Skip to content

Jalan Menuju Islam #02 Kisah Kemanusiaan

Juli 2, 2014

KISAH KEMANUSIAAN
Kisah kemanusiaan dimulai semenjak Allah menciptakan Bapak manusia pertama, Adam ’alaihis salam yang diciptakan dari tanah lumpur dengan tangan-Nya yang mulia lalu ditiupkan ruh kepadanya, kemudian Dia ajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu, burung, binatang melata dan lain sebagainya. Dan Dia perintah para malaikat sujud kepada Adam sebagai penghormatan dan penghargaan. Maka segenap mereka pun sujud kecuali Iblis, ia enggan dan menyombongkan diri. Maka dari itu Allah menurunkan dan mengusirnya dari kerajaan langit secara hina lagi terusir serta memvonisnya dengan kutukan (laknat), kesengsaraan dan api neraka.

Setelah itu Iblis meminta kepada Allah agar ia ditangguhkan hingga hari Kiamat dan Allah subhanahu wata’aala pun menjawab: “Sesungguhnya engkau termasuk golongan yang diberi tangguh”. Lalu Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. Dan ia berkata pula: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. Maka Allah subhanahu wata’aala berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai makhluk terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.

Maka Iblis dikeluarkan oleh Allah dari surga dan diberikan kepadanya kemampuan untuk menggoda dan menyesatkan serta diberikan tangguhan waktu kepadanya hingga hari Kiamat supaya dosanya makin bertambah yang menyebabkan hukumannya pun makin besar dan azab baginya berlipat ganda; dan supaya ia menjadi timbangan yang dapat membedakan yang keji dari yang baik.

Kemudian, dari Adam Allah menciptakan Hawa sebagai istrinya supaya mendapatkan rasa tentram dan damai padanya. Kemudian Dia perintahkan agar mereka berdua tinggal di negeri kenikmatan –surga- yang penuh dengan segala kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia, dan Allah subhanahu wata’aala memberi tahu tentang kebencian Iblis terhadap mereka berdua, dan Dia larang memakan buah dari salah satu pohon dari pohon-pohon yang ada di dalam surga sebagai ujian dan cobaan. Akan tetapi setan pun menggoda dan merayu mereka berdua agar memakan buah dari pohon itu, bahkan setan bersumpah bahwasanya ia adalah orang yang memberikan nasihat kepada mereka yang penuh dengan ketulusan, seraya berkata: ”Jika kamu berdua memakan buah dari pohon ini, niscaya kamu akan tinggal selama-lamanya di surga ini”.

Iblis terus menggoda dan merayu mereka hingga akhirnya mereka memakan buah pohon itu dan mendurhakai Tuhan (Rabb) nya. Setelah itu Adam dan Hawa sangat menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan dan segera bertobat kepada Allah, dan Allah pun menerima tobatnya dan menjadikan mereka sebagai pilihan-Nya. Akan tetapi mereka berdua diturunkan dari surga menuju dunia –negeri yang penuh dengan kelelahan dan kesusahan. Adam pun tinggal di bumi dan dikaruniakan kepadanya anak keturunan yang di kemudian hari makin banyak hingga menjadi berbagai suku bangsa hingga masa kita sekarang. Setelah itu ia wafat dan dimasukkan ke surga-Nya.

Semenjak Allah menurunkan Adam dan istrinya Hawa ke bumi permusuhan pun terjadi lagi berlanjut antara anak keturunan Adam dari satu pihak dan antara Iblis dan anak keturunannya dari pihak lain. Dan semenjak itu pula Iblis dan anak keturunannya selalu dalam pertikaian abadi melawan anak-anak cucu Adam dalam rangka menghalang-halangi mereka dari petunjuk agama, menjauhkan mereka dari kebaikan, menjadikan yang buruk terlihat indah bagi mereka, dan menjauhkan mereka dari segala apa yang diridhai Allah, dengan maksud menyengsarakan manusia di dunia dan kelak di akhirat masuk neraka.

Namun Allah subhanahu wata’aala tidak menciptakan manusia sia-sia dan tidak pula membiarkan mereka terabaikan begitu saja, akan tetapi Dia utus para rasul-Nya kepada mereka guna menjelaskan peribadatan kepada Rabb (Tuhan) mereka dan menghantar mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (Melalui para rasul itu) Allah subhanahu wata’aala memberitakan kepada jin dan manusia bahwasanya apabila sampai kepada kalian suatu kitab dari-Ku atau seorang rasul yang membimbing kalian kepada ajaran yang dapat mendekatkan kalian kepada-Ku dan kepada keridhaan-Ku, maka ikutilah ia, karena barangsiapa yang mengikuti petunjuk Allah dan beriman kepada kitab-kitab suci-Nya, para utusan-Nya dan kepada ajaran yang terkandung dalam kitab suci itu serta kepada ajaran yang diajarkan oleh para rasul itu, maka sesungguhnya ia tidak akan khawatir dan tidak akan sesat serta tidak akan sengsara, bahkan pasti mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Demikianlah kisah kemanusiaan dimulai. Sesudah itu Adam hidup dan dilanjutkan oleh anak cucunya selama sepuluh abad lamanya dalam keadaan patuh dan taat kepada Allah serta bertauhid kepada-Nya. Kemudian terjadilah kesyirikan (penyekutuan terhadap Allah) dan penyembahan kepada selain Allah. Maka Allah mengutus rasul pertama-Nya, Nabi Nuh ’alaihis salam yang menyerukan kepada manusia beribadah kepada Allah semata dan mencampakkan kesyirikan.

Kemudian para nabi dan rasul diutus sesudahnya datang silih berganti dalam berbagai perbedaan waktu dan tempat di antara mereka dan perbedaan pada sebagian syari’at dan rinciannya dengan kesamaan dalam prinsip dasar ajarannya, yaitu berda’wah kepada Islam, beribadah hanya kepada Allah semata dan menyingkirkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, sehingga datang kemudian Nabi Ibrahim ’alaihis salam yang menyeru kaumnya untuk meninggalkan penyembahan (peribadatan) kepada berhala dan hanya beribadah kepada Allah semata. Semenjak itu kenabian dianugerahkan kepada anak keturunannya, Ismail dan Ishaq, kemudian dianugerahkan kepada anak keturunan Ishaq. Di antara para nabi yang terkemuka dari keturunan Ishaq adalah Ya’qub, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman dan Isa alaihimus salam. Dan sesudah Nabi Isa ’alaihis salam tidak ada lagi nabi dari keturunan Nabi Ishaq (Israil).

Sesudah itulah kenabian berpindah kepada keturunan Nabi Isma’il, dimana Allah subhanahu wata’aala memilih Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemungkas para nabi dan rasul dan risalahnya sebagai pemungkas pula, dan kitab yang diturunkan kepadanya yaitu, Al-Qur’an sebagai risalah Tuhan yang terakhir bagi umat manusia.

Oleh karena itu, risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, datang secara sempurna, integral lagi universal untuk seluruh umat manusia dan segenap bangsa jin, orang-orang Arab dan non Arab, cocok untuk setiap waktu dan tempat, setiap generasi dan kondisi. Tiada suatu kebaikanpun melainkan ditunjukkannya dan tiada suatu keburukanpun melainkan diperingatkannya, dan Allah tidak akan menerima suatu agama dari siapapun selain agama yang diajarkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artikel Alsofwah.Or.Id

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: