Skip to content

Tidak Terlarang Memberi Ucapan Selamat Natal, Kata Siapa???

Desember 24, 2013

Tatkala membaca tulisan (termuat pada Kamis, 20 Desember 2012 | 14:47 WIB) sebagai berikut,

JAKARTA, KOMPAS.com — Cendekiawan Muslim Sholahuddin Wahid mengatakan, umat Islam sah-sah saja mengucapkan Natal kepada umat Kristiani. Pasalnya, tidak ada dasar yang melarang Muslim mengucapkan natal.

“Mengucapkan Natal adalah bentuk ungkapan saling menghormati antar pemeluk agama,” kata Gus Sholah kepada Kompas.com, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Gus Sholah menambahkan, para ulama yang melarang umat Islam mengucapkan selamat Natal perlu mencari alasan tepat. Kendati demikian, Gus Sholah tidak menyalahkan para ulama itu. Menurutnya, ulama memiliki dasar pendapat sendiri. Gus Sholah hanya meminta agar para ulama memikirkan dampak sosial dari ucapannya. Pasalnya, ucapan mereka berdampak luas.

“Aspek sosial tidak pernah melarang Muslim mengucapkan Natal. Saya sendiri juga mengucapkan Natal,” pungkasnya….” [http://nasional.kompas.com/read/2012/12/20/14473966/Gus.Sholah.Muslim.Boleh.Ucapkan.Natal]

Saya sangat sedih membaca ucapan di atas seraya menganggap bahwa ucapan tersebut adalah hal yang menyesatkan dan berbahaya bagi umat Islam.

Ada tiga pokok kerusakan yang memicu timbulnya ucapan rusak di atas:

Pertama, pemilik ucapan di atas tidak memahami dasar penting dan kaidah masyhur di kalangan umat Islam tentang larangan memberi ucapan selamat untuk hari raya kaum kafir. Padahal, tidak ada silang pendapat ulama fikih di seluruh madzhab akan keharaman memberi ucapan selamat pada simbol-simbol agama kaum kafir.

Salah seorang pemuka ulama yang diakui akan keluasan pengetahuannya tentang pendapat-pendapat ulama Islam dari masa shahabat hingga masa beliau, Ibnul Qayyim, berkata, “Adapun memberi ucapan selamat untuk simbol-simbol kekafiran yang berkaitan khusus dengannya, (hal tersebut) adalah haram menurut kesepakatan (ulama), seperti memberi ucapan selamat pada hari-hari raya dan puasa mereka, (yaitu) seseorang berkata, ‘Hari raya berberkah untukmu,’ atau engkau memberi ucapan selamat untuk hari raya tersebut dan semisalnya. Kalau orang yang mengucapkan (ucapan selamat) tersebut selamat dari kekafiran, (ucapan itu) merupakan hal-hal yang diharamkan, seperti orang yang memberi ucapan selamat kepada orang yang sujud kepada salib, bahkan hal tersebut dosanya lebih berat di sisi Allah dan lebih dibenci daripada dia memberi ucapan selamat kepada orang yang meminum khamar, membunuh jiwa, melanggar kemaluan yang diharamkan, dan semisalnya. Banyak orang, yang tidak memiliki penghargaan terhadap agama, terjatuh ke dalam perbuatan tersebut, sedang dia tidak mengetahui kenistaan perbuatannya. Barang siapa yang memberi ucapan selamat kepada seseorang untuk suatu maksiat, bid’ah, atau kekafiran, sungguh dia telah menghadapkan (dirinya) kepada kebencian dan kemurkaan Allah ….” [Ahkâm Ahlidz Dzimmah 1/441]

Kedua, kejahilan terhadap dalil-dalil yang mengharamkan pemberian ucapan selamat untuk hari raya orang kafir.

Banyak dalil yang menunjukkan akan keharamannya, di antaranya adalah:

Pertama, Allah mengharamkan memberi loyalitas kepada orang-orang kafir. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali (kalian) yang sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian yang memberi loyalitas kepada mereka, sesungguhnya orang itu termasuk ke dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang-orang zhalim.” [Al-Mâ`idah: 51]

Kedua, Allah melarang condong kepada orang-orang kafir dalam bentuk apapun. Allah berfirman,

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zhalim yang mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun, kecuali Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” [Hûd: 113]

Ketiga, orang-orang kafir yang gemar bermaksiat dan berbuat kekafiran terhitung ke dalam golongan yang Allah cela sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Keempat, kita hanya diperintah untuk mengikut syariat kita dan dilarang untuk mengikut selainnya. Allah berfirman,

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah segala sesuatu yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” [Al-A’râf: 3]

Allah juga berfirman,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ، إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

“Kemudian Kami menjadikan engkau berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu) maka ikutilah syariat itu, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak siksaan Allah darimu sedikitpun. Sesungguhnya orang-orang zhalim itu sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah wali orang-orang yang bertakwa.” [Al-Jâtsiyah: 18-19]

Pokok Kerusakan Ketiga, ketidakpahaman akan perbedaan syariat membenci agama orang kafir dan syariat berbuat baik kepada orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.

Memang, dalam agama kita, terdapat kebolehan untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi agama. Allah berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ، إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian terhadap orang-orang yang memerangi kalian karena agama, mengusir kalian dari negeri kalian, dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang zhalim.” [Al-Mumtahanah: 8-9]

Dalam buku-buku fiqih dan akhlak, telah terurai secara lengkap seputar keindahan Islam dalam mengatur interaksi dengan orang-orang kafir, baik kafir itu sebagai keluarga, kerabat, tamu pribadi, tetangga, tamu negara, sesama penduduk negara, maupun selainnya.

Namun, banyak orang-orang, yang pemikirannya rusak, mencampuradukkan prinsip-prinsip Islam sehingga menyesatkan pemahaman dan mengaburkan tuntunan.

Seorang muslim dan muslimah wajib membedakan antara perintah agama untuk membenci orang-orang kafir, agama, dan kebiasaan mereka dan perintah berbuat baik kepada kaum kafir dengan ketentuan yang telah disebutkan.

Sebagaimana, harus dibedakan antara memberi loyalitas yang bermakna kecintaan dan pertolongan dan berbuat baik kepada kaum kafir.

Pembahasan toleransi hanya pada berbuat baik, bukan pada masalah loyalitas.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh membenarkan agama kaum kafir dan memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka.

Semoga Allah memberi hidayah dan petunjuk kepada seluruh kaum muslimin dan menjaga mereka dari segala hal yang membahayakan agama mereka. Amin.

Wallahu A’lam.

Sumber : Ust. Dzulqarnain

From → Belajar Islam

10 Komentar
  1. Erba Syam permalink

    Salam.

    Ketika manusia pilihan itu terlahir dari rahim seorang wanita suci Maryam as, untuk membawa risalah kebenaran terhadap ummatnya, yang kemudian iapun perggi oleh kehendak Tuhan-Nya…..maka kelak ia akan datang kembali dengan kehendak Tuhan-Nya bersama dengan kekasih pilihan-Nya al-Mahdi as.

    Di dalam suatu riwayat :

    Ali bin Ibrahim al-Qummi meriwayatkan dalam sati tafsirnya : “Dari Syahr bin Husyab, ia menafsirkan ayat QS.an-Nisa : 159 : ” Firman Allah Ta’ala

    وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

    “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 159)

    lalu ia berujar, “Sesungguhnya Isa as, akan muncul sebelum hari kiamat. Beliau akan mendirikan sholat di belakang Imam Mahdi as, dan semua pengikutnya akan beriman kepadanya sebelum kematian menjemputnya.”

    Lalu ada seorang berkata: Celaka Kau..!” dari mana kau mendapatkan informasi itu..?

    Lalu Syahr bin Husyab menjawab. “Muhammad bin Ali bin Husain as telah menyampaikan hal itu kepadaku.”

    Lalu sang penanya berkata: Demi Allah, engkau telah mendapatkan ilmu dari sumber yang jernih.

    Refensi : Tafsir al-Qummi 1/158 dan Bihar al-Anwar 14/349.

    • Keyakinan tentang Isa ‘alaihissalam yang akan turun menjelang hari kiamat adalah keyakinan yang shahih dan diimani oleh seluruh kaum muslimin, begitu pula keyakinan tentang Imam Mahdi. Kelak Nabi Isa akan shalat dibelakang Imam Mahdi. Tapi bukan Imam Mahdi versi kaum Rafidhah seperti yang diyakini mas Erba Syam dan teman-temannya!

      Apa dengan menunjukkan riwayat dalam Tafsir Al-Qummi yang sesuai dengan keyakinan Ummat Islam lantas menjadikan Rafidhah adalah bagian dari Islam? Tidak, demi Rabb Muhammad!

      Al Qummi berkata mengenai firman Allah Ta’ala,

      وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

      “Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan” (QS. An Nahl: 90).

      Lihatlah bagaimana tafsiran Al Qummi mengenai ayat ini. Ia berkata, “Fahsya’ adalah Abu Bakr, munkar adalah ‘Umar (bin Khottob), dan baghyu adalah ‘Utsman (bin ‘Affan).” (Tafsir Al Qummi, 1: 390)

      Demikian pula dengan Al-Majlisi penulis Biharul Anwar , Al Majlisi menyebutkan dalam kitabnya bahwa bekas budak ‘Ali bin Husain. Di mana ia pernah bersama ‘Ali bin Husain. Lalu bekas budaknya ini berkata pada ‘Ali bin Husain, “Engkau punya kewajiban untuk memberitahukanku mengenai dua orang pria yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” ‘Ali bin Husain berkata, “Mereka berdua itu kafir. Dan siapa saja yang mencintai keduanya, maka ia juga ikut kafir.” (Baharul Anwar, Al Majlisi, 29: 137)

      Perlu diketahui bahwa sebenarnya ‘Ali bin Husain dan ahlul bait tidaklah seperti yang diceritakan di atas. Mereka sebenarnya berlepas diri dari kebiadaban dan tuduhan keji orang-orang Syi’ah.

      Dan ini jadi bukti bagaimana bencinya orang Syi’ah pada dua sahabat yang mulia yaitu Abu Bakr dan ‘Umar. Padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memuji Abu Bakr dengan julukan shiddiq (orang yang paling membenarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menyebut ‘Umar dengan syuhada’.

      Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

      اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

      “Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)” (HR. Bukhari no. 3675).

      Adapun Imam Mahdi versi kaum Rafidhah pada hakikatnya adalah DAJJAL! Jika kita membandingkan riwayat-riwayat tentang Imam Mahdi versi Syi’ah Rafidhah dengan riwayat-riwayat tentang DAJJAL dalam versi ISLAM Ahlussunnah Wal Jama’ah, niscaya akan kita dapati persamaan antara keduanya.

      Lihat ini : http://tanyasyiah.wordpress.com/2013/08/14/wow-al-qaim-imam-mahdi-syiah-ternyata-dajjal/

  2. Erba Syam permalink

    Salam.

    وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

    Salam atas kelahiranmu Isa Al Masih,
    salam atas hari kematianmu,
    salam atas hari kebangkitanmu,.
    (Q.S. maryam ayat 33)

    • hehe.. mas rafidhi komen lagi.. g bisa membedakan antara kata “As-Salaam” dalam bahasa Arab dan kata “Selamat” dalam bahasa Indonesia, persis seperti tokohmu yang berusaha membumikan Al-Qur’an..

      [Status Nakal Tentang ‘Selamat Natal’]
      Oleh : Hasan Al-Jaizy

      Kali ini kita akan membahas tentang kalimat “Selamat Hari Natal”, dimulai dari pembedahan lafadznya, maksudnya, dan pendapat ulama tentangnya.

      ∞========∞

      [1] Kalimat “Selamat Natal” Secara Suratan Bahasa

      Kita mulai dari bahasa Indonesia dulu. Arti ‘Selamat’ dalam KBBI:

      (1) Terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana.
      (2) Sehat.
      (3) Tercapai maksud; tidak gagal.
      (4) Doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb)
      (5) Pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik.

      Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 1248, Edisi Kelima, Januari 2013, edisi terbaru. Boleh lihat versi aslinya maupun aspalnya. Bisa juga dilihat melalui aplikasi KBBI Android oleh Yufid.

      Adapun Natal, menurut KBBI pula:

      (1) Kelahiran seseorang.
      (2) Kelahiran Isa Almasih (dari saya: menurut kaum Kristen)

      Lihat halaman 954.

      Berarti, ‘selamat Natal’ dalam bahasa Indonesia sejatinya bermakna:

      (1) Semoga Natalannya sejahtera, baik-baik saja dan tidak gagal.
      (2) Semoga Natalannya terbebas dari bencana, musibah dan malapetaka.
      Dan lain-lain, orang Indonesia bisa maknakan sendiri.

      Setelah membaca hal di atas, saya tanya:

      (1) Natalan itu ritual kufur yang dilakukan oleh kaum kafir apa bukan ya?
      (2) Memang Natalan itu layak diselametin?
      (3) Eh, situ setuju dengan Maulidan ya?
      (4) Surat al-Ikhlas kandungannya apa ya?

      Selesai?

      Oh, rupanya belum. Kini kita berpindah ke:

      ∞=======∞

      [2] Kalimat “Selamat Natal” Secara Siratan Makna

      Dikatakan, bahwa kalimat ‘Selamat Natal’ itu sama dengan ‘Selamat Pagi’. Baik. Ini adalah contoh qiyas. Keduanya berkumpul dalam satu jenis pengungkapan, yaitu:

      “Ungkapan Selamat”

      atau Arabicnya:

      “Tahni’ah”

      atau Englishnya:

      “Greeting”

      Katanya begitu. Baik, kita kupas satu persatu, ya.

      (1) “Selamat Natal” : Ungkapan Selamat

      Kalau ini, sudah jelas. Mengungkapkan itu berarti mengatakan selamat pada peraya natal. Ungkapan selamat bisa sekadar untuk mujaamalah (basa-basi tanpa ada harapan) atau untuk mendoakan (tentu dengan harapan).

      Mengucapkan selamat pada orang kafir atas perayaan atau hari kufur, karena….basa basi? Aya-aya wae iki, bro.

      Mengucapkan selamat pada orang kafir atas perayaan atau hari kufur, karena…harapan selamat buatnya? Teu sieun siah, jaang?

      Coba difikir-fikir deh.

      (2) “Selamat Natal” : Tahni’ah

      Tahni’ah dalam kamus al-Munawwir artinya: Ucapan Selamat. (Al-Munawwir, hal. 1520, edisi ketujuh, 1997)

      Nah, saya mengajak Anda kembali ke nomor satu tadi untuk berfikir. Hehe.

      (3) “Selamat Natal” : Greeting

      Sekarang ke ‘alasan’ berikutnya, ungkapan tersebut dalam English semacam greeting, yang hukum asalnya mubah dalam bermuamalah atau bergaul. Hehe. Ayo simak ini.

      Apa itu ‘greeting’? Lihat di kamus Merriam-Webster cuma ada dua makna:

      (1) “A salutation at meeting”

      Salutation adalah ungkapan selamat. Salutation adalah greeting. Ia juga berasal dari kata ‘salute’. Salute adalah hormat dan menunjukkan respek. Meeting adalah pertemuan.

      Cieee….yang hormat dan respek terhadap hari kekufuran dan ritualnya….cieee….cieee….huek!

      (2) “An expression of good wishes”

      Greeting adalah sebuah ekspresi atau ungkapan akan harapan-harapan baik.

      Cieee….yang mengharap baik pada perayaan natal dan harinya….cieee…..cieeee….cuih!

      Nah, sekarang mau pergi ke mana? Tentu saja tidak pergi ke acara natalan karena itu ga boleh, kan?

      Tapi, kalau mengucapkan selamat natal boleh ya?

      Kenapa? Karena mengucapkan selamat natal itu tidak sama dengan merayakan Natal ya?

      Tapi, mengucapkan SELAMAT Natal sama dengan rela dengan adanya natalan kaaan?

      Ada orang ingin berzina, maka Anda ucapkan: “Selamat berzina!”
      Ada orang Yahudi ingin beribadah ke Sinagog, maka Anda ucapkan: “Selamat beribadah!”
      Ada orang mau mencuri, maka Anda ucapkan: “Selamat mencuri!”

      Alasan:

      (1) Tidak ada nash al-Qur’an dan Hadits yang melarang secara shariih (straight) dan shahih. Jika ada dalil yang berbunyi maknanya “Janganlah kalian begini begitu” secara langsung, maka langsung kita turuti. (Giliran dalil sharih “Kullu bid’atin dhalalah” malah tidak dituruti…hehe)

      (2) Ini perkara khilafiyyah. (Dulunya sih tidak khilafiyyah, tapi karena ada ulama kontemporer berpendapat begitu, jaaadi deh khilafiyyah…heheh)

      (3) Menghormati ijtihad ulama (meskipun jelas batil atau ada mafsadatnya atau semacamnya). Wait…ulama mana dulu ya?

      (4) Bahwa ungkapan-ungkapan di atas hanyalah greeting yang mubah.

      Fikirkan dengan akal. Mari…

      Ada seorang mau berbuat syirik, maka kita katakan, “Selamat berbuat syirik!” dan apa kemudian beda ijtihad kita dengan ijtihad liberal?

      ∞=========∞

      [3] Pendapat Ulama Tentangnya

      Saya cukupkan dengan kalam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) saja dalam hal ini. Beliau berkata:

      وَأَﻣﱠﺎ اﻟﺘﱠﻬْﻨِﺌَﺔ ﺑِﺸَﻌَﺎﺋِﺮ المختصة به فحرام بالاتفاق مثلْ أَن ﻳُﻬَﻨﱢﺌَﻬُﻢ ﺑِﺄَﻋْﻴَﺎدِﻫِﻢ وصومهم.

      “Adapaun tahni’ah (ucapan selamat : greeting) akan SYIAR-SYIAR mereka yang khusus dengannya (yakni: dengan agamanya), maka HARAM dengan kesepakatan (antar ulama), seperti mengucapkan selamat atas ied-ied mereka dan puasa-puasa mereka.” (Ahkaam Ahl Dzimmah, 1/441, tahqiq: Yusuf bin Ahmad al-Bakry dan Syakir bin Taufiq al-Arury, cet. Ramaada – Dammam، cet. Pertama, 1418 H – 1997 M.

      Bahkan, di halaman yang sama, beliau mengatakan, “Jikalau pengucapny selamat dari kekufuran (disebabkan tahniah semacan ini), namun itu tetap haram dan sederajat dengan mengucapkan selamat (bertahniah) akan sujudnya (seorang kafir) di depan salib. Bahkan, ini lebih buruk dan besar daripada mengucapkan selamat pada peminum khamr, bunuh diri, dan (pelaku zina).!”

      Gimana?

      Adapun jika kita sekadar menggelontorkan perkara khilafiyyah, lalu tidak menentukan sikap, atau -hehe- mengambil pendapat yang ghariib, syaadz, marjuuh dan diridhai manusia dengan tasamuhnya dan renggangnya (meskipun secara halus dan tidak sharaahatan -straight-), maka apa faedahnya kita belajar Ushul Fiqh, dan apa gunanya kita berdakwah ya?

      Kasihan orang awam jika disuguhi khilaf (apalagi jika asalnya tidak ada khilaf), lalu Pak Guru tidak punya sikap dan menyuruh murid-murid pilih sendiri, tarjih sendiri dan menghargai semuanya.

      Tetapi, jika memang menginginkan kebenaran, berjuhd dalam ilmu, mengungkap adanya ‘khilaf’ di antara ‘ulama’, jujur, adil, tulus dan ikhlas, maka semoga Allah mengganjari pahala. Karena tiada siapapun dari kita melainkan pernah berupaya dan berikhlas hawa, namun ternyata kita salah jalan.

      Semoga jelas meskipun kurang lengkap disebabkan keterbatasan dan bermanfaat bagi yang ingin mengambil manfaat darinya.

      Wallahu a’lam wa huwa al-musta’aan.

  3. Muslimin : bagaimana natalmu ?

    Kristian : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?

    Muslimin : tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi toleransi trhadap akidah dan ibadah, agama saya melarangnya..

    Kristian : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?

    Muslimin : mungkin mereka belum mengetahuinya, apa kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?

    Kristian : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya.­­.. Itu akan mengganggu kepercayaan saya…

    Muslimin : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah …
    Kristian : sekarang, saya mengerti..

    Rasulullah SAW bersabda,
    “Barang siapa yang menyampaikan 1(satu) ilmu saja dan ada orang yg
    mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia),dia akan tetap memperoleh pahala.
    Maaf ya yg non muslim

  4. raden permalink

    semakin terlihat mana2 yg memakai topeng islam dan bukan, emang di akhir jaman menjadi muslim itu sprt memegang bara api ditangan seusai hadist, jadi sabar dan tidak ikut2an dgn yg sudah keblenger adalah solusinya

  5. Bukankah Di indonesia Ini Harus Saling Menghargai Agama Yang 1 Dengan Yang Lain Yah??

    • Betul. Diantara bentuk saling menghargai adalah menjalankan agama masing-masing tanpa saling mengganggu.

      Apa yang kami tampilkan dari tulisan di atas adalah bentuk pelaksanaan kami terhadap ajaran agama Islam, agama yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Dawud, Sulaiman, Musa, Isa dan Muhammad -semoga shalawat dan salam terlimpah atas mereka semua-.

      Diantara ajaran agama kami adalah bahwasanya Isa putera Maryam adalah salah seorang Rasul dari Rasul-Rasul yang pernah diutus oleh Allah yang Maha Esa. Beliau bukanlah tuhan sebagaimana yang diklaim oleh orang Nashrani dan bukan pula anak zina sebagaimana tuduhan Yahudi.

      Maka terlarang bagi kami untuk mengucapkan selamat atas hari yang dijadikan sebagai hari raya oleh Nashrani, yang mereka namai sebagai hari Natal. Karena menurut keyakinan mereka hari tersebut adalah hari terlahirnya (?) anak tuhan (?). Mengucapkan selamat atas hari tersebut sama halnya kami membenarkan sebuah ajaran yang dinyatakan salah oleh Allah. Bahkan Nabi Isa putera Maryam sendiri pun mengingkari bahwa dirinya adalah anak Allah.

      Maka silakan hargai keyakinan kami tentang Nabi Isa putera maryam ini.

  6. BAGAIMANA ENGKAU UMAT MUSLIM MAU MENGASIHI TUHANMU YANG TIDAK KELIHATAN?? JIKA KALIAN AJA TIDAK BISA MENERIMA DAN MENGASIHI MANUSIA !!

    • Keyakinan bahwa tuhan harus terlihat oleh penyembahnya adalah diantara keyakinan-keyakinan paganisme.

      Sesungguhnya Tuhan (Allah) Dialah yang mengasihi para hamba, tidak butuh belas kasihan hamba.

      Tuhan kami memerintahkan agar mengasihi manusia agar Dia mengasihi kita.

      Diantara bentuk belas kasih kepada manusia adalah menerangkan kebenaran dan menyingkap kekeliruan. Diantara yang terbesar adalah kekeliruan orang yang menganggap Nabi Isa adalah anak tuhan. Padahal sebenarnya beliau adalah hamba diantara hamba-hamba Allah yang dimuliakan dengan kenabian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: