[Kajian Tafsir] Mahligai Teladan dari Kisah Maryam

Maryam adalah seorang hamba wanita yang memiliki kedudukan yang agung di sini Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :

 وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ …

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, .. “ (Maryam : 16)

Allhamdulillah,berikut adalah rekaman kajian yang di bawakan oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sanusi Hafidzahullah (Pengasuh Ponpes As Sunnah – Makassar) dengan tema : “Mahligai Teladan dari Kisah Maryam”. Baca lebih lanjut

Iklan

Menghadiri Undangan Natalan dari Saudara, Bolehkah?

Pertanyaan: Ada orang yg memiliki saudara beragama kristen. Ketika musim natal, dia diundang. Bolehkah dia menghadiri undangan itu? Trim’s

Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Allah menyebutkan dua golongan yang tersesat dalam surat al-Fatihah.

Pertama, golongan al-Maghdhub ‘alaihim, golongan manusia terkutuk. Merekalah orang-orang yahudi. Mereka disebut umat terkutuk, karena mereka memahami kebenaran, namun mereka menolaknya secara terang-terangan. Baca lebih lanjut

Status Nakal Tentang ‘Selamat Natal’

Status Nakal Tentang ‘Selamat Natal’
Oleh : Hasan Al-Jaizy

Kali ini kita akan membahas tentang kalimat “Selamat Hari Natal”, dimulai dari pembedahan lafadznya, maksudnya, dan pendapat ulama tentangnya.

∞========∞

[1] Kalimat “Selamat Natal” Secara Suratan Bahasa

Kita mulai dari bahasa Indonesia dulu. Arti ‘Selamat’ dalam KBBI:

(1) Terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana.
(2) Sehat.
(3) Tercapai maksud; tidak gagal.
(4) Doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb)
(5) Pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik. Baca lebih lanjut

Karyawan Toko dengan Topi Sinterklas ?!

Selama bulan Desember, sebagian karyawan mulai berdandan dengan aksesoris perayaan Natal umat Nashrani dengan menggunakan topi sinterklas (santa klaus). Hari Ahad lalu, kami pun sempat menemukan di Bandara Soeta, pelayan toko sibuk melayani kami dengan topi sinterklas. Padahal kami tahu, tampangnya adalah muslim. Sungguh sayang, malah penampilan Nashrani yang ia kenakan. Ini tidak hanya ditemukan pada pelayan toko, ada pula pengemudi taksi yang mengenakan pakaian ala christmas ini di bulan Desember.

Toleransi yang Kebablasan

Semua mal, kantor-kantor swasta dan BUMN pakai pohon natal, pegawai atau karyawannya disuruh pakai topi-topi merah (Sinterklas). Seandainya kita pergi ke negara-negara Kristen di Eropa tidak ada tuh kalau Idul Fitri karyawan tokonya disuruh pakai sorban kayak ustadz-ustadz. Di Indonesia saja yang aneh, begitu menjelang natal ramai kenakan busana seperti itu. Baca lebih lanjut

Perayaan Tahun Baru Itu Syi’ar Kaum Kuffar [Ketahuilah!]

PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR

Oleh : Muhammad Abū Salmâ

Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil meniup terompet. Bising sekali. Di pinggiran jalan, berjejer panjang para penjual terompet dengan berbagai aksesorisnya mengais rezeki. Saya teringat, ohya… beberapa hari lagi akan masuk pergantian tahun. Subhânallôh, di mana-mana masyarakat tampaknya sedang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Mulai dari spanduk, baleho, umbul-umbul, aksesoris dan lainnya. Di perempatan lampu merah, mata saya tertarik dengan sebuah spanduk bertuliskan, ”Muhasabah Akhir Tahun & Istighotsah” bersama ”Gus…”.

Mungkin, penyelenggara acara tersebut berfikir, daripada kaum muslimin berhura-hura pada saat pergantian akhir tahun, lebih baik membuat acara yang Islâmî sebagai alternatif daripada acara hura-hura. Tapi, apa benar bahwa perayaan Tahun baru itu merupakan syiarnya kaum kuffâr?!! Masak hanya merayakan perayaan dan peringatan seperti ini saja dikatakan syiarnya kaum kuffâr?!! Mungkin, demikian pertanyaan yang muncul dari benar para pembaca. Baca lebih lanjut

Fatwa Ulama: Hukum Hadiah Natal dan Tahun Baru

Dari Muhammad bin Ibrahim
Kepada Menteri Perdagangan Saudi Arabia

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Ada yang mengabarkan bahwa sebagian pedagang di tahun yang lalu memberikan hadiah untuk perayaan natal dan tahun baru. Di antara bentuk hadiahnya adalah pohon natal. Bahkan, sebagian penduduk membeli pohon natal dan menghadiahkannya kepada orang asing yang beragama Nasrani, mereka ikut memeriahkan natalan bersama mereka di negeri ini.

Ini adalah perbuatan kemunkaran yang tidak selayaknya mereka lakukan. Kami tidak ragu bahwa mereka telah memahami tidak bolehnya hal ini serta keterangan para ulama bahwa mereka sepakat akan haramnya mengikuti orang kafir, orang musyrik, dan ahli kitab dalam memeriahkan hari raya mereka. Baca lebih lanjut

Download Audio | Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

kalender

Pada rekaman kajian yang lalu telah dibahas bahwa umat Islam mulia dengan penanggalan Hijriyah dan penanggalan Masehi dan perayaannya adalah bagian dari kebudayaan non-muslim, sehingga seorang muslim yang benar imannya tidak akan mengikuti perayaan-perayaan tersebut bahkan melewatinya dengan penuh kemuliaan sebagai seorang muslim.

Namun ketahuilah bahwa selain merupakan kebudayaan non-muslim, terlarangnya mengikuti perayaan tahun baru masehi juga disebabkan oleh beberapa pelanggaran syariat di dalamnya. Diantaranya yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang bergadang tanpa ada keperluan yang penting dan bermanfaat. Apalagi jika bergadang tersebut samapi membuat lalai dari shalat shubuh berjama’ah. Allah dan Rasul-Nya juga melarang perbuatan tabdzir, yaitu membuang-buang harta pada hal yang tidak bermanfaat seperti perayaan tahun baru yang biasanya diadakan acara meriah yang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Dan pelanggaran yang lainnya. Baca lebih lanjut

Download Audio | Fatwa MUI Tentang Mengikuti Perayaan Natal Bersama

Syariat Islam memperbolehkan umatnya bergaul dan bermuamalah dengan non-muslim dalam batas-batas yang masih dibolehkan dalam syariat. Namun hal ini tidak menjadi pembenaran bagi sebagian umat Islam yang ikut serta dalam acara-acara perayaan non-muslim, yang merupakan bentuk peribadatan mereka. Seorang muslim tidak sepatutnya mencampuradukan aqidahnya dengan aqidah non-muslim.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” [Al Kaafirun: 1-6] Simak pembahasan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) berikut tentang larangan mengikuti perayaan Natal bersama bagi ummat muslim.

[Kajian ini adalah rekaman siaran Radio Taruna Al Qur’an Yogyakarta. Radio Taruna Al Qur’an sendiri saat ini sudah tidak mengudara lagi]

Silakan Download Pada Link Berikut: Baca lebih lanjut

Download E-Book | Menyikapi Hari Raya Orang Kafir

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Baca selengkapnya di e-book ini. Semoga bermanfaat. Baca lebih lanjut