Skip to content

Balasan Sesuai Amal Perbuatan

November 26, 2013

Balasan Sesuai Amal Perbuatan
Biarkan Syi’ah Menerima Balasan Atas Kekejian Mereka

Diantara bentuk hikmah dan keadilan Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dia menjadikan balasan atas setiap amalan itu sesuai dengan amal perbuatan tersebut sehingga seorang yang berbuat baik akan merasa puas dengan balasan kebaikan yang diterimanya dan seorang yang fajir tidak akan pernah terzhalimi karena kefajirannya. Begitu banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang membuktikan akan hal ini. Allah berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ # قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا # قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (Thaahaa : 124-126)

Allah berfirman :

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS An-Nuur : 22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا بْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ

“Allah tabaaraka wa ta’aala berkata : Wahai anak Adam, berinfaklah maka akan diinfakan kepadamu” (HR Al-Bukhari no 4683 dan Muslim no 993)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 2442 dan Muslim no 2580)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya” (HR Abu Dawud no 4880)

Umar bin Al-Khottoob berkata :

وَمَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا يَعْلَمُ اللهُ مِنْهُ غَيْرَ ذَلِكَ يَشِنْهُ اللهُ

“Barang siapa yang bergaya (menunjukkan sesuatu keutamaan/kebaikan) kepada manusia yang Allah tahu bahwasanya ia tidak demikian maka Allah akan membongkar keburukannya” (Taariikh Dimasyq 32/72, lihat juga Nashbur Rooyah karya Az-Zaila’i 4/81)

Tatkala seseorang menunjukkan sesuatu yang ternyata berlawanan dengan batinnya (hakekat dirinya yang sesungguhnya) maka Allah akan menyikapinya juga sebaliknya, yaitu Allah akan membawanya kepada lawan dari tujuannya. Tujuannya ingin bergaya agar dipuji maka Allah akan membongkar aibnya tersebut. (Lihat I’laam Al-Muwaqqi’in karya Ibnul Qoyyim 2/180-181)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصَّفَةِ بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap/sifat maka Allah akan menyikapinya dengan sikap tersebut pula di dunia dan di akhirat” (Al-Waabil As-Shoyyib hal 49)

Berikut ini akan kami hadirkan bukti-bukti nyata dari “Balasan sesuai jenis amal perbuatan” yang terjadi pada kaum Majusi yang mengenakan baju Islam, Syi’ah Rafidhah.

1. Tuduhan Syi’ah Terhadap Ummul Mu’minin (Ibunda Kaum Mu’minin) ‘Aisyah Ash-Shiddiqah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…”

Diantara para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha-lah yang paling dibenci kaum Syi’ah Rafidhah. Mereka merendahkan kehormatan istri yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dengan kedustaan-kedustaan yang nyata. Celaan kepada beliau akan mengakibatkan dua ribu lebih hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa ayat Al Qur`an gugur. Beliaulah wanita yang paling banyak, menghafal dan meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantara para sahabat yang lainnya. [Sumber baca juga yang ini]

Diantara tuduhan mereka adalah menuduh ‘Aisyah sebagai pezina bahkan pelacur, menuduh ‘Aisyah bermulut kotor, menuduh ‘Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma bersekongkol untuk membunuh Rasulullah, dst. [Baca aneka tuduhan Syi’ah Rafidhah di sini]. Lihat juga bagaimana si Yasir Al-Khabits menulis sebuah kitab yang amat busuk.

Maka inilah balasan dari Allah atas mereka  :

Dalam sebuah riwayat dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallamseraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut. “Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”. “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”. “Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.

Demikianlah keadaan setiap wanita tidak lepas dari kondisi sebagai seorang Ibu, seorang Anak, seorang Saudari, Seorang Bibi. Begitu pulalah kedudukan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau adalah ibunda bagi kaum mu’minin, Ash-Shiddiqah Putri dari seorang Ash-Shiddiq, dst. Maka sangat layak atas seorang yang tetap bersikeras menuduh beliau dengan tuduhan zina padahal Allah telah mensucikannya dari perbuatan keji tersebut untuk mendapatkan balasan yang setimpal.

Ulama mereka mengeluarkan fatwa sesat tentang bolehnya berzina dengan Ibu

Muhsin Alu ‘Usfur marja’ syi’ah dari Bahrain berkicau dalam akun twitternya:

كما ذكر المرجع هادي المدرسي في كتابه منار العلم ٤\٣٨٦ ؛

يجوز لإبن أن يعاشر الدته ان كانت ارملة كي لاتهجر هم و تتركهم للبحث عن من يسد شهوتها

“Sebagaimana yang disebutkan oleh Hadi dalam kitabnya Manarul ilmi (4/386): “Diperbolehkan bagi seorang anak untuk menyetubuhi ibu nya yang janda, agar ibu nya tidak berpisah dengan anak-anaknya dan agar tidak meninggalkan mereka hanya untuk mencari seseorang yang melampiaskan syahwatnya”

siapa ingin melihat sepak terjangnya ditwitter maka ini twitternya : https://twitter.com/ShMohsnAlAsfor

Fatwa Sesat Tentang Bolehnya Seorang Anak Perempuan Dewasa Mencium Mulut Ayahnya dan Memakai Celana Dalam Di depannya.

Fatwa tentang hal ini dapat Anda temukan dalam jawaban Rahib Syi’ah Ar-Ruhani di sini.

Kisah seorang yang melakukan mut’ah (baca : zina) dengan saudarinya sendiri

Ini adalah kisah nyata seorang penganut Syiah di Indonesia yang sangat benci ketika ada orang yang melecehkan Syiah. Namun ternyata, setelah beberapa bulan berikutnya dia berbalik, yang tadinya benci ketika ada orang yang melecehkan Syiah, sekarang amat benci dengan Syiah.  Ditanyakan kenapa bisa sampai seperti itu?

Jawabnya adalah : ketika ia menuntut ilmu di Iran, ia mempunyai sahabat yang merupakan asli penduduk Iran, dan tentunya seakidah dengannya, sama-sama Syiah. Sahabatnya itu memperkenalkan suatu tempat yang setiap malam Jum’at selalu dilakukan sebagai tempat nikah mut’ah. Sahabatnya itu kerap mendatangi tempat itu.

Tapi ada suatu yang ganjil dari proses nikah mut’ah tersebut.  Setiap malam Jumat, semua lampu dalam hotel tersebut dimatikan. Alasan pemilik hotel, pemadaman itu dilakukan agar masyarakat sekitar yang nikah mut’ah di tempat tersebut tidak saling mengenal, dan jika bertemu di siang hari tidak malu. [Selengkapnya]

Ulama mereka membolehkan berciuman dengan Bibi

Ulama Syi’ah, DR. ‘Abdullah Al-Yusuf ditanya : “Dan apakah diperboleh untuk mencium bibi pada mulutnya tanpa syahwat?”

Jawaban : “Boleh, tetapi yang lebih utama dalam hal itu (mencium mulut) hanya kepada sang istri.” [Selengkapnya]

Anak Hasil Mut’ah (Zina) Lebih Mulia daripada Anak Hasil Nikah

Saking kecanduannya mereka dengan perzinaan hingga mereka menganggap dan meyakini bahwa anak-anak hasil zina yang mereka namai dengan mut’ah adalah lebih baik daripada anak-anak yang dilahirkan dari hubungan pernikahan.

Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka bahwa Ja’far Ash-Shadiq telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356) [Selengkapnya Baca di sini]

2. Tuduhan Syi’ah Terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

Diantara tuduhan-tuduhan dusta kaum terlaknat ini (Syi’ah) terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah tuduhan bahwa beliau sujud kepada berhala, beliau menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya, beliau tidak pernah beriman kepada Rasulullah walau sekejap mata pun, dll.

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu Bakar sholat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala itu)). [Skrinsot Kitab]

Maka inilah balasannya

Mereka Menyembah Kuburan sebagaimana Orang Musyrikin Menyembah Berhala.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Orang yang pertama kali menyusupkan bid’ah pengagungan kuburan ialah rejim Ubaidiyah di Mesir, Qarâmithah dan Syiah (yang jelas bukan termasuk Ahlus Sunnah, red)”[Siyar A’lâmin Nubâlâ 10/16]

Dalam Mustadrak Al-Wasâ`il, Ath-Thabarsy membuat bab berjudul “Kebolehan Thawaf di Kuburan”

Lihatlah bagaimana mereka lebih memilih shalat menghadap kuburan, di sini dan di sini dan di sini.

Menjadikan Kuburan Husain Sebagai Berhala dan Sujud Di atas Turbah Karbala.

Dalam Amâly Ath-Thûsy, Muhammad bin Hasan Ath-Thûsy menyebutkan riwayat dari Abu Abdillah Ja’far Ash-Shâdiq bahwa Ja’far berkata, “Sesunggunya Allah Ta’âlâ telah menjadikan tanah kakekku, Husain ‘alaihis salam, sebagai penyembuh untuk segala penyakit dan pengaman dari segala kekhawatiran. Apabila salah seorang dari kalian mengambil (tanah) itu, hendaknya dia mencium dan meletakkan (tanah) itu pada kedua matanya lalu melewatkan (tanah) itu pada seluruh jasadnya. Hendaknya dia berkata, ‘Ya Allah, dengan hak tanah ini dan hak orang yang menyatu dan tertanam di dalam (tanah) ini, dengan hak ayahnya, ibunya, saudaranya, dan para imam dari keturunannya, dan dengan hak para malaikat yang mengitarinya, pasti Engkau menjadikan (tanah) ini sebagai obat untuk segala penyakit, penyembuh untuk segala penyakit, keselamatan dari segala bahaya, dan pelindung dari segala yang aku khawatirkan, serta aku berhati-hati terhadap (tanah) ini.’ Lalu, dia menggunakan tanah tersebut.” [Amâly Ath-Thabarsy, Mu`assasah Al-Wafâ`, Beirut, cet ke-2, 1401 H]

Al-Allamah Al-Albaniy berkata, “Sungguh aku pernah menemukan salah satu risalah yang mereka miliki, yakni karangan As-Sayyid Abdur Ridho Al-Mar’asyi Asy-Syahrastani yang berjudul As-Sujud ‘ala At-Turbah Al-Husainiyah (sujud di atas Pusara Husain). Di antara perkara yang tertera di dalamnya, “Telah datang sebuah riwayat bahwa sujud di atas tanah Karbala’ adalah paling utama. Hal ini disebabkan kemuliaannya dan kesuciannya, sekaligus juga kesucian seorang syahid yang dimakamkan di sana (yakni, Al-Husain, cucu Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-). Telah disebutkan juga hadits yang bersumber dari para imam keturunan Nabi yang suci -alaihis salam- bahwa sujud di atas tanah Karbala’ bisa menerangi bumi sampai lapis tujuh dengan cahaya. Disebutkan pula dalam riwayat lain bahwa sujud di sana bisa membakar hijab (penghalang) yang berjumlah tujuh. Di dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa Allah akan menerima shalat orang yang sujud di atas tanah Karbala’ ketika di tempat lain tidak akan diterima. Riwayat lain menyebutkan bahwa sesungguhnya sujud di atas tanah makam Al-Husain dapat menerangi beberapa lapis bumi. ” [Lihat As-Sujud ‘ala At-Turbah Al-Husainiyah (hal. 15)]

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits seperti disebutkan di atas adalah tidak benar menurut pandangan kami. Para imam dari kalangan ahlul bait -radhiyallahu ‘anhum- sendiri, sama sekali cuci tangan dari hal tersebut. Hadits-hadits itu juga tidak memiliki sanad (mata rantai perawi) yang bersambung pada mereka sehingga bisa dikritik sesuai dengan disiplin ilmu hadits dan ilmu ushulul hadits. Hadits-hadits yang telah disebutkan itu hanya hadits-hadits mursal (ada satu perawi yang gugur dalam rangkaian sanad) dan mu’dhal (ada dua orang perawi dalam rangkaian sanad). [Selengkapnya]

Simak Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz tentang Hukum Sujud di atas tanah karbala

3. Tuduhan syi’ah terhadap Umar ibn Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Tidak ada yang lebih dibenci oleh kaum syi’ah rafidhah dibandingkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Diantara bentuk tuduhan dusta dan keji mereka terhadap Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu adalah : Tuduhan tentang nasab beliau, Menuduh beliau lari dan Abu Bakar lari dari perang Hunain, Menuduh Umar sebagai pelaku liwath. Disamping itu mereka menjadikan hari kematian Umar sebagai hari Raya dan menjadikan pembunuh Umar sebagai pahlawan. Kenapa mereka sedemikian bencinya kepada Umar Al-Faruq ? Berikut ini jawabannya :

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)).

Inilah balasan Allah atas mereka :

Syahwat Homoseksual Imam Syi’ah

Tidak cukkup sampai disitu, bahkan mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia untuk menceritakan kisah sodomi. [Baca di sini]

Melakukan Undian untuk Menentukan Bapak dari Anak Hasil Mut’ah

Persis seperti kelakukan masyarakat Jahiliyah yang melakukan undian untuk menentukan atas anak yang lahir dari perbuatan mereka kimpoy berjama’ah. [Baca di sini]

Seperti tuduhan yang juga mereka alamatkan kepada Abu Bakar, mereka menuduh Umar adalah salah satu dari berhala Quraisy. Balasan atas perbuatan mereka ini sebagaimana telah disebutkan terhadulu.

4. Tuduhan Syi’ah terhadap Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang Rafidhah terhadap amirul mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu; apa yang disebutkan oleh Zainuddin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)). Belum puas Rafidhah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang-orang yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan, serta suka main rebana.

Inilah balasan Allah atas mereka :

Cara Imam Syi’ah Berhibur

Tahanan Wanita Iran di Perkosa Sebelum Dihukum Mati

Bahkan hal ini adalah perintah dari pemimpin tinggi Iran Ali Khameini.  [Selengkapnya]

Fakta Banci-Banci Syi’ah Iran Melakukan Transgender

Berikut ulasan lengkapnya. [Baca di sini]

5. Syi’ah menuduh kaum mu’minah melakukan Jihad Sex untuk mendukung Mujahidin di Suriah.

Inilah balasan Allah atas tuduhan mereka

Diperbolehkan bagi seorang wanitayang sudah menikah untuk bertamattu’ (bersenang-senang dalam hubungan sex) dengan lelaki lain tanpa seizin suaminya. Dan dalam perkara ini andai ada izin suaminya sungguh pahala yang didapatkan lebih sedikit, adapun syarat wajib niat itu sesungguhnya cukup ikhlas karena wajah Allah. (Fatawa 12/432) Lalu Akun wanita Syi’ah bernama Yaa Husain bertanya : Wahai sayyid kami al Fadhil apakah bertamattu’ (bersenang-senang dalam hubungan sex) dengan kemaluanku dengan niat shadaqah jariyah akan dihitung bagiku sebagai shadaqah jariyah ? wa lakum jazilus syukri. Lalu Muhsin Alu ‘Ushfur menjawab : Bahkan akan memasukkanmu ke surga, Dan jihadmu dengan kemaluanmu sama saja dengan jihadnya para tentara kita (syi’ah) di Syam (suriah), Wafaqakillahu wa taqabbalallahu minki shalihal a’mal (semoga Allah menyetujuimu dan semoga Allah menerima sebaik-baik amalan darimu). Meluncur kesini : https://twitter.com/ALIALQAHTNI/status/342091870354161665/photo/1 Skrinsot

fatwa-sesat-syiah-boleh-bersetubuh-dengan-ibu

fatwa-sesat-syiah-boleh-bersetubuh-dengan-ibu

fatwa-sesat-syiah-boleh-nikah-mutah-bagi-wanita-bersuami

fatwa-sesat-syiah-boleh-nikah-mutah-bagi-wanita-bersuami

Dihimpun dari berbagai sumber.

From → Belajar Islam

2 Komentar
  1. Terima kasih atas ilmunya. Izin ambil salah satu hadist di atas. Terima kasih

Trackbacks & Pingbacks

  1. Balasan Sesuai Amal Perbuatan | pengembaramatrix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: