Skip to content

Fatawa Seputar Puasa Qadha [KonsultasiSyariah.Com]

Juni 24, 2013

Cara Niat Puasa Qadha

Pertanyaan: Bagaimana cara melakukan niat puasa qadha? [Dari: Nur]

Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du. Niat puasa qadha, sama halnya dengan niat puasa wajib lainnya, seperti puasa Ramadhan. Keterangan selengkapnya bisa Anda simak di: http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-ramadhan-yang-benar/

Karena itu, pada artikel ini, hanya mengulang dan menegaskan bahwa:

1. Tidak ada lafal khusus untuk niat puasa qadha

2. Tidak perlu melafalkan niat ketika hendak melakukan puasa qadha. Karena niat tempatnya di hati, dan bukan di lisan.

3. Niat puasa qadha harus dilakukan sebelum masuk waktu subuh. Karena puasa qadha termasuk puasa wajib, yang harus dilakukan secara penuh, sehingga niatnya harus sudah dihadirkan sebelum subuh.

4. Inti niat adalah keinginan untuk melakukan puasa. Ketika Anda sadar bahwa besok pagi Anda akan mengqadha utang puasa Anda, maka Anda sudah dianggap berniat. Berbeda ketika Anda berpuasa di pagi hari, sementara dalam hati Anda belum menentukan bahwa ini adalah qadha, maka Anda belum dianggap puasa.

Sebegai ilustrasi:

– Si Ahmad terbiasa puasa senin kamis. Dia memiliki utang puasa Ramadhan 3 hari karena sakit. Pada malam kamis, si Ahmad mulai berencana melaksanakan kebiasaan puasa sunahnya. Ketika itu, si Ahmad tidak berkeinginan untuk menqadha puasaya. Dalam kondisi ini, si Ahmad belum dianggap berniat untuk melakukan puasa qadha. Sehingga puasanya pada hari kamis itu, dinilai sebagai puasa sunah dan bukan puasa qadha. [www.KonsultasiSyariah.com]

Merubah Niat Puasa Sunnah Menjadi Puas Qadha

Pertanyaan: Ada orang yang terbiasa melakukan puasa Senin dan Kamis. Ketika sedang melakukan puasa hari Senin, dia teringat belum melakukan qadha Ramadhan. Bolehkah dia mengubah niat puasa sunah Senin tersebut menjadi puasa qadha? [Dari: Abdullah]

Jawaban: Pertanyaan serupa pernah disampaikan ke lembaga fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih. Dalam keterangannya dinyatakan

فالأيام التي صمتها لا تجزئك عن صيام قضاء رمضان؛ لأن صيام القضاء يشترط فيه تعيينه بالنية المبيتة قبل طلوع الفجر الصادق، ولا يجزئك تغيير النية

Puasa sunah yang Anda lakukan, tidak bisa dinilai sebagai puasa qadha Ramadhan. Karena dalam puasa qadha, disyaratkan menentukan niat di malam hari sebelum terbit fajar (sebelum subuh). Dan tidak sah mengubah niat. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 78865)

Orang yang melakukan puasa Senin, belum berniat puasa qadha sebelum subuh. Sehingga, ketika dia mengubah niatnya, berarti dia melakukan niat puasa qadha setelah subuh, sehingga puasa qadhanya tidak dinilai. [KonsultasSyariah.com]

Membatalkan Puasa Qadha

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, bolehkah membatalkan puasa qadha? [Dari: Nuke]

Jawaban: Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, Pertanyaan yang sama pernah disampaikan ke lembaga fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih. Jawaban yang diberikan:

Jika seorang muslim telah melakukan puasa wajib, seperti qadha Ramadhan, puasa nadzar, atau puasa kaffarah, yang bisa disimpulkan bahwa dia tidak boleh membatalkan puasanya tanpa udzur/alasan yang syar’i. Jika dia membatalkan puasa qadhanya, maka dia berdosa karena memutus ibadah wajib yang dia lakukan dan mempermainkannya. Hal ini juga dikuatkan denagn sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Hani’ radhiallahu ‘anha, yang ketika itu dia sedang puasa kemudian membatalkannya. Beliau bersabda:

أكنت تقضين شيئاً

“Apakah kamu akan mengqadhanya?”

Ummu Hani menjawab: ‘Tidak’

Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

فلا يضرك إن كان تطوعاً

“Tidak masalah, jika itu puasa sunah.” (HR. Said bin Manshur dalam sunannya)

Keterangna Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak masalah, jika itu puasa sunah.”

Menunjukkan bahwa jika itu puasa wajib, kemudian dibatalkan tanpa udzur maka itu akan menjadi masalah baginya, yang artinya itu berdosa.

Adapun udzur yang membolehkan seseorang membatalkan puasa qadhanya sama denagn udzur yang membolehkan untuk membatalkan puasa Ramadhan, di antaranya:

  1. Sakit keras, yang bisa bertambah parah jika digunakan untuk puasa atau tertunda penyembuhannya.
  2. Safar yang membolehkan seseorang mengqashar shalatnya.
  3. Hamil atau menyusui.

[KonsultasiSyariah.com]

Hukum Puasa Qadha Pada Hari Jum’at

Pertanyaan: Saya pernah mendengar, kita dilarang melakukan puasa di hari jumat saja. Apakah larangan ini berlaku untuk puasa qadha? Artinya, jika saya mengqadha utang puasa ramadhan di hari jumat saja, apakah dibolehkan? [Abdullah, Krajan]

Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Baz, beliau menjelaskan:

Ya, boleh berpuasa pada hari jumat, baik puasa sunah maupun qadha, tidak masalah. Hanya saja, tidak boleh mengkhususkan hari jumat untuk puasa sunah. Namun jika dia berpuasa sehari sebelum atau sehari setelahnya, tidak masalah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يصومن أحد يوم الجمعة إلا أن يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده

“Janganlah kalian berpuasa pada hari jumat, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Bukhari)

Selanjutnya beliau menegaskan,

المقصود المنهي عنه هو أن يصومه وحده تطوعاً، فرداً هذا هو المنهي عنه.

“Maksud dari larangan itu adalah berpuasa sunah pada hari jumat saja, itulah yang dilarang.”

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/13464

Hal yang sama jjuga difatwakan oleh lembaga fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Dinyatakan;

Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام؛ إلاّ أن يكون في صوم يصومه أحدكم

“Janganlah kalian mengkhususkan malam jumat untuk tahajud, sementara malam yang lain tidak. Dan jangan mengkhususkan hari jumat untuk berpuasa tanpa hari yang lain. Kecuali jika puasa hari jumat itu bagian rangkaian puasa kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi dalil, makruhnya mengkhususkan hari jumat untuk puasa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengecualian, itu boleh jika bertepatan dengan rangkaian puasa seseorang.

Oleh karena itu, kami nyatakan:

Puasa di hari jumat saja hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena itu, jika anda mampu untuk melakukan puasa qadha sehari sebelum atau sesudah hari jumat, maka itu lebih baik, sehingga tidak melanggar yang makruh. Tapi jika anda tidak mampu maka anda boleh melakukan puasa pada hari jumat untuk qadha, insyaaAllah tidak masalah.

Sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=15115 [KonsultasiSyariah.com]

Hukum Qadha Puasa di Hari Jum’at

Pertanyaan:

Apa alasannya mengkhususkan puasa di hari Jumat itu dilarang? Bukankah puasa qadha bisa dilakukan kapan saja?

Jawaban:

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,

لاَ تَخْتَصُّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ وَلاَ لَيْلَبُهَا بِقِيَامِ. (متفق عليه)

 “Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa dan malam harinya untuk bangun.” (HR. Muslim).

Hikmah larangan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa adalah, bahwa hari Jumat merupakan hari raya mingguan, dan merupakan salah satu dari tiga hari raya yang disyariatkan; karena Islam mempunyai tiga hari raya, yaitu hari raya Idul Fithri, Idul Adha dan hari Jumat, maka dari itu, Allah melarang untuk mengkhususkan puasa di dalamnya karena hari jumat adalah hari yang di dalamnya laki-laki diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, menyibukkan diri dalam doa dan dzikir. Hal itu sama dengan hari Arafah yang yang tidak disyariatkan bagi orang yang sedang melaksanakan haji untuk berpuasa; karena dia sibuk dengan doa dan dzikir. Diketahui bersama bahwa ibadah yang tidak mungkin diakhirkan pelaksanaannya, harus didahulukan daripada sesuatu yang mungkin diakhirkan pelaksanaannya.

Jika ada yang berkata, “Jika alasannya seperti itu, bahwa hari Jumat adalah hari raya mingguan, berarti puasa di dalamnya diharamkan secara mutlak seperti pengharaman pada dua hari raya lainnya, bukan hanya sekadar mengkhususkannya saja yang diharamkan?”

Kami jawab, hari Jumat berbeda dengan dua hari raya lainnya; karena hari Jumat terjadi secara berulang-ulang setiap bulan empat kali. Maka dari itu, pelarangan di dalamnya tidak sampai pada derajat haram. Kemudian, ada makna lain dalam dua hari raya itu yang tidak ada di hari Jumat.

Adapun jika seseorang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, berarti tujuan puasa itu bukan mengkhususkan hari jumat untuk berpausa, karena dia telah berpuasa sehari sebelumnya yaitu hari kamis, atau akan berpuasa sehari sesudahnya, yaitu hari sabtu.

Sedangkan pertanyaan penanya, “Apakah itu khusus untuk puasa sunnah saja atau mencakup puasa qadha?”

Bila dilihat dari zhahir ayat secara umum, dimakruhkan bagi kita mengkhususkannya berpuasa baik puasa sunnah maupun fardhu, kecuali bagi orang yang sibuk dan tidak punya hari libur kecuali hari Jumat dan tidak ada kesempatan baginya untuk meng-qadha’ puasanya kecuali pada hari Jumat itu, maka dalam kondisi semacam ini, tidak dimakruhkan baginya mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa, karena dia perlu melakukannya.

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007 [ www.KonsultasiSyariah.com]

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: