Skip to content

Al-Mahruumuun, Orang-Orang yang Tidak Akan Dilihat oleh Allah Pada Hari Kiamat

Juni 26, 2014

Segala puji bagi Allah subhaanahu wata’ala semata. Shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada nabi setelah beliau. Amma ba’du:

Tidak ada satu kebaikan pun kecuali Islam telah menunjukkannya dan mendorong kita untuk melakukannya. Dan tidak ada sebuah kejelekan pun kecuali Islam telah memperingatkan kita dan melarang kita darinya, menjelaskan kepada kita hukuman dan akibatnya bagi pelakunya. Maka wajib bagi seorang hamba yang khawatir atas dirinya akan mendapatkan akibat yang buruk, untuk mengetahui sesuatu yang akibatnya adalah kebinasaan. Dengan demikian dia bisa meninggalkannya dan menjauhkan diri darinya, serta mengingatkan keluarga dan saudara-saudaranya agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Nash-nash (dalil-dalil agama) telah banyak menyebutkan tentang segolongan kaum muslimin yang diancam oleh Allah subhaanahu wata’ala dengan berbagai jenis hukuman kepadanya karena melakukan sebagian maksiat. Hal itu menunjukkan kemarahan Allah subhaanahu wata’ala kepadanya, kebencian Allah subhaanahu wata’ala atas perbuatannya dan jeleknya kemaksiatan yang dia lakukan. Di antara hukuman tersebut adalah apa yang disebutkan oleh sejumlah dalil tentang segolongan orang yang tidak akan dilihat oleh Allah subhaanahu wata’ala pada hari Kiamat, dan terkadang Allah subhaanahu wata’ala menggabungkannya dengan tidak akan berbicara kepada mereka, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Oleh karena itu wahai orang-orang berakal yang mendapatkan taufiq! Telah datang kepada kalian peringatan, maka wajib bagi kalian untuk mendengar dan mempelajarinya. Kemudian berhati-hatilah supaya tidak terjerumus ke dalamnya, agar tidak mendapatkan hukuman seperti tersebut di atas. Semua perbuatan itu termasuk dosa besar yang wajib bertaubat darinya. Selanjutnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi keluarga dan saudara kalian darinya, sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Tulisan ringkas berikut ini memuat penjelasan tentang mereka yang mendapatkan ancaman seperti yang tersebut di atas dan saya memberinya judul dengan “Al-Mahrumun Alladzina la Yanzhurullahu Ilaihim Yaumal Qiyamah” (Edisi Bahasa Indonesia, “Menghindari Hidup Sengsara Di Akhirat”). Saya memohon kepada Allah subhaanahu wata’ala dengan nikmat dan kemuliaanNya agar menjadikannya ikhlas untuk mencari wajahNya (ridhaNya) dan bermanfaat untuk hamba-hambaNya.

Berikut ini -wahai saudaraku muslim- penjelasan tentang dosa-dosa yang pelakunya diancam oleh Allah dengan tidak akan dilihat olehNya pada hari Kiamat, Allah subhaanahu wata’ala tidak akan berbicara kepada mereka, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih:

1. Orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah subhaanahu wata’aladari Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah.

Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)

Mereka itu semua seperti ulama Yahudi yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah subhaanahu wata’ala dalam Taurat tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam al-Qurthubi berkata, “Ayat ini sekalipun diturunkan untuk ulama-ulama Yahudi, tetapi mencakup juga orang-orang Islam yang menyembunyikan kebenaran dengan senang hati untuk mendapatkan harta dunia.

Allah subhaanahu wata’ala juga memberitahukan bahwasanya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan oleh Allah subhaanahu wata’ala berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, maka akan mendapatkan laknat, sebagaimana firmanNya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

Imam al-Qurthubi ketika menafsirkan firman Allah subhaanahu wata’ala,

وَلَا تَشْتَرُوا بِآَيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga yang rendah dan hanya kepadaKu-lah kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 41)

Beliau berkata, “Ayat ini sekalipun khusus untuk Bani Israil, namun mencakup juga orang-orang yang melakukan perbuatan mereka. Barangsiapa menerima risywah (suap) agar mengubah kebenaran atau membatalkannya, atau enggan mengajarkan apa yang wajib dia ajarkan, atau dia tidak menyampaikan ilmu yang wajib ia sampaikan kecuali jika dia mendapatkan upah, maka dia telah termasuk ke dalam ayat ini.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللّٰهِ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya untuk mendapatkan ridha Allah, dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan mendapatkan aroma surga.” (HR. Abu Daud).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya bukan karena satu ayat di dalam al-Qur’an, niscaya saya tidak akan menyampaikan sebuah hadits kepada seorang pun, ayat tersebut ialah,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى …

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk… “ (Al-Baqarah: 159). (Muttafaq ‘alaih).

2. Orang-orang yang menukar janji (nya kepada) Allah subhaanahu wata’ala dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah.

Firman Allah subhaanahu wata’ala,

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya kepada) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 77)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah subhaanahu wata’ala berfirman bahwasanya orang-orang yang menukar janjinya kepada Allah subhaanahu wata’ala (janji untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebutkan sifat beliau kepada orang lain dan menjelaskan ajarannya-) dan sumpah-sumpah mereka yang dusta dan dosa dengan harga yang murah dan hina yaitu harta dunia yang fana dan segera hilang ini, maka mereka itu tidak mendapat kebahagian (pahala) di akhirat, dan Allah subhaanahu wata’ala tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat. Yaitu dengan rahmat dari Allah subhaanahu wata’ala kepada mereka, tidak berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang lemah lembut, dan juga tidak melihat mereka dengan pandangan rahmat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka yaitu membersihkan mereka dari dosa dan kesalahan bahkan Allah subhaanahu wata’ala akan memerintahkan untuk melemparkan mereka ke dalam neraka.

Ayat ini menjelaskan haramnya seseorang bersumpah dusta dengan nama Allah subhaanahu wata’ala untuk mendapatkan harta dunia yang hina ini, yaitu apa yang dinamakan oleh ulama dengan al-yamin al-ghamus (sumpah palsu yang menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa dan ke dalam api neraka, -pent). Hal itu dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِيْنٍ وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ.

“Barangsiapa bersumpah dengan sumpah yang di dalamnya ada kedustaan untuk mengambil harta seorang muslim, maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya. “

Al-Asy’ats bin Qais berkata, “Demi Allah subhaanahu wata’ala, ayat itu turun pada diriku. Antara Aku dan seorang Yahudi terjadi sengketa tentang sebidang tanah yang dia ambil dariku. Aku mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bersabda kepadaku, “Apakah kamu memiliki bukti (kepemilikan)? Saya menjawab, “Tidak.” Beliau kemudian bersabda kepada orang Yahudi tersebut, “Bersumpahlah!” Saya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila dia bersumpah, maka hilanglah hartaku. Maka Allah subhaanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya kepada) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 77). (HR. Muttafaq ‘alaih).

Sumpah dusta seperti ini dinamakan al-yamin al-ghamus karena akan menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa dan kelak akan menenggelamkannya ke neraka, na’uzubillah.

3. Musbil (orang yang memanjangkan kainnya melewati mata kaki).
4. Orang yang menjual hartanya dengan sumpah palsu (dusta).
5. Orang yang menyebut-nyebut pemberiannya.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ مَنْ هُمْ؟ خَابُوا وَخَسِرُوا قَالَ: فَأَعَادَهُ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. قَالَ: الْمُسْبِلُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ أَوْ الْفَاجِرِ وَالْمَنَّانُ.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka, tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Saya (Abu Dzar) bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah? Alangkah pailit dan ruginya mereka! Rasulullah mengulang-ulangi perkataan tersebut tiga kali. Beliau bersabda, “Musbil (orang yang memanjangkan kainnya melewati mata kaki), orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu (dusta) dan orang yang menyebut-nyebut pemberiannya. “ (HR. Muslim)

Musbil adalah orang yang memanjangkan kain dan bajunya sehingga melewati kedua mata kaki. Jika dia memanjangkannya karena sombong dan angkuh, maka dia berhak mendapatkan ancaman tersebut. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ يَنْظُرُ اللّٰهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا.

“Allah tidak akan memandang kepada orang yang memanjangkan kainnya (melebihi kedua mata kaki) dengan sombong.” (Muttafaq ‘alaih).

Adapun jika memanjangkan kainnya bukan untuk tujuan menyombongkan diri, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Kain yang berada di bawah kedua mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari).

Dengan demikian telah disinkronkan antara semua hadits tentang isbal, wallahu a’lam.

Sebaliknya wanita dianjurkan secara ijma’ untuk memanjangkan kainnya agar bisa menutupi (auratnya). Itulah sebabnya ketika Ummu Salamah mendengar larangan di atas (memanjangkan kain melebihi mata kaki) beliau bertanya, “Bagaimana yang diperbuat oleh wanita dengan ujung kainnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia memanjangkannya sejengkal.” Ummu Salamah bertanya, “Apabila masih terlihat tumit-tumitnya? Beliau bersabda, “Hendaknya memanjangkannya sehasta dan jangan lebih dari itu.” (HR. an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

Adapun orang yang menjual hartanya dengan sumpah palsu (dusta), maka dia adalah seorang yang meremehkan Allah subhaanahu wata’ala sehingga berani menawarkan hartanya kepada orang lain dengan berdusta kepada mereka, dia menguatkan kedustaannya dengan sumpah, dia berani dan tidak takut kepada keagungan Allah subhaanahu wata’ala. Dari Abdullah bin Abu Aufa bahwasanya seorang lelaki menawarkan dagangannya di pasar, dia bersumpah dengan nama Allah subhaanahu wata’ala bahwasanya dia telah menawarkan dagangannya itu dengan penawaran yang tidak pernah diberikan kepadanya, agar seorang muslim tertarik kepada dagangannya, maka turunlah ayat ini,

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah.” (Ali ‘Imran: 77). (HR. al-Bukhari).

Disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ ولا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ …ثُمَّ قَالَ : وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَتِهِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ بِاللّٰهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا وَهُوَ عَلىَ غَيْرِ ذٰلِكَ.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Kemudian beliau bersabda, “Dan seorang yang menjual barangnya kepada orang lain setelah shalat Ashar dan dia bersumpah kepada Allah bahwa dia membelinya dengan ini dan ini. Orang itu membenarkannya padahal dia tidak seperti yang dikatakannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dikhususkannya waktu setelah shalat Ashar karena mulianya (waktu tersebut) dan saat diangkatnya perbuatan (kepada Allah subhaanahu wata’ala), dan merupakan waktu berkumpulnya malaikat malam dan siang dan lainnya. Dikatakan juga karena waktu tersebut merupakan kebiasaan mereka untuk mengajukan pengaduan mereka (kepada hakim) dan mereka bersumpah di sisinya, wallahu a’lam.

Mannan, yaitu orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya. Al-Mannu disebutkan oleh Imam al-Qurthubi adalah menyebut-nyebut nikmat untuk maksud menghitung-hitungnya dan menyakiti si penerima, misalnya dia berkata, “Saya telah berbuat baik kepadamu, saya telah mengangkat hidupmu dan yang serupa dengannya.”

Sebagian ulama berkata, “al-Mannu adalah menceritakan apa yang telah diberikan sehingga cerita tersebut sampai kepada yang menerimanya sehingga menyakiti hatinya.” Menyebut-nyebut pemberian termasuk dosa besar. Dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللّٰهُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفاً، وَلا عَدْلاً: عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالقَدَرٍ.

“Tiga golongan yang tidak diterima oleh Allah pada hari Kiamat tebusan dan bayarannya; Orang yang durhaka (kepada kedua orang tua), orang yang menyebut-nyebut pemberiannya dan orang yang mendustakan takdir.” (HR. ath-Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Menyebut-nyebut pemberian termasuk sifat yang tercela pada seorang hamba, karena biasanya sifat tersebut tidak terjadi kecuali karena bakhil, sombong, ujub dan lupa akan nikmat Allah subhaanahu wata’ala. Allah subhaanahu wata’ala menjelaskan bahwasanya menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati penerimanya akan membatalkan pahala sedekah sebagaimana orang yang bersedekah karena riya’, Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.” (Al-Baqarah: 264)

6. Orang yang menghalangi seorang musafir dari kelebihan airnya.
7. Orang yang membai’at pemimpin karena dunia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ولاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِفَلاَةٍ يَمْنَعُهُ ابْنَ السَّبِيلِ يَقُولُ اللّٰه لَهُ: اليَوْمَ أَمْنَعُكَ فَضْلِي كَمَا مَنَعْتَ فَضْلَ مَا لَمْ تَعْمَلْ يَدُكَ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلا بِسِلْعَتِهِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ بِاللّٰهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا وَهُوَ عَلىَ غَيْرِ ذٰلِكَ وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِلدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا مَا يُرِيدُ وَفَّى لَهُ وَإِلاَّ لَمْ يُعْطِهِ لَمْ يَفِ.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka, tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih; (1) Seorang lelaki yang memiliki kelebihan air di tengah padang tandus yang tak berpenghuni namun menghalangi musafir untuk memanfaatkannya, Allah berfirman kepadanya, “Sekarang Aku akan menghalangi kamu dari karunia-Ku, sebagaimana kamu telah melarang kelebihan yang bukan dihasilkan oleh tanganmu (air).(2) Seorang lelaki yang menjual barangnya kepada orang yang lain setelah shalat Ashar dan dia bersumpah dengan nama Allah bahwa dia membelinya dengan ini dan ini. Orang itu membenarkannya, padahal dia tidak seperti yang dikatakannya. (3) Dan seorang yang membai’at pemimpin. Dia tidak membai’atnya kecuali karena dunia. Jika dia diberi (harta dunia), maka dia memenuhinya. Dan apabila tidak diberi, maka dia tidak memenuhinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Orang yang memiliki kelebihan air di tengah padang sahara yang tandus dan tak berpenghuni namun melarang musafir (untuk memanfaatkannya) adalah seorang yang dzalim dan ingkar dengan nikmat Allah subhaanahu wata’ala, hatinya keras dan tidak memiliki kasih sayang. Allah subhaanahu wata’ala mengganjarnya dengan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya. Allah subhaanahu wata’ala menghalanginya dari karuniaNya pada saat ia sangat butuh kepada karunia dan kasih sayangNya.

Adapun orang yang membai’at pemimpin supaya dia mendapat harta dunia, maka dia menggantungkan bai’atnya kepada pemberian dan kemurahan pemimpin, tanpa memperhatikan landasan bai’at yang agung seperti kewajiban mendengar dan taat, memberi nasihat dan pertolongan, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dia menipu pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya. Maka dia telah mendapatkan kerugian yang sangat besar. Dia akan masuk ke dalam ancaman yang telah disebutkan, apabila Allah subhaanahu wata’ala tidak mengampuninya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang bukan karena Allah subhaanahu wata’ala, tetapi karena harta dunia, maka amal tersebut rusak dan pelakunya berdosa.

8. Orang Tua yang Berzina
9. Raja Yang Pendusta
10. Orang Miskin Yang Sombong

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka, tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih; Orang tua yang yang berzina, raja yang pendusta dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim).

Adapun sebab dikhususkannya mereka dengan hukuman tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qadhi ‘Iyadh, “Karena mereka yang melakukan maksiat tersebut sangat tidak layak dengannya, tidak ada alasan mendasar untuk melakukannya dan sangat lemah motivasi mereka, walaupun tidak seorangpun memiliki udzur (alasan) untuk melakukan dosa, namun ketika tidak ada alasan yang mendesak untuk melakukan maksiat ini dan tidak ada dorongan kuat seperti biasanya, maka melakukannya lebih dekat kepada tindakan penentangan dan penyepelean terhadap hak Allah subhaanahu wata’ala. Dia bermaksud untuk bermaksiat kepadaNya bukan untuk yang lainnya.

11. Orang yang banyak bersumpah ketika jual beli; baik dia benar atau dusta.

Dari Salman al-Farisi bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللّٰهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : أُشَيْمِطٌ زَانٍ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ وَرَجُلٌ جَعَلَ اللّٰهَ بِضَاعَتَهُ لاَ يَشْتَرِي إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ وَ لاَ يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih; Orang tua yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, dia tidak menjual kecuali dengan bersumpah dengan nama Allah dan tidak membeli kecuali dengan bersumpah dengan nama Allah.” (HR. ath-Thabrani dan al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ تَعَالَى: الْبَيَّاعُ الْحَلاَّفُ، وَالْفَقِيْرُ الْمُخْتَالُ وَالشَّيْخُ الزَّانِي وَاْلإِمَامُ الْجَائِرُ.

“Empat golongan yang dibenci oleh Allah; penjual yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina dan pemimpin yang dzalim.” (HR. an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Tidak diragukan lagi bahwasanya banyak mengucapkan sumpah dengan lisan dalam semua urusan kecil atau besar, sesuai atau tidak, akan membiasakan seseorang meremehkan nama Allah subhaanahu wata’ala yang agung dan berani untuk melanggar kehormatan Dzat yang dia bersumpah denganNya. Para ulama Salaf melarang anak-anak mereka untuk banyak bersumpah. Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Mereka (para orang tua) memukul kami (anak-anaknya) apabila memberikan persaksian dan perjanjian.”

Allah subhaanahu wata’ala mencela seseorang (yang banyak bersumpah) sebagaimana firmanNya,

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Al-Qalam: 10)

Allah subhaanahu wata’ala mensifati mereka yang banyak bersumpah dalam konteks celaan, penghinaan dan agar orang lain menjauhkan diri dari perbuatan mereka.

12. Orang yang durhaka kepada kedua orang tua.
13. Wanita yang menyerupai pria.
14. Dayyuts.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاثَةٌ لا يَنْظُرُ اللّٰهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَالدَّيُوْثُ، وَثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى.

“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, wanita yang berprilaku seperti laki-laki dan menyerupainya dan dayyuts. Tiga golongan yang tidak akan masuk Surga: Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang kecanduan dengan khamar dan orang yang menyebut-nyebut apa yang telah diberikannya.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, maka sudah jelas dosanya. Sesungguhnya Allah subhaanahu wata’ala telah mengagungkan hak kedua orang tua dan menyejajarkan hak keduanya dengan hakNya. Allah subhaanahu wata’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada keduanya sekali pun keduanya kafir. Telah banyak hadits yang menguatkan hak keduanya dan menjelaskan bahwa durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ: اْلإِشْرَاكُ بِاللّٰهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ .

Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua dan persaksian yang dusta.” (HR. al-Bukhari).

Wanita yang berprilaku seperti laki-laki maksudnya adalah wanita yang menyerupai laki-laki dengan sengaja, baik dengan menyerupai pakaiannya, sifatnya, perilakunya ataupun suaranya.

لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.

Rasulullah telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki“. (HR. al-Bukhari).

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

Rasulullah telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki“. (HR. al-Bukhari).

Tidak diragukan lagi bahwasanya wanita yang berperilaku laki-laki dan menyerupainya telah membalik fithrahnya, menentang takdir Tuhannya, menyelisihi agamanya, merusak tatanan masyarakatnya dan menyebabkan terjadinya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita) serta tersebarnya kriminalitas. (Hanya kepada Allah subhaanahu wata’ala kita memohon pertolongan).

Adapun dayyuts maksudnya adalah orang yang membiarkan kemaksiatan terjadi pada keluarganya. Dia tidak cemburu dengan kehormatan keluarganya, tidak memiliki kepribadian yang baik, tidak jantan, lemah akal dan kurang agamanya. Dia rela untuk menyamai dirinya dengan babi yang tidak memperdulikan kehormatannya, orang seperti ini maka ditolak persaksiannya dan berhak mendapatkan ta’zir (hukuman) untuk menghentikannya dari perbuatannya yang keji. Hendaklah berhati-hati orang yang telah menyiapkan untuk keluarganya dan orang-orang yang berada dalam pengasuhannya sebab-sebab kemaksiatan seperti mengajak mereka pergi ke negara kafir atau menonton tayangan parabola yang bisa membangkitkan nafsu dan mengobarkan syahwat, hendaklah mereka mawas diri agar tidak menjadi orang-orang yang mendapatkan ancaman besar yang telah disebutkan sebelumnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ أبَدًا: الدَيُّوْثُ وَالرَجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ أمَّا مُدْمِنُ الْخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الدَّيُّوْثُ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يُبَالِي مَنْ دَخَلَ عَلَى اَهْلِهِ، قِيْلَ فَمَا الرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ؟ قَالَ : الَّتِي تَشَبَّهُ بِالرِّجَالِ.

“Tiga golongan yang tidak akan masuk Surga selamanya; Dayyuts, kaum laki-laki dari kalangan wanita dan orang yang kecanduan khamar. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, adapun orang yang kecanduan khamar sudah kami ketahui, namun siapakah dayyuts itu? Rasulullah menjawab, “Orang yang tidak memperdulikan siapa yang masuk menemui istrinya.” Mereka bertanya, “Siapakah kaum laki-laki dari kalangan wanita? Beliau bersabda, “Yaitu wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

15. Orang yang menyetubuhi istrinya di duburnya.

Dari Abdullah bin Abbas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَنْظُرُ اللّٰهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً فِي الدُّبُرِ.

“Allah tidak akan melihat kepada laki-laki yang menggauli laki-laki atau perempuan pada duburnya.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا.

“Terlaknat orang yang menggauli wanita pada duburnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Ibnul Qayyim berkata, “Adapun menggauli wanita [isteri] pada dubur, maka tidak ada seorang nabi pun yang pernah membolehkannya. Orang yang menisbahkan pendapat yang membolehkan menggauli istri pada duburnya kepada sebagian ulama Salaf, maka dia telah keliru. Apabila Allah subhaanahu wata’ala telah mengharamkan menggauli wanita di kemaluannya karena haid (gangguan yang tidak permanen), maka bagaimana kiranya menggauli di dubur yang merupakan tempat kotoran yang bersifat selamanya. Ditambah lagi kerusakan lain, yaitu terputusnya keturunan dan dekatnya dubur seorang perempuan dengan dubur seorang bayi” (Lihat, Zadul Ma’ad, 4/262).

Beliau kemudian menyebutkan kemudharatannya yang besar dan banyak baik dari segi agama, kejiwaan dan sosial kemasyarakatan. Bagi yang ingin menambah pengetahuannya tentang hal tersebut, hendaklah merujuk ke kitab beliau.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka …dst (al-Hadits) bukan menghendaki penyempitan makna. Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama`. Begitu juga halnya dengan semua bilangan seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tujuh golongan orang yang akan dinaungi oleh Allah dengan naunganNya.” Karena telah disebutkan dalam hadits yang lain tambahan dari bilangan ini.

Semoga Allah subhaanahu wata’ala memberikan shalawat dan salamNya kepada Nabi kita Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Sumber : http://www.alsofwah.or.id  via TigaLandasanUtama.Wordpress.Com

From → Belajar Islam

One Comment
  1. bermanfaatsekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: