Ahlul Bait

Peringatan Maulid Nabi Menurut Syari’at Islam

Posted on Updated on

Peringatan Maulid Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam

Menurut Syari’at Islam

(Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyempurnakan agama Islam untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjadikan Sunnah Rasul-Nya sebagai sebaik-baik petunjuk yang diikuti. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para Shahabatnya.

Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama Islam bagi umatnya; menyempurnakan nikmat-Nya bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewafatkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali setelah beliau selesai menyampaikan segala sesuatu yang disyari’atkan Allah Azza wa Jalla dengan jelas, baik berupa perkataan maupun perbuatan; juga setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setiap hal baru yang diada-adakan oleh manusia dan disandarkan kepada agama Islam, baik berupa i’tiqâd (keyakinan), perkataan maupun perbuatan semua itu adalah bid’ah dan tertolak, walaupun maksudnya baik. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sholahuddin Al-Ayyubi, Sang Pencetus Maulid Nabi [?!]

Posted on Updated on

Alkisah

Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.

Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya? Baca entri selengkapnya »

Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan

Posted on

nabi mulia

عن ابن عباس سمع عمر رضي الله عنه يقول على المنبر سمعت النبي  صلى الله عليه وسلم  يقول لا تطروني كما أطرت النصارى بن مريم فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

Dari Ibnu Abbas, dia mendengat Umar berkata di atas mimbar, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam, sesunggunhya aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya” HR Al-Bukhari no 3445, 6830

Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah” menunjukan bahwa beliau hanyalah manusia biasa, demikian juga para nabi yang lain. Oleh karena itu para nabi makan, minum, beristri, memiliki keturunan, mereka juga ditimpa dengan penyakit, mereka meninggal, bahkan ada di antara mereka yang dibunuh. Baca entri selengkapnya »

Bentuk-Bentuk Perendahan Sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam – Golongan Al Qur’aniun

Posted on Updated on

Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)

kitab dan sunnah

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه

“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1]

Berkata Al-Mubarokfuri, “Hadits ini adalah salah satu dari dalil-dalil dan tanda-tanda kenabian. Sungguh apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ini telah menjadi kenyataan. Ada seseorang di Funjab di daerah India menamakan dirinya Ahli Qur’an, namun sungguh jauh berbeda antara dia dan ahli Qur’an yang hakiki. Yang benar ia adalah ahli kekufuran. Baca entri selengkapnya »

Asal-muasal Perayaan Maulid Nabi

Posted on Updated on

Tidak diragukan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mencintai Rasulullah r, paling peduli dalam meneladaninya dan paling mengetahui sunah Nabi r. Mereka diridoi Allah atas kepedulian dan kecintaan yang sangat kepada Rasulullah r. Tidak ada berita sama sekali bahwa salah seorang dari mereka merayakan hari kelahiran Nabi r, demikian pula tiga kurun pertama. Tidak terekam satupun berita yang tertulis di dalam kitab sejarah akan adanya perayaan itu pada kurun tersebut.

Ini membuktikan bahwa perayaan Maulid Nabi ada setelah masa generasi utama.

Pencetus bid’ah perayaan Maulid Nabi adalah sekte Batiniah. Lebih spesifik kaum yang merupakan peletak dasar dakwah batiniah yang disebut dengan Bani al-Qodâh. Mereka menyebut diri mereka dengan Fâtimiyîn, menisbatkan diri secara culas kepada putri Ali ibn Abi Thalib t. Kakek mereka bernama Maimûn ibn Disôn al-Qodâh yang merupakan budak laki-laki dari Ja’far ibn Muhammad Shâdiq. Baca entri selengkapnya »

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam

Posted on Updated on

1. Membenarkan kabar yang disampaikan dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam

shalawat-bukti-cinta-nabi

Diantara keimanan yang sangat urgen adalah meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ma’sum (terjaga) dari kedustaan dan kebohongan, yang konsekuensi dari hari hal ini adalah pembenaran kepada semua yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, baik khabar berita tentang masa silam, masa sekarang, ataupun berita di masa mendatang. Allah berfirman;

(وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىمَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى﴾ (لنجم:1-4)

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. 53:1-4) Baca entri selengkapnya »

Kecintaan dan Pengagungan Salaf Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Posted on Updated on

cinta rasul
cinta rasul

Disebutkan bahwasanya Imam Malik pernah ditanya tentang Ayyub As-Sikhtiani?, maka beliaupun menjawab, “Tidaklah aku menyampaikan hadits kepada kalian dari seorangpun kecuali Ayyub lebih tsiqoh (terpercaya) daripada orang tersebut”[1] Imam Malik bercerita tentang Ayyub, beliau berkata, “Ayyub telah berhaji dua kali dan aku (dulu) telah melihatnya namun aku tidak mendengar (mengambil) hadits darinya, hanya saja Ayyub jika ia menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diapun menangis hingga akhirnya akupun menyayanginya. Dan tatkala aku menyaksikan apa yang aku lihat dan pengagungannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akupun menulis (mengambil) hadits darinya.”[2]

Berkata Mush’ab bin Abdillah, “Imam Malik jika menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah wajahnya dan menunduk hingga hal itu memberatkan orang-orang yang duduk bersama dia. Baca entri selengkapnya »

CINTA RASUL shallallahu ‘alaihi wa sallam (Antara Pengagungan dan Sikap Perendahan)

Posted on Updated on

Cinta Rosul

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،

Tidak bertemunya seseorang dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidup tidaklah menghalanginya untuk berkumpul bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak[1]. Seseorang pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,

يَا رَسُولَ الله، كيف تقول فِي رَجُلٍ أحبَّ قَوْمًا ولَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟

“Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai sebuah kaum namun dia tidak bertemu dengan mereka?”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “Seseorang bersama dengan yang dicintainya”[2]. Baca entri selengkapnya »

Download Audio: Kumpulan Ceramah Bertema Sirah Nabawi

Posted on Updated on

Alhamdulillah, dengan izin dariAllah Ta’ala pada kesempatan kali ini kami hadirkan untuk pengunjung setia blog Kami ini* kumpulan rekaman kajian dalam format MP3 tentang sejarah Islam, sirah nabawi, perjuangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kisah sahabat dan salafus shaleh, dengan pemateri dari para Azatidzah Ahlus Sunnah wal jama’ah.

Silakan download rekaman kajiannya pada link berikut: Baca entri selengkapnya »

Barzanji, Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Posted on Updated on

SEPUTAR KITAB BARZANJI

Secara umum peringatan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selalu disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji maupun Daiba’, ada kalanya ditambah dengan senandung qasîdah Burdah. Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba’, Barzanji dan Qasidah Burdah dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diawali dengan membaca Daiba’, lalu Barzanji, kemudian ditutup dengan Qasîdah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab induk peringatan maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba’ lebih parah daripada kitab Barzanji.

Berikut uraiannya : Baca entri selengkapnya »

Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan

Posted on Updated on

Waspadalah !!!
Waspadalah !!!

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran. Secara global buku ini adalah salah satu buku yang mengkampanyekan penyatuan antara agama Islam dan agama Syi’ah. Buku ini asalnya adalah makalah yang disampaikan oleh penulisnya dalam diskusi di Masjid al-Aqsha Ujungpandang (Makassar) Tabun 1980, makalah ini belum sempat termuat di dalam kumpulan-kumpulan makalah penulis yang berjudul Membumikan Al-Qur’an.

Dalam pengantar buku ini penulis menyatakan keberatan jika dituduh sebagai seorang yang beraliran Syi’ah dan mengatakan:

Sebenarnya keberatan penulis atas tuduhan itu bukan karena menganggap aliran Syiah sesat dan menyesatkan, tetapi karena dugaan itu tidak benar.

Hanya, setelah kami telaah buku ini ternyata di dalamnya penulis banyak mempropagandakan pemikiran-pemikiran Syi’ah dan melontarkan syubhat-syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.

Baca entri selengkapnya »