Skip to content

[Peringatan untuk Kaum LGBT] Kisah Nabiyullaah Luuth ‘alaihissalam dan Kaum yang Melampaui Batas

Februari 9, 2016

Nama dan nasab beliau adalah Luuth bin Haaraan bin Taarikh (yaitu Aazar sebagaimana telah disebutkan pada kisah Ibraahiim ‘Alaihissalaam). Dengan begitu, Nabi Luuth adalah putra saudara Nabi Ibraahiim dan keponakannya, karena Ibraahiim, Haaraan dan Naahuur adalah saudara kandung. Nabi Luuth diutus menjadi seorang Nabi pada masa hidup Nabi Ibraahiim, beliau berhijrah dari daerahnya bersama pamannya, Al-Khaliil Ibraahiim untuk kemudian berpisah dengannya menuju ke daerah yang Allah Ta’ala telah perintahkan beliau untuk berdakwah.

Nabi Luuth menetap di daerah yang bernama Saduum (Sodom), sebuah daerah yang menjadi bagian negeri Ghaurzughar. Saduum adalah ibukota negeri tersebut, memiliki tanah yang subur, perdagangan yang banyak dengan beberapa daerah yang masih masuk ke dalam wilayahnya. Namun daerah tersebut memiliki penduduk yang amat fajir, amat kufur dan seburuk-buruknya sifat yang dimiliki oleh manusia pada zamannya, mereka merampok di tengah jalan, mereka mendatangi penyeru kemungkaran dan mereka tidak melarang orang dari kemungkaran yang mereka perbuat, sungguhlah amat buruk perbuatan-perbuatan mereka.

Kaum tersebut melakukan suatu perbuatan yang amat keji yang belum pernah dilakukan anak keturunan Adam ‘Alaihissalaam sebelumnya, yaitu menggauli sesama laki-laki (liwath/homoseks) dan meninggalkan wanita yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk hamba-hamba yang shalih, maka diutuslah Nabi Luuth kepada mereka, tidak lain adalah untuk mengajak kembali beribadah kepada Allah Ta’ala, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan melarang mereka dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Ta’ala, perbuatan-perbuatan keji, kemungkaran-kemungkaran dan keburukan-keburukan. Namun mereka tetap berada dalam kesesatan, kezhaliman, kefajiran dan kekufuran, maka Allah Ta’ala memberikan untuk mereka adzab dan Dia menjadikan mereka sebagai contoh bagi umat manusia yang mana orang-orang yang pandai dapat mengambil pelajaran dan i’tibar dari peristiwa tersebut.

Kisah Nabi Luuth ini dimulai ketika Allah Ta’ala mengutus para malaikatNya (Jibriil, Mikaa’iil dan Israafiil ‘Alaihimussalaam) kepada Nabi Ibraahiim Khaliilullah untuk memberitakan kelahiran Ishaaq ‘Alaihissalaam, mengenainya telah kami tuangkan dalam tulisan kami pada kisah Nabi Ibraahiim bagian kelahiran Nabi Ishaaq.

Dan para malaikat tersebut juga ternyata memberitakan bahwa mereka akan diutus kepada kaum Luuth yang amat keji. Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ. قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ. لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ. مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

Ibraahiim bertanya, “Apakah urusanmu hai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luuth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.” [QS Adz-Dzaariyaat : 31-34]

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ. قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibraahiim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Saduum) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim.” Berkata Ibraahiim, “Sesungguhnya di kota itu ada Luuth.” Para malaikat berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” [QS Al-Ankabuut : 31-32]

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ

Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibraahiim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luuth. [QS Huud : 74]

Maksudnya adalah, Nabi Ibraahiim menginginkan kaum Luuth akan bertaubat, berserah diri kepada Allah Ta’ala, melepaskan diri dari berbagai kejahatan, kemaksiatan dan kekejian, serta kembali kepada jalan Allah jika memang masih ada kesempatan bagi kaum Luuth, oleh karena itu dari sinilah Allah Ta’ala menyebut Nabi Ibraahiim sebagai manusia yang penyantun lagi penuh iba. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Sesungguhnya Ibraahiim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah. [QS Huud : 75]

Namun ketetapan Allah Ta’ala adalah sebuah ketetapan yang tidak bisa diubah-ubah bahkan oleh seorang Khaliilullah, Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya :

يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ

Hai Ibraahiim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi adzab yang tidak dapat ditolak. [QS Huud : 76]

Maksudnya, berpalinglah dari permasalahan ini dan berbicaralah dalam masalah yang lainnya karena perkara kaum Luuth telah dipastikan, yaitu wajib bagi mereka untuk dibinasakan dan diadzab, tidak ada seorangpun yang dapat menolak apalagi melawan ketetapanNya dan tidak ada yang dapat mempertanyakan hukumNya yang telah pasti.

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya hingga Sa’iid bin Jubair rahimahullah :

حدثنا ابن حميد قال ، حدثنا يعقوب القمي قال ، حدثنا جعفر، عن سعيد:(يجادلنا في قوم لوط) ، قال: لما جاء جبريل ومن معه قالوا لإبراهيم: إنَّا مهلكو أهل هذه القرية إنَّ أهلها كانوا ظالمين: قال لهم إبراهيم: أتهلكون قريةً فيها أربع مائة مؤمن؟ قالوا: لا! قال: أفتهلكون قرية فيها ثلاث مائة مؤمن؟ قالوا: لا! قال: أفتهلكون قرية فيها مائتا مؤمن؟ قالوا: لا! قال: أفتهلكون قرية فيها أربعون مؤمنًا؟ قالوا: لا! قال: أفتهلكون قرية فيها أربعة عشر مؤمنًا؟ قالوا: لا! وكان إبراهيم يعدهم أربعة عشر بامرأة لوط، فسكتَ عنهم واطمأنت نفسه

Dari Sa’iid mengenai firman Allah Ta’ala : bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luuth, Sa’iid berkata, “Ketika Jibriil datang bersama para utusan lainnya, mereka berkata kepada Ibraahiim, “Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk desa ini, sesungguhnya mereka adalah kaum yang zhalim.” Ibraahiim bertanya kepada mereka, “Apakah kalian akan menghancurkan sebuah desa yang didalamnya ada 400 orang mu’min?” Mereka menjawab, “Tidak!” Ibraahiim bertanya lagi, “Apakah kalian akan menghancurkan sebuah desa yang didalamnya ada 300 orang mu’min?” Mereka menjawab, “Tidak!” Ibraahiim bertanya lagi, “Yang didalamnya ada 200 orang mu’min?” Mereka menjawab, “Tidak!” Ibraahiim bertanya lagi, “Yang didalamnya ada 40 orang mu’min?” Mereka menjawab, “Tidak!” Ibraahiim bertanya lagi, “Yang didalamnya ada 14 orang mu’min?” Mereka menjawab, “Tidak!”

Ibraahiim menyebutkan kepada mereka 14 orang termasuk istri Luuth, maka mereka terdiam dan mereka telah menetapkan keputusan mereka.
[Jaami’ul Bayaan no. 18341]

Dan Ibnu Jariir meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma :

حدثنا أبو كريب قال ، حدثنا الحماني، عن الأعمش، عن المنهال، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال، قال الملك لإبراهيم: إن كان فيها خمسة يصلون رُفع عنهم العذاب

Ibnu ‘Abbaas berkata, “Berkatalah para utusan kepada Ibraahiim, “Jika pada mereka terdapat 5 orang yang berdo’a, maka terangkatlah adzab dari mereka.”
[Jaami’ul Bayaan no. 18342]

Ketika para malaikat yang terdiri dari Jibriil, Mikaa’iil dan Israafiil meninggalkan tempat Ibraahiim, mereka bergegas menuju kota Saduum dalam wujud para pemuda berwajah sangat tampan sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala bagi kaum Luuth dan menegakkan hujjah kepada mereka. Para pemuda tersebut sampai di rumah Nabi Luuth pada waktu maghrib. Nabi Luuth merasa khawatir dan sesak dadanya melihat para pemuda yang bertamu ini, beliau khawatir apabila tidak menjamu mereka maka mereka akan dijamu oleh penduduk kota karena beliau menyangka para pemuda ini adalah manusia biasa. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luuth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, “Ini adalah hari yang amat sulit.” [QS Huud : 77]

Ibnu Jariir Ath-Thabariy meriwayatkan dengan sanadnya hingga Qataadah rahimahullah :

حدثنا ابن حميد قال ، حدثنا الحكم بن بشير قال ، حدثنا عمرو بن قيس الملائي، عن سعيد بن بشير، عن قتادة، قال: أتت الملائكة لوطًا وهو في مزرعة له، وقال الله للملائكة: إن شهد لوط عليهم أربعَ شهادات فقد أذنت لكم في هَلكتهم. فقالوا: يا لوط ، إنا نريد أن نُضيِّفك الليلة. فقال: وما بلغكم من أمرهم؟ قالوا: وما أمرهم؟ قال: أشهد بالله إنها لشرُّ قرية في الأرض عملا ! يقول ذلك أربع مرات، فشهد عليهم لوط أربع شهادات، فدخلوا معه منزله

Dari Qataadah, ia berkata, “Para malaikat mendatangi Luuth ketika ia sedang berada di sawahnya,” Allah berfirman kepada para malaikat, “Jika Luuth mempersaksikan atas kaumnya dengan 4 kali persaksian (kepada kalian) maka sungguh ia telah menyerukan kepada kalian untuk membinasakan mereka.” Para malaikat berkata, “Wahai Luuth, sesungguhnya kami menginginkan untuk menetap (dirumahmu) malam ini.” Luuth berkata, “Apa yang sampai kepada kalian dari perkara kaumku ini?” Mereka bertanya, “Apakah perkara kaummu itu?” Luuth menjawab, “Aku bersaksi kepada Allah bahwasanya penduduk desa ini telah melakukan perbuatan yang paling buruk di muka bumi!” Luuth mengatakan seperti itu sebanyak 4 kali, maka Luuth telah bersaksi atas kaumnya sebanyak 4 kali persaksian. Lalu para malaikat pun masuk ke dalam rumah Luuth bersamanya.
[Jaami’ul Bayaan no. 18353]

Ibnu Jariir Ath-Thabariy meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ismaa’iil As-Suddiy rahimahullah :

حدثني موسى بن هارون قال ، حدثنا عمرو بن حماد، قال ، حدثنا أسباط، عن السدي قال، خرجت الملائكة من عند إبراهيم نحو قرية لوط، فأتوها نصف النهار، فلما بلغوا نهر سَدُوم لقوا ابنة لوط تستقي من الماء لأهلها، وكانت له ابنتان، اسم الكبرى “ريثا”، والصغرى “زغرتا”، فقالوا لها: يا جارية، هل من منزل؟ قالت: نعم، فَمكانَكم لا تدخُلوا حتى آتيكم ! فَرِقَتْ عليهم من قَوْمها. فأتت أباها فقالت: يا أبتاه أرادك فتيان على باب المدينة ما رأيت وجوه قوم أحسنَ منهم، لا يأخذهم قومك فيفضحوهم ! وقد كان قومه نهوه أن يُضيف رجلا فقالوا: خَلّ عنَّا فلنضِف الرجال ! فجاء بهم، فلم يعلم أحدٌ إلا أهل بيت لوط، فخرجت امرأته فأخبرت قومها، قالت: إن في بيت لوط رجالا ما رأيت مثل وجوههم قَطّ ! فجاءه قومه يُهْرَعون إليه

Dari As-Suddiy, ia berkata, “Para malaikat keluar dari tempat Ibraahiim menuju desa kaum Luuth, mereka sampai di tempat tersebut pada pertengahan siang. Ketika mereka tiba di sungai kota Saduum, mereka berjumpa dengan putri Luuth yang sedang membawa air untuk keluarganya. Luuth mempunyai dua orang putri, putri yang tertua bernama “Riitsaa”, dan yang termuda bernama “Zughrataa”. Para malaikat bertanya kepada putri Luuth, “Wahai jaariyah, apakah (ayahmu) dirumah?” Ia menjawab, “Ya, tetaplah di tempat kalian, jangan masuk (ke kota ini) hingga aku mendatangi kalian kembali.”

Ia memisahkan para malaikat (yang berwujud para pemuda tampan tersebut) dari kaumnya lalu ia mendatangi ayahnya dan berkata, “Wahai ayah, ada beberapa pemuda di pintu kota ingin bertemu denganmu, tidaklah aku pernah melihat wajah-wajah suatu kaum yang lebih bagus dari wajah-wajah mereka, jangan sampai kaummu melihat dan menangkap mereka!” Sementara kaum Luuth telah melarangnya untuk menjamu tamu laki-laki.

Maka Luuth pun datang bersama para pemuda tersebut dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali keluarga Luuth. Istri Luuth beranjak dari rumah dan mengkhabarkan kepada kaumnya (mengenai hal ini), ia berkata, “Sesungguhnya dirumah Luuth ada beberapa orang laki-laki yang tidak pernah aku melihat wajah-wajah (bagus) yang semisal wajah mereka!” Maka kaumnya mendatangi rumah Luuth dengan berlari.”
[Jaami’ul Bayaan no. 18354]

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلا تُخْزُونِي فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luuth berkata, “Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri) ku mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” [QS Huud : 78]

Maksud firman Allah, “Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji,” adalah perbuatan-perbuatan keji tersebut berkesinambungan mereka lakukan dari zaman dahulu hingga masa Nabi Luuth diutus kepada mereka dan mereka tidak bisa berhenti darinya.

Perkataan Nabi Luuth, “Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri) ku mereka lebih suci bagimu,” maksudnya Nabi Luuth ingin menunjukkan kepada kaumnya untuk menyetubuhi wanita-wanita mereka dan beliau menyebut mereka dengan putri-putrinya karena kedudukan seorang Nabi bagi umatnya adalah seperti kedudukan seorang ayah.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam An-Nasaa’iy rahimahullah dengan sanad hasan hingga Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْخَلَاءِ فَلَا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا وَلَا يَسْتَنْجِ بِيَمِينِهِ وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ

Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku bagi kalian adalah bagai seorang ayah. Aku mengajari kalian jika kalian hendak pergi ke WC janganlah menghadap kiblat dan jangan membelakanginya, serta jangan bersuci dengan tangan kanan.” Beliau juga memerintahkan untuk bersuci dengan tiga batu. Beliau melarang bersuci dengan kotoran hewan dan tulang.”
[Sunan An-Nasaa’iy Ash-Shughraa no. 40]

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain :

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ. وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. [QS Asy-Syu’araa’ : 165-166]

Kemudian firman Allah, “Maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” Maksudnya adalah Nabi Luuth melarang mereka untuk mengerjakan berbagai perbuatan keji yang sama sekali tidak layak untuk dilakukan, dan beliau mempersaksikan bahwa di antara kaumnya tersebut tidak ada seorangpun yang masih mempunyai akal, kebaikan, bahkan semuanya adalah orang-orang bodoh, fajir, kufur dan telah buta hatinya. Dan kalimat Nabi Luuth tersebut adalah sebuah persaksian yang ingin didengar oleh para malaikat sebelum kaumnya berkata kembali kepada Nabi Luuth akan keinginan mereka. Difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla keinginan busuk kaumnya :

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kau telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kau tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” [QS Huud : 79]

Perkataan kaumnya ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak mempunyai hasrat terhadap para wanita, mereka menyenangi laki-laki dan mereka mendakwakan bahwa Nabi mereka telah mengetahui apa yang menjadi kesenangan mereka. Mereka tidak takut terhadap adzab Allah telah berkata-kata buruk terhadap NabiNya.

Selanjutnya Nabi Luuth berkata, seperti difirmankan Allah Ta’ala :

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luuth berkata, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” [QS Huud : 80]

Beliau menginginkan seandainya apabila dia memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka yaitu pelindung atau keluarga yang kuat yang dapat menolongnya dari mereka agar ditimpakan kepada mereka adzab yang layak mereka dapatkan.

Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya hingga Abu Hurairah :

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحْنُ أَحَقُّ بِالشَّكِّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ { رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوْ لَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي } وَيَرْحَمُ اللَّهُ لُوطًا لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ وَلَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ طُولَ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لَأَجَبْتُ الدَّاعِيَ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih patut untuk ragu dibanding Ibraahiim ketika dia berkata, “Ya Rabbku, tunjukkan kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan makhluq yang sudah mati.” Allah berfirman, “Apakah kamu tidak beriman (belum yakin)?” Ibraahiim berkata, “Aku telah meyakininya akan tetapi untuk memantapkan hatiku.” Dan semoga Allah merahmati Nabi Luuth ‘Alaihissalaam yang telah berlindung kepada keluarga yang kuat. Dan seandainya aku dipenjara dan mendekam didalamnya dalam masa tertentu sebagaimana Nabi Yuusuf ‘Alaihissalaam mengalaminya tentu aku sudah bersegera memenuhi permintaan (orang yang akan membebaskan aku) (QS Al-Baqarah : 260).”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3372]

Maknanya menurut Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah adalah, Allah tidaklah mengutus seorang Nabi pun kepada suatu kaum setelah Luuth melainkan ia berasal dari keturunan terhormat dari kaumnya.

Para pemuda berwajah tampan tersebut yang ternyata adalah para malaikat Allah, berkata kepada Nabi Luuth :

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Para utusan (malaikat) berkata, “Wahai Luuth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” [QS Huud : 81]

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa Jibriil ‘Alaihissalaam keluar mendatangi mereka yang sedang berkumpul di halaman rumah Nabi Luuth lalu memukul wajah-wajah mereka dengan mengibaskan ujung-ujung sayapnya hingga mata mereka menjadi buta, dikatakan, kibasan sayap Jibriil mengenyahkan mereka semua, maka mereka pun pulang dengan meraba-raba tembok namun mereka tetap mengancam Nabi Luuth, “Apabila besok tiba maka keberuntungan menjadi milik kami dan masalah buatmu (karena penglihatan kami telah kembali)!”

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain :

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ. وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ

Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azabKu dan ancaman-ancamanKu. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa adzab yang kekal. [QS Al-Qamar : 37-38]

Para malaikat memberikan dua perintah kepada Nabi Luuth, yaitu hendaknya Luuth dan keluarganya pergi di akhir malam dan tidak boleh menengok ke arah belakang, yaitu ketika mendengar suara adzab ditimpakan kepada kaumnya, dan para malaikat memerintahkan kepada Luuth untuk berjalan di belakang rombongan, sebagai pengiring.

Mengenai firman Allah, “Kecuali istrimu,” ada dua tafsir yang memungkinkan untuk ayat ini. Yang pertama adalah seolah-olah Allah Ta’ala ingin mengatakan janganlah kau pergi di akhir malam dengan membawanya. Yang kedua adalah istrinya akan tertinggal lalu dia akan tertimpa adzab yang ditimpakan kepada kaum Luuth. Wallaahu a’lam.

Menurut As-Suhailiy rahimahullah, istri Nabi Luuth bernama Waalihah, sementara nama istri Nabi Nuuh adalah Waalighah.

Ketika Luuth keluar dengan membawa keluarga dan pengikutnya, di antara mereka adalah kedua putrinya, namun ada satu orang yang keluar bersama mereka dari kota tersebut, dan dikatakan bahwa istri Luuth keluar bersama lelaki itu, namun kebenaran cerita ini diragukan. Setelah mereka selamat dari kota tersebut, fajar telah menyingsing, maka datanglah janji Allah Ta’ala yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat dihalangi.

Adzab Allah Ta’ala Untuk Penduduk Kota Saduum

Para ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa Luuth dan pengikutnya pergi ke suatu desa kecil, ketika matahari telah terbit, maka turunlah adzab Allah Ta’ala kepada mereka. Dia berfirman :

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ. مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luuth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim. [QS Huud : 82-83]

Jibriil mengangkat kota-kota itu dengan ujung sayapnya dari tempat berdiamnya, negeri itu terdiri dari tujuh kota yang mana di dalamnya terdapat berbagai macam suku. Ada yang mengatakan bahwa didalamnya terdapat 400 jiwa. Pendapat lain mengatakan bahwa didalamnya terdapat 400 jiwa beserta hewan dan segala sesuatu yang mengikuti kota-kota itu, baik tanah, bangunan dan semua tempat yang dibangun, semuanya diangkat hingga sampai ke awan-awan langit, hingga para malaikat mendengar riuhnya suara ayam-ayam dan anjing-anjing mereka, lalu Jibriil membalikkannya, dijadikannya bagian atas menjadi bagian bawahnya.

Al-Imam Mujaahid Al-Makkiy rahimahullah berkata, yang pertama kali jatuh darinya adalah bangunan-bangunannya yang tinggi.

Firman Allah, “Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” maknanya adalah selain mereka dijungkir balikkan posisinya, yang diatas menjadi yang dibawah, mereka juga dihujani oleh batu-batu keras dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi dan menghujam serta membakar mereka.

Firman Allah, “Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim,” maknanya adalah pada batu-batu tersebut telah ditandai oleh Allah, nama-nama orang yang akan terkena hujamannya sebagaimana ini adalah adzab yang keras untuk orang-orang zhalim dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Bagaimana dengan istri Nabi Luuth?

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa istri beliau tinggal bersama kaumnya. Sebagian lagi berpendapat bahwa ia ikut keluar bersama Nabi Luuth dan kedua putrinya, namun ia mendengar suara teriakan dan jatuhnya kota Saduum, maka ia pun menoleh ke arah kaumnya dan ia telah melanggar perintah Allah Ta’ala. Maka Allah timpakan kepadanya adzab seperti yang terjadi pada kaumnya, ia tertimpa batu keras yang terbakar tersebut hingga merusak kepala dan otaknya, dan ia pun menyusul jejak kaumnya karena istri Nabi Luuth berada di atas agama mereka, ia telah menjadi mata-mata (jassus) bagi kaumnya ketika ia mengkhabarkan mengenai tamu-tamu pemuda tampan yang datang kepada suaminya.

Jadilah istri Nabi Nuuh dan Nabi Luuth menjadi perumpamaan wanita-wanita buruk padahal suami-suami mereka adalah orang-orang shalih pilihan Allah. Allah Ta’ala berfirman :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Allah membuat istri Nuuh dan istri Luuth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” [QS At-Tahriim : 10]

Yaitu keduanya berkhianat kepada suami-suami mereka, maka Allah Ta’ala tidak mengikutsertakan mereka berdua didalam rombongan yang selamat, bukanlah maksudnya mereka berdua telah melakukan tindakan keji dan aniaya karena Allah Ta’ala tidak akan pernah mentakdirkan seorang Nabi atau Rasul beristri seorang pezina atau yang pernah melakukan zina, sebagaimana Ibnu ‘Abbaas dan para salaf berkata, “Tidak ada satupun istri seorang Nabi yang berzina.”

Pada akhirnya, Allah Ta’ala menjadikan bekas kota Saduum itu lautan yang berbau busuk, yang mana air dan tanah sekitarnya tidak dapat dimanfaatkan karena saking rusak dan buruknya kualitas tanah tersebut. Allah Ta’ala menjadikan tempat tersebut sebagai ibrah dan pelajaran atas tanda-tanda kekuasaan Allah, keagungan dan kemuliaanNya serta pembalasan bagi mereka yang menentang perintahNya, mendustakan Nabi dan RasulNya dengan lebih memilih hawa nafsu dan dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ. وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. [QS Asy-Syu’araa’ : 8-9]

Hukuman Islam Untuk Pelaku Homoseksual

Islam adalah agama fithrah yang telah mengatur hubungan anak manusia dengan sangat jelas, laki-laki dan perempuan. Islam menghalalkan laki-laki dan perempuan yang telah baligh untuk membina hubungan dan membangun keluarga, menghasilkan anak-anak dan generasi penerus yang akan membangun dan memajukan Islam dengan berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi salafus shalih dan para ulama Rabbaniy. Oleh karena itu Islam mengecam dengan sangat keras perbuatan liwath/homoseksual, pelakunya diancam dengan hukuman yang sangat berat.

Dalil akan hal ini ditunjukkan dari hadits yang diriwayatkan At-Tirmidziy rahimahullah dengan sanadnya hingga Ibnu ‘Abbaas :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapati orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luuth, maka bunuhlah pelaku dan obyeknya.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 1456]

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang melakukan homoseksual dihukum rajam, baik dia seorang muhshan (orang yang sudah menikah) ataupun tidak, dan ini adalah pendapat Maalik, Asy-Syaafi’iy, Ahmad, Ishaaq bin Raahawaih dan sebagian imam lainnya. Sementara Abu Haniifah berpendapat bahwa orang yang melakukan homoseksual hukumannya adalah dilempar dari atas puncak gunung lalu disusul dengan dilempar batu-batu sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Luuth.

Sebagian ulama fiqh dari kalangan tabi’in seperti Al-Hasan, Ibraahiim An-Nakha’iy, ‘Athaa’ bin Abi Rabaah dan lainnya berpendapat bahwa hukuman seseorang yang melakukan homoseksual sama dengan hukum zina, ini juga adalah pendapat Sufyaan Ats-Tsauriy dan ulama Kuufah.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kaum Nabi Luuth.
Wallaahu a’lam.

Sumber :

Al-Bidaayah wa An-Nihaayah” karya Al-Haafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir, tahqiiq : Syaikh Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy, Daar Hijr. Edisi terjemahan penerbit Pustaka Azzam – dengan beberapa penambahan.

Dari tulisan Al-Akh Al-Ustadz Tommi Marsetio

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: