akidah

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah ﷺ

Posted on Updated on

Iklan

Modifikasi Kesyirikan

Posted on

nyadran_jauzaaDewi Sri adalah tokoh mitologi Hindu yang konon menjadi sumber asal tanaman padi. Karenanya lah kemudian masyarakat agraris tradisional (baca : kuno) Jawa-Bali memujanya sebagai lambang keberkahan dan kesuburan dengan segala ritualnya yang kental dengan nuansa animisme dan dinamisme. Ritual tersebut masih banyak dilakukan masyarakat hingga kini. Baca entri selengkapnya »

Nasihat Bagi Kaum Muslimin Tentang Akidah Bahwa Allah itu Maha Tinggi di atas ‘Arsy

Posted on

Artikel ini telah dibaca, di-muraja’ah,
dan diberi masukan oleh: Ust. Dr. Firanda Andirja, MA.

Penulis: Abu Ziyān Johan Saputra Halim, M.HI.
Pimred alhujjah.com, Pengasuh kanal dakwah Telegram: @kristaliman

MUKADDIMAH

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas, sejatinya merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam fitrah kaum muslimin secara umum. Ungkapan-ungkapan mereka yang biasa kita dengar semisal;

“Kita serahkan pada Yang di Atas”…, “Kalau Yang di Atas telah berkehendak”…., dan lain-lain yang semisal,

adalah bukti bahwa sebenarnya hati kita tidak bisa memungkiri keberadaan Allah di atas segenap makhluk. Di samping juga mereka—ketika berdoa dan berharap kepada Allah—kedua tangan serta kepala mereka menengadah ke atas, tidak ke samping, dan tidak ke bawah.

Kita tidak pernah mendengar ungkapan kaum muslimin yang menyatakan; “Kita serahkan saja pada yang tidak di bawah dan tidak di atas”…, atau “Kita serahkan pada Dzat yang ada di mana-mana”… Sungguh kita tidak pernah mendengar yang demikian terucap oleh lisan mereka.

Namun sungguh sangat disayangkan, sebagian tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ary dan memperjuangkan madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ary justru berseberangan dengan keyakinan kaum muslimin tersebut, sekaligus juga berseberangan dengan aqidah Imam Abul Hasan al-Asy’ary, khususnya dalam masalah Sifat Allah, “Istiwaa’” yaitu;

Keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya dan di atas segenap makhluk-Nya tanpa tasybih dan takyif.

* * * Baca entri selengkapnya »

Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di atas ‘Arsy

Posted on Updated on

Inilah keyakinan para Imam Madzhab dan Ulama Islam sepanjang zaman tentang sifat istiwaa bagi Allah ta’ala .

Imam Syafi’i (wafat 204 H) dan guru senior beliau Imam Malik (wafat 179 H), meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy. Begitu pula Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), dan para Imam Ahlussunnah lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

Inilah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun yang jujur dan obyektif.

Imam Syafi’i -rahimahullah- pernah mengatakan:

“Makna firman Allah dalam kitab-Nya: [مَنْ فِي السَّمَاءِ] “…Dzat yang berada di atas langit…” (Qs. Al Mulk: 16).. di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan: [الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى] “Allah yang Maha Pengasih itu istawaa di atas Arsy” (QS. Thaha: 5) Baca entri selengkapnya »

Takut Hamil Karena Tidak Bisa Mendidik Anak

Posted on Updated on

 

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, apakah salah jika saya takut untuk hamil karena belum bisa mendidik anak. Karena anak itu kan titipan dari Allah. Bagaimana menghilangkan perasaan takut ini?

Mohon pencerahannya ustadz. Syukran, jazakallahu khairan.

(Dari fulanah, Admin T05 )

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Jika rasa takut ini berimbang dengan rasa harap maka tidak berdosa. Akan tetapi ketika rasa takut mendominasi tanpa ada rasa harap maka ini yang keliru. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Makna Dari Kata “Istawaa”

Posted on Updated on

Ringkasan Makna Istiwa’ Adalah Ma’lum (diketahui)

Telah diriwayatkan dari Al-Imam Malik dan guru beliau Rabi’ah bahwa beliau menjawab apa makna istiwa’, beliau mengatakan bahwa istiwa’ ghairu majhul (ma’lum, sesuatu yang telah diketahui)

Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘utsaimin rahmatullah alaihi menjelaskan bahwa istiwa’ ma’lum dari tinjauan Bahasa arab -yang mana Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mereka berbahasa dengan bahasa Arab.

Istiwa’ sendiri memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab, yaitu maknanya disesuaikan kondisi kata istiwa’ itu sendiri, apakah dimutlakkan atau di taqyid (diikat) dengan huruf yang mengiringinya. Baca entri selengkapnya »

Syirik Membatalkan Amal [Seluruhnya!]

Posted on Updated on

*Materi :* Syirik Membatalkan Amal

*Pemateri:* Ust. Dr. Abdullah Roy, MA.

*Dalil-dalil terkait materi kali ini*:
– Az-Zumar : 65-66

*Catatan*
1. Besarnya bahaya kesyirikan, hingga seorang Nabi sekalipun akan batal amalannya apabila dia berbuat syirik, padahal mustahil seorang Nabi berbuat syirik.

Bahaya Kesyirikan

Posted on

Materi : Bahaya Kesyirikan

Pemateri : Ust. Dr. Abdullah Roy, MA.

Dalil-dalil terkait materi kali ini:
– An-Nisaa’ : 48
– Al-Maidah : 72

Catatan
1. Tauhid adalah amalan yang paling Allah cintai. Syirik adalah amalan yang paling Allah Benci.
2. Allah Maha Pengampun akan tetapi Allah tidak mengampuni dosa syirik.
3. Pelaku syirik akan kekal di dalam neraka dan tidak ada harapan baginya, apabila dia mati sebelum bertaubat dari dosa syiriknya.

Tambahkan faidah yang kamu dapatkan pada kolom komentar…

Tauhid, Syarat Mutlak Untuk Masuk Surga

Posted on Updated on

*Materi :*  Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga

*Pemateri:* Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA.

*Dalil-dalil terkait materi kali ini*:
– Hadits Riwayat Al-Bukhari & Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit :

[من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ” أخرجاه]

_”Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”_

– Hadits Riwayat Al-Bukhari & Muslim dari Itban :

[فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله]

_”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan wajah Allah”_

*Catatan*
1. Orang yang bertauhid pasti masuk surga.
2. Mungkin saja orang yang bertauhid itu masuk neraka karena untuk menghapus dosanya, akan tetapi pada akhirnya dia akan masuk surga dan kekal di dalamnya.
3. Prioritas dakwah para Nabi adalah tauhid, diantara alasannya adalah karena keutamaan yang besar ini.

Tambahkan faidah yang kamu dapatkan pada kolom komentar…