Fatwa

Halal-Haram Biji Pala

Posted on

Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting sejak masa Romawi. Pala disebut-sebut dalam ensiklopedia karya Plinius “Si Tua”. Semenjak zaman eksplorasi Eropa pala tersebar luas di daerah tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Grenada). Istilah pala juga dipakai untuk biji pala yang diperdagangkan.

Biji pala sangat familier di kalangan ibu-ibu rumah tangga sebagai bumbu penyedap. Rempah yang banyak tumbuh di daerah stropis seperti Indonesia, India, dan Srilanka ini, juga konon banyak dipergunakan untuk obat-obatan, sejak peradaban kuno. Di Mesir misalnya, rempah ini digunakan penawar masuk angin dan sakit perut. Baca entri selengkapnya »

Iklan

“Aku adalah ‘arab tanpa huruf ‘ain. Dan aku adalah ahnmad tanpa huruf mim.”

Posted on

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Ada pertanyaan seperti ini yang ditujukan kepada Lajna Da’imah Lil Ifta, berikut petikannya.

Tanya :”Sesungguhnya banyak orang yang meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan dari Nur (cahaya) Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan cahayanya diciptakan dari cahaya Allah. Mereka meriwayatkan (satu hadits): “Aku adalah cahaya Allah dan segala sesuatu berasal dari cahayaku.” Mereka pun meriwayatkan hadits: “Aku adalah ‘arab tanpa huruf ‘ain, maksudnya Rab. Dan aku adalah ahnmad tanpa huruf mim maksudnya ahad.” Apakah riwayat ini ada asalnya ? Baca entri selengkapnya »

Bolehkah Seorang Syarif (Habib) Menikahkan Puterinya Dengan Selain Kalangan Asyraf (Habaib)?

Posted on

Soal: Bagaimana hukumnya seorang syarif *) menikahkan putrinya dengan orang yang bukan dari kalangan asyraf?

Jawab:

Tidak mengapa seorang syarif menikahkan putrinya dengan orang yang bukan syarif jika memang putrinya tersebut rela.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menikahkan putri-putri beliau dengan sebagian sahabat yang bukan dari Bani Hasyim. Semisal Utsman bin Affan dan Abul ‘Ash bin Ar Rabi’ radhiallahu’anhum.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu juga menikahkan putrinya dengan Umar bin Khatab radhiallahu’anhu.

Demikian juga Sukainah bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib pernah menikah dengan empat orang lelaki yang bukan dari Bani Hasyim. Demikianlah praktek para salaf terdahulu dan hal ini tidak bisa diingkari. Baca entri selengkapnya »

Fakta Di Balik Fatwa “Jihad Nikah” / “Jihad Mut’ah” [PENTING!]

Posted on Updated on

PENTING! FAKTA ‘JIHAD NIKAH’ VS ‘JIHAD MUT’AH’

Tuduhan Syi’ah dan Musuh-musuh Islam terhadap ulama Ahlus Sunnah serta mujahidin tak kunjung henti-hentinya. Bahkan, Syi’ah tidak malu untuk mengungkit tuduhan lama yang telah basi, dan mengemasnya dengan cover baru. Sayangnya, banyak media Indonesia yang hanya membeo buta.

Mujahidin Suria dituduh melakukan praktek ‘jihad nikah’, dan korbannya adalah wanita Tunisia.

Sebagai bentuk pembelaan kami kepada Ulama Ahlus Sunnah dan kepada Mujahidin Suria yang telah lebih dua tahun memerangi rezim syi’ah Basyar Asad beserta sekutunya, maka kami akan buktikan bahwa Syi’ah adalah ‘maling ngaku pencuri’. Baca entri selengkapnya »

Keterputusan Sanad Ilmu dan Riwayat Madzhab Ja’fariyah dari Imam Ja’far Ash-Shodiq

Posted on Updated on

Keterputusan Sanad  Ilmu dan Riwayat Madzhab Ja’fariyah
dari Imam Ja’far Ash-Shodiq

Oleh : Al-Akh Dodi ElHasyimi -Hafizhahullah-

Sekte Syi’ah Rafidhah atau yang mengaku sebagai pengikut Madzhab Ahlul Bait atau Madzhab Ja’fari atau Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang berkembang di dunia saat ini yang berpusat di negeri Iran senantiasa mendeklarasikan dan mempropagandakan kepada kaum muslimin bahwa mereka adalah benar-benar pengikut Ahlul Bait pewaris ajaran Nabi yang sejati. Tapi, kenyataan yang pasti yang terdapat pada madzhab SESAT Ja’fary adalah : Secara ilmu dan riwayat madzhab ini tidak bisa dikatakan benar- benar mengikuti fiqh yg berasal dari Imam Jafar Ash-Shodiq -radhiyallahu ‘anhu-, atau Aimmah Itsna Asyariyyah.

Percayakah Anda ??? Silahkan dibaca uraian mengenai hal tersebut di bawah ini!!!!!

Terbukti dari apa yang dikatakan oleh ulama mereka yaitu Abu Ja’far Ath-Thusy seorang syekh dari golongan Syiah Imamiyyah, dapat kita lihat dari Kitab ‘Iddatul Ushul karya Syekh Ath-Thusi hal 137- 138 : Baca entri selengkapnya »

Fatwa MUI Tentang Kesesatan Syi’ah Janggal ?!

Posted on Updated on

MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatim tentang Kesesatan Syiah

Kaum Muslimin Indonesia hendaknya bersyukur pada Allah subhana wa ta’ala, pasalnya penjelasan MUI Pusat tentang Fatwa MUI Jatim yang mengatakan Syiah adalah Sesat dan Menyesatkan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang sudah lama kebingunan akhirnya keluar juga.

Dalam penjelasannya di Harian Republika pada hari ini (8/11/2012), Ketua MUI Pusat, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, “Setelah melakukan serangkaian penelitian dan berkonsultasi dengan MUI Pusat, MUI Jatim mengukuhkan fatwa serupa. Mencermati hal itu, penulis menyimpulkan, bahwa Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah sudah pada tempatnya dan sesuai aturan.” Baca entri selengkapnya »

Ajaran Madzhab Syafi’iyyah yang Ditinggalkan Bahkan Dibenci Oleh Sebagian “Pengikutnya” #2

Posted on

KEDUA : HARAMNYA MUSIK

Merupakan perkara yang menyedihkan tatkala kita menyaksikan sebagian dai yang mengaku mengikuti madzhab syafi’iyah ternyata menggunakan musik dalam beribadah…, jadilah shalawatan disertai senandung musik…irama gambus islami…kasihadahan islami…

Lebih memilukan lagi bahwa ada di antara mereka yang berdakwah dengan menggunakan alat musik….

Padahal ini merupakan bentuk bertasyabbuh (meniru-niru) kaum nasrani dalam tata cara peribadatan mereka di gereja-gereja mereka. Jika bertasyabbuh dalam perkara adat dan tradisi mereka merupakan perkara yang dibenci lantas bagaimana lagi halnya jika bertasyabbuh dalam perkara ibadah mereka?? Baca entri selengkapnya »

Bolehkah Shalat Tarawih 11 Raka’at Padahal Imam 23 Raka’at?

Posted on

Masjidil Haram
Masjidil Haram

Pertanyaan:

Jika seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam yang 23 raka’at, namun orang tersebut hanya shalat 11 raka’at saja. Apakah perbuatan ini sesuai dengan sunnah?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab:

Yang sesuai dengan sunnah adalah tetap mengikuti imam meski ia shalat 23 rakaat. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة

Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450) Baca entri selengkapnya »

E-book “Bimbingan Kepada Orang Tua yang Mengajak Anaknya Shalat di Masjid”

Posted on Updated on

ramadhan
ramadhan

Ramadhan hampir tiba, tidak seperti malam-malam pada bulan-bulan lainnya disepanjang tahun. Malam-malam bulan Ramadhan mungkin malam yang paling dipenuhi dengan aktifitas Ibadah, mulai awal malam hingga menjelang waktu shubuh. Tak ketinggalan anak-anak ramai-ramai keluar untuk ikut shalat berjama’ah di masjid, sayangnya seringkali kegaduhan yang terjadi mengurangi suasana khidmat dalam ibadah.

Berikut ini kami sajikan E-book “Bimbingan Kepada Orang Tua yang Mengajak Anaknya Shalat di Masjid” yang bersumber dari fatwa-fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahBaca entri selengkapnya »

Bolehkah Memelihara Hamster?

Posted on Updated on

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Saya mau bertanya. Apakah seorang muslim boleh memelihara hamster? Apakah boleh melakukan jual beli hamster? Jazakumullah khairan katsiran.

Affan (affan_**@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatulah.

Terdapat fatwa dalam situs http://www.islamqa.com tentang hamster sebagai berikut, Baca entri selengkapnya »

Hukum Membaca Al-Qur’an Dan Kiat Agar Dijauhkan Dari Gangguan Setan Ketika Membacanya

Posted on

Pertanyaan.

Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya. Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ?

Jawaban.

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlipah kepada RasulNya, keluarga dan shabatnya, wa ba’du.

Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)” [Al-Ankabut : 45] Baca entri selengkapnya »

Meluruskan Pemahaman tentang Kemudahan Dalam Islam

Posted on Updated on

Benang Tipis:
Antara Kemudahan Islam dan Bermudah-Mudahan dalam Mengamalkan Syariat Islam

A. Pengantar

Sesungguhnya Islam itu mudah, ikhwah...

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah dan menganjurkan kemudahan. Hal ini sangat dimaklumi bersama. Hanya saja masalahnya, banyak orang salah paham dan meletakkan kemudahan ini bukan pada tempatnya,  sehingga dengan dimotori oleh hawa nafsu dia mencari pendapat-pendapat yang paling ringan dan ganjil dengan alasan penyesuaian zaman dan kemudahan Islam sekalipun pendapat tersebut sangat lemah dan bertentangan dengan dalil-dalil yang shohih. Lalu, bila mereka diingkari, dengan entengnya mereka akan mengeluarkan senjata ampuhnya:

“Kita harus toleransi dan berlapang dada dalam masalah khilafiyyah (perselisihan ulama)”!!!

Ironisnya, orang-orang seperti itu malah banyak digemari masyarakat dengan menyebut mereka sebagai “ustadz gaul”, “dai bijak”, “kyai modern” dan gelar-gelar semu lainnya. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk mendudukkan masalah ini agar kita memahaminya dengan baik dan tidak salah paham dengan kemudahan Islam. Baca entri selengkapnya »

Hukum Merayakan Hari Ibu

Posted on

Dari Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?

Jawaban
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari raya-hari raya yang disyari’atkan telah diketahui oleh kaurn muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca entri selengkapnya »

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi…

Posted on Updated on

Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah Allah mengampuni dosa-dosaku?!

Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah, cobalah kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.

Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنّ نَبِيَّ الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أعْلَمِ أَهْلِ الأرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ . فقال : إنَّهُ قَتَلَ تِسعَةً وتِسْعِينَ نَفْساً فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوبَةٍ ؟ فقالَ : لا ، فَقَتَلهُ فَكَمَّلَ بهِ مئَةً ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ . فقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فقالَ : نَعَمْ ، ومَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ انْطَلِقْ إِلى أرضِ كَذَا وكَذَا فإِنَّ بِهَا أُناساً يَعْبُدُونَ الله تَعَالَى فاعْبُدِ الله مَعَهُمْ ، ولاَ تَرْجِعْ إِلى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أرضُ سُوءٍ ، فانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ العَذَابِ . فَقَالتْ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِباً ، مُقْبِلاً بِقَلبِهِ إِلى اللهِ تَعَالَى ، وقالتْ مَلائِكَةُ العَذَابِ : إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ في صورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
– أيْ حَكَماً – فقالَ : قِيسُوا ما بينَ الأرضَينِ فَإلَى أيّتهما كَانَ أدنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أدْنى إِلى الأرْضِ التي أرَادَ ، فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحمةِ )) مُتَّفَقٌ عليه .

Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Baca entri selengkapnya »