Ringkasan Makna Dari Kata “Istawaa”

Posted on Updated on

Ringkasan Makna Istiwa’ Adalah Ma’lum (diketahui)

Telah diriwayatkan dari Al-Imam Malik dan guru beliau Rabi’ah bahwa beliau menjawab apa makna istiwa’, beliau mengatakan bahwa istiwa’ ghairu majhul (ma’lum, sesuatu yang telah diketahui)

Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘utsaimin rahmatullah alaihi menjelaskan bahwa istiwa’ ma’lum dari tinjauan Bahasa arab -yang mana Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mereka berbahasa dengan bahasa Arab.

Istiwa’ sendiri memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab, yaitu maknanya disesuaikan kondisi kata istiwa’ itu sendiri, apakah dimutlakkan atau di taqyid (diikat) dengan huruf yang mengiringinya.

Apabila dimutalakkan tanpa ada huruf yang mengiringinya maknanya adalah sempurna.

Contohnya ialah firman Allah Ta’ala tentang Musa ‘alaihis salam :

ولما بلغ أشده و استوى

“Maka ketika ia (Musa) telah cukup umurnya dan sempurna akalnya… “ (al-Qasshash : 14)

Maknanya ialah : Telah sempurna dan telah matang pikirannya.

Kemudian apabila ditaqyid dengan huruf إلى maka maknanya adalah القصد (bermaksud atau berkehendak).

Sebagaimana firman-Nya :

ثم استوى إلى السماء

“dan Dia berkendak (menciptakan) langit” (Al-Baqarah : 29)

Jika istiwa’ ditaqyid dengan huruf الواو maka maknanya adalah sama / sejajar.

Ssebagaimana hal ini kita dapati dalam buku-buku nahwu sebagai salah satu dari amtsilah dari topik maf’ul ma’ah :

استوى الماء و الخشبة

“Air dan kayu sejajar / sama”

Apabila kalimat istiwa’ ditaqyid dengan huruf على maka maknanya adalah العلو و المرتفع (tinggi, diatas) sebagaian lainnya ada yang menambahkan dengan الاستقرار.

Allah Ta’ala berfirman mengenai bahtera Nabi Nuh :

فاستوت على الجودي

“Maka berlabuhlah DIATAS bukit Al-Judi” (Hudd : 44)

Allah Ta’Ala juga berfirman :

فإذا ستويت أنت ومن معك على الفلك

“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada DIATAS bahtera tersebut…. ” (Al-Mu’minun : 28)

Kemudian diayat lainnya :

لتستوا على ظهوره ثم تذكروا نعمة ربكم إذا ستويتم عليه

“Agar kalian duduk DIATAS punggungnya (hewan ternak) kemudian agar kalian mengingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah berada DIATAS-nya” (Az-Zukhruf : 13)

Para ulama pakar bahasa Arab sejak dahulu semisal Ibnul A’rabiy menjelaskan bahwa istiwa’ maknanya adalah diatas, tinggi. Bahkan beliau mengingkari mu’tazilah yang menyatakan bahwa istiwa’ maknanya istawla (menguasai).

Demikian pula dengan mereka yang menolak banyak ayat, banyak hadits, banyak atsar dan ijma’ para ulama bahwa Allah beristiwa’ diatas Al-‘Arsy hanya bersandar kepada sya’ir Al-Ahthal yang merupakan beragama nashrani, selain bertentangan dengan bahasa Arab, syair tersebut juga bukan hujjah sama sekali dalam bahasa… Karena ia muncul belakangan, terlebih lagi telah terjadi tahrif dalam sya’ir tersebut.

Yang saya heran, sebagian orang yang awalnya lurus…… Meyakini Allah beristiwa’ diatas ‘Arsy, mulai goyah keimanannya karena dai idolanya memiliki pendapat yang berbeda. Allahul musta’an

[Disarikan dari sedikit faidah kajian qiroah taqrib at-tadmuriyyah pekan lalu (setiap selasa pkl. 05.45-07.00 di mushalla al istiqomah pup bekasi utara]

Sumber : Dari Status FB Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s