Skip to content

Terjemah Tafsir Al-Muyassar [003] : Tafsir Al-Fatihah 003

April 8, 2016

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)

وهو سبحانه وحده مالك يوم القيامة, وهو يوم الجزاء على الأعمال.

وفي قراءة المسلم لهذه الآية في كل ركعة من صلواته تذكير له باليوم الآخر, وحثٌّ له على الاستعداد بالعمل الصالح, والكف عن المعاصي والسيئات.

Dan Allah yang Mahasuci adalah satu-satunya pemilik hari kiamat, yaitu hari pembalasan atas seluruh amal perbuatan. -Dan pengkhususan kepemilikan hari kiamat bagi Allah karena tidak ada seorangpun yang bisa mengklaim sesuatu apapun pada hari itu, dan tidak ada seorang pun yang dapat berbicara pada hari itu kecuali atas izin Allah ta’ala-.

Dan setiap kali seorang muslim membaca ayat ini pada setiap raka’at dari shalat-shalatnya akan ada pengingat baginya tentang hari akhir, dan akan ada dorongan motivasi baginya untuk mempersiapkan diri dengan mengerjakan amal shalih dan untuk berhenti dari melakukan maksiat dan keburukan-keburukan.

Faidah

  • [Disini digunakan dua kata (المعاصي) dan (السيئات). Kata (المعاصي) “Maksiat” lebih digunakan untuk pelanggaran atas hak Allah. Adapun (السيئات) “keburukan” maka ini lebih digunakan untuk pelanggaran atas hak sesama hamba.]

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)

إنا نخصك وحدك بالعبادة, ونستعين بك وحدك في جميع أمورنا, فالأمر كله بيدك, لا يملك منه أحد مثقال ذرة.

وفي هذه الآية دليل على أن العبد لا يجوز له أن يصرف شيئًا من أنواع العبادة كالدعاء والاستغاثة والذبح والطواف إلا لله وحده,

وفيها شفاء القلوب من داء التعلق بغير الله, ومن أمراض الرياء والعجب, والكبرياء.

Sesungguhnya kami mengkhususkan hanya Engkau saja dalam ketaatan dan ibadah kami, dan hanya kepada Engkau saja kami meminta pertolongan dalam seluruh urusan kami. Karena segala urusan itu semuanya ada di tanganMu dalam pengaturanMu, tidak ada siapapun selain Engkau yang memiliki kekuasaan dalam urusan itu meski hanya seberat biji dzarrah sekalipun.

Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwasanya seorang hamba tidak boleh mengarahkan sedikitpun dari berbagai macam ibadah seperti do’a, istighatsah, penyembelihan, dan thawaf kecuali hanya kepada Allah saja.

Pada ayat ini juga terdapat obat bagi hati dari penyakit ketergantungan kepada selain Allah, dan dari penyakit-penyakit riya, ujub dan sombong.

Faidah

  • [Uslub Iltifaat, yaitu merubah arah pembicaraan dari satu arah ke arah lainnya. Dalam hal ini dari Uslub Ghaib kepada Uslub mengajak berbicara. ~link ]
  • [Lafal (جميع) adalah umum. Maka maknanya kita meminta pertolongan kepada Allah dalam segala urusan, baik duniawi maupun ukhrawi, baik dalam ketaatan maupun pada hal-hal yang mubah.]
  • [Ketergantungan kepada selain Allah akan menurunkan tawakkal, dan apabila dipelihara akan dapat menjerumuskan hamba pada kesyirikan.]
  • [Ujub adalah penyakit yang menyebabkan seseorang merasa bangga dengan dirinya dan merasa dirinya mampu dan memiliki segalanya. ]
  • [Bahanya ujub, bahkan keshalihan seseorang dapat menjadikannya ujub.]
  • [Sombong lebih umum daripada Ujub. Ujub lebih pada apa yang dimiliki sendiri oleh seseorang.]
  • [Kesombongan terkait dengan apa yang dimilikinya atau oleh selain dirinya berupa harta, nasab, dan sebagainya.]

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

دُلَّنا, وأرشدنا, ووفقنا إلى الطريق المستقيم, وثبتنا عليه حتى نلقاك, وهو الإسلام، الذي هو الطريق الواضح الموصل إلى رضوان الله وإلى جنته, الذي دلّ عليه خاتم رسله وأنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم, فلا سبيل إلى سعادة العبد إلا بالاستقامة عليه.

Tunjukilah kami, bimbinglah kami, dah berikanlah taufiq kepada kami kepada jalan yang lurus, dan teguhkanlah kami di atas jalan itu hingga kami berjumpa dengan Engkau.

Dan jalan yang lurus (yang kami mita itu) adalah Al-Islam yang ia merupakan jalan yang jelas/terang yang dapat menghantarkan kepada keridha-an Allah dan surgaNya. Islam itulah jalan yang ditunjukkan oleh penutup para rasul dan para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak ada jalan yang dapat membawa seorang hamba menuju kebahagiaan kecuali dengan beristiqamah di atas jalan itu.

Faidah

  • [Irsyad adalah petunjuk kepada jalan kebenaran. Taufiq adalah persetujuan dari Allah untuk hamba sehingga Dia membimbingnya di atas jalan kebenaran.]
  • [Istiqamah adalah lurus dan konsisten. ]

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7)

طريق الذين أنعمت عليهم من النبيين والصدِّيقين والشهداء والصالحين, فهم أهل الهداية والاستقامة,

Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka dari kalangan para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Orang Shalih, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan istiqamah.

ولا تجعلنا ممن سلك طريق المغضوب عليهم, الذين عرفوا الحق ولم يعملوا به, وهم اليهود, ومن كان على شاكلتهم,

Jangan Engkau jadikan kami termasuk dari golongan yang menempuh jalannya orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang telah mengetahui kebenaran akan tetapi mereka malah tidak beramal dengan kebenaran itu, mereka itulah orang-orang Yahudi dan siapa saja yang sejalan dengannya.

والضالين, وهم الذين لم يهتدوا, فضلوا الطريق, وهم النصارى, ومن اتبع سنتهم.

[Jangan pula Engkau jadikan kami termasuk golongan yang mengikuti jalan] orang-orang yang tersesat, mereka itulah kaum yang tidak mendapatkan petunjuk maka mereka pun akhirnya tersesat jalan. Mereka itulah orang-orang Nashrani dan siapa saja yang mengikuti jejak-jejak Nashrani.

وفي هذا الدعاء شفاء لقلب المسلم من مرض الجحود والجهل والضلال, ودلالة على أن أعظم نعمة على الإطلاق هي نعمة الإسلام,

Pada do’a ini terdapat obat penyembuh bagi hati seorang muslim dari penyakit membangkang, penyakit kebodohan dan penyakit kesesatan. [Pada ayat ini pula terdapat] dalil bahwasanya nikmat yang paling besar secara mutlak adalah nikmat Islam.

فمن كان أعرف للحق وأتبع له, كان أولى بالصراط المستقيم,

Maka barangsiapa yang lebih mengenal/mengetahui akan kebenaran dan lebih mengikuti kebenaran,  maka dia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus.

ولا ريب أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم هم أولى الناس بذلك بعد الأنبياء عليهم السلام,

Dan tidak diragukan lagi bahwasanya para Shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mereka adalah manusia yang paling berhak atas hal itu setelah para Nabi ‘alaihimussalaam.

فدلت الآية على فضلهم, وعظيم منزلتهم, رضي الله عنهم.

Maka ayat ini menunjukkan akan keutamaan mereka (para Shahabat) dan agungnya kedudukan mereka, semoga Allah meridhai mereka.

ويستحب للقارئ أن يقول في الصلاة بعد قراءة الفاتحة: (آمين), ومعناها: اللهم استجب, وليست آية من سورة الفاتحة باتفاق العلماء; ولهذا أجمعوا على عدم كتابتها في المصاحف.

Dan disukai bagi orang yang shalat untuk mengucapkan “Aamiin” setelah membaca surat Al-Fatihah. Dan maknanya adalah “Yaa Allah kabulkanlah do’a kami ini”. Dan bacaan “Aamiin” ini tidak termasuk bagian dari surat Al-Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena itulah mereka bersepakat untuk tidak menuliskannya dalam mushaf-mushaf.

Kajian

Download

From → Belajar Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: