Makam Keramat

Asal Muasal Kubah Hijau di Atas Makam Nabi

Posted on

Kubah Hijau di Atas Makam Nabi

Mengapa kubah di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Katanya ini dilarang… Suwun…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Para ahli sejarah menegaskan bahwa keberadaan kubah hijau di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ada di abad ke-7 Hijriyah. Yang pertama kali membangunnya adalah Sultan Qalawun. Awalnya tidak dicat, berwarna kayu, kemudian dicat putih, kemudian cat biru dan yang terakhir berwarna hijau hingga sekarang. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Antara Berhala dan Kuburan Wali

Posted on Updated on

MUQODDIMAH

Zaman sekarang—zaman yang penuh dengan syubhat (kerusakan ilmu) dan syahwat (nafsu menyelisihi kebenaran)—melazimkan (mengharuskan) setiap pencari kebenaran harus disertai dengan dalil dari Kitab dan Sunah. Jika ternyata kebenaran datang dari golongan Ahlus Sunnah yang dimusuhi oleh banyak kalangan maka diterima dan sebaliknya jika kebatilan datang dari golongan kita maka ditolak sebab kita mencari rida Allah عزّوجلّ bukan rida manusia.

Perkara akidah yang benar sejak zaman dahulu hingga sekarang—khususnya dalam barisan umat Islam yang terpecah menjadi 73 golongan—perkara agama yang benar menjadi pertempuran sengit. Masing-masing mengklaim dirinya yang benar dan lainnya salah. Di sisi lain, ada yang meneriakkan untuk menghapus perselisihan dan mencari persamaan.

Harus dipahami bahwa sebelum kita saling toleran dalam perselisihan, terlebih dahulu kita menyamakan pokok-pokok akidah dan keyakinan karena ada perbedaan yang tidak boleh bertoleransi di dalamnya. Baca entri selengkapnya »

Budaya Pengagungan Kubur Adalah Ajaran Syi’ah, Bukan Ajaran Salafus Shalih Ahlussunnah Wal Jama’ah

Posted on

Pengagungan kuburan dan komplek makam sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat, bahkan menjadi bagian praktek keagamaan mereka yang tak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Di antaranya, dengan membuatkan bangunan makam dan memperindahnya, menjadikannya sebagai tempat shalat, mengkhatamkan baca al-Qur`ân di sampingnya dan memanjatkan do’a kepada penghuni kubur (bukan kepada Allâh Azza wa Jalla), [atau berdo’a kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur].

Menilik sejarah generasi Salaf, pantas dikatakan bahwa praktek-praktek ibadah di atas masuk dalam kategori bid’ah, satu perbuatan dalam beragama yang tidak pernah diperbuat oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik umat Islam.

“Semua itu adalah perkara baru, belum pernah tersebar (dikenal) kecuali pasca tiga generasi paling utama (generasi Sahabat, Tâbi’in dan Tâbi’it Tâbi’in)” [Dirâsâtun fil Ahwâ wal Furûqi wal Bida’i wa Mauqifis Salafi minhâ, DR. Nâshir al-‘Aql hlm. 274]. Baca entri selengkapnya »

Wahhabi Melarang Membangun Kubur dan Meninggikannya Karena Hal Tersebut Dilarang Oleh Nabi

Posted on Updated on

Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhuberkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no. 2027-2028 dan dalam Al-Kubraa 2/463 no. 2166, ‘Abdurrazzaaq 3/504 no. 6488, Ahmad 3/295, ‘Abd bin Humaid 2/161 no. 1073, Ibnu Maajah no. 1562, Ibnu Hibbaan no. 3163-3165, Al-Haakim 1/370, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘alaa Shahiih Muslim no. 2173-2174, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/410 & 4/4, Ath-Thayaalisiy 3/341 no. 1905, Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/191 no. 2057 dan dalam Al-Ausath 6/121 no. 5983 & 8/207 8413, Abu Bakr Asy-Syaafi’iy dalam Al-Fawaaaid no. 860, Abu Bakr Al-‘Anbariy dalam Hadiits-nya no. 68, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/515-516 no. 2945-2946, dan yang lainnya. Baca entri selengkapnya »

Kesalahan Seputar Kubur

Posted on Updated on

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

baqi

Berikut beberapa kesalahan seputar kubur yang sejak dahulu muncul dan tetap laris manis hingga saat ini. Pembahasan ini kami terjemahkan dari Majmu’ Al Fatawa Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah. Semoga bermanfaat.

[Membaca Al Qur’an di Sisi Kubur]

Adapun membaca Al Qur’an terus menerus di sisi kubur, maka ini tidaklah pernah dikenal oleh para ulama salaf.

Para ulama pun berselisih pendapat mengenai masalah membaca Al Qur’an di kuburan. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad (menurut kebanyakan pendapat dari beliau) melarang hal ini. Namun, Imam Ahmad memberikan keringanan dalam masalah ini dalam pendapat beliau yang terakhir. Yang menjadi dasar Imam Ahmad dari pendapatnya yang terakhir adalah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar pernah mewasiatkan agar dibacakan bagian awal dan akhir surat Al Baqarah ketika pemakamannya. Begitu pula ada riwayat dari beberapa kaum Anshor bahwasanya Ibnu ‘Umar pernah mewasiatkan agar membaca surat Al Baqarah di kuburnya (sebelum pemakaman). Namun ingat, ini semua dilakukan sebelum pemakaman. Baca entri selengkapnya »

Sebab-Sebab Terjadinya Pengkultusan Kuburan [2/2]

Posted on Updated on

  • Sholat dan berdoa di kuburan.
kuburan

Keyakinan lainnya yang amat aneh adalah berpendapat bahwa sholat dan berdoa dikuburan jauh lebih baik daripada di masjid, bahkan berasumsi lebih cepat terkabul. Yang lebih celaka lagi adalah meminta kepada si penghuni kubur. Ini sudah merupakan kesyirikan yang diperbuat oleh umat jahiliyah dulu. Jangan untuk sholat di kuburan, sholat mengarah kuburan saja sudah haram hukumnya. Artinya tidak boleh sholat di tempat yang di arah kiblatnya terdapat kuburan. Apalagi sholat ditempat yang dikelilingi kuburan. Diantara perbuatan dalam sholat adalah duduk, maka dudukpun dilarang di kuburan. Maksudnya di tempat tanah perkuburan, mekipun tidak persis di atas kuburan benar. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

عَنْ أَبِى مَرْثَدٍ الْغَنَوِىِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم « لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا ». رواه مسلم

Dari Abu Martsid Al Ghanawy, telah bersabda Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kamu duduk di atas kuburan dan jangan pula sholat menghadapnya.” Baca entri selengkapnya »

Sebab-Sebab Terjadinya Pengkultusan Kubur [1/2]

Posted on Updated on

kuburan

Segala puji dan syukur kita ucapkan pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selawat dan salam buat nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menjelaskan tauhid dengan segala sendi dan cabang-cabangnya serta hal-hal yang membatalkannya.

Pada kesempatan kali ini kita ingin membahas tentang hal yang dominan dalam menyebabkan timbulnya kesyirikan di tengah-tengah umat manusia. Yaitu pengkultusan terhadap kuburan nenek moyang dan orang shaleh.

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan firman Allah,

{وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا} [نوح/23]

“Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr. (QS. Nuh: 23).

“Ini adalah nama orang-orang shaleh dari kaum nabi Nuh ‘alaihisallam. Tatkala mereka meninggal, setan mewahyukan kepada kaum mereka untuk membuat patung ditempat-tempat duduk mereka, lalu mereka menamai dengan nama-nama mereka. Maka kaum mereka melakukannya, dan ketika itu masih belum disembah. Sampai suatu ketika mereka (orang-orang yang melakukan hal tesebut) meninggal dan terhapuslah ilmu lalu dijadikanlah patung-patung itu untuk disembah[1].” Baca entri selengkapnya »