Skip to content

Antara Berhala dan Kuburan Wali

Februari 25, 2014

MUQODDIMAH

Zaman sekarang—zaman yang penuh dengan syubhat (kerusakan ilmu) dan syahwat (nafsu menyelisihi kebenaran)—melazimkan (mengharuskan) setiap pencari kebenaran harus disertai dengan dalil dari Kitab dan Sunah. Jika ternyata kebenaran datang dari golongan Ahlus Sunnah yang dimusuhi oleh banyak kalangan maka diterima dan sebaliknya jika kebatilan datang dari golongan kita maka ditolak sebab kita mencari rida Allah عزّوجلّ bukan rida manusia.

Perkara akidah yang benar sejak zaman dahulu hingga sekarang—khususnya dalam barisan umat Islam yang terpecah menjadi 73 golongan—perkara agama yang benar menjadi pertempuran sengit. Masing-masing mengklaim dirinya yang benar dan lainnya salah. Di sisi lain, ada yang meneriakkan untuk menghapus perselisihan dan mencari persamaan.

Harus dipahami bahwa sebelum kita saling toleran dalam perselisihan, terlebih dahulu kita menyamakan pokok-pokok akidah dan keyakinan karena ada perbedaan yang tidak boleh bertoleransi di dalamnya.

Apabila ada yang menegakkan tauhid dan ada yang menegakkan kesyirikan atau ada yang menunaikan shalat dan ada yang meninggalkannya maka perkara ini tidak boleh toleran padanya. Yang boleh adalah berbeda pada masalah ijtihad dalam memahami dalil bukan berbeda karena pemahaman yang menyelisihi dalil.

ANTARA BUDAYA DAN AGAMA

Budaya yang menyelisihi syariat semakin hari semakin baru dan bertambah, sedangkan orang jarang mengingkarinya, jarang ada yang menganggapnya sebagai ajaran baru. Sementara itu, dalam waktu yang sama, tatkala ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم dihidupkan atau ada segolongan yang mengajak kembali kepada ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mereka mengingkari dan berkata “ini ajaran baru”. Subhanallah, adat istiadat dan budaya sesat yang datang setiap saat tidak dikatakan sebagai ajaran baru, tetapi agama Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang dihidupkan dikatakan agama baru.

Akhlak dan peradaban Barat dikatakan kemajuan, sedang kembali kepada agama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dianggap sebagai kemunduran. Berpegang teguh pada agama Allah sebagai sebuah kemunduran dan berpaling darinya sebagai kemajuan. Di manakah kemajuan Fir’aun dan bala tentaranya? Di manakah kemajuan Barat, negara adidaya, Uni Sovyet, Amerika, dan sekutunya? Namun, jika hawa nafsu yang berkuasa maka mata dan telinga menjadi buta dan tuli serta hati tertutup.

Setinggi apa pun budaya dan adat istiadat yang menyelisihi syariat tetaplah ia batil dan tidak mungkin menggantikan syariat. Sekalipun seluruh manusia sepakat dalam budaya dan adat istiadat, hal itu tidak akan membahagiakan dan menjamin keselamatan mereka.

Budaya syirik, bidah, maksiat, partai, demonstrasi, kerusakan moral dan akhlak, perlombaan pada kemegahan dunia dan lalai dari akhirat; semuanya akan semakin menambah kegelisahan, problematik, dan kesengsaraan hidup manusia.

Allah عزّوجلّ membuka mata dan hati manusia bahwa jabatan, harta, dan seluruh kenikmatan dunia tidak mampu memperbaiki manusia. Di antara manusia ada yang memiliki jabatan, harta banyak, sekolah tinggi, tetapi dia mengeluhkan kedurhakaan anak-anak mereka, mengeluhkan tidak bahagia. mengeluhkan semakin banyaknya permasalahan hidup yang harus dihadapi dan diselesaikan tetapi mustahil terselesaikan.

Ini adalah bukti bahwa agamalah satu-satunya yang membahagiakan manusia. Ini adalah seruan agar manusia kembali kepada Islam, mempelajari dan mengamalkannya untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Adapun yang berpaling dan zalim, maka sesungguhnya Allah tidak lalai terhadap orang-orang zalim.

ASAL-USUL SYIRIK

Pada asalnya, Allah عزّوجلّ memakmurkan alam semesta dengan tauhid dan ibadah hanya kepada-Nya. Pada asalnya, tidak ada kesyirikan di permukaan bumi. Lalu setan memulai dan mengajak manusia kepada syirik.

Dengan demikian, dakwah kepada tauhid berarti mengembalikan manusia kepada asal fitrah mereka.

Asal-muasal kesyirikan adalah mengagungkan orang saleh secara tidak syar’i. Asal mula kesyirikan adalah mengeramatkan kuburan wali. Asal syirik yang paling mendasar adalah kejahilan terhadap tauhid yang dibawa oleh para rasul, sedang penyebab kejahilan adalah berpaling dan tidak mau mempelajari ajaran para nabi.

Tatkala manusia-sejak dahulu hingga sekarang baik kafir maupun muslim—tidak mempelajari warisan para nabi, jadilah mereka paling bodoh sekalipun mencapai gelar paling tinggi dalam dunia pendidikan.

Bangsa Arab ahli nasab dan ahli syair. Bangsa Romawi, Persia, Yunani, Yahudi, Nasrani ahli Taurat dan Injil, ahli filsafat, falak, mantik, sihir, perdukunan ahli nujum (perbintangan), ahli matematika, ahli kedokteran, ahli teknik dan segala peradaban mereka pada saat itu disebut jahiliah karena jauh dari ajaran para nabi.

Warisan Aristoteles dianggap sebagai jahiliah sebab berasal dari otak manusia jahil yang tidak paham agama Allah. Jika ini kedudukan ilmu orang dahulu, lalu bagaimana dengan kedudukan ilmu yang telah menyibukkan manusia pada hari ini?

Jika akhir dari tokoh dan sumber segala kejelekan (Iblis) adalah sesungguhnya dia takut kepada Allah Rabbulalamin, lalu bagaimana dengan ilmu para pengikutnya? Jika ilmu dan kekuasaan Fir’aun akhirnya mengaku beriman kepada Zat yang diimani oleh Bani Isra’il lalu bagaimana dengan ilmu Barat dan filsafat? Jika ilmu Qorun (Karun), Haman, kaum ‘Ad dan Samud akhirnya adalah kebinasaan dunia akhirat, lalu bagaimana dengan ilmunya Darwin, Sokrates, dan para filsuf Yunani?

ANTARA SYIRIK ZAMAN DAHULU DAN ZAMAN SEKARANG

Kisah kaum Nuh عليه السلام yang menyembah kuburan para wali menunjukkan betapa eratnya hubungan antara patung berhala dan kuburan wali. Bahkan, patung berhala tidak lain kecuali berasal dari kuburan wali dan pelakunya umat Islam yang jahil terhadap tauhid.

Perhatikan firman Allah عزّوجلّ:

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian tinggalkan tuhan-tuhan kalian dan jangan tinggalkan Wadd, Suwa’, Yagus, Ya’uq, dan Nasr.” (QS Nuh [71]: 23)

Dalam ayat ini terdapat pelajaran, di antaranya:

  1. Mereka menyebut kuburan wali sebagai tuhan yang disembah, oleh karenanya mereka menyeru untuk istiqamah di atasnya tidak meninggalkannya.
  2. Seruan mereka atas reaksi dan pengingkaran terhadap dakwah Nabi Nuh عليه السلام yang mengajak kepada tauhid dan ibadah hanya kepada Allah saja dan yang mengilhamkan seruan ini adalah setan terkutuk.
  3. Karena sebagai tuhan dan telah merasuk dalam jiwa maka mereka menegaskan dan mengkhususkan dengan terperinci satu per satu nama tuhan agar menyentuh hati mereka.
  4. Para penyeru dan ahli ibadah tersebut adalah kaum muslimin yang telah bodoh terhadap tauhid.
  5. Karena kebodohan mereka terhadap tauhid, mereka menganggap syirik sebagai ibadah dan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Nuh عليه السلام sebagai kebatilan. Alangkah miripnya orang-orang sekarang dengan orang-orang dahulu.

Berkata Sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما “Itu adalah nama orang-orang saleh pada zaman Nabi Nuh عليه السلام. Tatkala mereka meninggal dunia maka setan mewahyukan kepada pengikut mereka agar memberi tanda dan nama pada majelis-majelis mereka supaya dikenang, dan ketika generasi tersebut meninggal dunia dan ilmu hilang maka diibadahi.”

Sejarah selalu terulang. Oleh karenanya, pada zaman sekarang, kita mendengar dan melihat bahwa seseorang yang dikultuskan sebagai wali tatkala meninggal dunia maka nama dan kuburannya diperlakukan oleh umat Islam bagaikan patung Lata, Manat, dan ‘Uzza oleh Arab jahiliah, bagaikan kaum Nuh عليه السلام terhadap patung dan kuburan wali-wali tersebut di atas.

Memang perbuatan semacam ini menurut orang yang tidak paham tauhid bukan syirik bahkan dianggap sebagai ibadah mulia dan ajaran Islam paling utama. Buktinya, para tokoh tidak sedih bila pengikut mereka tidak menunaikan shalat lima waktu dan semangat para tokoh dalam mendakwahkan kebatilan ini tidak seperti semangat mereka dalam amar makruf nahi mungkar. Permusuhan ahlinya terhadap ahli tauhid—yang menegakkan tauhid dan sunah dan mengingkari syirik dan bid’ah—tidak seperti permusuhan mereka terhadap ahli kufur dan ahli maksiat. Waktu, tenaga, dan harta yang mereka korbankan untuknya tidak seperti waktu, harta, dan tenaga yang mereka korbankan untuk agama Allah.

Adakah yang mampu menolak setelah perbuatan ini disebut oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai kesyirikan? Masih adakah yang sanggup berkata bahwa itu bukan syirik? Lain patung berhala lain kuburan wali? “Kami tidak menyembah mereka tetapi memuliakan wali”? “Pelaku patung berhala orang kafir adapun kami orang Islam”?

SYIRIK TETAP SYIRIK SEKALIPUN PELAKUNYA PARA TOKOH

Sebaik-baik manusia adalah imam dalam kebaikan. Dan sebaliknya, manusia paling celaka adalah imam dalam kejelekan. Apabila kita mengetahui bahwa imam ada dua golongan maka tidak boleh seseorang tertipu dengan gelar imam atau tokoh. Akan tetapi, kita harus melihat imam tersebut mengajak ke mana. Terlebih lagi, yang paling ditakutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap umatnya adalah para imam yang menyesatkan.

Seorang muslim yang pandai introspeksi (mawas diri) tidak boleh mengklaim sembarangan menganggap bahwa dai-dai sesat itu pasti dari kelompok lain dan bukan dari kelompoknya. Ketahuilah bahwa orang yang berbahagia dengan rahmat Allah adalah orang yang takut (dan menjaga diri) agar jangan sampai tidak mendapat rahmat-Nya dan berprasangka buruk terhadap diri dan kelompoknya, bukan merasa tenang dan berprasangka baik terhadap diri dan kelompoknya. Jika demikian maka dia mudah untuk memperbaiki dan meninggalkan kesalahan, tidak terus dalam kebatilan, apalagi menganggap kebatilannya baik.

IBRAH

Dalam kisah umat Nuh terdapat banyak pelajaran, di antaranya:

  1. Sebab kesesatan manusia karena kekaguman yang berlebihan terhadap tokoh.
  2. Amalan Islam secara lahir tidak memberikan manfaat duniawi, oleh karenanya banyak manusia yang tidak menyukainya; sedangkan budaya dan adat istiadat banyak mendatangkan manfaat duniawi, oleh karenanya banyak manusia yang menyukainya.

Tatkala Iblis mengetahui bahwa masjid dan rumah-rumah Allah tidak boleh dijadikan ladang untuk mencari keuntungan duniawi maka dia memalingkan manusia kepada kuburan wali, tempat keramat, budaya, dan adat istiadat atas nama agama agar tercapai ambisi manusia yang tamak dengan kebesaran, kehormatan, jabatan, harta. Maka yang memiliki ambisi kebesaran terpenuhilah hasratnya tatkala banyak pengikutnya dalam syirik dan bidah. Yang gemar mencari harta terpenuhi ambisinya tatkala manusia mengorbankan harta untuk kuburan keramat, mengadakan acara tujuh malam kematian, baca Al-Qur’an untuk orang mati dengan upah, tokoh panutan hidup dengan menadahkan tangan kepada para pencintanya dengan cara memperjualbelikan agama yaitu rukun Islam tidak diajarkan dan tidak dipelihara, sedang syirik, bidah, dan khurafat didakwahkan dan dipelihara karena mendatangkan keuntungan dunia. [Disalin dari Majalah al-Furqon No.143, Ed.7 Th.ke-13_1435H]

Sumber : IbnuMajjah.Com [Download eBook dari Tulisan  ini di IbnuMajjah.Com]

From → Belajar Islam

2 Komentar
  1. Reblogged this on nurahmanafandi.

Trackbacks & Pingbacks

  1. Antara Berhala dan Kuburan Wali | Abu Zahra Hanifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: