Skip to content

Buta Tentang Islam, Bagaimana Mengobatinya ?

September 13, 2013

Buta Tentang Islam, Bagaimana Mengobatinya ?

Islam Agama Ilmu

Islam adalah agama ilmu dan pengajaran, agama yang nyata dan jelas. Setiap muslim memiliki ilmu yang pasti dan benar yang tidak dimiliki oleh pakar-pakar dan budayawan-budayawan non-muslim. Dengan ilmu tersebut seorang muslim mengetahui bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dia juga mengetahui; Bagaimana awal mula penciptaan manusia? Untuk apa diciptakan? Dan ke mana akan kembali?. Seorang muslim juga beriman (percaya dan membenarkan) akan adanya kebangkitan setelah kematian, adanya surga dan neraka. Ini adalah sebagian ilmu yaqinie (pasti kebenarannya) yang tidak dimiliki oleh orang selain muslim.

Oleh karenanya, bukan sesuatu keanehan ayat pertama dari Al-Quran yang diturunkan berkaitan dengan perintahkan untuk membaca, di mana ia merupakan alat untuk mendapatkan ilmu:

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (Al-’Alaq: 1)

Dan juga bukan suatu yang mengherankan jika Allah Ta’ala mengokohkan manusia dengan mengajarinya tentang Al-Qur’an, sebelum dikuatkan penciptaan dan pengadaannya:

Artinya: (Tuhan) yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia. (Ar-Rahman: 1-3)

Dengan membaca nash-nash (baik ayat al-qur’an maupun hadist) yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan dorongan untuk memperolehnya, seorang muslim akan sampai kepada arti pentingnya ilmu, bahwa ilmu yang sangat perlu untuk di cari adalah ilmu tentang Allah, ayat-ayat, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Dia merupakan santapan bagi jiwa, hal yang dapat menggembirakan hati, dan sebab yang mengantarkan kepada keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nilai Sebuah Ilmu

Manakala ilmu menjadi landasan maka ukuran-ukuran pun tepat dan timbangan-timbangan pun lurus. Ilmu (ilmu agama) merupakan barometer dan pondasi di mana ilmu-ilmu yang lain dibangun di atasnya dari tempat keluarnya. Allah Ta’ala berfirman:

Artinya: Katakan, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar: 9)

Dalam ayat lain Alloh Ta’ala juga berfirman:

Artinya: Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS: Al-Mujaadalah: 11)

Nabi Shallallahu alaihi was sallam melalui hadistnya bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi” dalam sabdanya yang lain beliau juga bersabda: “Keutamaan orang berilmu dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan dengan bintang-bintang”, juga sabda beliau yang lain: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”

Sebuah Ironi

Di sini saya tidak bermaksud mengecilkan arti pentingnya ilmu-ilmu dunia sama sekali. Ia tetap mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kaum muslim. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Seperti halnya keterbelakangan kaum muslimin dalam ilmu-ilmu ini, mempunyai andil bagi lemahnya kaum muslimin. Ini merupakan perkara yang sudah di ketahui oleh umum. Akan tetapi saya mengkritik orang yang menjadikan ilmu dunia sebagai pondasi bagi kemajuan dan ukuran keutamaan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, serta lebih mengedepankannya dari ilmu-ilmu syariah yang beraneka-ragam.

Mengapa kita tidak saling bertanya, apa yang menyebabkan kaum muslimin buta terhadap urusan-urusan agama mereka? Dan ketidaktahuan mereka terhadap kaidah-kaidah agama Islam yang paling sederhana sekalipun? Ini merupakan suatu keadaan aneh yang perlu segera dihentikan, serta disembuhkan dari pengaruhnya yang buruk.

Merupakan suatu hal yang menyakitkan, pada hari ini kita mendapati di kalangan umat Islam, orang yang mampu menulis dan berbicara tentang segala sesuatu secara mendalam serta bebas, dalam masalah ekonomi, politik, sastra, dan kebudayaan. Akan tetapi ia tidak mampu untuk menjabarkan (bukan sekedar hafal) pengertian Islam dan rukun-rukunnya, rukun iman dan dasar-dasarnya, tauhid dan macam-macamnya, pembatal-pembatal keislaman, demikian juga sholat beserta rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Di antara kaum muslimin sekarang ada orang yang mempunyai ijazah bertumpuk-tumpuk dan gelar berderet-deret, telah mencapai usia separuh baya akan tetapi hampir tidak mampu untuk mengucapkan satu huruf Al-Quran, apalagi untuk membaca satu surat dari Al-Quran dengan tartil ( sesuai kaidah-kaidah tajwid). Suatu pemandangan yang menyedihkan memang.

Obat yang Tepat

Sesungguhnya berterus-terang tentang penyakit yang diidap merupakan pintu pertama pengobatan. Dan mengakui kekurangan mempelajari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya merupakan jalan pertama untuk memperbaiki dan meluruskannya. Allah Ta’ala tidaklah membebani kita dengan beban yang berat. Kita tidak harus mengetahui semua permasalahan dalam agama Islam hingga masalah yang sekecil-kecilnya, tidak demikian. Cukuplah bagi kita seperti yang ditunjukkan firman Alloh berikut:

Artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. ( At-Taubah: 122)

Perlu saya ditekankan di sini, hal ini tidak berarti seorang muslim itu berpaling dan membiarkan dirinya tidak mempelajari pokok-pokok dan aqidah-aqidah agama Islam.

Terakhir kali, kita bertanya kepada diri kita sendiri :

Berapa jam dalam satu minggu kita mengkhususkan untuk membaca Al-Quran serta mempelajarinya?

Berapa waktu yang kita luangkan dalam satu minggu untuk mengkususkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, atau ceramah-ceramah agama?

Apakah kita mengambil manfaat dari perkembangan teknologi komunikasi untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat (ilmu agama), melalui kaset, buku, dan situs-situs informasi dunia ?

Kesibukan para as-salaf as-shalih (pendahulu-pendahulu kita dari sahabat, tabi’in, dan yang mengikutinya -semoga Allah ridha kepada mereka semua-) dengan pekerjaan-pekerjaan hariannya, tidak melalaikan mereka untuk menyisihkan sebagian dari waktunya untuk menuntut ilmu syar’i. Urusan itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Ia membutuhkan keikhlasan dan ketakwaan. Alloh Ta’ala berfirman:

Artinya: Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu, (Al-Baqoroh: 282)

Perkara ini juga membutuhkan langkah awal untuk memulainya. Nabi Shallallahu alaihi was sallam bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga”. Selain itu langkah ini perlu diingatkan pula dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi was sallam : “Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, Dia akan membuat orang itu paham terhadap agama Islam”.

Akhir kata, semoga keselamatan dan kesejahteraan Alloh limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi was sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Penulis:
DR. ‘Aadil ibn ‘Ali As-Syuddie
Pengajar Pada Fakultas Kebudayaan Islam Universitas Malik Su’ud
Kerajaan Saudi Arabia

Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Majalah Dwimingguan berbahasa Arab Al-Da’wah,– edisi 1863 3 Sya’ban 1423 H/10 Oktober 2002 Oleh : Joko Pamungkas [Artikel Alsofwah.or.id dipublikasikan kembali oleh TigaLandasanUtama.Wordpress.Com]

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: