marawis

Musik Haram! Jawaban Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i

Posted on Updated on

SYAIKH IMADUDDIN BIN KATSIR ASY-SYAFI’I (WAFAT TAHUN 774)

noktahhitamsenandungsetan
Senandung Setan

Beliau berkata: “Cukuplah Allah sebagai pelidungku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Penggunaan alat-alat musik dan mendengarkannya hukumnya haram. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits nabi. diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Ghanim Al-Asy’ari.[63]

Ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Abu Amir atau Abu Malik[64], demi Allah ia tidak berdusta kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:

“Akan muncul di kalangan umatku nanti beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat musik. “

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq dengan shighah jazm (dengan kalimat yang mengesankan keshahihannya-pent).[65] Diriwayatkanjuga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya[66] , Abu Daud[67] dan Ibnu Majah[68] dalam Kitab Sunan dengan sanad yang shahih tanpa cacat. Dan telah dinyatakan shahih oleh beberapa orang ulama. Al-Ma’azif adalah alat musik, demikian dikatakan oleh Imam Abu Nashr Ismail bin Hammad Al-Jauhari[69] dalam Kamus Shihah-nya. Itulah makna yang dikenal dalam bahasa Arab. Kemudian telah dinukil ijma’ dari beberapa imam atas haramnya pertunjukan rebana dan seruling. Ada beberapa orang yang menyebutkan perbedaan pendapat yang tidak mu’tabar dalam masalah ini.

Baca entri selengkapnya »

Musik Dan Nyanyian Halal, Karena Termasuk Kenikmatan Surga?

Posted on Updated on

noktahhitamsenandungsetan
Noktah Hitam Senandung Setan

ARGUMENTASI PAPA PECANDU MUSIK DAN NYANYIAN BAHWA KEDUANYA TERMASUK KENIKMATAN SURGA! DAN BANTAHAN TERHADAP ARGUMENTASI TERSEBUT

Pecandu musik dan nyanyian itu berargumentasi dengan firman Allah :

“Dan pada hari terjadinya Kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (Surga) bergembira.” (Ar-Ruum: 14-15)

Di dalam kitab Tafsir disebutkan bahwa maksud kalimat ‘tuhbaruun’ adalah mendengar nyanyian.[191] Sekiranya nyanyian itu haram niscaya tidak akan menjadi kenikmatan Surga yang utama.[192]

Ahli Al-Qur’an menjawab: “Seandainya kalian berpegang kepada ayat tersebut untuk membenarkan pendapat kalian itu niscaya akan tersamar dan dapat diterima oleh orang yang tidak memiliki bashirah dan ilmu. Namun Allah berkehendak menyingkap kedok kalian dan membungkam mulut kalian. Baca entri selengkapnya »

Perdebatan Antara Pecandu Musik dan Nyanyian Dengan Ahli Al-Qur’an

Posted on Updated on

noktahhitamsenandungsetan
Noktah Hitam Senandung Setan

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar Al-Hambali, pimpinan Ma’had Al-Jauziyah, dalam lanjutan jawabannya terhadap pertanyaan yang berkenaan dengan hukum mendengar nyanyian, pada tahun 740 H yang telah dijawab oleh para alim ulama dari keempat madzhab, semoga Allah meridhai mereka semua.

PERDEBATAN ANTARA PECANDU MUSIK DAN NYANYIAN DENGAN AHLI AL-QUR’AN

Dialog yang berisi perdebatan antara para pecandu musik dan nyanyian dengan ahli Al-Qur’an, masing-masing pihak membawakan dalil bagi pendapatnya.

Kedua pihak sepakat untuk berhukum kepada orang yang mendahulukan akal dan agamanya daripada hawa nafsu. Kebenaran yang diturunkan Allah kepada RasulNya lebih disukai daripada selainnya. Orang tersebut duduk ibarat hakim dihadapan kedua terdakwa. Ia melihat keduanya dengan pandangan penuh nasehat bagi dirinya sendiri dan bagi kedua belah pihak yang saling mengajukan argumentasi. la buang jauh-jauh semangat jahiliyah dan fanatik golongan yang batil. Dan menunjukkan loyalitas kepada orang-orang yang taat kepada Allah dan RasulNya serta hamba-hamba yang beriman. Allah berfirman:

وَمَا كَانُواْ أَوْلِيَاءهُ إِنْ أَوْلِيَآؤُهُ إِلاَّ الْمُتَّقُونَ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. “ (Al-Anfal: 34) Baca entri selengkapnya »