalian dan kami banyak persamaannya, di samping perbedaannya. Perbedaan antar manusia adalah wajar. Jika itu perbedaan tabiat dan ciptaan murni, maka itu kewajaran. Jika itu perbedaan prinsip dan manhaj, maka lagi-lagi kita ingin bertanya:

“Kenapa sekarang umat Islam berpecah-pecah?”

Semoga risalah ini bermanfaat bagi pembacanya. Semoga Allah rizkikan keikhlasan bagi penulisnya, pembacanya, penyimpannya dan penyebarnya. Simpanlah agar semoga ada manfaatnya suatu kala. Sebarkanlah agar semoga semua upaya ada berkahnya.

Hasan el-Jaizy

From → Belajar Islam

One Comment
  1. terima kasih atas infonya, dan sedikit menambah ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: