Ijtihad

Beberapa Kekeliruan Sikap Kita Terhadap Imam Madzhab yang Empat

Posted on

Pengantar

Imam empat madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal merupakan sosok di antara imam mujtahid terdepan bagi kaum muslimin. Melalui mereka umat Islam mendapatkan keberkahan ilmu yang melimpah, sehingga ajaran Islam tersebar di penjuru dunia, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan pendapat dalam berijtihad.

Namun sayang, kaum muslimin yang tidak atau kurang memahami Islam dengan baik terkadang beranggapan, bahwa perbedaan pendapat para imam itu dianggap sebagai perbedaan hakiki. Sehingga ada kalanya menyebabkan gesekan dan perpecahan antar kaum muslimin pendukung madzhab satu dengan yang lain, yang andaikan para imam itu tahu tentu akan melarang dan mencela hal tersebut.

Untuk itu perlu kiranya dijelaskan kepada kaum muslimin tentang beberapa kekeliruan sikap mereka terhadap para imam madzhab empat. Dengan demikian kita telah bersikap proporsional dan adil terhadap mereka dan meletakkan persoalan pada tempat nya. Di antara kekeliruan yang perlu untuk diluruskan terkait dengan sikap kita terhadap imam yang empat adalah: Baca entri selengkapnya »

Iklan

10 Faedah dari 10 Ayat Surat Abasa

Posted on

‘Abasa secara bahasa artinya, جَمَعَ جِلْدَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَجِلْدَ جَبْهَتِهِ “mengumpulkan kulit yang ada diantara dua mata dan kulit dahi”, yaitu mengerutkan dahi dan bermuka masam. Surat ‘Abasa adalah surat yang seluruh ayatnya adalah Makkiyah (diturunkan di Mekah) berdasarkan kesepakatan para ulama tafsir.

Allah berfirman :

عَبَسَ وَتَوَلَّى(١) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى(٤) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى(٥) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى(٦) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى(٧) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى(٨) وَهُوَ يَخْشَى(٩) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (١٠)

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), 4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? 5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, 6. Maka kamu melayaninya. 7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman). 8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), 9. sedang ia takut kepada (Allah), 10. Maka kamu mengabaikannya.

Baca entri selengkapnya »

Antara Ijtihad Dan Taklid

Posted on Updated on

Sudah kita maklumi, dalam beragama, kita wajib mengikuti apa yang telah diturunkan Allah kepada RasulNya. Yang semuanya, secara sempurna telah disampaikan dan dijelaskan Rasulullah kepada kita. Tidak ada sedikitpun yang tertinggal. Sehingga wajib bagi kita untuk mentaati Allah dan RasulNya, serta mengembalikan sesuatu yang diperselisihkan kepada keduanya. Dan kita harus berpaling dari apa yang menyelisihi Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, meskipun hal itu datang dari seorang imam mujtahid.

Dalam perkara agama, terdapat masalah masalah agama yang ditetapkan hukumnya dengan nash yang qath’i, baik tsubut dan dalalahnya, ada yang ditetapkan dengan ijma’ ulama; dan ada yang ditetapkan dengan nash yang tidak qath’i dalam tsubut atau dalalahnya, atau tidak ada nash dalam masalah tersebut, serta para ulama berbeda-beda pendapatnya.

Pada kelompok masalah pertama dan kelompok masalah kedua, persoalannya mudah. Semua orang wajib menerima dan mengikutinya, serta tidak boleh menyelisihinya, baik dia seorang ulama atau seorang awam. Baca entri selengkapnya »

Meluruskan Pemahaman tentang Kemudahan Dalam Islam

Posted on Updated on

Benang Tipis:
Antara Kemudahan Islam dan Bermudah-Mudahan dalam Mengamalkan Syariat Islam

A. Pengantar

Sesungguhnya Islam itu mudah, ikhwah...

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah dan menganjurkan kemudahan. Hal ini sangat dimaklumi bersama. Hanya saja masalahnya, banyak orang salah paham dan meletakkan kemudahan ini bukan pada tempatnya,  sehingga dengan dimotori oleh hawa nafsu dia mencari pendapat-pendapat yang paling ringan dan ganjil dengan alasan penyesuaian zaman dan kemudahan Islam sekalipun pendapat tersebut sangat lemah dan bertentangan dengan dalil-dalil yang shohih. Lalu, bila mereka diingkari, dengan entengnya mereka akan mengeluarkan senjata ampuhnya:

“Kita harus toleransi dan berlapang dada dalam masalah khilafiyyah (perselisihan ulama)”!!!

Ironisnya, orang-orang seperti itu malah banyak digemari masyarakat dengan menyebut mereka sebagai “ustadz gaul”, “dai bijak”, “kyai modern” dan gelar-gelar semu lainnya. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk mendudukkan masalah ini agar kita memahaminya dengan baik dan tidak salah paham dengan kemudahan Islam. Baca entri selengkapnya »