Riwayat Palsu Tentang Keutamaan Akal

بسم الله الرحمن الرحيم

عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله : « قِوَامُ المْرَءْ ِعَقْلُهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah bersabda: “Asas (kebaikan) seorang manusia adalah akalnya, dan barangsiapa yang tidak mempunyai akal berarti dia tidak mempunyai agama”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Harits bin Abi Usamah[1], Imam Ibnu ‘Adi[2] dan imam-imam lainnya, dari jalur Dawud bin al-Muhabbar, dari Nashr bin Tharif, dari Ibnu Juraij, dari Abu az-Zubair, dari Jabir bin ‘Abdillah , dari Rasulullah . Baca lebih lanjut

Iklan

Muhammad Nashiruddin Al-Albani Sang Muhaddits Tanpa (?) Sanad

فليس العلم بكثرة الرواية , ولا بكثرة المقال , ولكنه نور يقذف في القلب , يفهم به العبد الحق , ويميز به بينه وبين الباطل

“Ilmu itu tidak diukur dengan banyaknya riwayat dan perkataan, akan tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dimasukan kedalam hati yang dengannya seseorang mengenal kebenaran, membedakan antara yang haq dengan yang batil..”. [Imam Ibnu Rajab, Fadhlu ‘Ilmis Salaf]

Al-Albani Sang Muhaddits Tanpa (?) Sanad

Nama beliau sudah sangat akrab ditelinga penuntut ilmu syar’i , baik yang pro atau kontra kepadanya. Tidak salah lagi, karena beliau adalah muhadits zaman ini, penulis yang produktif dan berkualitas, penyeru kepada sunnah dan musuh ahli bid’ah: Muhammad Nashruddin bin Haji Nuh Najati al-Arnauth[1] al-Albani –rahimahullahu-, yang wafat pada tahun 1420 H bertepatan dengan tahun 1999 M. Adapun orang yang tidak suka kepadanya yang menuduh beliau sebagai muhadits tanpa sanad dan guru!!. Maka orang ini tidak lepas dari dua perkara, pertama ia seorang jahil atau kedua ia seorang pendusta. Baca lebih lanjut

Atsar Khalifah Umar bin Khoth-thob Tentang Juru Tulis Nashrani

Sedang ramai pembicaraan tentang surah Al-Maidah ayat 51 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai wali. Mereka itu saling menjadi wali satu sama lain. Siapa yang berwala kepada mereka di antara kalian berarti dia masuk golongan mereka. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kata wali memiliki makna yang luas. Tapi semua bisa dirangkum bahwa segala yang dijadikan untuk mengurus urusan kita itulah yang disebut wali. Maka ada istilah wali nikah, wali murid dan lain-lain. Wali nikah berarti mengurus dan berwenang mengurus pernikahan, wali murid berarti bertanggung jawab pada keadaan murid. Sehingga kata wali ini mencakup semua yang mengurus urusan dan bertanggung jawab pada urusan itu.

Salah satu dari tafsiran wali yang dipahami oleh para sahabat dan khalifah adalah orang yang mengurusi tugas-tugas politik dan pemerintahan meski hanya sebatas pembantu. Itulah yang bisa diambil dari kisah Umar bin Khatthab dengan gubernurnya Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhuma. Abu Musa mengangkat seorang juru tulis (sekretaris) seorang Nashrani karena kemampuannya yang memang mumpuni untuk hal itu. Tapi ketika itu diketahui oleh Umar yang menjadi khalifah kala itu maka dia memarahi Abu Musa dengan menggunakan landasan surah Al-Maidah ayat 51 di atas. Baca lebih lanjut

Seandainya Hadits Tentang Islamnya Kedua Orangtua Nabi Shahih, Maka Kami Adalah Orang Yang Paling Berbahagia Dengannya

Pro kontra masalah status kedua orang tua Nabi akhir-akhir ini menjadi buah bibir media sosial. Sebagai seorang muslim, mari kita semua menimbangnya dengan dalil bukan dengan perasaan semata. Mari cermati dua hadits yang merupakan landasan dasar masalah ini:

Dalil pertama:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya (203). Baca lebih lanjut

“Aku adalah ‘arab tanpa huruf ‘ain. Dan aku adalah ahnmad tanpa huruf mim.”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Ada pertanyaan seperti ini yang ditujukan kepada Lajna Da’imah Lil Ifta, berikut petikannya.

Tanya :”Sesungguhnya banyak orang yang meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan dari Nur (cahaya) Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan cahayanya diciptakan dari cahaya Allah. Mereka meriwayatkan (satu hadits): “Aku adalah cahaya Allah dan segala sesuatu berasal dari cahayaku.” Mereka pun meriwayatkan hadits: “Aku adalah ‘arab tanpa huruf ‘ain, maksudnya Rab. Dan aku adalah ahnmad tanpa huruf mim maksudnya ahad.” Apakah riwayat ini ada asalnya ? Baca lebih lanjut

Hadits-Hadits Seputar Keutamaan Cincin Batu Akik.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak hadis yang menyebutkan keutamaan cincin akik, namun semuanya tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias palsu. Berikut diantara hadis-hadis tersebut,

Hadis pertama,

تختموا بالعقيق فإنه مبارك

Pakailah cincin akik, karena akik itu diberkahi Baca lebih lanjut

Rahasia Ruqyah Nabi Mulai Tersingkap, Ada Obat Dalam Air Liur dan Tanah

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa dalam Ruqyahnya:


بِسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami.” (HR. Al-Bukhari)

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa air liur yang dihasilkan oleh manusia mengandung penghilang (penenang) yang kuat terhadap rasa sakit. Mari kita perhatikan penemuan ilmiah dan Hadis Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini. Baca lebih lanjut

Setiap Muslim Wajib Mengikuti Dalil!

Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Qs. Muhammad: 33).

Ia juga berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (Qs. At Taghabun: 12). Baca lebih lanjut

Mengenal Kitab Sunan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kata ’Sunan’ [arab: السُنَن] adalah bentuk jamak dari kata sunnah [arab: السُنّة], yang secara bahasa berarti jalan dan kebiasaan. Sedangkan secara istilah, sunah menurut mayoritas ulama adalah sinonim dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencakup ucapan, perbuatan, persetujuan, dan sifat-sifat beliau.

Macam-macam Kitab Hadis

Dilihat dari sistematika penulisan, ada beberapa macam kitab hadis yang ditulis para ulama. Diantaranya,

Kitab al-Jami’ [arab: الجامع], yaitu kitab hadis yang disusun menurut bab tertentu dan memuat berbagai macam, meliputi aqidah, ahkam, adab, tafsir, tarikh, siroh, manaqib (Fadhilah orang soleh), Raqaiq (hadis yang melembutkan hati), dst. Diantara kitab jami’ yang terkenal adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ Abdurrazaq, dan yang lainnya. (Ushul at-Takhrij, hlm. 110)

Kitab al-Musnad [arab: المسند], yaitu kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dengan mengacu kepada nama sahabat. Dimulai dari nama sahabat yang diwali huruf [أَ] hingga huruf [يَ]. Misalnya, dimulai dari hadis dari sahabat Abu Bakar. Maka dikumpulkan hadis-hadis dari Abu Bakar tanpa memandang pembahasan dan tema hadis. Baca lebih lanjut

[VIDEO] Mengenal Makna Sunnah Dengan Lebih Baik Dalam 10 Menit

Sering kita dengar kalimat “Itu sunnah Nabi”, “itukan hanya ibadah sunnah”, dst… lalu apakah arti kata sunnah itu? apakah jika dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan tidak mengapa? ataukah ada makna yang lain? simak video bincang santai (10 menit) berjudul “Apakah Makna Sunnah” oleh ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Semoga dengan menyaksikan video ini kita dapat lebih memahami arti atau definis sunnah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam yang benar.

Kisah Malaikat Yang Mabuk, Berzina dan Membunuh (Kisah Harut dan Marut)

Kisah Harut dan Marut
Kisah Harut dan Marut

Banyak tersebar di tengah masyarakat tentang kisah Malaikat yang diturunkan ke bumi namun akhirnya mereka tergoda untuk mabuk, lalu berzina dan membunuh. Ini adalah kisah yang dhaif dan batil. Simak penjelasan berikut:

Ibnu Hibban rahimahullah berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bukair, dari Zuhair bin Muhammad, dari Musa bin Jubair, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda: Baca lebih lanjut

Sudahkah Allah “Mempekerjakan” Anda?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ . فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ  يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ .

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”, beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”.[1]

salah satu amal shalih adalah berdakwah , mengurus dan memikirkan dakwah. Sudahkan kita bekerja untuk dakwah? Sudahkah kita menggunakan nikmat ini untuk berdakwah? Sudahkah kita memikirkan bagaimana saudara kita mendapatkan nikmatnya beribadah? Merasakan manisnya iman? Sudahkah kita memikirkan bagaimana nasib kaum muslimin? Yang tertindas, yang membutuhkan pertolongan? Yang membutuhkan ilmu agama? Baca lebih lanjut

Riwayat Syi’ah Dalam Ash-Shahihain (Tanggapan Atas Habib Rizieq Syihab)

Riwayat Syi’ah Dalam Ash-Shahihain
(Tanggapan Atas Habib Rizieq Syihab)

Alhamdulillah was shalaatu was salaamu ‘ala Rasuulillaah, ‘amma ba’du, Sebelum memberikan tanggapan, alangkah baiknya jika kita merenungkan sejenak firman Allah berikut:

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [التوبة: 71]

Kaum mukminin dan mukminat satu sama lain saling menjadi wali. Mereka ber-amar ma’ruf nahi munkar, mendirikan shalat, membayar zakat, serta menaati Allah dan RasulNya. Merekalah yang kelak akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Bijaksana (At Taubah: 71).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sejumlah karakter yang dimiliki orang-orang beriman (baik laki-laki maupun perempuan). Baca lebih lanjut

[Ebook] Sejarah Kodifikasi Hadits Nabawi

Alhamdulîllâhi, kali ini kami (abusalma.wordpress.com) dapat menghadirkan sebuah ebook (electronic book) ke hadapan para pembaca sekalian, sebuah buku yang ditunggu-tunggu oleh para thullâbul ‘ilmi (penuntut ilmu) dan pencinta ‘Ulūmul Hadîts. Buku ini adalah buah karya dari Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffâr Hasan ar-Rahmânî Rahimahullôhu, seorang ahli hadîts kenamaan dari benua India yang menjelaskan sejarah ringkas kodifikasi hadîts.

Tidak samar atas kita, bahwa India merupakan gudangnya Ahlul Hadîts kenamaan. Di negeri ini, muncul orang-orang seperti Muhammad Hayat as-Sindî (salah satu gurunya al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb), Shiddiq Hasan Khân, Walîyullôh ad-Dihlâwî, ‘Abdurrohman al-Mubârokfūrî, Badî’uddîn Syah ar-Rasyîdî, dan lain lain rohimahumullôhu jamî’an. Hingga hari ini, kita masih mendengar pakar hadîts dari India, semisal Syaikh Ihsân Ilâhî Zhâhir (penulis ternama), Washîyullôh al-‘Abbâs (guru besar hadits Universitas Ibnu Su’ud), Zubair ‘Alî az-Zâ’î (Syaikhul hadîts India), Muhammad Râ`is an-Nadwî (Syaikhul hadîts India), Shafîyurrahmân al-Mubârokfūrî (penulis ar-Rahîqul Makhtūm), Muhammad Musthofâ al-A’zhamî (guru besar Universitas Ibnu Su’ud), Hâfizh Ahmadullâh (Dosen hadîts Jâmi’ah Salafîyah Faysalabad) dan lain-lain. Baca lebih lanjut