Skip to content

Status Nakal Tentang ‘Selamat Natal’

Desember 27, 2013

Status Nakal Tentang ‘Selamat Natal’
Oleh : Hasan Al-Jaizy

Kali ini kita akan membahas tentang kalimat “Selamat Hari Natal”, dimulai dari pembedahan lafadznya, maksudnya, dan pendapat ulama tentangnya.

∞========∞

[1] Kalimat “Selamat Natal” Secara Suratan Bahasa

Kita mulai dari bahasa Indonesia dulu. Arti ‘Selamat’ dalam KBBI:

(1) Terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana.
(2) Sehat.
(3) Tercapai maksud; tidak gagal.
(4) Doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb)
(5) Pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik.

Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 1248, Edisi Kelima, Januari 2013, edisi terbaru. Boleh lihat versi aslinya maupun aspalnya. Bisa juga dilihat melalui aplikasi KBBI Android oleh Yufid.

Adapun Natal, menurut KBBI pula:

(1) Kelahiran seseorang.
(2) Kelahiran Isa Almasih (dari saya: menurut kaum Kristen)

Lihat halaman 954.

Berarti, ‘selamat Natal’ dalam bahasa Indonesia sejatinya bermakna:

(1) Semoga Natalannya sejahtera, baik-baik saja dan tidak gagal.
(2) Semoga Natalannya terbebas dari bencana, musibah dan malapetaka.
Dan lain-lain, orang Indonesia bisa maknakan sendiri.

Setelah membaca hal di atas, saya tanya:

(1) Natalan itu ritual kufur yang dilakukan oleh kaum kafir apa bukan ya?
(2) Memang Natalan itu layak diselametin?
(3) Eh, situ setuju dengan Maulidan ya?
(4) Surat al-Ikhlas kandungannya apa ya?

Selesai?

Oh, rupanya belum. Kini kita berpindah ke:

∞=======∞

[2] Kalimat “Selamat Natal” Secara Siratan Makna

Dikatakan, bahwa kalimat ‘Selamat Natal’ itu sama dengan ‘Selamat Pagi’. Baik. Ini adalah contoh qiyas. Keduanya berkumpul dalam satu jenis pengungkapan, yaitu:

“Ungkapan Selamat”

atau Arabicnya:

“Tahni’ah”

atau Englishnya:

“Greeting”

Katanya begitu. Baik, kita kupas satu persatu, ya.

(1) “Selamat Natal” : Ungkapan Selamat

Kalau ini, sudah jelas. Mengungkapkan itu berarti mengatakan selamat pada peraya natal. Ungkapan selamat bisa sekadar untuk mujaamalah (basa-basi tanpa ada harapan) atau untuk mendoakan (tentu dengan harapan).

Mengucapkan selamat pada orang kafir atas perayaan atau hari kufur, karena….basa basi? Aya-aya wae iki, bro.

Mengucapkan selamat pada orang kafir atas perayaan atau hari kufur, karena…harapan selamat buatnya? Teu sieun siah, jaang?

Coba difikir-fikir deh.

(2) “Selamat Natal” : Tahni’ah

Tahni’ah dalam kamus al-Munawwir artinya: Ucapan Selamat. (Al-Munawwir, hal. 1520, edisi ketujuh, 1997)

Nah, saya mengajak Anda kembali ke nomor satu tadi untuk berfikir. Hehe.

(3) “Selamat Natal” : Greeting

Sekarang ke ‘alasan’ berikutnya, ungkapan tersebut dalam English semacam greeting, yang hukum asalnya mubah dalam bermuamalah atau bergaul. Hehe. Ayo simak ini.

Apa itu ‘greeting’? Lihat di kamus Merriam-Webster cuma ada dua makna:

(1) “A salutation at meeting”

Salutation adalah ungkapan selamat. Salutation adalah greeting. Ia juga berasal dari kata ‘salute’. Salute adalah hormat dan menunjukkan respek. Meeting adalah pertemuan.

Cieee….yang hormat dan respek terhadap hari kekufuran dan ritualnya….cieee….cieee….huek!

(2) “An expression of good wishes”

Greeting adalah sebuah ekspresi atau ungkapan akan harapan-harapan baik.

Cieee….yang mengharap baik pada perayaan natal dan harinya….cieee…..cieeee….cuih!

Nah, sekarang mau pergi ke mana? Tentu saja tidak pergi ke acara natalan karena itu ga boleh, kan?

Tapi, kalau mengucapkan selamat natal boleh ya?

Kenapa? Karena mengucapkan selamat natal itu tidak sama dengan merayakan Natal ya?

Tapi, mengucapkan SELAMAT Natal sama dengan rela dengan adanya natalan kaaan?

Ada orang ingin berzina, maka Anda ucapkan: “Selamat berzina!”
Ada orang Yahudi ingin beribadah ke Sinagog, maka Anda ucapkan: “Selamat beribadah!”
Ada orang mau mencuri, maka Anda ucapkan: “Selamat mencuri!”

Alasan:

(1) Tidak ada nash al-Qur’an dan Hadits yang melarang secara shariih (straight) dan shahih. Jika ada dalil yang berbunyi maknanya “Janganlah kalian begini begitu” secara langsung, maka langsung kita turuti. (Giliran dalil sharih “Kullu bid’atin dhalalah” malah tidak dituruti…hehe)

(2) Ini perkara khilafiyyah. (Dulunya sih tidak khilafiyyah, tapi karena ada ulama kontemporer berpendapat begitu, jaaadi deh khilafiyyah…heheh)

(3) Menghormati ijtihad ulama (meskipun jelas batil atau ada mafsadatnya atau semacamnya). Wait…ulama mana dulu ya?

(4) Bahwa ungkapan-ungkapan di atas hanyalah greeting yang mubah.

Fikirkan dengan akal. Mari…

Ada seorang mau berbuat syirik, maka kita katakan, “Selamat berbuat syirik!” dan apa kemudian beda ijtihad kita dengan ijtihad liberal?

∞=========∞

[3] Pendapat Ulama Tentangnya

Saya cukupkan dengan kalam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) saja dalam hal ini. Beliau berkata:

وَأَﻣﱠﺎ اﻟﺘﱠﻬْﻨِﺌَﺔ ﺑِﺸَﻌَﺎﺋِﺮ المختصة به فحرام بالاتفاق مثلْ أَن ﻳُﻬَﻨﱢﺌَﻬُﻢ ﺑِﺄَﻋْﻴَﺎدِﻫِﻢ وصومهم.

“Adapaun tahni’ah (ucapan selamat : greeting) akan SYIAR-SYIAR mereka yang khusus dengannya (yakni: dengan agamanya), maka HARAM dengan kesepakatan (antar ulama), seperti mengucapkan selamat atas ied-ied mereka dan puasa-puasa mereka.” (Ahkaam Ahl Dzimmah, 1/441, tahqiq: Yusuf bin Ahmad al-Bakry dan Syakir bin Taufiq al-Arury, cet. Ramaada – Dammam، cet. Pertama, 1418 H – 1997 M.

Bahkan, di halaman yang sama, beliau mengatakan, “Jikalau pengucapny selamat dari kekufuran (disebabkan tahniah semacan ini), namun itu tetap haram dan sederajat dengan mengucapkan selamat (bertahniah) akan sujudnya (seorang kafir) di depan salib. Bahkan, ini lebih buruk dan besar daripada mengucapkan selamat pada peminum khamr, bunuh diri, dan (pelaku zina).!”

Gimana?

Adapun jika kita sekadar menggelontorkan perkara khilafiyyah, lalu tidak menentukan sikap, atau -hehe- mengambil pendapat yang ghariib, syaadz, marjuuh dan diridhai manusia dengan tasamuhnya dan renggangnya (meskipun secara halus dan tidak sharaahatan -straight-), maka apa faedahnya kita belajar Ushul Fiqh, dan apa gunanya kita berdakwah ya?

Kasihan orang awam jika disuguhi khilaf (apalagi jika asalnya tidak ada khilaf), lalu Pak Guru tidak punya sikap dan menyuruh murid-murid pilih sendiri, tarjih sendiri dan menghargai semuanya.

Tetapi, jika memang menginginkan kebenaran, berjuhd dalam ilmu, mengungkap adanya ‘khilaf’ di antara ‘ulama’, jujur, adil, tulus dan ikhlas, maka semoga Allah mengganjari pahala. Karena tiada siapapun dari kita melainkan pernah berupaya dan berikhlas hawa, namun ternyata kita salah jalan.

Semoga jelas meskipun kurang lengkap disebabkan keterbatasan dan bermanfaat bagi yang ingin mengambil manfaat darinya.

Wallahu a’lam wa huwa al-musta’aan.

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: