India

[Ebook] Sejarah Kodifikasi Hadits Nabawi

Posted on

Alhamdulîllâhi, kali ini kami (abusalma.wordpress.com) dapat menghadirkan sebuah ebook (electronic book) ke hadapan para pembaca sekalian, sebuah buku yang ditunggu-tunggu oleh para thullâbul ‘ilmi (penuntut ilmu) dan pencinta ‘Ulūmul Hadîts. Buku ini adalah buah karya dari Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdul Ghoffâr Hasan ar-Rahmânî Rahimahullôhu, seorang ahli hadîts kenamaan dari benua India yang menjelaskan sejarah ringkas kodifikasi hadîts.

Tidak samar atas kita, bahwa India merupakan gudangnya Ahlul Hadîts kenamaan. Di negeri ini, muncul orang-orang seperti Muhammad Hayat as-Sindî (salah satu gurunya al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb), Shiddiq Hasan Khân, Walîyullôh ad-Dihlâwî, ‘Abdurrohman al-Mubârokfūrî, Badî’uddîn Syah ar-Rasyîdî, dan lain lain rohimahumullôhu jamî’an. Hingga hari ini, kita masih mendengar pakar hadîts dari India, semisal Syaikh Ihsân Ilâhî Zhâhir (penulis ternama), Washîyullôh al-‘Abbâs (guru besar hadits Universitas Ibnu Su’ud), Zubair ‘Alî az-Zâ’î (Syaikhul hadîts India), Muhammad Râ`is an-Nadwî (Syaikhul hadîts India), Shafîyurrahmân al-Mubârokfūrî (penulis ar-Rahîqul Makhtūm), Muhammad Musthofâ al-A’zhamî (guru besar Universitas Ibnu Su’ud), Hâfizh Ahmadullâh (Dosen hadîts Jâmi’ah Salafîyah Faysalabad) dan lain-lain. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Mahmud bin Sabaktekin (Mahmud of Ghazni), Pejuang Tauhid Sejati

Posted on Updated on

Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawi
Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawi

Ikhwati fillah, sebenarnya ada banyak tokoh yang terlewatkan saat kita berbicara tentang Islam di anak benua India. Salah satu dari sekian tokoh tersebut adalah Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawi. Beliau termasuk penakluk hebat yang pasukan berkudanya berhasil mencapai India, dan menegakkan panji-panji Islam di sana. Konon luas wilayah yang berhasil ditundukkannya setara dengan jumlah seluruh penaklukkan yang terjadi di masa Amirul Mukminin Umar bin Khatthab ra.

Sederetan gelar disematkan kepadanya oleh Khalifah Abbasiyah kala itu: “Yaminud Daulah… Aminul Millah… Naashirul Haq… Nidhamuddien… dan Kahfud Daulah”. Sungguh, belum pernah sepanjang sejarah ada panglima yang menyandang gelar kehormatan demikian banyak, akan tetapi itulah tokoh kita kali ini, Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawy, yang kemudian mendapat tiga gelar tambahan setelahnya, “Muhatthimus Shanam al Akbar” (Penghancur berhala terbesar), “Qaahirul Hind” (Penakluk India) dan “As Sulthan Al Mujahid Al Adhiem” (Sultan Mujahid Agung). Semua itu adalah gelar yang dianugerahkan oleh Khalifah Al Qaadir billaah kepada beliau… lantas siapakah sesungguhnya beliau dan bagaimanakah sepak terjangnya? Marilah kita simak sekarang… Baca entri selengkapnya »

SIAPA PENCETUS PERTAMA ISTILAH WAHHABI?

Posted on Updated on

SIAPA PENCETUS PERTAMA ISTILAH WAHHABI?

Oleh :Al-Ustadz Jalâl Abu Alrub

Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. [Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55]. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.* Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.** Baca entri selengkapnya »