Skip to content

Antara Islam KTP dan Kristen KTP

Januari 3, 2014

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Islam KTP, istilah yang sering digunakan untuk menyebut seorang muslim yang tidak mengenal masjid. Dia berstatus muslim karena orang tuanya muslim, tinggal di lingkungan muslim, meskipun tidak pernah mencium masjid, selain jumatan. Jauh dari karakter militan yang kuat agamanya. Tahunya mereka kerja dan kerja. Soal syariat, itu urusan kiyai.

Layaknya muslim KTP, penganut agama model KTP juga banyak dijumpai di umat beragama lainnya. Bahkan tidak salah jika kita nyatakan ‘lebih banyak’. Karena sebagian besar penganut agama, hanya menjadikan agamanya sebagai status saja, dan bukan sebagai prinsip menyeluruh dalam hidupnya.

Ahli Kitab Madinah

Di masa silam, sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, umumnya penganut ahli kitab (yahudi dan nasrani) adalah orang awam. Agama hanya menjadi lambang fanatisme golongan, dan bukan rujukan aturan. Tidak ada semangat besar bagi mereka untuk menyebarkan ajaran agamanya. Yang ada, menggunakan nama agama untuk menjajah dan menguasai kelompok lainnya.

Dalam ar-Rahiq al-Makhtum, ketika menjelaskan peta penduduk Madinah sebelum kedatangan nabi, dijelaskan keadaan masyarakat yahudi yang tinggal di sana,

ولم يكونوا متحمسين في نشر دينهم، وإنما جل بضاعتهم الدينية هي : الفأل والسحر والنفث والرقية وأمثالها، وبذلك كانوا يرون أنفسهم أصحاب علم وفضل وقيادة روحانية

Mereka tidak semangat menyebarkan agamanya. Umumnya modal agama mereka hanya masalah: ramalan, sihir, meniup buhul, ruqyah, dan semacamnya. Dengan modal ini mereka mengaku diri mereka berilmu, memiliki keutamaan dan kepemimpinan spiritual. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 139)

Keadaan inilah yang Allah gambarkan dalam al-Quran,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang diberi Taurat, kemudian mereka tiada mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al-Jumu’ah: 5)

Ibnu Katsir mengatakan,

يقول تعالى ذامًّا لليهود الذين أعطوا التوراة وحملوها للعمل بها، فلم يعملوا بها، مثلهم في ذلك كمثل الحمار يحمل أسفارا، أي: كمثل الحمار إذا حمل كتبا لا يدري ما فيها، فهو يحملها حملا حسيا ولا يدري ما عليه

Allah mencela keadaan orang yahudi, yang mereka diberi taurat, dan mendapatkan tugas untuk mengamalkannya, namun mereka tidak mengamalkannya. Perumpaan mereka layaknya keledai yang memikul kitab-kitab, sementara dia tidak tahu sama sekali isinya. Dia kelihatannya menenteng kitab, namun tidak tahu apa isinya. (Tafsir Ibn Katsir, 8/117).

Di ayat lain, Allah juga menegaskan, beberapa ahli kitab, sama sekali tidak memahami isi kitab suci mereka, selain angan-angan dan praduga. Allah berfirman,

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali angan-angan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. Al-Baqarah: 78)

Makna kalimat; “mereka hanya menduga-duga” artinya, mereka tidak berada di atas keyakinan. Apapun yang diucapkan oleh pemuka agama mereka, akan mereka yakini, meskipun bisa jadi itu dusta. Demikian keterangan Muqatil bin Hayan, sebagaimana yang dinukil Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/82).

Ahli Kitab Dulu dan Sekarang

Penjelasan di atas merupakan gambaran tentang keadaan mereka di masa silam, para pendahulu ahli kitab di zaman dakwahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana dengan mereka di zaman sekarang?

Kita sering mengatakan, sebagian besar kaum muslimin adalah muslim KTP. Agama hanya sebatas identitas penduduk. Tidak menunjukkan identitas sebagai seorang muslim, selain jumatan.

Sekarang bisa kita bandingkan dengan umat nasrani. Dari sekian banyak penganut agama nasrani, berapa jumlah penganut nasrani yang rajin membaca injil? Berapa jumlah nasrani yang rajin ke gereja? Kita melihat, banyak pengikut nasrani sangat malas membaca atau mengkaji injil. Kalaupun ada, itu hanya karena tuntutan profesi, karena dia dididik untuk menjadi pastor. Lebih dari itu, berapa umat nasrani yang hafal kitab-kitab dalam injil. Dari 66 kitab yang secara resmi diakui oleh umat Kristen sebagai kitab yang diilhami oleh Tuhan Allah, berapa umat nasrani yang hafal 6 surat saja? Untuk mencari umat nasrani yang sama sekali tidak pernah beribadah ke gereja, sangat mudah dan melimpah. Itulah nasrani KTP.

Muslim Berkarakter

Ini berbeda dengan muslim berkarakter. Untuk menjadi muslim yang baik, tidak perlu ada pengukuhan dan sekolah resmi ketakmiran masjid. Mereka menjadikan al-Quran sebagai bacaan rutinitas dan acuan hidup. Untuk mencari orang muslim yang hafal 10 surat al-Quran, sangat mudah dan melimpah. Sekalipun dia tidak pernah mencium masjid, rata-rata muslim menghafal surat al-Fatihah, al-ikhlas, al-falaq, an-Nas, dan al-Kautsar, menunjukkan bahwa mereka masih memiliki karakter agamanya.

Balas Budi Lintas Agama

Dengan memahami realita di atas, kita tidak akan merasa heran ketika orang nasrani mengucapkan selamat idul fitri, selamat idul adha, selamat berpuasa atau semacamnya. Bahkan ada diantara mereka yang ikut hadir dalam shalat berjamaah di masjid.

Tentu saja, sikap semacam ini tidak akan kita jadikan sebagai alasan untuk balas budi. Jangan karena mereka mengucapkan selamat idul fitri, kemudian kita membalasnya dengan selamat natal. Karena ketika orang nasrani mengucapkan kalimat seperti itu, sama sekali tidak ada perasaan berdosa atau bersalah. Karena mereka tidak menaruh perhatian dengan keselamatan agamanya. Layaknya, mereka tidak memiliki karakter agamanya.

Berbeda dengan kaum muslimin. Mereka umat berkarakter. Jangankan ikut beribadah di tempat peribadatan agama lain, mengucapkan selamat untuk hari raya orang lain, dilarang dan ada perasaan bersalah. Jika ada diantara mereka yang sampai tega mengucapkan selamat natal, atau selamat tahun baru, itu karena karakternya sebagai muslim masih lemah.

Jadilah muslim berkarakter, karena kita beda dengan mereka!

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: